top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Awal Mula Pipa Plastik di Indonesia

Apapun mereknya, orang menyebutnya paralon. Pionir pipa plastik ini dijuluki Bapak Pralon Indonesia.

20 Sep 2022

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Pandji Wisaksana (kanan), pionir industri plastik di Indonesia, termasuk sikat gigi plastik dan pipa plastik merek Pralon. (Repro Mata Hati Sang Pioneer Indonesia).

  • 20 Sep 2022
  • 2 menit membaca

PIPA PVC (polyvinyl chloride) atau lebih dikenal dengan pipa paralon merupakan salah satu material yang penting dalam pembangunan rumah atau gedung. Pipa yang terbuat dari bahan baku polivinil klorida ini biasanya digunakan untuk mengalirkan air dan instalasi listrik. Pipa plastik jadi pilihan selain harganya terjangkau, juga lebih ringan sehingga proses pemasangannya lebih mudah.


Pipa PVC tersedia dalam beragam jenis dan ukuran. Mereknya menentukan kualitas dan harga. Namun, apapun mereknya, orang menyebutnya paralon. Nama ini diambil dari merek Pralon, pionir pipa PVC di Indonesia, yang didirikan oleh Pandji Wisaksana alias Phan Wan Sin.


Pandji lahir di Bandung, Jawa Barat pada 27 Juni 1925. Mantan wartawan Bandung Herald, harian mandarin pertama di Bandung pada masa pendudukan Jepang, ini dikenal sebagai perintis industri plastik di Indonesia.


Pandji mendirikan PT Haking, perusahaan patungan dengan perusahaan Hong Kong milik Haking Wong, yang memproduksi sikat gigi plastik pertama di Indonesia. Setelah itu, dia membawa teknologi pembuatan pipa plastik ke Indonesia.


“Pandji adalah orang pertama yang membawa teknologi pipa plastik (pralon) ke Indonesia,” tulis I. Wibowo, dkk. dalam biografi Pandji Wisaksana, Mata Hati Sang Pioneer Indonesia. Ide membuat paralon muncul saat Pandji pergi ke Jepang.


Nurani, General Manager PT Pralon, dalam perpamsi.or.id, mengatakan dalam suatu kunjungan ke Jepang bersama Gubernur DKI Jakarta waktu itu, Pandji berkenalan dengan Sekisui, perusahaan plastik besar di Jepang yang memproduksi pipa dengan nama S-Lon.


Pipa S-plon menarik perhatian Pandji. “Kuatnya sama seperti besi, tidak karatan dan enteng, menyambungnya gampang, pakai lem,” kata Pandji. Pada masa itu di Indonesia lazim menggunakan pipa dari besi yang mudah berkarat sehingga air menjadi berbau. Ia pun melihat peluang bisnis dari pipa plastik. Ia kemudian mengirim anak buahnya ke Jepang untuk belajar pembuatan pipa plastik tersebut.


Pada 1963, Pandji yang dijuluki Raja Plastik mendirikan PT Prakarsa Pralon. Perusahaan ini memproduksi pipa PVC dengan standar internasional Jepang. Peralatan, teknologi, dan bahan baku disuplai langsung dari Jepang.


Pipa plastik produksinya dinamai “pralon” yang kemudian populer di seluruh Indonesia. “Pralon berasal dari gabungan huruf ‘P’ dari Pandji, sementara nama bagian belakangnya diciptakan untuk menghasilkan suara yang menarik bagi pemasaran,” tulis I. Wibowo, dkk.


Versi lain arti merek itu dikemukakan oleh Nurani dalam perpamsi.or.id, bahwa Pralon diambil dari Pra (Prakarsa) dan Lon (merek pipa S-Lon milik Sekisui).


Kehadiran paralon disambut baik oleh masyarakat dan menggeser penggunaan pipa besi dalam proses konstruksi. Misalnya, paralon telah digunakan dalam pembangunan Masjid Istiqlal. “Pandji menyumbang pipa paralon secara gratis untuk pembangunan Masjid Istiqlal,” tulis I. Wibowo, dkk.


Seiring perkembangan pasar, pada 1975 PT Prakarsa Pralon membentuk perusahaan joint venture dengan perusahaan Jepang, Sekisui dan Marubeni, perusahaan perdagangan pemilik sebagian saham Sekisui, dengan nama PT Pralon Corporation.


Pada tahun itu perusahaan-perusahaan pipa plastik lain bermunculan, baik melalui program Penanaman Modal Asing (PMA) maupun Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN).


I. Wibowo, dkk. menyebut pada 1968, Pandji melepas perusahaannya kepada sahabatnya. Namun, sumber lain menyebut Pandji menjual sahamnya kepada The Ning King (Argo Manunggal Grup) pada 1985.


Kendati telah melepas kepemilikannya atas perusahaan Pralon, Pandji tercatat sebagai pionir industri pipa plastik di Indonesia. “Karena pabrik inilah yang pertama kali menghasilkan pipa plastik di Indonesia,” tulis I. Wibowo, dkk., “Pandji pun mendapat julukan Bapak Pralon Indonesia.”*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Masa Pahit Kesultanan Langkat

Masa Pahit Kesultanan Langkat

Kesultanan paling kaya di masa Hindia Belanda luluh lantak digilas revolusi sosial. Padahal, sang sultan telah menyatakan sumpah setia pada Republik Indonesia.
Menyibak Mitos Haji Djamhari

Menyibak Mitos Haji Djamhari

Penelitian membuktikan bahwa sosok Haji Djamhari sebagai penemu kretek benar-benar ada dan bukan tokoh fiksi.
Dokter Tolong Orang Jawa Dikira Islam

Dokter Tolong Orang Jawa Dikira Islam

Rumahsakit Bethesda Yogyakarta yang masih berdiri hingga kini merupakan buah "kasih" dr. Belanda bernama JG Scheurer.
Supriyadi Masuk Hutan dan Menghilang

Supriyadi Masuk Hutan dan Menghilang

Setelah memimpin pemberontakan PETA di Blitar, Supriyadi masuk hutan dan menghilang. Diduga telah dibunuh Jepang, tetapi dirahasiakan sehingga makamnya tidak ditemukan.
Donny God Bless Kritik Penguasa Generasi Ayahnya

Donny God Bless Kritik Penguasa Generasi Ayahnya

Basis God Bless Donny Fattah pandai menulis lagu dan peduli pada kehidupan bangsanya. Lagunya cukup kritis di era Orde Baru.
bottom of page