top of page

Sebelum Ferry Sonneville Juara Dunia Bulutangkis

Ferry Sonneville banting tulang bertahan hidup setelah menjadi yatim. Pada masa pendudukan Jepang ini dia mendalami beladiri.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Selain pebulutangkis, Ferry Sonneville juga praktisi dan guru jiujitsu. (Nationaal Archief).

27 Des 2023
2 menit membaca

Diperbarui: 29 Apr

ORANG mengenalnya sebagai legenda bulutangkis Indonesia. Bersama timnya, dia ikut mengantarkan Indonesia menjuarai Thomas Cup pada 1958, 1961, dan 1964. Dialah Ferry Sonneville.


Ferry merupakan anak dari pasangan Dirk Jan Sonneville yang berdarah Belanda-Perancis dan Leoni Elizabeth de Vogel berdarah Indo-Belanda. Dirk kelahiran Maos, daerah Banyumas, pada 22 Juli 1906. Dirk bekerja di perusahaan gas di sekitar Jatinegara, Jakarta. Hidup mereka berkecukupan untuk ukuran zamannya. Mereka tinggal di bilangan Kemayoran.


“Sang suami gemar bermain tenis dan bahkan pernah menjadi juara tenis di Jakarta. Sedang sang istri gemar bermain bulutangkis, dan terkenal sebagai pemain yang tangguh,” tulis Wisnu Subagyo dalam Ferry Sonneville, Karya dan Pengabdiannya.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page