top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Sultan Hamengkubuwono IX dan Alimin

Dikenal sebagai penentang komunisme, Sultan Hamengkubuwono IX disebut pernah minta Das Kapital pada Alimin.

21 Jun 2022

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Alimin dan Sultan Hamengkubuwono IX. (Wikimedia Commons).

Sultan Hamengkubuwono IX sering kali dianggap sebagai penentang komunisme. Dalam Peristiwa Madiun 1948 misalnya, ia berdiri berseberangan dengan Muso. Ia bersama Presiden Sukarno, Jenderal TNI Soedirman, dan Sukiman Wirjosandjojo membuat siaran menolak “kudeta” dan menyerukan agar rakyat mendukung pemerintahan yang sah.


John Monfries, visiting fellow di Australian National University, dalam A Prince in a Republic menyebut Sultan Hamengkubuwono IX memang telah mengidentifikasikan dirinya begitu kuat dengan kepemimpinan Sukarno-Hatta. Lebih lagi, ia merupakan Menteri Negara Koordinator Keamanan kala itu, yang juga diangkat oleh Hatta.


“Hamengkubuwo meminta rakyat untuk berdiri di samping pemerintah Hatta, menegaskan bahwa itu artinya berdiri untuk pembangunan negara, sementara Muso dan para komunis hanya menginginkan kehancuran,” tulis Monfries.



Sultan Hamengkubuwono IX juga berhasil membuat Kolonel Sungkono, Panglima Divisi Brawijaya, urung bergabung denga Muso.


Selain itu, Sultan Hamengkubuwono IX juga mendirikan Laskar Rakyat Mataram untuk membendung pengaruh komunisme terhadap kaum muda. Ia paham betul bahwa komunisme akan bertolak belakang dengan feodalisme.


“Jika laporan intelijen Belanda dapat dipercaya, Hamengkubuwono sudah memiliki perbedaan pendapat yang parah dengan Amir Sjarifuddin ketika menjabat sebagai Perdana Menteri,” sebut Monfries.



Meski demikian, kisah menarik terjadi sekira dua tahun sebelum Peristiwa Madiun. Pada 18 September 1946, Sultan Hamengkubuwono IX bertemu dengan Alimin, salah satu tokoh senior Partai Komunis Indonesia (PKI).


Dalam pertemuan tersebut, seperti diceritakan bekas anggota Sekretariat CC PKI Siswoyo dalam memoarnya Siswoyo dalam Pusaran Arus Sejarah Kiri, Alimin mengaku berdialog akrab dengan Sultan. Obrolan informal itu sesekali diselingi bahasa Jawa Kromo Inggil.


“Dan Sri Sultan sempat mengatakan bahwa pengetahuannya mengenai teori Marxisme masih terbelakang. Dari itu Sri Sultan minta kepada Alimin untuk mencarikan buku Das Capital,” kata Siswoyo.



Pertemuan yang berlangsung di pinggiran kota Yogyakarta itu merupakan pertemuan antara wakil pemerintah RI dengan wakil PKI. Dalam pertemuan itu, PKI diminta aktif kembali sebagai partai legal.


Pertemuan ini, jika benar seperti yang dikisahkan Siswoyo, menunjukkan bahwa mulanya Sultan Hamengkubuwono IX juga tertarik pada Marxisme. Sebaliknya, Alimin tampaknya justru mendapat citra berlawanan sebagai seorang komunis.



Sejarawan Belanda Harry A. Poeze dalam Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia,mencatat bahwa pertemuan Alimin dan Sultan begitu mengherankan. Alimin menunjukkan kehambaannya pada Sultan ketika memberi salam.


“Dalam media massa yang bersahabat Alimin diberi gelar kehormatan ‘bapak proletar’,” tulis Poeze.Namun karakteristik pribadi Alimin, pada saat untuk pertama kali bertemu Sultan, pada 18 September, dengan sangat mengherankan ia memberikan salamnya secara feodal, yaitu dengan menyembah; suatu cara penghormatan dari bawahan kepada atasan.”

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Yang Tersisa dari Warisan Salahuddin di Pelosok Prancis

Yang Tersisa dari Warisan Salahuddin di Pelosok Prancis

Alkisah Masjid Buzancy di Ardennes, Prancis yang dibangun atas permintaan Sultan Salahuddin. Hancur semasa Revolusi Prancis. Kini beralih fungsi jadi sekolah.
Bukan Band Manis, God Bless Band Idealis

Bukan Band Manis, God Bless Band Idealis

God Bless tak mau sembarangan bikin album. Laris bukan tujuan mereka menelurkan album.
Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Kebun pertama tembakau Deli kini menjadi perkampungan di sekitar Jalan Platina, Medan.
Akhir Perlawanan Tuan Rondahaim Terhadap Belanda

Akhir Perlawanan Tuan Rondahaim Terhadap Belanda

Tuan Rondahaim melawan Belanda di Simalungun hingga akhir hayatnya. Dia tidak pernah menyerah. Penyakit rajalah yang menghentikan perlawanannya.
“Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran

“Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran

Dianggap menggerakan massa melawan pemerintah kolonial, Kuwu Groeneveld menanggung hukuman tak ringan.
bottom of page