top of page

Penangkapan Sukarno hingga Pendaratan Pasukan Mataram

Berikut ini peristiwa sejarah penangkapan Sukarno, persidangan kasus Cibarusa, pengeboman Hiroshima, pentas amal Miss Tjitjih, dan pendaratan pasukan Mataram.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Penjara Sukamiskin di Bandung. (KITLV).

21 Jun 2024
3 menit membaca

1 Agustus 1933 Sukarno Ditangkap


Rumah Mohammad Husni Thamrin mendadak dipenuhi polisi Belanda. Kala itu, Thamrin sedang menerima kunjungan Sukarno, ketua Partindo (Partai Indonesia).  


“Tuan Sukarno, atas nama Sri Ratu saya tangkap tuan,” ujar seorang komisaris polisi, seperti dikutip dalam otobiografi Sukarno yang disusun Cindy Adams.  


Sukarno ditangkap saat itu juga. Dari sana, ia langsung dinaikkan ke kereta api menuju Bandung, dijebloskan ke penjara Sukamiskin. Untuk kali yang kedua, Sukarno kembali merasakan dinginnya penjara.  


Sukarno kemudian menjalani masa pembuangannya ke Ende, Flores, lalu dipindahkan ke Bengkulu. Saat penangkapan itu, pemerintah kolonial Hindia Belanda mengeluarkan dekrit khusus yang isinya menyulitkan untuk mengadakan segala macam rapat di Hindia Belanda. 



Landraad Bogor. (KITLV).
Landraad Bogor. (KITLV).

3 Agustus 1937 Sidang Kasus Cibarusa


Landraad (Pengadilan) Bogor membuka persidangan untuk mengadili pelaku perampokan yang marak terjadi di Cibarusa. Sidang pertama, Sakib bin Samoen diajukan ke muka dengan dakwaan melakukan perampokan. Saksi pun dihadirkan. Akhirnya, hakim mengetuk palu, Sakib mendapat hukuman 3 tahun.  


Sidang kedua, pada hari itu juga, menghadirkan terdakwa bernama Salabapasani. Ia didakwa merampas padi disertai ancaman. Dari saksi yang dihadirkan, catat harian Pemandangan 4 Agustus 1937, Salabapasani melakukan pemerasan di sawah ketika ada panen padi. Ia merampas begitu saja tanaman padi, dan mengancam pemilik padi akan membunuhnya jika menghalanginya. Hakim pun mengganjar 3 tahun hukuman bagi Salabapasani. 


Hiroshima musnah setelah dibom atom. (Wikimedia Commons).
Hiroshima musnah setelah dibom atom. (Wikimedia Commons).

6 Agustus 1945 Hiroshima Lenyap


Tengah malam pada hari keenam Agustus, pesawat Enola Gay lepas landas dari Pulau Tinian di Kepulauan Mariana Utara. Pesawat itu membawa bom atom Little Boy dengan panjang 3 meter, lebar 71 cm, dan berat 4000 kg.  


Awak B-29 Enola Gay terdiri dari: Paul Tibbets (pilot), Robert A. Lewis (kopilot), Ted van Kirk (navigator), William S. Parsons (yang mengaktifkan bom sebelum dijatuhkan), Thomas W. Frebee (juru bidik/pelepas bom), Bob Caron (defender belakang pesawat bagian ekor untuk menjaga kemungkinan serangan Jepang). 


Pada pukul 08.15 waktu Jepang, B-29 telah sampai di atas langit Hiroshima. Dari ketinggian hampir 10 ribu meter mereka menghitung. Little Boy dijatuhkan. Hiroshima hilang dalam sekejap.  


Manuver penyelamatan dari ledakan bom pun dilakukan. Sekembalinya ke pangkalan udara di Pulau Tinian pukul 3 sore, mereka disambut oleh Jenderal Carl Spaatz. Paul Tibbets mendapat medali Distinguished Service Cross, dan awak lainnya mendapat Air Medals.



Barisan Propaganda zaman pendudukan Jepang. (Wikimedia Commons). 
Barisan Propaganda zaman pendudukan Jepang. (Wikimedia Commons). 

13 Agustus 1942 Pentas Amal Miss Tjitjih


Miss Tjitjih mengadakan pertunjukan di Sawah Besar dengan lakon “Kembang Widjaja Koesoema”. Hasil dari pertunjukan malam itu akan didonasikan kepada Rumah Piatu Muslimin dan Komite Arab Penolong Fakir Miskin.  


Miss Tjitjih merupakan salah satu dari beberapa perkumpulan sandiwara yang ada di Jakarta. Pada masa awal Jepang masuk, mereka umumnya menggelar pertunjukan untuk keperluan sosial, hiburan semata, merayakan hari istimewa atas anjuran pemerintah hingga propaganda.  


Menurut Fandy Hutari dalam Sandiwara dan Perang: Propaganda di Panggung Sandiwara Modern Zaman Jepang, jika pertunjukan untuk hiburan dan kepentingan sosial seringnya atas inisiatif perkumpulan sandiwara itu sendiri. Namun, jika bentuknya propaganda, biasanya atas anjuran pemerintah Jepang melalui organisasi yang menangani sandiwara. 



Pertempuran pasukan Mataram dan VOC di Batavia. (Tembi).
Pertempuran pasukan Mataram dan VOC di Batavia. (Tembi).

24 Agustus 1628 Pendaratan Pasukan Mataram di Batavia


Pasukan laut dari Kerajaan Mataram Islam sudah berada di pantai dekat kastil Batavia. Armada laut ini terdiri dari 60 kapal bermuatan sapi potong dan beras. Mulanya, Jan Pieterzoen Coen girang atas kiriman armada ini, sebab ia berpikir ini adalah pasokan pangan dari Mataram. 


Namun, kegirangannya berubah setelah melihat ada sekira 900 pasukan di balik kapal-kapal tersebut. Mereka kemudian membuang sauh agak jauh dari pantai, sebab menunggu kedatangan pasukan darat.  


Armada laut ini kemudian dapat dihalau oleh pasukan VOC. Akibatnya, pasokan beras dan sapi potong yang sedianya untuk pasukan darat Mataram, musnah.


Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page