top of page

Kala Semangka Menyulut Kerusuhan di Panama

Seorang pelancong AS yang mabuk mengambil sepotong semangka dan menolak membayar setelah mencicipinya. Memantik perkelahian yang berujung pada kerusuhan yang menewaskan belasan orang.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Penggambaran pers Amerika Serikat tentang Kerusuhan Semangka di Panama pada 1856. (Wikimedia Commons).

10 Okt 2024
4 menit membaca

Diperbarui: 13 Jan

MALAM itu, 15 April 1856, sebuah kapal yang bersandar di Pelabuhan Panama dijadwalkan berlayar menuju Amerika Serikat (AS). Namun, ombak besar membuat jadwal pelayaran kapal tersebut dibatalkan. Para penumpang yang telah berkumpul untuk naik ke atas kapal mulai meninggalkan pelabuhan. Beberapa di antaranya memanfaatkan penundaan pelayaran itu untuk membeli minuman di bar yang ada di kota.


Tak ada yang berbeda di pusat kota Panama pada malam itu. Hotel dan restoran terisi penuh, sementara sejumlah bar tampak sibuk melayani tamu-tamu yang terus berdatangan. Para penjual buah-buahan, minuman ringan, dan lain-lain juga sibuk memenuhi permintaan yang ada.


Hiruk-pikuk di kota tersebut berubah menjadi mencekam ketika seorang pelancong asal AS bernama Jack Oliver mengambil sepotong semangka dari kios pedagang lokal bernama José Manuel Luna. Setelah mencicipi semangka yang diambilnya, Oliver yang tengah dalam keadaan mabuk segera melemparkannya ke tanah dan menolak untuk membayar harga yang diminta oleh Luna. Sikap Oliver membuat sang pedagang buah tak terima hingga memicu perkelahian di antara keduanya. Tak butuh waktu lama hingga perkelahian itu menarik perhatian sejumlah pasang mata yang berkumpul di dekat kios milik Luna. Keadaan semakin memburuk ketika suara tembakan terdengar.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
transparant.png
bottom of page