top of page

Pentas Terakhir Bobby Kennedy

Presiden John F. Kennedy menugaskan adiknya, Jaksa Agung Robert F. Kennedy berkunjung ke Indonesia. Hidupnya berakhir tragis seperti kakaknya: mati dibunuh.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Robert F. Kennedy dan istrinya, Ethel Skakel, saat berkunjung ke Indonesia. (ANRI).

22 Mar 2023
6 menit membaca

Diperbarui: 5 Jun

LANGIT Malibu, California, Amerika Serikat mendung di pagi 4 Juni 1968. Meski tak biasa, Senator Robert Kennedy, istrinya Ethel Skakel, dan keenam anaknya tak hirau. Mereka bersantai di kolam renang di rumah sutradara sekaligus produser film John Frankenheimer, menikmati hangatnya udara Samudera Pasifik. Bobby, panggilan akrab Robert Kennedy, butuh melepas penat.


Sejak Maret 1968, Bobby keliling berbagai tempat untuk kampanye pemilu pendahuluan untuk meraih nominasi calon presiden dari Partai Demokrat. Hanya 14 negara bagian yang menghelat pemilu pendahuluan pada 1968. Ia sedang berjuang untuk menduduki kursi di Gedung Putih. Beberapa pihak tak suka dan risau oleh pencalonannya tetapi Bobby terus maju. Pendukungnya di mana-mana.


Bobby ingin membawa perubahan bagi AS, yang menurutnya dalam bahaya. Platformnya antara lain keadilan ekonomi dan rasial, kebijakan luar negeri nonagresi, desentralisasi kekuasaan, dan perbaikan kehidupan sosial. Dialah yang meredakan kemarahan massa kulit hitam pascapembunuhan Martin Luther King Jr. Dalam pidatonya di Indianapolis pada 4 April 1968, ia berkata: “Apa yang kita butuhkan di AS bukanlah perpecahan, pun bukan kebencian, bukan pula kekerasan ataupun pelanggaran hukum. Tapi cinta dan kearifan, mengasihi satu sama lain, dan keadilan bagi mereka yang masih menderita di negeri ini, tak peduli mereka putih atau hitam.”

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page