top of page

Kisah Pembalap Prancis di Garis Finis

Fabio Quartararo dan Johann Zarco mengulang sejarah enam dekade MotoGP yang ditorehkan Pierre Monneret dan Jacques Collot. Siapa mereka?

loading_historia_white.gif
transparant.png

Rider tim Monster Energy Yamaha, Fabio Quartararo & joki Pramac Ducati, Johann Zarco mengulang catatan sejarah 67 tahun silam. (motogp.com).

7 Apr 2021
5 menit membaca

Diperbarui: 29 Mei

BENDERA triwarna (biru-putih-merah) mendominasi pengerekan tiga bendera di atas podium Grand Prix Doha, Minggu, 4 April 2021 malam waktu setempat (Senin, 5 April WIB). Pemenang kelas MotoGP Fabio Quartararo berbagi kebanggaan dengan runner-up Johann Zarco. Keduanya menyunggingkan senyum lebar dan bersukacita kala lagu kebangsaan Prancis “La Marsellaise” berkumandang.


MotoGP seri kedua di Sirkuit Losail, Doha, Qatar akhir pekan lalu menghadirkan dua torehan sejarah. Pertama, di seri itulah terjadi persaingan paling ketat sepanjang sejarah MotoGP dalam satu balapan penuh. Terdapat 15 pembalap yang adu nyali dan strategi plus kekuatan motor pada barisan terdepan dari start hingga finish di bawah selisih waktu sembilan detik antara pembalap terdepan hingga pembalap ke-15. Kedua, kemunculan pertama dua pembalap Prancis di tangga podium sejak 1954, di mana kala itu Prancis diwakili Pierre Monneret dan Jacques Collot.


Quartararo, yang diusung tim Monster Energy Yamaha, mengerahkan semua kemampuannya untuk menang meski start di urutan kelima. Sementara Zarco, joki tim Pramac Ducati, puas finis di urutan kedua. Selain bangga bisa ikut mengulang sejarah, Zarco senang karena rekan setimnya asal Spanyol yang seorang debutan, Jorge Martín, merasakan podium pertamanya sebagai juara ketiga.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
transparant.png
bottom of page