top of page

Kisah Taruna Indonesia dalam Angkatan Laut Belanda

Pemuda Indonesia ini menjadi taruna Angkatan Laut Belanda. Ditawan pada masa pendudukan Jepang.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Taruna Indonesia dalam Koninklijk Marine atau Angkatan Laut Kerajaan Belanda. (Arsip Nasional Belanda).

13 Agu 2022
2 menit membaca

Diperbarui: 3 Jul

MESKI terlambat, Kerajaan Belanda akhirnya membangun akademi Angkatan Laut bernama Koninklijk Instituut voor de Marine (KIM) di Surabaya. Setelah pecah Perang Dunia II, pada 1940 lembaga ini menerima pemuda Indonesia sebagai Adelborst (taruna Angkatan Laut) untuk dilatih menjadi perwira Koninklijk Marine (KM) atau Angkatan Laut Kerajaan Belanda. Syaratnya mereka harus lulus SMA, baik AMS maupun HBS lima tahun.


“Di angkatan saya hanya ada empat orang Indonesia, termasuk saya sendiri,” kata Raden Mas Hadjiwibowo dalam Anak Orang Belajar Hidup Pendewasaan 1924–1942.


Tak satu pun di antara taruna Indonesia itu yang ditempatkan di korps pelaut (perwira dek). Koran Soerabaijasch Handelsblad, 6 Agustus 1940, dan Bataviaasch Nieuwsblad, 27 Juli 1940, menyebut taruna Indonesia di bagian mesin adalah Mohamad Razak. Sementara taruna bagian administrasi adalah Raden Mas Hadjiwibowo, Raden Mohammad Sidik Moeljono, dan Raden Djajadiningrat. Nama terakhir adalah putra Pangeran Aria Ahmad Djajadiningrat yang pernah menjabat bupati Batavia.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page