top of page

Kebersahajaan Sri Sultan Hamengkubuwono IX

Meskipun seorang raja Jawa, orang-orang mengenalnya sebagai pribadi yang murah hati dan sederhana.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Sri Sultan Hamengkubuwono IX. (Arsip Nasional Belanda).

10 Apr 2021
2 menit membaca

Diperbarui: 12 Apr

BERTANYALAH ke para sepuh di Yogyakarta: siapa pemimpin yang menjadi panutan mereka? Pastilah jawabannya: Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Hingga kini orang-orang tua di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya tak pernah akan melupakan sosok Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Sebagai raja Jawa, banyak kalangan yang memandangnya sebagai sosok terbesar di sepanjang zaman.


“Kami akan selalu mengingat dan menghormati sinuwun,” ujar Ki Herman Sinung Janutama, budayawan sekaligus penulis sejarah asal Yogyakarta.


Sejatinya kisah kesederhanaan dan kemurahan hati yang dimiliki oleh lelaki yang dilantik sebagai raja pada 18 Maret 1940 itu, bukan saja diketahui oleh rakyatnya. Para kolega di luar lingkungan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat pun menjadi saksi betapa pemurahnya Sri Sultan.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page