top of page

Mencitrakan Revolusi dengan Lengkap

Bagi IPPHOS, revolusi bukan hanya di medan pertempuran atau meja perundingan. Ada realitas sosial masyarakat yang tak kalah berharga untuk diabadikan dalam bentuk foto.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Para pendiri IPPHOS, 1950. Kiri-kanan: Frans “Nyong” Umbas, Alex Mendur, Justus Umbas, dan Alex Mamusung. (IPPHOS/Arsip Antara/Koleksi Yudhi Soerjoatmodjo).

7 Jan 2024
5 menit membaca

Diperbarui: 5 Jan

MASIH pukul lima pagi. Beberapa orang dilanda kecemasan sekaligus antusiasme yang luar biasa. Ada desas-desus Bung Karno akan membacakan suatu proklamasi. Dan Jepang sudah mengendusnya. 

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
transparant.png
bottom of page