- 11 Feb 2023
- 4 menit membaca
Diperbarui: 22 Mei
SETELAH mendapatkan izin dari Maharaja Suksma Wisesa, Gatholoco meninggalkan kerajaan Jajar untuk berpetualang. Ayahnya memperingatkan putra satu-satunya untuk berhati-hati terhadap lawan yang akan ia hadapi, Perjitawati, yang tinggal di gua Terusan. Gatholoco hidup dengan madat, minum, dan berjudi, didampingi panakawannya, Dermagandhul.
Gatholoco bertemu dengan tiga guru pesantren yang sedang mengajarkan ilmu agama kepada murid-muridnya. Para kiai ini meremehkan penampilan Gatholoco, si buruk rupa. Ketika tahu namanya, semua tertawa, menganggap nama itu jorok, haram. Gatholoco lalu menerangkan arti namanya: gatho kepala dan loco alat untuk menggosok. “Itulah laki-laki sejati.”
Perdebatan pun terjadi. Dari soal nama merembet masalah ilmu, sifat keilahian, Islam, alam semesta, dan sebagainya. Akhirnya, Gatholoco memenangi perdebatan.
Gatholoco adalah tokoh dalam Suluk Gatholoco, khazanah sastra Jawa yang kontroversial karena dinilai anti-Islam. “Serat Gatholoco ini adalah sebuah bentuk sastra peralihan dari masa Majapahit ke masa Islam. Suasana kala itu menggambarkan betapa banyak orang mengagungkan syariat,” ujar Damardjati Supadjar, guru besar Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















