- 23 Des 2022
- 3 menit membaca
Diperbarui: 30 Mei
TAK ada yang menyangka pemutaran film Amerika yang dihadiri kaum ibu dari Kongres Wanita Indonesia di Jakarta diwarnai penculikan terhadap Maria Ullfah. Mantan Menteri Sosial era Kabinet Sjahrir II itu menjabat Ketua Panitia Sensor Film dari tahun 1950 hingga 1961.
Tokoh pers-cum-sejarawan Rosihan Anwar dalam In Memoriam: Mengenang yang Wafat menyebut di masa kepemimpinannya kala itu dunia perfilman Indonesia tengah menghadapi berbagai persoalan. Film nasional yang dimotori Usmar Ismail, pimpinan Perusahaan Film Nasional (Perfini), dan Djamaluddin Malik, pimpinan Persatuan Artis Republik Indonesia (Persari) berupaya mempertahankan eksistensinya di hadapan film India dan film Malaya yang digemari penonton lapisan bawah.
Tak hanya itu, film nasional pun sulit memperoleh jam putar di bioskop-bioskop terkemuka karena pemasaran, peredaran, dan eksibisi film dikuasai Asosiasi Film Amerika di Indonesia (AMPAI) yang dipimpin Bill Palmer.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















