top of page

Kala Budak Memberontak

Kekejaman dan siksaan yang diterima membuat para budak melawan majikan.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Perbudakan era VOC. Foto: Kleurrijke Tragiek: De Geschiedenis van Slavernij in Azi&euml Onder de VOC (Tragedi Penuh Warna: Sejarah Perbudakan di Asia di bawah VOC).

6 Mar 2018
2 menit membaca

Diperbarui: 11 Jul

AKIBAT jatah kain pembagian VOC-nya dicuri, seorang budak terpaksa tidur di pojokan pekarangan. Nahas, seorang komandan tentara melihat budak itu dan mengira dia telah menjual jatah kain pembagian yang diberikan saban enam bulannya itu untuk mabuk-mabukan. Alhasil, si budak kemudian mendapat hukuman cambuk hingga kulitnya mengelupas. Dua hari kemudian, dia tewas.


“Kurasa, selama dua hari kehabisan kekuatan ia tak pernah merasakan derita yang lebih besar daripada yang ditimbulkan dengan siksaan ini,” tulis Jean Baptiste Tavernier dalam memoar yang dihimpun Bernard Dorleans, Orang Indonesia dan Orang Prancis.


Catatan Tavernier hanyalah satu dari sekian banyak catatan orang Eropa yang menggambarkan kekejaman tuan kulit putih terhadap budak dan pelayan mereka. Para budak sering menjalani hukuman berat dari majikan karena satu kesalahan kecil.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page