top of page

Sepuluh Warisan Kolonial yang Meresahkan

Warisan-warisan zaman Belanda yang masih membekas itu masih bisa dikikis, asalkan…

loading_historia_white.gif
transparant.png

Sejarawan dan inisiator Festival Seni Multatuli, Bonnie Triyana di pendopo Museum Multatuli Rangkasbitung (Riyono Rusli/Historia)

17 Jun 2023
7 menit membaca

Diperbarui: 8 Agu

KEMERDEKAAN Republik Indonesia sudah menyongsong dirgahayunya yang ke-78. Alam kolonialisme pun sudah cukup lama lenyap di Bumi Pertiwi. Akan tetapi secara sengaja atau tidak, sejumlah warisan kolonialisme Belanda itu masih eksis di tengah masyarakat Indonesia saat ini.


Sejarawan Bonnie Triyana mengungkapkan pola-pola yang ada di zaman kolonialisme itu, masih bisa dirasakan, setidaknya dalam 10 aspek yang mendegradasi cara berpikir masyarakat. Terlebih pola-pola yang serupa tapi tak sama itu selama hampir delapan dekade terus bisa dikenali tanpa pernah dibatasi atau diputus.


“Banyak hubungan kekuasaan institusional, sosial, dan budaya dapat ditelusuri kembali ke struktur dan budaya selama periode kolonialisme itu. Maka gerakan dekolonialitas untuk mengidentifikasi metode di mana cara-cara berpikir dan sistem pengetahuan Barat telah diuniversalkan dan menjadi penting untuk membongkar kolonialitas yang masih berlaku sampai sekarang,” ujar Bonnie pada pidato kebangsaan bertajuk “Apa yang Kita Warisi dari Kolonialisme?” dalam rangkaian Festival Seni Multatuli 2023 di Pendopo Museum Multatuli, Rangkasbitung, Lebak, Banten, Jumat (16/6/2023) malam.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Ahmad Subardjo was born in Karawang to a family of Acehnese and Javanese nobility. The beloved son of a civil service police officer, he moved to Batavia to continue his education at a Dutch school.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah became the first female minister in Indonesian history. She handled everything from diplomacy and labor issues to makeup and lipstick.
bg-gray.jpg
Cerita dari Museum Gatot Soebroto di Ungaran. “Rumah Prihatin” yang kaya cerita meski hanya setahun ditinggali sang jenderal.
bg-gray.jpg
Selepas meninggalkan militer, Gatot Soebroto ikut mendirikan IPKI dan lolos ke parlemen. Namun, dia mengundurkan diri karena diangkat sebagai wakil KSAD.
Delapan akademisi mencurahkan harapan dan usulan rekomendasi untuk keadilan Pemilu. Mengingatkan spirit para pendiri bangsa dan perjuangan Reformasi 1998.
Delapan akademisi mencurahkan harapan dan usulan rekomendasi untuk keadilan Pemilu. Mengingatkan spirit para pendiri bangsa dan perjuangan Reformasi 1998.
Pameran foto-foto zaman revolusi yang belum pernah beredar. Menampilkan wajah baru sejarah Indonesia awal kemerdekaan.
Pameran foto-foto zaman revolusi yang belum pernah beredar. Menampilkan wajah baru sejarah Indonesia awal kemerdekaan.
Seperti halnya Lebaran, anak-anak dan para jemaat mengenakan baju baru di hari Natal.
Seperti halnya Lebaran, anak-anak dan para jemaat mengenakan baju baru di hari Natal.
Mengutip pidato Sukarno, Basuki Tjahaja Purnama meminta pendukungnya tidak golput. Pilihlah partai politik yang teruji dan berkomitmen pada Pancasila.
Mengutip pidato Sukarno, Basuki Tjahaja Purnama meminta pendukungnya tidak golput. Pilihlah partai politik yang teruji dan berkomitmen pada Pancasila.
Selain Indonesia, ada tiga negara lain yang pernah batal jadi host Piala Dunia U-20. Salah satunya bahkan sampai dua kali.
Selain Indonesia, ada tiga negara lain yang pernah batal jadi host Piala Dunia U-20. Salah satunya bahkan sampai dua kali.
Setelah lama berseberangan, pemerintah Jepang akhirnya merekrut sastrawan komunis, Takeda Rintaro. Dikirim ke Jawa untuk memimpin Pusat Kebudayaan.
Setelah lama berseberangan, pemerintah Jepang akhirnya merekrut sastrawan komunis, Takeda Rintaro. Dikirim ke Jawa untuk memimpin Pusat Kebudayaan.
transparant.png
bottom of page