Diperbarui: 13 Agu
SEBUAH foto hitam putih dari dekade 1910-an. Seorang lelaki tua berdiri di bawah pohon rindang tepi jalan. Peci di kepala dan gunting di tangan kanan. Tangan kirinya memegang kepala lelaki muda berkumis yang duduk di kursi kayu sambil menyilangkan kaki. Kedua lelaki itu tak memakai alas kaki. Perkakas cukur tampak di meja dan tergantung pada pohon.
Begitulah gambaran tukang cukur dan pelanggannya di Batavia dalam buku Greetings from Jakarta: Postcards of a Capital 1900-1950 karya Scott Merrilless. Tapi Scott tak banyak menjelaskan kegiatan dan jasa cukur rambut. Sesuatu yang agaknya baru lazim bagi orang-orang tempatan di Hindia Belanda setelah mereka mempraktikkan agama Islam dan berkontak dengan orang-orang dari negeri Barat.
Anthony Reid, pakar sejarah Asia Tenggara, mencatat rambut sebagai sesuatu yang suci bagi kebanyakan orang Asia Tenggara. Mereka percaya rambut menyimpan kekuatan. “Oleh sebab itu pola yang berlaku hingga Kurun Niaga tampaknya ialah didorongnya pria dan wanita untuk menumbuhkan rambut sepanjang dan selebat mungkin,” ungkap Reid dalam Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












