- 8 Mei 2020
- 3 menit membaca
LETNAN Kolonel Soegih Arto ingin sekali menjadi diplomat. Menurut kabar yang dia dengar dari handai taulan, kerja sebagai abdi negara di luar negeri itu enak. Gaji cukup untuk hidup dan kalau pandai mengatur keuangan dapat ditabung sebagai bekal pulang ke Indonesia. Soegih Arto pun pernah kesengsem melihat Susanto Tirtoprodjo, duta besar Republik Indonesia untuk Belanda yang selalu tampil berpakain rapi dan naik turun mobil kemana-mana.
Masa magang sebagai diplomat mungkin sudah dijalani Soegih Arto sewaktu menjabat Komandan Komando Militer Kota Besar di Medan tahun 1956. Meski sebentar, setidaknya Soegih Arto sudah memiliki kontak dengan konsul-konsul dari India, Amerika Serikat, Tiongkok, dan Inggris. Soegih Arto dan istri kerap diundang dalam hajatan ulang tahun negara-negara tersebut. Dia bangga benar ketika diajak ikutan toast gelas sebagai tanda selamatan. Serasa jadi orang penting, katanya.
Dalam otobiografinya Sanul Daca: Pengalaman Pribadi Letjen (Purn.) Soegih Arto, ada kisah lucu kala dirinya bersua dengan konsul Tiongkok yang hanya mau berbicara dalam bahasa Tionghoa. Sementara Soegih Arto mempergunakan bahasa Indonesia. Perkara beda bahasa ini bikin pekerjaan penerjemah jadi semakin rumit. Kalau si konsul berlelucon, dia sudah ketawa duluan baru Soegih Arto menyusul setelah diterjemahkan. Sebaliknya, giliran Soegih Arto yang menceritakan lelucon, maka dia tertawa lebih dulu, lalu sang konsul ikutan terpingkal setelah penerjemah menceritakan ulang dalam bahasa Tionghoa. Akhirnya, mereka pun tertawa lagi bersama-sama. Makan waktu tapi kocak.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















