top of page

Kisah Semaoen dan Suratnya untuk Komintern

Penjelasan mengenai kondisi partai yang kehilangan pemimpin akibat penangkapan. Kecewa karena korupsi.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Ilustrasi Semaoen. (Betaria Sarulina/Historia.ID).

  • 5 Nov 2015
  • 2 menit membaca

Diperbarui: 13 Apr

PADA 8 Mei 1923 pemerintah kolonial menangkap Semaun, tokoh PKI, karena dituduh membuat onar Hindia Belanda. Ia memimpin pemogokan buruh kereta api di Semarang yang juga dilakukan oleh buruh kereta api di Surabaya. Pemogokan tersebut jadi alasan kuat bagi pemerintah kolonial untuk mengasingkan Semaun keluar dari Hindia Belanda.


Dengan menggunakan hak untuk mengusir orang yang dianggap berbahaya (exorbitante rechten), gubernur jenderal Hindia Belanda memerintahkan Semaun meninggalkan Hindia Belanda dan tiba di Belanda pada 23 September 1923. Menurut sejarawan Harry Poeze, tiga hari setelah kedatangannya di Amsterdam, sejumlah orang menyelenggarakan rapat penyambutan yang diadakan untuknya di gedung konser (concertgebouw) Amsterdam.


Selama dia berada di Eropa, Semaoen “memperlihatkan kegiatan yang luar biasa dan kegiatan itu diarahkan ke berbagai jurusan,” tulis Harry Poeze dalam Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda 1600-1950.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Di usianya yang masih muda, Semaoen memimpin dan menggerakkan serikat buruh. Dia memperjuangkan pekerja tertindas dengan melancarkan pemogokan, sampai diusir pemerintah kolonial.
bg-gray.jpg
Beranjak remaja di tengah berseminya pergerakan, Semaoen “dibentuk” Sneevliet guna merintis jalan revolusioner.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
transparant.png
bottom of page