- 14 Nov 2018
- 5 menit membaca
SUARAĀ senapan mesin Jepang terdengar dari pinggir pantai Bojong Anyer, Banten. Anggota Pembela Tanah Air (PETA) lagi menembaki sebuah kapal selam milik Sekutu. Badan kapal tak tampak. Sepenuhnya berada di dalam air. Hanya periskop kelihatan sedikit di permukaan. Kapal selam itu cepat masuk air. Tembakan dari anggota PETA pun berhenti.
Seorang penembak kapal selam itu bernama KHĀ Syamāun. Dia menjabat daidanco (komandan batalion) PETA wilayah Cilegon-Serang, Banten, sejak November 1943. Jepang punya alasan memilihnya sebagai daidanco. KHĀ Syamāun tokoh agama berpengaruh. Hal ini terbukti pada peristiwa kemunculan kapal selam Sekutu pada 30 Juni 1945 itu.
Seorang anak buah KHĀ Syamāun menolak perintah opsir Jepang. Dia hanya mau menembak bila perintah itu berasal dari KHĀ Syamāun. Menurutnya, KHĀ Syamāun bukan hanya pemimpin dalam kesatuan, melainkan juga guru agamanya. Demikian catatan Mansyur Muhyidin dalam Karya Ilmiah Berdasarkan Pengalaman Anak-AnakK.H. Sjamāun seperti dikutip oleh Rahayu Permana dalam "Kiai Haji Sjamāun: Gagasan dan Perjuangannya,"tesis di Universitas Indonesia.
Brigjen KHĀ Syamāun lahir di Kampung Beji, Cilegon, Banten, pada 15 April 1883. Ibunya bernama Siti Hadjar,Ā putri K.H. Wasid, tokoh perlawanan petani Banten terhadap pemerintah kolonial pada 1888. Ayahnya bernama H. Alwidjan yangĀ meninggal di Sumatra ketika KHĀ Syamāun masih kecil. Makam dan silsilahnya hingga kini belum diketahui secara jelas.
KHĀ Syamāun remaja memperoleh pendidikan di pesantren Dalingseng milik KHĀ Saāi pada 1901. Dia pindah ke pesantren Kamasan, asuhan KHĀ Jasim di Serang pada 1904. Tahun berikutnya, KHĀ Syamāun belajar ke Mekkah. Dia menghabiskan waktu lima tahun di Mekkah, lalu bergerak ke Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, dari 1910 hingga 1915.
Memperbarui Pesantren
Usai memperoleh ijazah Al-Azhar, KHĀ Syamāun kembali ke Mekkah untuk mengajar di Masjid al-Haram. Muridnya dari aneka suku bangsa. Yang terbanyak dari Jawa. Meskipun cuma setahun mengajar, di sini namanya mulai sohor sebagai āUlama Banten yang besar." KHĀ Syamāun pulang ke Hindia Belanda pada 1915.
Menurut Rahayu, KHĀ Syamāun meletakkan ilmu pada tingkat paling atas dalam pencapaian kehidupan manusia. Dia juga memiliki gagasan tentang hubungan ilmu pengetahuan dan masyarakat. āBahwa pendidikan merupakan salah satu cara yang efektif untuk mengatasi segala persoalan hidup,ā ungkap Rahayu.
Wujud gagasan KHĀ Syamāun terlihat dari pendirian pesantren di Citangkil, Cilegon, pada 1916. Sepuluh tahun awal, materi ajarnya masih terbatas pada ilmu agama seperti tata bahasa Arab, fikih, hadits, tafsir, dan akidah. Santrinya pun hanya berjumlah puluhan. Lama-kelamaan pesantren Citangkil berkembang. Tidak hanya dari jumlah santri, melainkan juga materi ajar dan metode pembelajaran.
KHĀ Syamāun menggabungkan pola pendidikan tradisional pesantren dengan sekolah modern pada 1926. āK.H. Syamāun berusaha mengembangkan rasionalitas Islam dengan seruan kembali kepada ajaran Islam yang pokok,ā tulis Abdul Malik dkk., dalam Jejak Ulama Banten Dari Syekh Yusuf Hingga Abuya Dimyati. Pada tahun ini pula, KHĀ Syamāun bergabung dengan Nahdlatul Ulama.
KHĀ Syamāun membuat kurikulum baru dengan memasukkan mata pelajaran sekolah modern seperti matematika, ilmu alam, ilmu hayat, ilmu bumi, kosmografi, sejarah, bahasa Inggris, bahasa Belanda, dan kegiatan ekstrakurikuler seperti kepanduan, kesenian, dan olahraga. Dia juga mulai menerapkan pembelajaran dalam ruang kelas secara berjenjang, sesuai tingkatan umur santri.
Perubahan corak pesantren Citangkil seiring pula dengan perubahan nama pesantren menjadi Perguruan Islam Al-Khaeriyah. Cabang-cabangnya bermunculan di sejumlah wilayah Banten pada 1929. Dan pada 1936, KHĀ Syamāun mendirikan sekolah dasar umum, Hollandsch Inlandsch School.
Selain mendirikan lembaga pendidikan, KHĀ Syam'un juga mengabadikan gagasannya lewat kitab. Dia menulis kitab tentang akidah, fikih, akhlak, dan sejarah. Publikasi karya-karya tersebut hanya terbatas pada kalangan pesantren, tapi mempunyai peran penting dalam pembentukan karakterĀ santri-santrinya.Ā Ā
Setelah kekuasaan pemerintah kolonial berakhir pada 1942, KHĀ Syamāun menjadi salah satu tokoh yang didekati oleh pemerintah pendudukan Jepang untuk merebut simpati rakyat Banten. Kiprah KHĀ Syamāun di ranah pendidikan terekam oleh pemerintah pendudukan Jepang. Namanya muncul dalam buku Orang Indonesia Jang Terkemoeka di Djawa terbitan Gunseikanbu tahun 1944.
Jepang mengajak KHĀ Syamāun bergabung bersama PETA pada November 1943 sebagai daidanco atau komandan batalion. Nugroho Notosutanto dalam Tentara Peta Pada Zaman Pendudukan Jepang di Indonesia mengungkapkan bahwa Jepang selalu mengincar tokoh rakyat seperti pemimpin partai, agama, kiai, dan pamong praja untuk duduk sebagai daidanco.
KHĀ Syamāun sebenarnya terpaksa menerima ajakan itu. Jepang mewanti-wanti jika KH. Syamāun menolak, perguruan Al-Khaeriyah akan ditutup. Tetapi KHĀ Syamāun kemudian memandang keputusannya bergabung ke PETA ada gunanya juga. Dia mempelajari taktik dan strategi militer.
āBahwa pendidikan Islam sesuai dengan kemiliteran. Ini baik bagi pemuda-pemuda kita. Dan saya sering menceritakan pada mereka tentang penghidupan dan perjuangan pahlawan-pahlawan Islam,ā kata KHĀ Syamāun dalam Asia Raja No. 35, 8 Februari 2604 (1944). KHĀ Syamāun bahkan mendorong santri-santrinya di Citangkil untuk turut ikut PETA.
Keputusan KHĀ Syamāun bergabung ke PETA tak mengurangi kadar wibawanya di Banten. Dia justru makin banyak beroleh penghormatan. Anak buahnya mematuhi perintahnya lebih dari sekadar seorang komandan, tetapi juga mematuhinya selayaknya guru dan bapak.
Meredakan Kekacauan
KHĀ Syamāun menggunakan wibawa dan kecakapan militernya untuk memulihkan keadaan Banten setelah Proklamasi 17 Agustus 1945. Sentimen anti-pamong praja dan anti-Priangan merebak di Banten. Sebab kebanyakan pejabat yang dekat dengan pemerintah Kolonial dan Jepang berasal dari wilayah Priangan. Ā
Pembunuhan terhadap pejabat setempat kerapkali terjadi sehingga menyebabkan pejabat yang masih hidup mengungsi. Posisi Residen āsekarang setingkat gubernurā Banten pun kosong. Untuk mengisi kekosongan tersebut, perwakilan golongan masyarakat Banten (jawara, pemuda, dan wanita)Ā menggelar pertemuan di rumah Raden Dzoelkarnaen Soeria Karta Legawa, Dewan Penasehat Karesidenan Banten, pada akhir Agustus 1945.
āPertemuan secara aklamasi memilih KHĀ Tb. Achmad Chatib sebagai Residen Banten yang menangani pemerintahan sipil. Untuk itu, mereka mendesak Pemerintah Pusat agar segera mengangkatnya dan untuk menangani urusan militer diserahkan kepada KH. Syamāun,ā tulis Suharto dalam Banten Masa Revolusi 1945ā1949, disertasi di Universitas Indonesia.
Pemerintah pusat menyetujui hasil pertemuan itu melalui radiogram tanggal 2 September 1945. KHĀ Tb. Achmad Chatib mulai menyusun personalia pemerintahan daerah Banten, membentuk Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID, semacam parlemen sementara), dan menyerahkan tanggung jawab pendirian Badan Keamanan Rakyat di seluruh wilayah Banten kepada KHĀ Syamāun.
Personalia pemerintahan daerah dan KNID bentukan KHĀ Tb. Achmad Chatib ternyata masih menggunakan orang-orang lama. Pertimbangannya adalah kemampuan mereka dalam urusan administrasi. Tetapi sekelompok orang di bawah pengaruh Tje Mamat, tokoh perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda pada 1926, tidak klop dengan pertimbangan tersebut.
Tje Mamat ingin orang-orang baru duduk di pemerintahan daerah. Orang-orang yang tak punya hubungan dengan kolonialisme Belanda dan pendudukan Jepang. Keinginannya diwujudkan dalam bentuk Dewan Rakyat, pemerintahan tandingan, di Ciomas pada Oktober 1945. Aksi Tje Mamat ini memperumit keadaan Banten yang tengah siaga menghadapi kedatangan tentara Sekutu.
Sementara itu, KHĀ Syamāun telah berhasil menyusun struktur militer Banten. Dia memperoleh tugas dari KHĀ Tb. Achmad Chatib untuk menghantam gerakan Tje Mamat. Dia berhasil menaklukkan gerakan Tje Mamat pada awal Januari 1946.
Selesai berurusan dengan Tje Mamat, KHĀ Syamāun menghadapi tentara NICA dan Sekutu. Dalam periode ini, dia bertindak sebagai Panglima Divisi 1000/ 1 ākelak menjadi Divisi Siliwangiā sampai Maret 1947. KHĀ Syamāun berperan menahan infiltrasi NICA dan Sekutu ke Banten.
Wafat dalam Perjuangan
Ketika terjadi Agresi Militer Belanda pertama pada 21 Juli 1947, KHĀ Syamāun menjabat bupati di Serang. Tentara Belanda berhasil memblokade wilayah Banten sehingga pasokan kebutuhan pokok dan uang Republik berkurang. KHĀ Syamāun menyumbangkan mesin cetaknya untuk memproduksi uang khusus yang disetujui oleh pemerintah Indonesia.
Agresi Militer Belanda kedua pada Desember 1948 turut menyasar kota Serang. Tentara Belanda berhasil memasuki kota ini dan menangkap beberapa pejabat. Tetapi KHĀ Syamāun lolos dari sergapan tentara Belanda. Dia berpindah-pindah tempat untuk memimpin perlawanan terhadap tentara Belanda. Di banyak tempat dia singgah, dia bertemu dengan gerilyawan Republik dan memberi mereka semangat.
KHĀ Syamāun wafat di Gunung Cacaban Anyer pada 2 Maret 1949, tak lama setelah bertemu dengan gerilyawan. Atas peran dan jasanya kepada bangsa dan negara, KHĀ Syamāun ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Jokowi pada 8 November 2018. Ā









Komentar