top of page

Pak Azis, Tukang Cukur Bung Karno

Jika presiden adalah orang paling berkuasa, maka siapakah yang lebih berkuasa dari presiden? Jawabannya: tukang cukur. Ini dia kisah tukang cukur presiden Indonesia yang pertama.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Haji Abdul Azis alias Pak Azis, tukang cukur pribadi Presiden Sukarno. (Minggu Pagi, 4 April 1954).

9 Agu 2024
6 menit membaca

Diperbarui: 18 Apr

SEKALI waktu, Mangil Martowidjojo, ajudan pribadi Presiden Sukarno, diminta presiden mencari seorang tukang cukur bernama Pak Azis. Waktu itu, sekira tahun 1950, Mangil baru datang dari Yogyakarta untuk bertugas sebagai pasukan polisi pengawal pribadi Bung Karno, cikal-bakal Detasemen Kawal Pribadi (DKP). Mangil agak kesulitan mencari Pak Azis karena alamatnya tidak diketahui. Sejak ibukota pindah ke Yogyakarta di masa perang, Bung Karno tidak pernah lagi dicukur Pak Azis. Bung Karno hanya memberi petunjuk terbatas.


“Orangnya sudah tua dan dulu badannya agak kurus,” kata Bung Karno merujuk Pak Azis.


Petunjuk itu nyatanya tidak cukup membantu Mangil menemukan Pak Azis dengan lekas. Walhasil, Mangil mengubek-ubek setiap rumah di Jakarta yang bertuliskan “tukang cukur”. Mujur bagi Mangil tiba setelah salah seorang tukang cukur di bilangan Cikini mengetahui alamat Pak Azis tukang cukur, yakni dekat perkuburan Menteng Pulo.


“Jadi kalau Bung Karno mau cukur, seminggu sebelumnya saya sudah harus memberi tahu Pak Azis,” kenang Mangil dalam memoarnya Kesaksian tentang Bung Karno 1945—1967.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
transparant.png
bottom of page