- 1 jam yang lalu
- 4 menit membaca
SEPANJANG tahun 1920-an, kulkas menjadi peralatan elektronik yang populer di masyarakat. Banyak orang membelinya sebagai teknologi revolusioner yang mengubah kebiasaan menyimpan dan mengonsumsi makanan. Upaya mengembangkan teknologi pendingin ini telah berlangsung sejak abad ke-19.
Lydia Bjornlund dalam How the Refrigerator Changed History mengisahkan, seorang dokter yang menjadi penemu mendemonstrasikan mesin es yang tengah dia kembangkan kepada tamu undangan dalam suatu perayaan di Florida, Amerika Serikat, pada Juli 1847. Pria itu, John Gorrie mempresentasikan sampanye dingin yang disimpan di dalam es.
“Gorrie tidak menciptakan mesin esnya untuk mendinginkan minuman bagi orang kaya. Sebaliknya, dia ingin menggunakannya untuk mencegah demam kuning, yang banyak melanda orang-orang Apalachicola [kota di Florida] pada 1841. Para dokter saat itu belum mengetahui bahwa demam kuning dan malaria, serta penyakit tropis lainnya, ditularkan oleh nyamuk. Mereka meyakini udara hangatlah yang menyebabkan penyakit-penyakit tersebut,” tulis Bjornlund.
Gorrie meyakini mesin es yang dikembangkannya bermanfaat bagi dokter maupun orang-orang yang menderita penyakit tropis. Oleh sebab itu, dia menulis tentang manfaat es buatan dan mempromosikan manfaat komersial dan nilai guna teknologi tersebut bagi khalayak. Seiring berjalannya waktu, Gorrie menemukan investor kaya untuk mensponsori proyeknya dan memulai pengembangan model pertama mesin pendingin yang akan diproduksi secara komersial.
Sayangnya, mesin pendingin ciptaan Gorrie tidak disambut antuasias. Hanya sedikit orang yang membutuhkan alat itu. Selama beberapa generasi, orang-orang mengandalkan es alami untuk menjaga barang-barang tetap dingin atau berbelanja makanan setiap hari. Sementara mereka yang mampu membeli lemari es berinsulasi untuk menjaga makanan tetap dingin.
Di perkotaan, masyarakat membeli es dari para pemanen es. Mereka memanennya dari danau dan sungai selama musim dingin dan menyimpannya di ruangan yang dirancang dengan metode khusus untuk menjaganya tetap beku. Sementara itu, pebisnis balok es menganggap mesin pendingin buatan Gorrie sebagai ancaman.
“Para kritikus menyoroti mesin tersebut tidak konvensional. Mereka mengungkit masalah kebocoran pada sistem pendingin... Media massa mengejek mesin pembuat es tersebut tidak praktis, berbahaya, dan merendahkannya. Seorang penulis dari New York Globe bahkan menggambarkan Gorrie sebagai ‘orang aneh...yang mengira dirinya bisa membuat es dengan mesinnya sebaik Tuhan’,” tulis Bjornlund.
Kritik dan pemberitaan negatif membuat mesin pendingin buatan Gorrie tidak populer di masyarakat, namun ide menciptakan mesin pendingin tidak ditinggalkan begitu saja.
Revolusi Lemari Es
Seiring dengan meningkatnya popularitas es di akhir abad ke-19, sejumlah perusahaan berlomba mengembangkan lemari es yang praktis. Masyarakat pun mulai melirik mesin pendingin karena membantu mereka memiliki bahan makanan segar yang dapat digunakan kapan saja.
Tantangan dalam pengembangan mesin pendingin adalah ukuran. Sebab, mesin pendingin yang umum berukuran raksasa dengan berat ratusan hingga ribuan kilogram. Mesin uap yang membuat perangkat tersebut bekerja memakan ruang tambahan. Selain itu, mesin pendingin ini berisik, dengungan keras terdengar meski ditempatkan dalam jarak yang jauh.
Pengembangan mesin pendingin mencapai titik terang pada 1901. Henry Trost, seorang insinyur di Albany, New York, memeroleh paten lemari es untuk rumah tangga. Trost memperbaiki desain kotak es sebelumnya dengan menempatkan kompartemen makanan di antara kotak-kotak udara dingin.
Selanjutnya, General Electric menggabungkan lemari penyimpanan berpendingin dengan mesin pembuatan es secara mekanis. Pada 1911, perusahaan meluncurkan lemari es berdasarkan rancangan Marcel Audiffen, biarawan Prancis, yang merancang sistem pendingin kedap udara untuk mendinginkan anggur. Mesin pendingin ini dijual seribu dolar, harga yang mahal bagi masyarakat.
Dua tahun berselang, ketika listrik menerangi rumah-rumah penduduk Amerika, seorang insinyur, Fred W. Wolf mengenalkan mesin pendingin Domestic Electric Refrigerator atau Domelre yang beropersi menggunakan arus listrik. Lemari es ini dilengkapi nampan untuk membuat es batu.
Tak butuh waktu lama hingga lemari es dikembangkan secara masif oleh banyak perusahaan. Ada yang merancang mesin pendingin dengan nampan untuk membuat es batu, hingga menciptakan lemari es berbahan baja dilengkapi sistem kompresor pendingin tertutup dan menggunakan listrik. Persaingan ketat antara produsen lemari es membuat harganya menjadi lebih terjangkau.
“Pada akhir dekade 1920, masyarakat Amerika telah membeli lebih dari 1 juta lemari es dan kini bersaing dengan oven sebagai peralatan dapur paling penting dan banyak digunakan,” tulis Bjornlund.
Ancaman Kematian
Popularitas lemari es mendapat respons negatif dari para pemanen es dan produsen es. Mereka berpendapat kotak es lebih baik dalam menjaga makanan tetap dingin serta menghemat biaya listrik dan perawatan. Di pihak lain, masyarakat khawatir akan keamanan makanan yang disimpan dalam lemari es.
Menurut Keith R. Johnson dalam “Freon”, termuat di The SAGE Encyclopedia of Cancer and Society, kontroversi keamanan lemari es mencapai puncaknya ketika kebocoran bahan kimia marak terjadi akhir tahun 1920-an hingga 1930-an. Bahan kimia yang digunakan dalam produksi lemari es sangat berbahaya. Ketika bahan tersebut bocor ke udara dan terhirup menyebabkan cedera paru-paru yang dapat berujung pada kematian.
The New York Times, 2 Juli 1929, melaporkan, seorang perempuan muda tewas akibat menghirup gas metil klorida dari lemari es di apartemennya di Chicago, Amerika Serikat. Penyelidikan kasus kematian seniman berusia 28 tahun itu dilakukan dengan percobaan untuk menunjukkan kebocoran gas berbahaya dapat menyebabkan keracunan bagi orang yang mengirupnya.
“Para ilmuwan melakukan uji coba yang menunjukkan adanya jumlah besar metil klorida di dalam ruangan. Dua tikus percobaan, yang ditinggalkan selama sekitar 30 jam, ditemukan mati di depan lemari es yang terbuka saat petugas koroner membuka apartemen tersebut pada pagi hari,” demikian laporan surat kabar tersebut.
Kematian wanita muda itu menambah panjang daftar korban tewas akibat gas yang digunakan dalam lemari es. Terlebih, ketika itu terdapat 60.000 hingga 75.000 lemari es, yang menggunakan metil klorida, di rumah-rumah penduduk Chicago. Selain metil klorida, banyak lemari es yang menggunakan disulfida karbon dan gas-gas lain sebagai agen pendingin.
Kematian akibat gas yang bocor dari lemari es mulanya dianggap kasus misterius. Sebab, metil klorida tidak terdeteksi karena bersifat tak berwarna. Selain menyebabkan kematian, tidak sedikit konsumen yang sakit akibat gas tersebut. Oleh karena itu, banyak penduduk menempatkan mesin pendingin di luar rumah.
“Masalah ini membuka jalan bagi diperkenalkannya bahan kimia yang tidak berbau, tidak berwarna, tidak beracun, dan tidak mudah terbakar untuk menggantikan zat pendingin sebelumnya, dan itu kemudian dikenal dengan nama freon,” tulis Johnson.
Freon muncul sebagai upaya kolaboratif dari sejumlah perusahaan pembuat lemari es di Amerika untuk mencari metode pendinginan yang lebih aman. Freon yang disebut sebagai “senyawa ajaib” dikembangkan oleh ilmuwan Thomas Midgley Jr. dibantu Charles Franklin Kettering pada 1928. Setelah serangkaian uji coba, lemari es dengan freon diproduksi massal dan dipasarkan pada 1930-an.
Penemuan freon memungkinkan pembuatan mesin pendingin lebih kompak dan ringan. Penjualan lemari es sempat mengalami penurunan karena Depresi Besar. Setelah Perang Dunia II, meningkatnya kesejahteraan dan suburbanisasi menjadikan lemari es sebagai bagian tak terpisahkan dari rumah-rumah di Amerika dan dunia.*



















Komentar