- 1 hari yang lalu
- 4 menit membaca
K.H. Zainuddin MZ sekali waktu berdakwah di Mesjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. Di hadapan 50.000 umat, Zainuddin khotbah tentang kematian. Kata sang ulama, kematian bukan seperti buah kelapa, yang tua jatuh duluan sedangkan yang muda jatuh belakangan.
“Nike Ardilla masih muda, cantik dan terkenal saja sudah mati duluan, sementara Pak Tile yang sudah tua tetap awet hidup,” tandas Zainuddin seperti dikutip Analisa, 17 Juli 1997.
Nike Ardilla meninggal dunia karena kecelakaan tunggal pada 19 Maret 1995, saat namanya berada di puncak popularitas sebagai penyanyi muda berbakat. Sementara itu, Pak Tile merupakan pelawak dan aktor sinetron yang sudah gaek. Dia dikenal dengan karakternya sebagai Engkong Ali dalam sinetron Si Doel Anak Sekolahan (SDAS).
Anak Tuan Tanah
Pak Tile tak seperti kebanyakan aktor yang memiliki wajah rupawan. Perawakannya tinggi kurus dengan gigi yang sudah tanggal alias ompong. Tapi, justru di situlah daya tarik Pak Tile.
“Haji Enun Tile bin Bayan, lebih dikenal dengan sebutan Pak Tile. Dia mudah akrab dalam fantasi pemirsa karena keompongan dan kekurusannya,” lansir Panji Masyarakat, November 1998.
Sebelum wajahnya wara-wiri di sinetron, Pak Tile berjuang di tengah kemisikinan. Dia sebenarnya lahir dari keluarga berada. Ayahnya tuan tanah di Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Sayangnya, sebelum meninggal tak mewariskan sejengkal tanah pun kepada anak-anaknya.
“Bapak saya dulu orang cukupan. Tapi punye kebiasaan jelek, maen judi dan beristri banyak. Jadi anak-anaknye enggak kebagian warisan. Tapi saya enggak nyesel, ini semua sudah takdir yang digariskan,” tutur Pak Tile dengan dialek Betawi yang kental dalam Warnasari, Desember 1994.
Pak Tile tak tahu persis kapan dilahirkan. Ketika pendudukan Jepang, usianya sekitar 12 tahun. Lantaran keluarganya hidup susah, dia banting tulang jadi kuli panggul di pasar dekat rumah. Di antara teman sesama kuli, ternyata ada pemain sandiwara lenong. Karena sering bertemu dan akrab, Tile yang tak mewarisi bakat dari siapa pun, tertarik ikut main lenong.
Tile mulai naik panggung lenong pada awal 1948. Dia biasanya memainkan peran komedi. Makin lama, Tile kian keranjingan main lenong. Siang hari jadi kuli panggul, begitu malam tiba, dia tampil di panggung lenong. Ketika perang kemerdekaan, Tile sempat membantu di dapur umum untuk mendukung para pejuang di Pasar Minggu. Setelah perang, dia kembali main lenong.
Dari panggung ke panggung, Tile ikut bos grup lenong yang satu ke bos lenong yang lain. Seiring waktu, pekerjaan kuli panggul ditinggalkannya. Setelah menikah pada 1953, Tile mantap jadi pemain lenong sebagai pekerjaan utama, sementara istinya jualan nasi uduk.
Keasyikan main lenong, Tile lupa pada pendidikan. Meski sudah jadi pemain lenong berpengalaman, Tile tuna aksara alias tak bisa baca tulis. “Buat makan aja susah, apalagi sekolah,” seloroh Pak Tile dalam Warnasari.
Wara-wiri di Televisi
Pada 1986, Pak Tile bergabung dengan grup lenong ternama, Sinar Jaya, pimpinan Haji Nasir. Sejak itulah namanya makin melambung. Pak Tile manggung hampir setiap hari. Dia pun mulai mendapat tawaran main film. Cintaku di Rumah Susun menjadi film pertamanya yang tayang pada 1987.
“Di film pertama itu saya belum terbiasa,” aku Pak Tile, “bayangin aje biasa main di atas panggung sekarang harus bergaye di depan kamera.”
Meski tak lagi muda, karier Pak Tile di perfilman justru makin moncer. Dia memainkan peran berbagai karakter, mulai dari kacung, kepala hansip, kepala suku, hingga bos besar. Pak Tile juga beradu akting dengan artis-artis beken, seperti Eva Arnaz, Dedi Mizwar, Nurul Arifin hingga trio Warkop DKI: Dono, Kasino, dan Indro. Honor paling besar Rp750.000 diterimanya saat main film Kipas-kipas Cari Angin (1989).
Setelah membintangi sekira 20 film, Pak Tile merambah ke sinetron. Pada 1993, dia mendapat peran utama dalam Mody Juragan Kost. Dalam sinetron komedi itu, Pak Tile berperan sebagai Mody, hantu tua genit yang terkenal dengan kalimat khasnya, “Gue kepret penyok lo!”
Pada 1994, Pak Tile bermain dalam serial Si Doel Anak Sekolahan yang disutradarai Rano Karno sekaligus pemeran utama. Kehadiran Pak Tile lewat banyolan dan celetukannya yang khas acapkali mengocok perut penonton. Dalam SDAS, Pak Tile mendapat honor Rp350.000 per episode atau setara Rp3 juta.
"Adegan yang menggigit dan ditayangkan di masa Orde Baru itu menjadi istimewa dan mengena. Apalagi kombinasi Benyamin, Pak Tile, Rano Karno dan Mandra memang menguatkan seluruh pilar sinetron," ulas Tempo, 14 Januari 2001.
Di masa jayanya, SDAS meraih predikat sebagai sinetron keluarga favorit. Masuk musim tayang keempat pada 1997, krisis moneter diambang pintu. Proses produksi SDAS sempat tersendat-sendat. Pak Tile mulai merasa bosan dengan syuting yang tidak selancar sebelumnya.
“Kadang dua hari syuting, kadang kagak. Belum lagi nunggunya. Tapi ape mau dikate, Rano tetap nyuruh gue syuting,” ujar Pak Tile seperti diwartakan Berita Yudha, 4 Desember 1997.
Meski tak sekolah akting, Pak Tile termasuk pemeran watak. Dia hanya agak kesulitan bila mendapat peran yang banyak dialog. Karena tak bisa membaca, Pak Tile biasanya meminta bantuan anak sulungnya untuk membacakan skenario untuk kemudian dihafalkannya.
Hidup Sederhana
Setelah sukses memerankan Engkong Ali dalam SDAS, nama Pak Tile dikenal se-Indonesia. Bila bertanya kepada sembarang orang di Lenteng Agung di mana rumah Pak Tile, mereka dengan mudah menunjuknya. Sebuah rumah mungil tepat di sisi rel kereta api, di situlah kediaman Pak Tile. Dalam petakan 4 kali 6 meter itu, Pak Tile menjalani hidup bersama istri dan anak-anaknya.
“Di sini rame terus. Dari delapan anak, saya dapet 13 cucu, tiap hari gantian pade dateng,” ujar Pak Tile.
Petakan tempat tinggal keluarga besar Pak Tile meliputi ruang tamu, ruang keluarga, dan sebuah kamar tidur. Di ruang tamu terdapat satu unit televisi berwarna ukuran 19 inci, satu-satunya hiburan keluarga yang dapat dinikmati nonstop.
Di depan rumah, ada warung kecil tempat istrinya jualan nasi uduk. Dari warung kecil itu pula keluarga Pak Tile menggantungkan nafkah. Sebab, tak pasti kalau cuma mengandalkan pendapatan dari main film atau sinetron yang tak selalu ada tawaran.
“Bapak saya orangnya enggak banyak nuntut seperti artis lain. Dia enggak pernah pasang harga untuk main film dan enggak pilih-pilih peran. Bila ada tawaran main film langsung disikat,” ungkap Jaya, anak sulung Pak Tile, kepada Warnasari.
Semua pendapatan Pak Tile dari main film dan sinetron dinikmati seluruh keluarga. Karena tak punya cukup tabungan, Pak Tile tak punya harta dan rumah mewah seperti kebanyakan selebritas. Di rumah pinggir rel kereta api itulah keluarganya menjalani hidup dengan kesederhanaan.
“Setiap dapet honor habis untuk keperluan keluarge, alhamdullilah semua makanan enak udeh dirasain,” kelakar Pak Tile dalam Warnasari.
Hingga akhir hayatnya, seperti diberitakan Kompas, 4 Februari, kesan kesederhanaan tetap melekat pada Pak Tile, yang meninggal dunia pada 2 November 1998 dalam usia 65 tahun.
“Tak banyak harta yang ditinggalkan seniman buta huruf itu pada ahli warisnya. Tempat tinggalnya pun hanya berbentuk sebuah rumah kayu di bantaran rel kereta api Lenteng Agung di atas tanah milik orang lain dengan ongkos sewa 50.000/bulan,” sebut Kompas.*













Komentar