top of page

Lotere untuk PON

Tak ada uang, lotere pun jadi. PON pertama di era Orde Baru bakal urung terlaksana jika tanpa lotere.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Poster resmi Olimpiade Berlin 1936 di Deutsches Fussballmuseum, Dortmund, Jerman/Foto: Randy Wirayudha (Historia)

  • 4 Feb 2014
  • 2 menit membaca

Diperbarui: 30 Jul 2025

PERSIAPAN PON VII tahun 1969, ajang olahraga empat tahunan yang pertama di masa Orde Baru, nyaris tak bisa digelar. Maklum, kondisi politik dan ekonomi belum sepenuhnya stabil. Tak heran jika banyak daerah menolak menjadi tuan rumah dengan alasan tak punya dana.


Di Jawa Timur, setelah Gerakan 30 September 1965, Operasi Trisula menghancurkan berbagai unsur Partai Komunis Indonesia. Menurut Pangdam VIII/Brawijaya, M. Jassin, Operasi Trisula dan peng-Orba-an di Jawa Timur berhasil.


“Atas hal ini, Sultan Hamengkubuwono IX, selaku ketua KONI Pusat, menunjuk Jawa Timur sebagai tuan rumah PON pertama di era Orde Baru,” kata Jasin dalam memoarnya, M. Jassin, Saya Tak Pernah Meminta Ampun Kepada Soeharto.


Namun, seperti daerah lainnya, Jawa Timur lagi berbenah. Kas daerah tak mencukupi untuk mendanai kegiatan sekelas PON. Para elite Jawa Timur, seperti Gubernur Mohammad Noer, Pangdam VIII/Brawijaya M. Jassin, Walikota Surabaya R. Soekotjo, dan komandan Korem 084/Bhaskara Jaya Acub Zainal berdiskusi bagaimana memenuhi permintaan pemerintah pusat.


Di tengah kebingungan, Acub Zainal bersedia mencarikan dana. Caranya, dengan menyelenggarakan lotere dalam bentuk Lotto (lotere totalisator). Cara kontroversial ini pernah diterapkan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin untuk membangun daerahnya. Meski heran dengan langkah Acub, semua yang hadir menyetujui.


“Saya tegaskan PON VII ini merupakan titik tolak untuk membangkitkan kembali nationalbewustzijn –kesadaran nasional– yang sudah berkurang sejak PON V yang lalu,” kata Acub dalam biografinya, Acub Zainal, I Love The Army karya Nurinwa Ki S. Hendrowinoto dkk. Acub kemudian diangkat sebagai ketua I eksekutif panitia besar PON VII.


Pemerintah kota Surabaya lalu mengeluarkan Lotto PON. Selain menggalang dana, lotere ini dimaksudkan untuk menertibkan perjudian gelap yang marak.


Dalam tempo delapan bulan, Acub sanggup membangun stadion Tambaksari, yang kemudian ganti nama jadi Stadion Gelora 10 November. Selain membangun fasilitas olahraga, dana lotere dipakai untuk memperlebar Jalan Raya Darmo menjadi jalan protokol dengan menghilangkan jalan trem kota.


Penolakan pun muncul dari masyarakat. Di Surabaya, Acub menemui undangan dari ulama dan pemuda yang tak setuju dengan lotere. Acub bergeming dan menjelaskan bahwa hanya dengan lotere dapat terkumpul dana besar untuk menggelar PON.


Lotere PON ala Acub juga menuai kritik dari pemerintah pusat. Menteri Sosial AM Tambunan mengeluarkan instruksi untuk menutup Lotto PON. Acub bahkan diundang ke Jakarta untuk memberikan penjelasan. Pada akhirnya, Lotto PON tetap berjalan. Dan PON VII pun sukses terselenggara pada 26 Agustus-6 September 1969, yang dibuka Presiden Soeharto. Sayangnya, tak diketahui berapa uang yang terkumpul dari hasil lotere tersebut.


Atas prestasinya menyelenggarakan PON VII dengan dana dari lotere, Acub Zainal dipromosikan menggantikan Sarwo Edhie Wibowo sebagai Panglima Daerah Militer Irian Barat.


Pada 1970-an, cara pemerintah kota Surabaya ditiru pemerintah pusat, melalui Kementerian Sosial, dengan menjual undian olahraga berhadiah dengan nama Nalo (Nasional Lotere).

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Pernah populer sebagai pohon peneduh bersama asam jawa dan flamboyan. Kini, tanaman ini menjadi salah satu pohon yang paling populer untuk aktivitas penghijauan.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah berduka secara beruntun. Kehilangan orang dekat dalam waktu singkat.
bg-gray.jpg
Penyebaran pamflet provokatif oleh Front Pemuda Sunda bikin geger. Parlemen sampai memanggil perdana menteri. Ketidakadilan jadi pangkalnya.
bg-gray.jpg
Tubagus Angke asal Banten melanjutkan Fatahillah memimpin Jayakarta. Sebagai Pangeran Jayakarta II, dia membawa Pelabuhan Sunda Kelapa menandingi Pelabuhan Malaka.
Produksi penulisan sejarah maupun penyebaran informasi kesejarahan harus merespons situasi zaman.
Produksi penulisan sejarah maupun penyebaran informasi kesejarahan harus merespons situasi zaman.
Budaya bahari bisa tumbuh bukan semata-mata karena infrastruktur fisik.
Budaya bahari bisa tumbuh bukan semata-mata karena infrastruktur fisik.
Belanda bikin lembaga yang mengumpulkan informasi mengenai tanah jajahannya.
Belanda bikin lembaga yang mengumpulkan informasi mengenai tanah jajahannya.
Sebagai wartawan dan anggota parlemen Belanda, dia mengutuk agresi militer Belanda dan menganggapnya sebagai aksi edan dan sia-sia.
Sebagai wartawan dan anggota parlemen Belanda, dia mengutuk agresi militer Belanda dan menganggapnya sebagai aksi edan dan sia-sia.
Ada banyak cara memecahkan masalah kepadatan lalu-lintas ibukota. Salah satunya dengan menebeng.
Ada banyak cara memecahkan masalah kepadatan lalu-lintas ibukota. Salah satunya dengan menebeng.
Pengajaran sejarah yang baik dapat membangkitkan daya kritis, kreativitas, dan keberanian mengambil keputusan.
Pengajaran sejarah yang baik dapat membangkitkan daya kritis, kreativitas, dan keberanian mengambil keputusan.
transparant.png
bottom of page