top of page

Ketika Indonesia Takut Revolusi Iran

Khawatir terjadi ekspor semangat revolusi, pemerintah Indonesia pernah mengawasi secara ketat hal-hal yang berbau Iran.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Revolusi Islam di Iran pada Januari 1978-Februari 1979. (Wikimedia Commons).

16 Apr 2021
3 menit membaca

JAKARTA, 1981. Kunjungan itu berakhir di kantor polisi. Baru saja keluar dari wilayah Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Jalan H.O.S. Cokroaminoto, Fadli (bukan nama sebenarnya) langsung dicokok tiga petugas berpakaian preman. Mereka kemudian membawa mahasiswa Bandung itu ke kantor polisi terdekat. Setelah ditanya ini-itu dan dicatat namanya, barulah Fadli dibolehkan pulang.


“Saya ingat salah satu pertanyaan polisi itu adalah: apakah saya anggota Jamaah Imran?” kenang lelaki kelahiran tahun 1958 itu.


Fadli sebetulnya tidak salah. Kunjungannya ke Kedutaan Besar Republik Islam Iran hanya untuk kepentingan penyusunan skripsinya terkait dengan Iran. Dia sama sekali tidak paham jika beberapa bulan sebelumnya, Iran pernah dihubung-hubungkan dengan nama kelompok Islam garis keras tersebut.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
transparant.png
bottom of page