top of page

Raja-Raja Perempuan di Bali

Bukan hanya di Jawa, perempuan-perempuan di Bali juga mendapat kesempatan memegang kekuasaan.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Prasasti Air Tabar B, satu-satunya prasasti yang menyebut nama raja perempuan, Maharaja Sri Wijaya Mahadewi. Prasasti ini berbahasa Bali Kuno.

10 Des 2017
2 menit membaca

BERBAGAI prasasti menyebut raja-raja perempuan di Bali khususnya dari Dinasti Warmmadewa. Raja pertamanya, Sri Kesari Warmmadewa, yang disebut dalam tiga prasasti berbahasa Bali Kuno.


Para ahli berpendapat, Sri Kesari Warmmadewa merupakan cikal bakal Dinasti Warmmadewa yang menurunkan Dharmodayana hingga Airlangga di Jawa. Dia diperkirakan memerintah kerajaan yang berpusat di Singhamandawa. Hingga kini, letaknya belum bisa dipastikan. Ada yang memperkirakan di sekitar Tampak Siring dan Pejeng atau di antara aliran Sungai Patanu dan Pakerisan. Namun, masih harus dibuktikan.


Tokoh perempuan pertama dari Dinasti Warmmadewa yang memerintah adalah Sang Ratu Luhur Sri Subhadrika Warmmadewi. Dia mendampingi suaminya, Sang Ratu Sri Haji Tabanendra Warmmadewa, raja ketiga setelah Sri Kesari Warmmadewa. Mereka memerintah bersama pada 955-967 M.


“Walaupun berdasarkan bukti prasasti terakhir yang dikeluarkannya adalah 967 M, pada 960 M muncul seorang raja penggantinya bernama Jayasingha Warmmadewa,” tulis Ninie Susanti, arkeolog Universitas Indonesia, dalam Airlangga, Biografi Raja Pembaru Jawa Abad XI.


Selanjutnya pada 983 M, muncul raja perempuan bernama Maharaja Sri Wijaya Mahadewi. Dia disebut dalam Prasasti Air Tabar B yang berbahasa Bali Kuno. Meski begitu, nama jabatan lainnya yang tertulis dalam prasasti itu lebih lazim dijumpai dalam prasasti Jawa Kuno, yaitu makudur, wadihati, dan pangkaja. Menurut Ninie, jabatan-jabatan ini tak pernah dijumpai sebelumnya dalam prasasti berbahasa Bali Kuno.


Oleh karena itu, arkeolog Belanda, Van Stein Callenfels mengira-ngira raja perempuan itu adalah putri dari Kerajaan Sriwijaya di Sumatra yang meluaskan kekuasaannya ke Bali. Sedangkan sejarawan Belanda J.L. Moens beranggapan raja perempuan itu adalah Sri Isanatunggawijaya, putri Mpu Sindok.


Selain itu, dalam sebuah prasasti Jawa Kuno tahun 937 saka koleksi museum di Jerman, dijumpai keterangan Sri Maharaja Siniwi I Kadiri atau Sri Mahadewi yang disembah atau bertakhta di Kadiri.


“Apakah kedua nama itu nama satu orang saja? Apakah Maharaja Sri Wijaya Mahadewi seorang putri Jawa yang merebut takhta Dinasti Warmmadewa pada 905 saka? Penelitian lebih lanjut belum dilakukan,” lanjut Ninie.


Kendati demikian, menurut Ninie, Mahadewi memerintah selama enam tahun sebelum akhirnya orang tua Airlangga memerintah bersama di takhta Dinasti Warmmadewa. Prasasti Pucangan berbahasa Sanskerta menyebut Raja Airlangga yang bertakhta di Jenggala punya kekerabatan dengan para penguasa di Bali. Prasasti berisi silsilah Airlangga itu menyebutkan dia merupakan putra pangeran Bali dari Dinasti Warmmadewa bernama Dharmodayana dengan Gunaprya Dharmmapatni, putri Raja Sri Makutawangsawardhana, penerus Dinasti Isana di Jawa.


Sejak pemerintahan bersama ini, bahasa Jawa Kuno mulai digunakan. Selama masa pemerintahannya sejak 989-1011 M, Raja Dharmodayana atau Udayana mengeluarkan sepuluh prasasti. Empat di antaranya dikeluarkan bersama istrinya.


“Hal yang cukup menarik, nama Gunaparya Dharmmapatni selalu disebutkan lebih dulu,” tulis Ninie. Menurutnya, itu sangat mungkin disebabkan ketika masa Udayana, Bali berada di bawah pengaruh Jawa.


Raja perempuan lain yang kemudian menggantikan Raja Udayana adalah Sang Ratu Sri Sang Ajnadewi. Dia diperkirakan bukan dari keluarga Warmmadewa. Namanya sebagai raja tercatat dalam Prasasti Sembiran A III tahun 1016 M. Dia diperkirakan mengambil alih pemerintahan sampai generasi Warmmadewa berkuasa kembali pada 1022 M, yaitu Marakata Pangkaja, putra kedua Udayana.


Perempuan tak dikesampingkan dalam pemerintahan raja-raja di Bali. Setidaknya dalam keluarga besar Airlangga. Terlebih ketika menengok silsilah dalam Prasasti Pucangan, disebutkan Airlangga adalah keturunan langsung dari Mpu Sindok melalui garis ibu. Pewarisan takhta melalui garis perempuan pun bukan hal aneh pada masa itu.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Selama tiga dekade tinggal di Uni Soviet, Semaoen menggeluti berbagai profesi: penyiar radio, penerjemah, dosen, hingga wakil perdana menteri.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
Untuk pertama kalinya peringatan maestro tari topeng Mimi Rasinah dengan cukup besar. Melibatkan seniman nasional dan internasional.
Untuk pertama kalinya peringatan maestro tari topeng Mimi Rasinah dengan cukup besar. Melibatkan seniman nasional dan internasional.
Orang Indian menggunakan getah karet alami agar topi dan alas kaki tahan air. Charles Macintosh kemudian mematenkan penemuannya untuk pakaian tahan air.
Orang Indian menggunakan getah karet alami agar topi dan alas kaki tahan air. Charles Macintosh kemudian mematenkan penemuannya untuk pakaian tahan air.
Supeni menolak pemisahan perempuan dari partai politik. Kritiknya tak asal bunyi, ia jadi tokoh penting dalam PNI.
Supeni menolak pemisahan perempuan dari partai politik. Kritiknya tak asal bunyi, ia jadi tokoh penting dalam PNI.
Negeri-negeri yang bergulat dari masa transisi menuju demokrasi, kejahatan kemanusian di masa lalu acap menjadi beban di masa kini.
Negeri-negeri yang bergulat dari masa transisi menuju demokrasi, kejahatan kemanusian di masa lalu acap menjadi beban di masa kini.
Berhasrat membalas dendam dan mewujudkan tuntutan, sekelompok aktivis garis keras Armenia mengebom bandara di Paris.
Berhasrat membalas dendam dan mewujudkan tuntutan, sekelompok aktivis garis keras Armenia mengebom bandara di Paris.
Bahu-membahu di bawah panji Unifikasi. Melebur jadi satu dengan menghayati lagu “Arirang”.
Bahu-membahu di bawah panji Unifikasi. Melebur jadi satu dengan menghayati lagu “Arirang”.
transparant.png
bottom of page