BUKU tebal dengan sampul hardcover berwarna hijau tua itu masih terpelihara meskipun sudah termakan zaman. Di bagian sampulnya terdapat lambang Kodam IV/Diponegoro. Tulisan di bawahnya berbunyi: Makam Djenderal TNI Gatot Soebroto.
Dari lembaran-lembaran di dalamnya, masih banyak halaman kosong karena memang kompleks permakaman itu merupakan permakaman keluarga. Meski begitu, beberapa nama besar tercatat pernah mengunjunginya. Salah satunya Presiden Soeharto.
Dalam buku tamu makam itu, nama Presiden Soeharto tertulis sebagai pengunjung nomor urut 232 tertanggal 13 Januari 1973. Ia turut menuliskan pesan dan kesan di buku itu.
“Menjaga nama baik korps adalah kewajiban setiap anggota, dalam keadaan bagaimanapun, kapan saja, dan dimana saja,” demikian bunyi pesannya.
Buku tamu itu diletakkan di meja staf keamanan kompleks makam keluarga Jenderal Gatot Soebroto. Letaknya di Jalan Letjen Suprapto, Sidomulyo, Ungaran, sekitar satu kilometer sebelah timur dari Museum Gatot Soebroto.
Saat menziarahi makam Jenderal Gatot itu, Historia.ID didampingi Lawrence Locsin Sardjono, salah satu cucu Jenderal Gatot Soebroto. Dirinyalah yang menerangkan banyak hal saat berbincang usai ritual ziarah selesai dilakukan.
Di sisi kanan makam Jenderal Gatot terdapat makam sang istri, Siti Soepiah binti H. Adnan Wangsadikarta. Perempuan kelahiran Sumedang, 8 September 1920 itu diperistri Gatot semasa Perang Kemerdekaan. Soepiah menyusul sang suami ke alam keabadian pada 30 November 1989.

Di area itu juga terdapat makam lima anak Gatot yang semua sudah tiada: Nining Indriastati (1949-1992), Nunung Indriastuti (1951-1984), Bambang Utomo (1957-2014), Bambang Tjahjo (1959-2023), dan Nanang Bambang Sardjono (1953-2026). Nama terakhir merupakan ayah Lawrence, baru tutup usia pada 12 September 2026.
Makam itu berada di lahan seluas sekitar 5.000 meter persegi yang dulunya merupakan persawahan dan tegalan. Gatot membelinya hampir bersamaan dengan saat membeli rumah Ungaran. Sebagaimana keterangan soal rumah, informasi soal lahan malam pun belum terlacak milik siapa sewaktu dibeli Gatot dan seharga berapa.
Keduanya dibeli Gatot ketika masih menjabat Gubernur Militer III/Panglima TT IV dan berkantor di Semarang. Gatot sudah sering ke Ungaran untuk melihat-lihat rumah dan lahannya. Keterangan itu dituturkan Effendi Wattimena, putra Kolonel Iskandar yang komandan zeni di Divisi IV sekaligus perwira kepercayaan Gatot, yang pada 2020 diwawancara Chris.
“Ketika jadi pangdam (Panglima TT IV, red.) kan sering ke Ungaran ini. Pak Gatot punya tangan kanan, namanya Pak Iskandar dari bagian zeni. Kemudian kan sering ke Ungaran, itu diajak bareng, cari tanah makam. Terus ketemu yang di Sidomulyo itu,” terang Chris.
Berbeda dari museumnya, Kompleks Makam Gatot Soebroto lebih terbuka untuk umum dan bisa diziarahi kapan saja. Dahulu, kata pemerhati sejarah Semarang yang lahir dan besar di Ungaran Johanes Christiono, operasionalnya masih dipegang personel koramil setempat.
“Sejak masih sekolah saya juga sudah sering ke (makam) sana karena waktu ikut kegiatan Pramuka sering ikut tabur bunga. Waktu sudah kerja (sebagai wartawan) di Suara Merdeka juga sering ke situ ketika meliput ada panglima militer ziarah atau tokoh lainnnya,” ujar Chris dihubungi Historia.ID dalam kesempatan berbeda.
Semenjak museum diresmikan pada 2021, area makam tidak lagi dijaga militer. Staf keamanannya dikelola sendiri oleh keluarga besar Jenderal Gatot.
Persemayaman Jenderal Nyentrik
Jenderal Gatot merupakan salah satu perwira Angkatan Darat paling dikenal dan dihormati selain Jenderal Sudirman dan Jenderal Oerip Sumohardjo. Ya karena kariernya, juga karena kharisma dan wataknya yang nyentrik.
Gotot tegas lagi lugas. Sosok berjenggot dengan berpenampilan khas mengenakan topi polka serta bercangklong itu hatinya baik meskipun acap berlidah kasar. Kalau sudah membentak dengan lema “monyet”, itu artinya lawan bicaranya adalah orang yang dihargai dan disayanginya.
“Teguran yang keras dan kasar ‘Zeg, monyet!’ dalam setiap perjumpaan merupakan salam khas dari Gatot Subroto yang dikenal setiap orang. Tetapi setiap orang juga mengerti bahwa teguran itu justru tanda terbukanya hati tokoh ini menerima kedatangan seseorang untuk berbicara maupun untuk urusan yang lain. Jadi ‘teguran yang kasar’ itu merupakan ‘lampu hijau’ bagi seseorang untuk bertemu dan berbicara sebaik-baiknya karena ia berkenan dalam hatinya,” tulis Moh. Oemar dalam biografi Pahlawan Nasional, Jenderal Gatot Subroto.
Namun, karier Gatot tak melulu mulus. Sewaktu menjadi panglima TT VII/Divisi Wirabuana di Sulawesi, Jenderal Gatot dinonaktifkan pada 1953. Dia dianggap terlibat Peristiwa 17 Oktober 1952.

Gatot pun memboyong keluarganya menepi ke Ungaran. Mereka tinggal di kediaman pribadi yang dibeli Gatot pada 1953 kemudian ditambahi beberapa bangunan, termasuk sebuah pesanggrahan tempatnya bermeditasi di halaman samping rumah.
“Sejak itu, ia menetap di Semarang sebagai orang sipil, sambil membangun rumah di Ungaran. Dalam tahun 1955 ia pindah ke rumah yang baru selesai dibangun itu, yang direncanakannya sebagai tempat tinggal tetap. Di sinilah ia bermaksud menghabiskan hari tuanya. Tapi ternyata setahun kemudian, pemerintah memanggil kembali dan mengangkatnya menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Darat,” tulis Pusjarah ABRI dalam Biografi Pahlawan Nasional dari Lingkungan ABRI.
Gatot dan keluarganya praktis hanya setahun lebih menghuni rumah itu. Sebagai orang kedua di Angkatan Darat, Gatot dan keluarganya mesti tinggal di ibukota. Mereka tinggal di rumah dinas Jalan Agus Salim.
Gatot sendiri baru “kembali” ke rumah di Ungaran itu tidak dalam keadaan masih hidup. Hanya jenazahnya saja, yang diterbangkan dari Jakarta ke Semarang atas permintaan keluarga. Gatot meninggal dunia di Jakarta pada 11 Juni 1962.
“Peti jenazah diusung oleh para Perwira AD dan dengan diiringi oleh tembakan salvo oleh suatu regu militer sebagai penghormatan, jenazah almarhum itu diberangkatkan dengan mobil jenazah ke lapangan terbang Kemayoran untuk selanjutnya dengan pesawat ‘Hercules’ dibawa ke Semarang,” demikian Sinar Harapan edisi 12 Juni 1962 memberitakan via artikel “Presiden Soekarno Terbang Dari Bogor Menudju ke MBAD”.
Setelah mendarat di Pangkalan Udara Kalibanteng (kini Bandara Ahmad Yani), jenazah Jenderal Gatot dibawa menuju Balai Kota Semarang. Jenazah Gatot lebih dulu diberikan penghormatan lewat upacara militer yang dipimpin langsung KSAD Jenderal A.H. Nasution, baru dibawa ke Ungaran sebagai rumah duka terakhir. Jenazahnya kemudian dikebumikan di lahan makam keluarga.
“Saya dengar memang ada ditawarkan untuk dimakamkan di (Taman) Makam Pahlawan, cuman permintaan nenek dimakamkan di sini. Cerita dari bapak saya, beberapa bulan sebelum kakek meninggal, cuman minta kembali ke Ungaran dan kebetulan karena beli tanahnya di Sidomulyo itu,” tutur Lawrence.
Permintaan Soepiah itu merupakan pelaksanaan wasiat Jenderal Gatot. Pada medio Mei 1965, dalam peringatan 1.000 hari wafatnya Jenderal Gatot, dilakukanlah pemasangan batu nisan yang peresmiannya dihadiri Pangkostrad Jenderal Soeharto, didampingi Pangdam Diponenogoro Mayjen Soerjo Soempeno dan Jenderal Sarbini.
Sebagaimana Museum Gatot Soebroto, tanggung jawab pengelolaan dan pemeliharaan makam kini dipegang Lawrence. “Waktu itu juga bapak saya sebelum meninggal pernah berpesan, untuk jaga baik-baik pemakaman kakek,” jelasnya.


















Komentar