top of page

Menghias Sejarah Tata Rias

Kolonialisme memengaruhi standar kecantikan masyarakat Indonesia. Perkembangan tata rias diwarnai semangat dekolonisasi dan kembali ke kearifan lokal.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Pameran HYAS: Makeup Through the Ages yang diselenggarakan di SPAC8, ASHTA District 8, Jakarta. (Fickryzoelfi/HYAS: Makeup Through the Ages).

  • 15 menit yang lalu
  • 4 menit membaca

PRODUK kecantikan tidak hanya memperindah penampilan dan meningkatkan kepercayaan diri, tetapi juga menyimpan beragam cerita yang menggambarkan cara pandang masyarakat. Tren kecantikan di Indonesia terkait erat dengan kolonialisme. 

 

Penggolongan masyarakat pada zaman Belanda berperan dalam melanggengkan superioritas kulit putih. Golongan Eropa di puncak hierarki tidak hanya memiliki hak istimewa mendapatkan fasilitas pendidikan dankesehatan, tetapi juga menguasai pemerintahan dan menyusun kebijakan. 

 

Produk-produk kecantikan yang dipasarkan pun untuk memenuhi kebutuhan orang kulit putih. Misalnya, produk kecantikan yang diproduksi adalah kosmetik untuk rona kulit atau complexion karena kulit yang cerah dan putih menjadi standar ideal kecantikan. 

 

Guna menarik perhatian pelanggan, para produsen memasarkan produk kecantikannya melalui iklan di surat kabar. Misalnya, Bedak Pirgin Chun Lim produksi perusahaan milik Chun Foo-Chun, dalam iklan di Sin Po tahun 1936 mengeklaim dapat menghaluskan dan memutihkan kulit serta mengurangi jerawat, mencegah keringat, gatal, dan luka. 

 

Dekolonisasi Standar Kecantikan 

Setelah Indonesia merdeka muncul upaya mendefinisikan ulang standar kecantikan. Di masa revolusi, standar kecantikan menekankan pada pemahaman bahwa kecantikan datang dari dalam, melalui sikap, pola pikir, dan pengalaman. 

 

Dengan demikian, cantik tidak hanya dinilai dari riasan atau penampilan luar. Selain itu, standar kecantikan Eropa dianggap tidak lagi relevan dan masyarakat Indonesia mulai memperjuangkan ide-ide kecantikan lokal, termasuk kembali ke resep kuno khas Indonesia. 

 

Publikasi mengenai tata rias dan standar kecantikan khas Indonesia bermunculan. Dalam Tjantik karya Chailan Sjamsoe, aktivis dan jurnalis perempuan asal Minangkabau, disampaikan bahwa warna riasan harus disesuaikan dengan warna kulit. Selain tata rias, salah satu buku paling awal yang membahas kecantikan itu, juga memuat perawatan alis dan bulu mata serta perhiasan.


Beragam majalah perempuan yang membahas tentang kecantikan dan tata rias yang ditampilkan dalam pameran HYAS: Makeup Through the Ages yang diselenggarakan di SPAC8, ASHTA District 8, Jakarta. (Fickryzoelfi/HYAS: Makeup Through the Ages).
Beragam majalah perempuan yang membahas tentang kecantikan dan tata rias yang ditampilkan dalam pameran HYAS: Makeup Through the Ages yang diselenggarakan di SPAC8, ASHTA District 8, Jakarta. (Fickryzoelfi/HYAS: Makeup Through the Ages).

 Majalah perempuan, Wanita, juga membahas tentang kecantikan dan tata rias, di samping menyajikan informasi tentang gerakan sosial dan perkembangan perempuan. Majalah yang terbit pada 1948 itu mengulas tentang cara berbusana dan berdandan, serta perawatan kulit dan rambut yang menyatukan identitas nasional. 

 

“Semakin bebas dan mandiri jiwa dan pikiran kita, semakin berani dan modern cara kita merias diri,” demikian teks di sampulnya. 

 

Buku-buku resep produk kecantikan dan panduan merawat kulit menjadi lebih umum. Salah satunya Merawat Ketjantikan karya Gong Tjing Ik tahun 1956, membahas tata cara merawat kulit yang benar bagi wanita dan anak perempuan. 

 

Selain itu, Resep-resep Kosmetik dan Keperluan Rumah Tangga karya Prof. Dr. H.S. Goei The, berisi resep farmasi untuk membuat produk kecantikan dan tata rias di rumah. Dengan buku tersebut perempuan memiliki informasi sehingga dapat terhindar dari efek samping yang tidak diinginkan. 

 

Pergeseran dari gaya sederhana dan patriotik menandai masa 1960-an. Terbatasnya produk kosmetik impor mendorong tumbuhnya industri kosmetik dalam negeri. Pada 1962, Viva Cosmetics di Surabaya menjadi merek pertama yang memproduksi dan menjual kosmetik secara domestik dan internasional. Popularitas merek kosmetik ini karena pendekatan modern terhadap kecantikan, serta identitas dan proyeksi citra nasionalis. 

 

Perkembangan Tren Kecantikan 

Di bawah pemerintahan Soeharto yang mengundang investasi asing, merek kosmetik luar negeri merambah tanah air. Sejumlah perusahaan membuka pabrik di Indonesia. Terkait tren tata rias, hingga tahun 1970-an, sebagian fokus pada mata menggunakan graphic liner, bulu mata palsu, maskara, dan eyeshadow berwarna pastel. 

 

Di masa Orde Baru pula berdiri dua merek kecantikan legendaris: Mustika Ratu dan Martha Tilaar. Keduanya memproduksi produk kecantikan yang mengusung nilai-nilai kearifan lokal dan kekayaan alam Nusantara. 

 

Latar belakang B.R.A. Mooryati Soedibyo, pendiri Mustika Ratu, yang memiliki garis keturunan Kasunanan Surakarta, memungkinkan dia mengakses resep-resep kuno untuk digunakan pada merek Mustika Ratu, termasuk Jamu. Sementara Martha Tilaar, meski bukan keturunan keraton, memiliki hubungan erat dengan keluarga kerajaan. 


Deretan foto yang menampilkan riasan paes dari berbagai daerah di Nusantara yang ditampilkan dalam pameran HYAS: Makeup Through the Ages yang diselenggarakan di SPAC8, ASHTA District 8, Jakarta. (Fickryzoelfi/HYAS: Makeup Through the Ages).
Deretan foto yang menampilkan riasan paes dari berbagai daerah di Nusantara yang ditampilkan dalam pameran HYAS: Makeup Through the Ages yang diselenggarakan di SPAC8, ASHTA District 8, Jakarta. (Fickryzoelfi/HYAS: Makeup Through the Ages).

Menjamurnya majalah-majalah kecantikan pada 1980-an membuat akses masyarakat terhadap tren kecantikan semakin luas. Sampul-sampul majalah menampilkan gaya tata rias terkini yang menjadi ciri khas, yakni maksimalis, teatrikal, bahkan avant-garde. Gaya ini dicirikan oleh penggunaan perona (blush) berwarna merah atau merah muda pekat, palet eyeshadow warna-warni yang memadukan tiga warna, serta lipstik cerah bernuansa coral atau lilac

 

Ciri khas lain penggunaan kontur yang tegas di area hidung menyambung ke alis, dan penggunaan eyeliner biru pada garis bulu mata yang menjadi tampilan khas Putri Diana, ikon kecantikan dunia saat itu. 

 

Tren tata rias tahun 1990-an banyak mengadopsi gaya rias populer di Amerika Serikat, seperti alis tipis, lip liner gelap, dan eyeshadow beraksen smoky dengan warna sejuk. Seiring dengan pertumbuhan kelas menengah, produk kosmetik yang ramah di kantong semakin populer di masyarakat. 

 

Inovasi dan kreativitas berperan penting dalam persaingan industri tata rias. Ketika krisis ekonomi pada 1998, Martha Tilaar sukses meraup keuntungan dari penjualan lipstik dwiwarna. Pewarna bibir itu memungkinkan pengguna menggunakan salah satu warna atau mencampurkannya di bibir. Lipstik ini mendapat respons positif di sejumlah negara di Asia. 

 

Pameran Tata Rias 

Pembahasan tentang sejarah tata rias Indonesia tersebut menjadi tema utama dalam pameran HYAS: Makeup Through the Ages di SPAC8, ASHTA District 8, Jakarta, 3–6 September 2026. Pameran ini mengajak pengunjung menjelajahi tata rias masa kuno, penjajahan, dan pascakemerdekaan. 

 

Di area masa kuno, pengunjung dapat melihat berbagai produk kecantikan yang digunakan masyarakat, salah satunya bedak dingin yang bermanfaat sebagai penangkal radikal bebas saat beraktivitas di luar ruangan. Pengunjung juga dapat melihat paes untuk menghias dahi yang digunakan saat upacara pernikahan. 

 

Paes ditemukan di seluruh Nusantara dengan gaya dan nama berbeda-beda, seperti dadasa di Bugis dan Makassar, srinatha di Bali, serta gigi haruan di Banjar, Kalimantan Selatan dari abad ke-15, sebelum masuk pengaruh Islam. 

 

Menurut kurator pameran, Allysha Nila, makeup menjadi penanda status sosial, sebab tidak semua orang menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Kebanyakan yang memakai riasan adalah bangsawan dan para penghibur yang mementaskan pertunjukkan di istana. 

 

“Kebanyakan masyarakat biasa jarang menggunakan riasan, tetapi mereka punya pengetahuan tentang bahan-bahan alam yang bisa dijadikan skincare,” sebut Allysha.


Pameran HYAS: Makeup Through the Ages yang diselenggarakan di SPAC8, ASHTA District 8, Jakarta. (Fickryzoelfi/HYAS: Makeup Through the Ages).
Pameran HYAS: Makeup Through the Ages yang diselenggarakan di SPAC8, ASHTA District 8, Jakarta. (Fickryzoelfi/HYAS: Makeup Through the Ages).

 Melalui pameran ini, pendiri dan ko-kurator pameran, Sissy Sosro, berharap masyarakat dapat mengenal keberagaman tata rias Indonesia. Dia juga berharap pameran ini dapat menjadi pembuka untuk diadakannya beragam pameran maupun diskusi lebih lanjut. 

 

“Sebagai seorang makeup artist, aku sering dapat permintaan untuk merias dengan konsep K-beauty, makeup douyin, atau Thai beauty. Ini bikin aku penasaran, apakah Indonesia tidak memiliki yang seperti itu juga? Kegelisahan ini mendorong aku untuk menggali tata rias Indonesia dan dari situ aku harap kita, khususnya generasi muda, tidak lupa dengan roots kita,” jelas Sissy.* 

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Beranjak remaja di tengah berseminya pergerakan, Semaoen “dibentuk” Sneevliet guna merintis jalan revolusioner.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah’s first marriage ended in tragedy. Her husband was shot and killed by Dutch soldiers. Her second spring of love unfolded with Soebadio Sastrosatomo.
transparant.png
bottom of page