top of page

Poligami pada Zaman Kuno

Praktik poligami pada zaman kuno terekam dalam karya sastra, prasasti, dan relief candi.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Lelaki bangsawan dikelilingi beberapa perempuan bangsawan yang mungkin istri-istrinya. Pemandangan semacam ini banyak muncul di relief Karmawibhangga, di kaki Candi Borbobudur. (Wikipedia Commons).

26 Jun 2019
3 menit membaca

Diperbarui: 25 Mei

AMAT senang baginda raja bersuami istri, permaisuri baginda amat berhati-hati ketika beliau melayani baginda raja. Tidak ada yang saling cemburu, ketiga istri baginda seiya sekata dan taat serta patuh kepada baginda raja.


Begitu teks Ramayana menggambarkan hubungan suami istri antara Dewi Kekayi, Sumitra, Kausalya dengan Raja Dasaratha, penguasa Kerajaan Ayodya. Ketiganya sama-sama berkedudukan sebagai permaisuri. Mereka diibaratkan seperti Dewi Durga, Dewi Gangga, dan Dewi Gauri, yaitu tiga sakti Dewa Siwa yang cantik berbudi luhur.


Pada masa Kuno, terutama masa kerajaan-kerajaan Jawa, bukan hal yang kontroversial jika seorang lelaki punya istri lebih dari satu. Data tekstual dan artefaktual membuktikannya. Terutama dalam dunia kakawin, praktik poligami digambarkan sebagai praktik yang damai. Artinya, tak ada yang saling cemburu di antara istri.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page