top of page

Sepuluh Keluarga di Arena Bulutangkis (Bagian II)

Bulutangkis sudah mendarah daging di Indonesia. Banyak prestasi lahir dari para pebulutangkis bersaudara.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Keluarga Mainaky dan Keluarga Arbi, dua dari sekian bersaudara yang berkiprah dalam perbulutangkisan Indonesia dan dunia (Foto: pbdjarum.org)

30 Jan 2019
5 menit membaca

Diperbarui: 29 Apr

SEJAK 1950-an sampai kini, bulutangkis masih jadi olahraga paling mengharumkan nama Indonesia di pentas dunia. Kontinuitas prestasi yang tercetak tak hanya berkat pembinaan, melainkan juga karena garis keturunan dari orangtua ke anak ataupun dari kakak ke adik.


Tak heran bila dalam bulutangkis, sebagaimana dalam sepakbola, terdapat banyak pemain satu darah yang acap menghasilkan prestasi di era berbeda. Setidaknya ada 10 yang tercatat mendirikan “dinasti” bulutangkis, lima di antaranya sudah diuraikan di bagian pertama. Berikut lima keluarga bulutangkis lainnya:

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page