top of page

KSAD Pilihan Ibu Tien Soeharto

Ibu Tien Soeharto meminta kepada suaminya agar memilih Dading Kalbuadi sebagai KSAD. Alasannya tinggi, gagah, dan ganteng.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Letnan Jenderal TNI Dading Kalbuadi saat menjabat Kasum ABRI. (Wikimedia Commons).

  • 2 Feb 2023
  • 3 menit membaca

Diperbarui: 14 Apr

SUATU malam di tahun 1984, Mayor Prabowo Subianto sedang makan malam dengan mertuanya, Presiden Soeharto dan Siti Hartinah alias Ibu Tien. Mereka hanya bertiga di meja makan. Tiba-tiba Ibu Tien bersuara.


“Pak, apa benar KASAD mau diganti?” tanya Ibu Tien kepada suaminya.


“Iya benar, kan sudah saatnya diganti,” jawab Soeharto.


Kala itu, Jenderal TNI Poniman sudah hampir tiga tahun menjabat Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Ia mengisi jabatan itu dari 30 April 1980. Setelah era 1950-an, posisi KSAD sangat penting dan Soeharto tentu harus memberikan jabatan itu kepada orang yang tepat.


“Itu loh Pak, sing apik iku (yang bagus itu) Pangdam Bali, Pak, Dading. Tinggi, gagah, dan ganteng, Pak. Cocok itu, sebaiknya ia yang jadi KASAD, Pak,” kata Ibu Tien.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Di usianya yang masih muda, Semaoen memimpin dan menggerakkan serikat buruh. Dia memperjuangkan pekerja tertindas dengan melancarkan pemogokan, sampai diusir pemerintah kolonial.
bg-gray.jpg
Beranjak remaja di tengah berseminya pergerakan, Semaoen “dibentuk” Sneevliet guna merintis jalan revolusioner.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
transparant.png
bottom of page