top of page

Sikap Sukarno Terhadap Kaum Intelektual

Saat Presiden Kennedy bertanya tentang peran kaum intelektual Indonesia, Presiden Sukarno enggan menanggapinya.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Presiden Sukarno dan Presiden John F. Kennedy dalam lawatan tahun 1961 (jfklibrary.org)

4 Sep 2019
3 menit membaca

PAGI, 24 April 1961. Sebuah pesawat mendarat di Pangkalan Udara Andrews, Maryland, Amerika Serikat, disambut Presiden John F. Kennedy bersama sejumlah pejabat pemerintah. Orang yang ditunggu-tunggu Kennedy tak lain adalah Presiden Sukarno dari Indonesia yang hari itu memulai kunjungan resmi kenegaraannya ke Amerika Serikat.


Sukarno dan rombongan disambut oleh Kennedy dalam suatu upacara resmi. Setelah sedikit bercengkrama, perjamuan kemudian dilanjutkan di White House dalam suasana yang lebih santai.


“Ini adalah isyarat sambutan kehormatan luar biasa yang dilakukan Presiden Amerika kepada pemimpin Indonesia,” tulis Walentina Waluyanti de Jonge dalam Tembak Bung Karno, Rugi 30 Sen.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
transparant.png
bottom of page