top of page

Pasangan Nan Tak Lekang Dimakan Zaman

Kala pria berjas dan perempuan berkebaya.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Laki-laki mengenakan jas saat bersepeda di Jakarta, 1941. Foto: Henk Schulte Nordholt, Modernity and cultural citizenship in the Netherlands Indies: An illustrated hypothesis.

22 Nov 2017
2 menit membaca

Diperbarui: 1 Agu 2025

SETELAH merombak susunan kabinetnya untuk kali pertama, Presiden Joko Widodo melantik anggota kabinetnya pada 12 Agustus 2015. Dalam pelantikan itu, para hadirin pria mengenakan setelan jas dan hadirin perempuan kebanyakan mengenakan kebaya.


Penampilan seperti itu umum terjadi dalam acara-acara formal. Di Indonesia, penampilan seperti itu sebetulnya belum teramat lama.


Awal mula penggunaan jas bisa dilacak sejak era kolonial. Foto RA Kartini saat berusia delapan bulan sedang digendong ayahnya merupakan salah satu bukti. Dalam foto bertahun 1880 itu, RM Sosroningrat (ayah Kartini) tampil mengenakan setelan kemeja putih berkerah tinggi, jas warna gelap dan lapel sampai dada, serta blangkon.


Sebelum akhir abad ke-19, hanya sedikit bangsawan bumiputra yang sudah mengenakan jas. RM Sosroningrat salah satunya. Penampilan modern itu muncul dari keseharian mereka yang –kemudian mendapat akses pendidikan Barat– sering bersinggungan dengan orang-orang Eropa di Hindia Belanda. “Interaksi ini membuat priyayi pelan-pelan mengakuisisi gaya kolonial dalam kehidupan, termasuk dalam berpakaian,” tulis Denys Lombard dalam Nusa-Jawa Silang Budaya, Jilid 1.


Namun, singgungan jas dan kaum bumiputra baru “resmi” terjadi setelah pemerintah kolonial memberlakukan Politik Etis pada awal abad ke-20. Kelas menangah (priyayi rendah) mulai diizinkan mengenyam pendidikan Barat kala itu. Pemerintah memberi mereka pendidikan untuk mendapatkan tenaga kerja terdidik yang murah, ketimbang harus mendatangkan dari Eropa.


Kaum bumiputra berpendidikan rendah itu akhirnya bekerja sebagai pegawai di berbagai kantor pemerintahan dengan beragam bidang profesi, mulai guru hingga pewarta. Mereka umumnya menggunakan jas dalam pakaian sehari-hari ketika bekerja. Seringkali, penggunaan jas itu dipadukan dengan blangkon.


Menurut Rudolf Mrazek dalam Engineers of Happy Land, tahun 1912 sudah ada orang-orang bumiputra yang mengenakan pakaian ala Barat. Penggunaan pakian barat lengkap yang meliputi celana panjang, sepatu, jas, dasi, serta topi itu banyak ditemukan dalam arsip foto kelompok pertama politisi bumiputra seperti Sukarno.


Selain melalui pendidikan, iklan juga berperan dalam “kampanye” penggunaan jas. Pasalnya, selain mempromosikan produk, poster iklan juga menampilkan lelaki bumiputra mengenakan jas sebagai simbol modernitas era tersebut.


Secara implisit, iklan mengajak mereka untuk meninggalkan ketradisionalan dan beralih ke hal yang lebih modern. Seringkali hal modern itu merujuk pada produk-produk yang ditawarkan: makanan kaleng, sabun, atau lampu. Poster iklan lampu Philips yang dijadikan salah satu contoh oleh Henk Schulte Nordholt dalam tulisannya berjudul “Modernity and Cultural Citizenship in the Netherlands Indies: An Illustrated Hypothesis”, misalnya. Iklan itu menggambarkan pria bumiputra berpakaian jas sedang membaca koran sementara istrinya mengenakan kebaya sambil menyulam. Gambaran itu merupakan potret realitas sosial-budaya kelas menengah bumiputra di masa akhir kolonial.


Namun, bila lelaki mengenakan jas begitu mendapat pendidikan Barat, hal serupa tak berlaku untuk perempuan. Meski telah mengenyam pendidikan Barat, perempuan tetap mengenakan kebaya dalam acara-acara resmi. Dalam Kongres Perempuan pertama, misalnya, para perempuan hadir dengan mengenakan kebaya.


Jas dengan demikian menyimbolkan bahwa laki-laki menjadi agen modernitas sedangkan perempuan yang tetap berkebaya diharapkan menjadi agen penjaga nilai-nilai tradisional. Dengan mengenakan jas, para pemakainya mendapat citra modern karena menandakan persinggungan dengan budaya Eropa.


“Setelan jas Barat merupakan kostum para pemimpin kolonial yang secara politis berkuasa. Pakaian ini kemudian ditiru oleh kaum bumiputra yang telah mengenyam secuil pendidikan Barat sebagai simbol modernitas,” tulis Julia Suryakusuma dalam artikelnya, “Kebaya Mencitrakan Perempuan, Bagaimana dengan Laki-laki?”.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Selama tiga dekade tinggal di Uni Soviet, Semaoen menggeluti berbagai profesi: penyiar radio, penerjemah, dosen, hingga wakil perdana menteri.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
Usai tak lagi merumput, 11 bintang sepakbola ini terjun ke dunia politik. Ada yang sukses, ada pula yang kurang moncer.
Usai tak lagi merumput, 11 bintang sepakbola ini terjun ke dunia politik. Ada yang sukses, ada pula yang kurang moncer.
Hari lahir WR Supratman 9 Maret ditetapkan sebagai Hari Musik Nasional. Padahal tanggal itu masih diperdebatkan.
Hari lahir WR Supratman 9 Maret ditetapkan sebagai Hari Musik Nasional. Padahal tanggal itu masih diperdebatkan.
Salad kaktus di Timur Tengah hingga gado-gado di Hindia Timur membuktikan makanan ini digemari siapapun.
Salad kaktus di Timur Tengah hingga gado-gado di Hindia Timur membuktikan makanan ini digemari siapapun.
Persidangan di hari pertama diawali dengan pembacaan dakwaan jaksa. Sidang dipimpin hakim dari Afrika Selatan yang bereputasi internasional.
Persidangan di hari pertama diawali dengan pembacaan dakwaan jaksa. Sidang dipimpin hakim dari Afrika Selatan yang bereputasi internasional.
Mewarisi ambisi JFK mendaratkan manusia di bulan 50 tahun lalu, Donald Trump terobsesi memasang bendera di Mars.
Mewarisi ambisi JFK mendaratkan manusia di bulan 50 tahun lalu, Donald Trump terobsesi memasang bendera di Mars.
Penggunaannya untuk komunikasi telah ada sejak ribuan tahun silam. Di masa modern, merpati tetap jadi pilihan.
Penggunaannya untuk komunikasi telah ada sejak ribuan tahun silam. Di masa modern, merpati tetap jadi pilihan.
transparant.png
bottom of page