- 1 hari yang lalu
- 5 menit membaca
SUASANA tak mengenakkan antara sejawat seperjuangan, Kapten Sudarto (diperankan Del Juzar) dan Kapten Adam (R. Sutjipto), membuat ruangan sederhana di sebuah rumah bilik bambu terasa kian sempit. Adam tak habis pikir Sudarto tak henti-hentinya punya hubungan asmara dengan perempuan sepanjang mereka longmarch kembali ke Jawa Barat.
Namun, Sudarto membela diri. Hubungannya dengan seorang gadis pengungsi asal Jerman, Connie (Ella Bergen), dan kemudian perawat bernama Widya (Farida) menurutnya terjadi begitu saja seiring keadaan, bukan disengaja. Duduk di kursi kayu dengan tangan kanan masih dibelit perban, Sudarto mulanya hanya terdiam saat Adam mulai protes.
Sembari melepas sabuk, sarung pistol, dan seragamnya, Adam mengungkapkan unek-uneknya. “Petualangan cinta” Sudarto, katanya, sudah jadi bahan omongan anak-anak buahnya, pasukan Siliwangi.
“Aku tak suka kau bicara begitu tentang Widya, Adam,” ujar Sudarto sambil beranjak dari kursinya.
“Bung Darto, ingat akan perempuan Jerman dari Sarangan. Dan ingat tentang istrimu,” Adam mengingatkan.
“Jangan kau campuri urusan saya.”
“Aku tidak mencampuri apa yang kau kerjakan sebagai Sudarto. Tetapi sebagai teman sejawat, aku wajib turut campur,” kata Adam sambil bertolak pinggang.
“Adam, kau selama ini seperti saudara bagiku. Tapi jangan kau coba mempersempit ruanganku bernafas. Aku berjuang untuk kebebasan, bergerak dan berpikir dengan yang aku suka.”
“Kau bukan prajurit. Kau adalah...” kata Adam.
“Baik, aku bukan prajurit,” tegas Sudarto.
Potongan adegan adu argumen dua kawan seperjuangan itu menjadi bagian film Darah dan Doa (1950), yang sering disebut The Long March, garapan sineas Usmar Ismail. Tak hanya produksi Indonesia pertama yang pengambilan gambarnya, 30 Maret 1950, ditetapkan sebagai hari film nasional, film ini juga jadi debut Del Juzar sebagai aktor.
Namun, setelah pertengahan 1950-an, aktor tampan berambut ikal dan kumis tipis itu tak lagi berseliweran di film-film sampai ujung hayatnya pada 18 Agustus 1988. Ia tercatat hanya tiga kali membintangi film yang semuanya juga karya Usmar Ismail di bawah rumah produksi Perfini.

Dari Kadet, Aktor, hingga Advokat
Nama aslinya Delma Juzar (beberapa sumber menuliskannya Yuzar). Lahir di Medan pada 28 Desember 1928 dari keluarga Minangkabau. Menurut buku Apa Siapa Orang Film Indonesia, 1926-1978, Del mulai berkecimpung di dunia seni peran dengan bergabung ke sebuah kelompok sandiwara sekolah semasa mengenyam pendidikan tingkat menengah. Namun Revolusi Fisik membuat Del harus ikut angkat senjata. Bersama beberapa kawan satu sekolahnya, ia bergabung ke akademi militer di Sumatera Utara yang didirikan Kolonel Ahmad Tahir, Kadet Brastagi.
“Setelah para Kadet Brastagi menyelesaikan pendidikannya itu, sebahagian kadet oleh Dipisi (Divisi IV Sumatera Timur, red.) ditempatkan di Pasukan Wiji, di antaranya yang ditempatkan di Kompi-III ialah Kadet Dahlan Malay dan Mustafa Aku Bakar, Staf Batalyon ditempatkan Kadet Haryono, Kadet Del Yuzar, Karim, Firman, M.P. Sitorus, Ilham. Di Kompi-II pimpinan Lt. I Talib, ditempatkan Kadet Ismail Aswin, di Kompi-IV pimpinan Lt. Muda Muhammad ditempatkan Kadet Mahmud Siregar,” tulis buku 35 Tahun Kadet Brastagi.
Demi membantu perekonomian keluarganya, Del merantau ke Jakarta pasca-berakhirnya revolusi fisik. Naluri seninya membawa Del mengikuti seleksi audisi Perfini medio 1950 dan dia lulus. Ia pun masuk “barisan” angkatan pertama Perfini yang jadi “pasukan” Usmar Ismail yang tengah menggarap Darah dan Doa.
Usmar punya prinsip memilih untuk mengorbitkan aktor-aktor yang tidak terkenal. Selain Del Juzar, ada Aedy Moward, dan Awaloedin Djamin yang kelak jadi Kapolri periode 1978-1982.
“Karakter utama, Sudarto, diperankan aktor muda (Del Juzar) yang belum pernah tampil dalam sebuah film. Meski baru pertamakali tampil di layar perak, Del Juzar mampu membawakan karakter cerdas, pintar, antusias, dan selalu berpikir panjang,” tulis David Hanan dalam Moments in Indonesian Film History: Film and Popular Culture in a Developing Society: 1950-2020.
Sukses dengan film pertamanya, Del kembali tampil di dua film karya Usmar berikutnya, yakni Enam Djam di Jogja (1951), dan Kafedo (1953). Kedua film temanya masih perjuangan meskipun latar belakang tempatnya berbeda, yakni Yogyakarta dan Pulau Mentawai.
“Kafedo menggambarkan sebuah periode kemerdekaan. Filmnya disyuting di sebuah pulau terpencil. Sebagai salah satu pembuat film paling berpengalaman, ia paham bagaimana menggunakan kameranya sebagai alat bercerita....para aktornya juga mencapai kualitas penampilan yang natural. Susunan pemain utamanya meliputi Del Juzar, R. Tina Melinda, Isma’il Saleh, Rd. Sukarno, Aedy Moward, dan Udjang,” tulis artikel suratkabar De Nieuwsgier edisi 16 November 1953, “KAFEDO, een voortzetting van de Perfini traditie,”.

Namun, Kafedo jadi film terakhir Del karena ia kemudian memilih untuk meneruskan kuliahnya ke Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI). Pada 1951, ia sudah mendaftar dan pada 1952 mulai kuliah. Saat masih kuliah, Pada 1953 Del masih beradu akting dengan Rd. Sukarno dan Tina Melinda di film Kafedo.
“Pada Fakultas Hukum dan Ilmu Sosial di Jakarta, beberapa nama ini telah lulus ujian pertama calon mahasiswa: M. Situmeang, mej. Zainar Iljas, mej. Sariati Marzuki, Suroto Kartosudharmo, Toto Sudarto Bachtiar, Baharsan, Delma Juzar, mej. Achie Sudiarti Rachmat, mej. Roslina Rasad, mej. Liem Tek Hoa Nio en A. Subijakto,” tulis artikel Indische Courant voor Nederland, 28 Desember 1952, “Universitaire Examens”.
Sejak saat itu, Del sama sekali tak pernah kembali ke layar perak. Termasuk setelah kemudian ia berhasil lulus pada 1955.
“Lulus bagian pertama ujian doktoral (sarjana, red) di antaranya: M. Situmeang, R.O.A. Soeria Soemantri, Delma Juzar, Maidalina, dan. Nyonya Thung Kim Tek...” tulis berita koran Java-bode edisi 30 September 1955.
Mulai 1956, ia tercatat mulai jadi advokat. Dalam belantika hukum Indonesia, Del dikenang sebagai salah satu generasi pertama advokat-advokat perusahaan atau in-house counsel.
Buku Who’s Who in Indonesia: Biographies of Prominent Indonesia Personalities in All Fields yang disusun Mahiddin Mahmud dan O.G. Roeder mencatat, Del menjadi penasihat hukum PT Caltex Pacific Indonesia kurun 1956-1971. Selama bekerja di Amerika Serikat (AS), Del turut melanjutkan pendidikan hukum di Michigan University.
Seiring pergantian rezim dan kemunculan Undang-Undang No. 1 tentang Penanaman Modal Asing Tahun 1967, Del sempat ikut jadi perantara bagi para investor AS yang hendak menanamkan modalnya di Indonesia. Lantas ia kembali ke tanah air meski baru pada 1971 ia membuka kantor konsultan hukum, Mr. Delma Juzar Attorney-at-Law/Legal Consultant.
Pernah sekali ia menangani perkara pidana, yakni ketika Perkumpulan Advokat Indonesia (Peradin), menunjuknya jadi pembela bagi terdakwa Tjugito, kader Partai Komunis Indonesia (PKI) yang menghadapi ancaman hukuman mati. Oleh Del, setidaknya nyawa Tjugito terselamatkan dan diganjar hukuman penjara seumur hidup.
“Tjugito alias Badrun (anggota CC PKI) diadili Pengadilan Negeri Jakarta, tanggal 5 Agustus 1971, dijatuhi vonis penjara seumur hidup,” tulis buku Komunisme di Indonesia: Penumpasan Pemberontakan PKI dan Sisa-sisanya, 1965-1981, keluaran Pusjarah TNI.
Sejak saat itu, Del hanya menangani kasus-kasus perdata. Kantor konsultannya juga berubah jadi firma hukum pada 1985 setelah mendapat seorang mitra, Del Juzar & Wiriadinata Law Firm.
Del wafat pada 18 Agustus 1988 karena kanker paru-paru di usia 59 tahun dan dimakamkan di TPU Jeruk Purut, Jakarta Selatan. Namanya tetap dikenang tak hanya dalam belantika perfilman nasional namun juga di bidang hukum, di mana namanya turut diabadikan pada salah satu ruangan guru besar di FHUI.



















Komentar