top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Khotbah dari Menteng Raya

Tak hanya mendatangkan suara, Duta Masjarakat juga menjadi jembatan Islam dan nasionalis sekuler. Harian Nahdlatul Ulama ini tertatih-tatih karena minim penulis dan dana.

5 Nov 2025

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Harian Duta Masjarakat, media massa Nahdlatul Ulama. (Perpusnas RI).

  • 6 Nov 2025
  • 4 menit membaca

Diperbarui: 31 Jan

KH Mohammad Dachlan, wakil ketua Tanfidiyah PBNU, merasakan hari-hari yang sibuk selama Desember 1953. Awal bulan depan nomor perdana Duta Masjarakat harus terbit. Dia sudah mengirim surat edaran ke seluruh pengurus cabang NU untuk berlangganan. Namun, dia malah mendapat balasan berisi permintaan nomor perkenalan, brosur langganan, hingga keagenan.


Tak ambil pusing, Dachlan kembali menerbitkan surat edaran tertanggal 16 Desember 1953 beserta 20 lembar siaran tentang penerbitan Duta Masjarakat. Dia berharap, “siaran ini Saudara-saudara pasang di masdjid-masjid, surau-surau, madrasah-madrasah, dan di tempat-tempat yang penting sehingga dapat dibaca umum.”

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

Advertisement

bottom of page