top of page

Bung Karno dan Para Pelayannya

Bagaimana hubungan keseharian antara Presiden Republik Indonesia pertama itu dengan orang-orang terdekat yang menjadi pelayannya?

loading_historia_white.gif
transparant.png

Presiden Sukarno. (Wikimedia Commons).

  • 14 Mar 2021
  • 2 menit membaca

SUATU senja sepulang dari Bogor, Presiden Sukarno mengajak anak sulungnya Guntur Sukarnoputra (saat itu masih remaja) jalan-jalan keliling Istana Negara. Saat mereka berdua menuruni tangga di belakang Istana, tetiba wajah Si Bung Besar berubah.


“Tok (paggilan akrab Guntur), coba panggilkan Pak Pelayan,” kata Bung Karno.


Singkat cerita, datanglah pelayan itu. Enem namanya. Dengan wajah pucat, dia lantas menghampiri Bung Karno. Terlihat sekali dia tengah ketakutan.


“Nem, pot antik Bapak yang di sini kemana?” tanya Bung Karno dalam bahasa Sunda.


“Ehm…Pepeus (pecah), Pak…” jawan Enem dalam nada gemetar.


“Hah peupeus! Siapa yang memecahkan!? Siapa yang melakukan!?” teriak sang presiden. Wajahnya nampak merah padam dengan mata berkilat-kilat, pertanda dia sedang marah besar.

Aa..Ab…Abdi teu terang, Pak…(Saya tidak tahu, Pak).”


Maenya jurig nu meupeuskeun, hah! Hayo kabeh pelayan kadarieu! Saha nu nyaho! Mun teu aya nu ngaku, kabeh kudu dipariksa pulisi (Masa hantu yang memecahkannya, hah! Ayo semua pelayan kumpul! Siapa yang tahu! Kalau tidak ada yang mengaku, semua akan berurusan dengan polisi).”


Tak perlu waktu cepat, semua pelayan pun berkumpul di belakang Istana Negara. Mulailah Bung Karno menginterogasi satu persatu para pelayannya.


Sueb! Maneh nyaho henteu?!”


Abdi teu terang, Pak…”


“Saleh!?”


Teu…Ter…Terang, Pak…”


“Sain!?”


Saiin yang sudah memasuki umur 70 tahun dan mengidap penyakit asma terlihat sangat ketakutan.


Aaaa..Abdi…Ngik…Ngik…Teu…Te...Terang, Pak…Ngik…Ngik


Bukan main marahnya Bung Karno mendengar jawaban semua pelayannya tersebut. Dia kemudian memerintahkan pengawalnya untuk memanggil komandan jaga hari itu. Datanglah dia dengan tergopoh-gopoh.


“Siap, Pak!”


Bung Karno lantas memerintahkan sang komandan jaga untuk memeriksa semua pelayan ini dan para tukang kebun. Begitu marahnya sang presiden, hingga dia memerintahkan jika pelakunya ketemu untuk langsung “digantung”. Tentunya perintah itu hanya untuk menggertak saja.


“Pada saat itu kulihat Pak Saiin yang tengah berdiri gemetaran tetiba celananya sudah basah kuyup karena mengompol,” kisah Guntur Sukarnoputra dalam Bung Karno: Bapakku, Kawanku, Guruku.


Beberapa saat kemudian, sang komandan sudah kembali. Menurut penyidikan yang sudah dilakukannya, ternyata pot itu pecah karena terkena cakram. Bung Karno nampak terkejut mendengar laporan tersebut. Dia pastinya tahu bahwa satu-satunya orang yang memiliki hobi main lempar cakram adalah putera sulungnya.


Setelah memerintahkan semua orang untuk kembali ke pekerjaannya masing-masing, Sukarno lalu mengajak Guntur jalan-jalan. Setelah agak jauh, sambil terus berjalan, Bung Karno  berbisik serak kepada Guntur:


“Lain kali kalau bikin salah, kasih tahu Bapak ya! Jangan seperti ini, tenggorokan Bapak hampir-hampir putus, Saiin terkencing-kencing, pengawal repot…Jebulnya kau punya ulah!”


“Ya, Pak,” jawab Guntur sambil tertunduk.


Bung Karno pada dasarnya sangat menyayangi para pelayannya. Menurut salah satu pengawal dekatnya H. Mangil Martowidjojo, kalaupun dia marah pasti tak pernah berlangsung lama. Itu pun dilakukannya supaya para pelayan tersebut berlaku disiplin dan tak lalai kepada tugasnya masing-masing.


Mangil sangat paham jika Si Bung Besar sangat tidak menyukai orang yang lalai kepada tugasnya. Karena itu segala sesuatu yang diminta Bung Karno harus cepat dilakukan. Salah satu pelayan yang kerap diminta tolong adalah Pak Enem. Orangnya memang sudah sepuh namun selalu sigap jika Bung Karno memerlukannya.


“Neraka” datang kepada para pelayan, jika Bung Karno tengah uring-uringan. Pernah dalam situasi seperti itu, Pak Enem dipanggil Presiden. Dengan sigap namun penuh rasa takut Enem langsung datang menghadap. Begitu takutnya, hingga tak terasa sang pelayan terkentut-kentut. Murka-kah Bung Karno? Sama sekali tidak.


“Bung Karno justru malahan ketawa,” ungkap Mangil dalam bukunya, Kesaksian Tentang Bung Karno 1945—1967.*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Setelah diculik pengikut Tan Malaka, Sutan Sjahrir bikin perhitungan dengan penangkapan berantai. Adam Malik protes, Sayuti Melik pasrah digelandang ke bui.
bg-gray.jpg
Perdana Menteri Sutan Sjahrir diculik pengikut Tan Malaka, Presiden Sukarno minta Sjahrir dikembalikan.
bg-gray.jpg
Pengikut Tan Malaka menculik Sutan Sjahrir karena dianggap pengkhianat yang menjual tanah air kepada Belanda. Sukarno-Hatta memerintahkan untuk membebaskannya.
bg-gray.jpg
Identified with the god Vishnu and revered as the standard-bearer of all kings, the genealogy and depictions of Purnawarman can be traced in various Tarumanagara inscriptions.
Perayaan Imlek sempat dilarang pada zaman Belanda dan Orde Baru. Kini dirayakan dengan semarak.
Perayaan Imlek sempat dilarang pada zaman Belanda dan Orde Baru. Kini dirayakan dengan semarak.
Payung tak lagi hanya berfungsi sebagai pelindung dari hujan dan terik matahari, tetapi juga tren gaya hidup modern.
Payung tak lagi hanya berfungsi sebagai pelindung dari hujan dan terik matahari, tetapi juga tren gaya hidup modern.
Penelitian terbaru arkeolog menemukan bukti emoji tersenyum tertua pada guci berusia 3.700 tahun.
Penelitian terbaru arkeolog menemukan bukti emoji tersenyum tertua pada guci berusia 3.700 tahun.
Sapi yang disucikan tercemar ketika masuk ranah politik menjadi politik dagang sapi.
Sapi yang disucikan tercemar ketika masuk ranah politik menjadi politik dagang sapi.
Sebanyak 66 nyawa melayang dalam tragedi di Stadion Ibrox 50 tahun silam. Akibat pandemi, peringatan 50 tahunnya bakal digelar secara terbatas.
Sebanyak 66 nyawa melayang dalam tragedi di Stadion Ibrox 50 tahun silam. Akibat pandemi, peringatan 50 tahunnya bakal digelar secara terbatas.
Itaewon berkembang dari “desa orang asing” menjadi “zona internasional”. Disebut sebagai pintu gerbang menuju dunia.
Itaewon berkembang dari “desa orang asing” menjadi “zona internasional”. Disebut sebagai pintu gerbang menuju dunia.
transparant.png
bottom of page