BELUM setahun tugas di bagian perbekalan Markas Besar Angkatan Darat di Jakarta, Kapten Kontan Perangin-angin Bangun memutuskan mengundurkan diri pada 1950-an. Mantan ajudan Panglima Tentara dan Teritorium VII/Indonesia Timur, Kolonel A.E. Kawilarang, itu ingin mewujudkan mimpinya menjadi industrialis seperti Henry Ford.
“Menurut pendapat saya, saya mempunyai bakat dalam dunia dagang atau industri, jadi walaupun belum ada modal sama sekali, mudah-mudahan berkat tangan Tuhan, niat hidup dalam dunia dagang itu kelak memperoleh jalan,” kata Kontan Bangun saat berdiskusi dengan rekannya, Mayor Djamin Gintings, tentang rencananya berhenti sebagai tentara dan merintis usaha.
Tridah Bangun menulis dalam biografi Kontan Bangun, Pejuang dan Pelopor Industri Kabel Indonesia, keputusan Kontan Bangun direspons dengan heran oleh Djamin Gintings. Menurut Djamin, sebagai pejuang selama bertahun-tahun membela dan menegakkan kemerdekaan, maka pengabdian kepada negara lewat TNI sudah cukup baik. Prospek hidup sederhana pun sudah terjamin.
“Itu betul, tapi untuk mengisi kemerdekaan juga diperlukan usaha dan penanganan orang Indonesia dalam bidang ekonomi, keuangan, dan industri, sehingga kitalah yang mengatur perekonomian kita, bukan orang asing... Dan saya mau membuktikan, bahwa kita sebagai perwira TNI yang selama perang kemerdekaan mampu membela dan mempertahankan kemerdekaan, juga menunjukkan kemampuan sebagai pejuang ekonomi nasional,” jawab Kontan.
Beberapa hari kemudian, Kontan Bangun menyampaikan surat pengunduran diri sebagai prajurit TNI kepada pejabat berwenang di Mabes AD. Perwira yang mengurus personalia di Mabes AD terkejut karena kejadian ini cukup langka. Namun, permohonannya dikabulkan.
Lahir dari Keluarga Pedagang
Jiwa wirausaha Kontan Bangun telah terlihat sejak kecil, terlebih keluarganya mencari nafkah dengan berdagang. Ayahnya, Labe Bangun dalam berdagang selalu dengan transaksi kontan atau lunas. Oleh sebab itu, ketika anak sulungnya lahir di Perbesi, Kabupaten Karo, Sumatra Utara, pada 25 Februari 1922, diberi nama Kontan.
Selain menjual kue buatan ibunya, Kontan Bangun yang sering menang bermain kelereng, kerap menjual kelereng kepada teman-temannya. Dari bermain gundu mulai tertanam dalam dirinya bahwa dengan keterampilan dia bisa meraih keuntungan.
Pengalaman berdagang berlanjut di masa pendudukan Jepang. Kontan Bangun yang pernah menempuh pendidikan di Middlebare Handleschool atau sekolah dagang di Medan, membangun pabrik kertas di Batukarang. Dia melihat peluang karena produksi kertas terbatas, terlebih bahan kertas yang kebanyakan impor telah berhenti masuk ke Indonesia. Pertimbangannya adalah bahan baku pembuatan kertas, seperti batang padi, melimpah di Batukarang dan komponen-komponen mesin untuk memproduksi kertas juga tidak sulit didapatkan di Medan.
Selain pabrik kertas, Kontan Bangun yang baru berusia 20-an juga menanam tembakau, jarak, hingga palawija, yang hasilnya dia pasarkan sendiri. Di samping itu, dia mengelola empat kilang padi milik ayahnya. Seminggu sekali dia mengayuh sepeda untuk menginspeksi kilang-kilang padi yang lokasinya berjauhan.
Merintis Usaha dari Miranda
Belum sebulan Kontan Bangun berhenti sebagai tentara. Petugas AD urusan perumahan memperingatkannya agar segera mengosongkan rumah dinas karena masih banyak anggota militer yang membutuhkan tempat tinggal. Kontan meminta waktu untuk mencari hunian baru meski dia sesungguhnya tak memiliki uang lebih.
“Karena keadaan memang sulit, jangankan uang menyewa rumah, untuk sehari-hari berdua cukup prihatin, mereka terpaksa tetap tinggal di pondokan militer itu,” tulis Tridah.
Setelah dua tiga kali peringatan pengosongan, Kontan Bangun dan istri meninggalkan rumah dinas. Koper seng mereka memuat beberapa pakaian, tikar, piring, gelas, dan tempat masak. Sama seperti masa awal kedatangannya ke Jakarta, bila mereka hendak tidur akan menggelar tikar bawaan dari Medan, dan pakaian-pakaian yang digulung digunakan sebagai bantal. Bermodalkan tekad kuat dan kepercayaan diri, dia mulai membangun usaha di Jakarta.
Awalnya, Kontan Bangun menyasar kantor-kantor jawatan atau perusahaan yang memerlukan barang. Dia lalu menghubungkan mereka kepada penjual barang-barang tersebut. Bila komunikasi itu berujung transaksi jual-beli, maka dia akan mendapat komisi. Kontan melihat peluang sebagai makelar karena dia memiliki relasi yang cukup luas dari pekerjaan sebelumnya di Jawatan Perlengkapan AD.
Kontan Bangun kemudian bekerja sama dengan rekannya, Gultom, mengolah perusahaan Miranda. Selain dalam bidang jasa, perusahaan tersebut juga menjual alat-alat kebutuhan industri dan pertanian. Barang-barang itu diperoleh dari perusahaan lebih besar yang bergerak sebagai importir.
Dari Miranda, Kontan Bangun terdorong untuk membangun perusahaan sendiri. Pada 16 September 1952, dia mendirikan PT Terang Kita, yang berkantor di Jalan Segara III (kini Veteran III) Medan Merdeka Utara, dan bergerak di bidang perdagangan umum dan ekspor-impor.
Di samping mengelola PT Terang Kita, Kontan Bangun juga mengurus NV Indah, cabang usaha milik ayahnya di Jakarta. Dia bersama adiknya, Baginda Sangap Bangun, yang pernah bertugas sebagai perwira AD berpangkat Letnan Dua, mengembangkan usaha ayah mereka yang juga bergerak dalam perdagangan umum.
Setelah Labe Bangun wafat pada 1961, NV Indah cabang Jakarta tidak beroperasi lagi. Sementara itu, menjelang akhir tahun 1950-an, perusahaan Kontan Bangun fokus pada impor dan perdagangan alat-alat listrik, termasuk berbagai jenis kabel.
Berdikari Lewat Kabel
Selepas pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda, pemerintah memberlakukan sejumlah kebijakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Presiden Sukarno mencanangkan gagasan berdikari atau “berdiri di atas kaki sendiri” di bidang ekonomi.
“Saya tergugah. Mengapa harus mengimpor? Mengapa tidak mencoba membuat barang sendiri?” kata Kontan Bangun dalam Apa & Siapa Sejumlah Orang Indonesia 1985–1986.
Bisnis perkabelan yang digeluti Kontan Bangun membuatnya sadar akan pentingnya kabel dalam berbagai sektor kehidupan. Tidak hanya menjadi komponen utama sistem kelistrikan, kabel juga salah satu sarana penting untuk operasional telepon.
Sayangnya, kabel telepon harus diimpor dari luar negeri karena belum ada pabrik kabel di Indonesia. Atas dasar ini, Kontan Bangun berencana mendirikan pabrik kabel listrik dan telepon berisolasi plastik di Jakarta. Gagasan itu berkembang dan semakin konkret setelah dia melakukan penelitian ke berbagai pabrik kabel di Eropa Barat.
Memasuki tahun 1960, Kontan Bangun membangun pabrik kabel di Jalan Raya Pasar Minggu km 17,5 di atas tanah seluas 4.344 m². Bangunan pabriknya seluas 1.350 m², power house 35 m², kantor 20 m², gudang 180 m², rumah jaga 12 m², dan perumahan staf 180 m².
Selanjutnya, Kontan Bangun membeli alat-alat mesin pemrosesan bahan baku menjadi kabel dengan isolasi plastik. Beragam bahan baku seperti plastik, kawat tembaga, kawat baja, dan pita plastik serta pita alumunium seluruhnya diimpor.
“Dengan dimulainya pembangunan pabrik kabel di Jakarta oleh Dr. K. Pri Bangun itu, maka pabrik kabel ini adalah sebagai pelopor atau pioner pembangunan pabrik kabel di Indonesia,” tulis Tridah.
Setelah mesin-mesin tiba di pabrik, timbul masalah yang membuat Kontan Bangun kelimpungan. Dia maupun karyawannya tidak ada yang tahu cara memasang komponen-komponen peralatan yang membuat mesin dapat beroperasi menghasilkan kabel. Dia kemudian memasang iklan di surat kabar mencari tenaga ahli yang mampu menyusun kompenen-komponen peralatan menjadi mesin.
Tak berselang lama datang seorang laki-laki berusia sekitar 50 tahun menawarkan diri menjadi tenaga ahli. Ketika ditanya oleh Kontan Bangun, apakah dia ahli memasang komponen-komponen peralatan menjadi mesin memproduksi kabel, pria tersebut mengatakan bahwa dia tidak pernah memasang komponen semacam itu. Namun, dia mengaku berpengalaman memasang mesin sekaligus sebagai montir, dan menurutnya mesin-mesin itu tidak jauh berbeda dengan mesin pabrik kabel.
Kontan Bangun menerimanya. Dengan demikian, pabrik kabel ini tidak hanya menjadi pabrik kabel pertama di Indonesia, tetapi juga menjadi yang pertama bagi si pelamar kerja yang belum pernah bersinggungan dengan mesin pabrik tersebut.
“Ternyata orang tersebut bekerja hati-hati dan terampil sekali. Dengan berfungsi sebagai ‘pengarah’, maka segala komponen peralatan disusun, selesai Februari 1962. Karena pembangunan gedung seperti instalasi listrik juga telah siap, demikian pula sebelumnya telah dibeli bahan-bahan baku, segera setelah selesai pemasangan mesin dilakukan percobaan produksi pertama. Ternyata berjalan baik,” tulis Tridah.
Pabrik mulai beroperasi pada 1962, memproduksi kabel listrik tegangan rendah seperti NYA, NYM, dan NYY; flexibles wires seperti NYZ, NYAF, FBLK; overhead telephone cables sampai dengan 30 pairs; indoor telephone cables 1x2x0,60 mm; serta drop wire 1x20x0,6 mm. Kapasitas produksi pabrik setahun mencapai 700 ton dengan “Tranka Kabel” sebagai nama dagang produk-produk PT Terang Kita.
Meski tidak memiliki pengalaman di industri kabel, perusahaan Kontan Bangun mampu memproduksi kabel yang memenuhi standar kualitas. Keberhasilan industri kabelnya bermula ketika dia mampu meyakinkan PLN untuk beralih dari kabel isolasi karet ke plastik. Selain PLN, langganan utama Tranka Kabel adalah Perumtel, PT Sucaco, PTU Kabelindo, dan PT Kabel Metal.
Kesuksesan Tranka Kabel membuat perusahaan berkembang semakin besar. Tenaga kerja dari puluhan pada 1962 menjadi ratusan pada 1976. Guna meningkatkan jumlah produksi, lokasi pabrik dipindahkan ke Cimanggis dengan luas 5 hektare. Komitmen Kontan Bangun yang mengutamakan produk-produk berkualitas membuat perusahaannya meraih penghargaan Adikarya bidang telekomunikasi dan memiliki sertifikat ISO 9002.
Warta Ekonomi No. 43 Tahun VIII Edisi 18 Maret 1996, memberitakan, dengan makin berkembangnya perusahaan, pada 1993 Kontan Bangun mendirikan PT Terang Kita Indahtama Holding Company sebagai induk perusahaan. Di bawahnya bernaung PT Pancur Siwah Namura (industri tembaga), PT Alu Mehamat (industri alumunium batangan), PT Terang Namura Tama Prasarana (kontraktor), PT Terang Kita Ciptaguna (kontraktor), PT Singganmata Indahtama (properti), dan PT Tranka Kabel.*



















Komentar