top of page

Sukarelawan Rusia, Vodka dan Spirtus

Bagaimana beberapa sumber sejarah merekam kehidupan sehari-hari para anggota Angkatan Laut Uni Sovyet di Surabaya selama berlangsung Operasi Trikora.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Para anggota Angkatan Laut Uni Sovyet (Twitter Embassy of Russia)

26 Mei 2021
3 menit membaca

SELAMA berlangsung-nya Operasi Trikora pada 1962, Angkatan Bersenjata Uni Sovyet telah mengirimkan 1.740 sukarelawan ke Indonesia. Mereka meliputi instruktur dan para teknisi (kadang merangkap juga sebagai tenaga tempur lapangan). Pengiriman itu merupakan bentuk komitmen konkret Perdana Menteri Nikita Khrushchev untuk mendukung Indonesia yang tengah berkonflik dengan Belanda.


 “Pada 9 Februari 1962, pemerintah Uni Sovyet kembali menegaskan dukungannya terhadap posisi Indonesia…” ungkap sejarawan militer Uni Sovyet Alexander Okorokov dalam Тайные войны СССР (Perang Rahasia Uni Sovyet).


Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) merupakan matra yang paling banyak mendapat pasokan alat-alat perang dan sukarelawan. Selain kapal perang permukaan, Uni Sovyet pun memasok 12 kapal selam jenis Whiskey (W). Itulah yang menyebabkan kemudian Angkatan Laut Uni Sovyet menempatkan hampir seribu anggotanya di Pangkalan Dermaga Ujung, Surabaya.


“Tugas mereka yang utama adalah mengajari kami untuk memakai alat-alat perang yang mereka hibahkan buat ALRI. Tetapi dalam kesempatan tertentu, mereka pun kadang diterjunkan juga dalam operasi tempur sesungguhnya di perairan Irian,” papar Laksamana Muda (Purn) I Nyoman Suharta.


Menurut Suharta yang saat itu berpangkat letnan satu, selama di Surabaya, orang-orang Rusia itu ditempatkan di sebuah gedung besar berlantai dua yang berada di kawasan Ksatrian Pendidikan Angkatan Laut Ujung (KPALU). Penempatan itu sempat membuat para sukarelawan Rusia mengeluh. Selain tempatnya tidak sesuai untuk sebuah asrama sekaligus markas dalam standar Angkatan Laut Uni Sovyet, situasi lingkungan juga tidak memadai untuk menjalankan pekerjan-pekerjaan khusus.


“Rumah dua lantai yang terpisah itu juga ternyata dibangun dari dana yang dialokasikan oleh Moskow,” ungkap Okorokov.


Tetapi hubungan antara para prajurit ALRI dengan para sukarelawan Uni Sovyet itu relatif berjalan baik. Tak jarang dalam kesempatan tertentu, mereka kerap melakukan pertandingan olahraga bersama, seperti bermain sepakbola, bola voli dan catur.


Hanya ada satu kebiasaan orang-orang Rusia itu yang tidak sejalan dengan orang-orang Indonesia yakni meminum vodka (minuman keras khas Rusia). Menurut Kolonel (Purn) F.X. Soeyatno, kegilaan para pelaut Rusia itu terhadap minuman beralkohol memang tiada taranya. Sehingga jika pasokan vodka terlambat dikirim ke Surabaya, mereka yang sudah kecanduan itu terpaksa menenggak spirtus (cairan kimia berwarna biru yang berfungsi untuk membersihkan komponen-komponen kapal perang).


“Sebagai bentuk penghormatan, saya pernah coba ikut meminum spirtus. Rasanya? Ya ampunnnn, panas sampai ke ubun-ubun…” tutur Suharta.


Karena kebiasaan mabuk-mabukan itu pula kadang menjadikan para sukarelawan Rusia itu terlibat dalam keonaran di pusat kota Surabaya. Pernah pada suatu malam, tiga pelaut Rusia terpaksa “dilemparkan” keluar karena tertidur di sebuah restoran. Pada kesempatan lain, seorang pelaut Rusia tewas dalam sutau keributan di bar.


“Laporan yang diterima: orang Rusia itu tewas akibat kecelakaan mobil. Namun kami menduga dia mati akibat berkelahi dalam kondisi mabuk,” ungkap Okorokov.


Secara finansial, bisa dikatakan para sukarelawan Rusia sangat mampu. Pemerintah Republik Indonesia (RI), sesungguhnya menggaji mereka sangat banyak tiap bulannya: berkisar 8.000 untuk prajurit biasa dan 10.000 rupiah untuk para perwira. Jumlah itu jelas sangat jauh dengan gaji para prajurit ALRI saat itu.


“Bayangkan saja, saya yang saat itu berpangkat letnan satu memiliki gaji hanya 700 rupiah. Sebagai patokan, harga 1 kg beras saat itu adalah 50 rupiah,” ujar Suharta.


Dengan gaji yang sangat besar itu, wajar jika pola hidup sehari-hari para sukarelawan Rusia sangat royal. Terlebih pada akhir bulan mereka kerap mendapat jatah pesiar ke Singapura dan mendapat kesempatan untuk memesan barang-barang yang mereka ingikan dari India dan Jepang.


Pernah suatu hari seorang prajurit Rusia membeli kamera merek Leica di Singapura. Ketika sampai di Surabaya, kamera tersebut tetiba raib. Setelah diselidiki oleh pihak Polisi Militer, ternyata kamera itu telah dicuri oleh seorang prajurit Indonesia.


“Itu memang kejadian yang memalukan. Tapi sebagai gentleman, kami mengakui kesalahan itu dan menyerahkan kembali kamera tersebut dalam suatu upacara resmi di geladak kapal,” kenang Suharta.


Uniknya dalam kesempatan itu, pihak korban pencurian juga justru meminta maaf karena “tidak peka” terhadap situasi sosial yang ada di lingkungan pangkalan laut itu. Alih-alih marah, saat itu juga dia melemparkan kamera itu ke laut.


“Jika kamera ini membuat seseorang berbuat jahat, lebih baik saya membuangnya saja ke laut,” ujar sang pelaut Rusia.


Pertengahan Agustus 1962, konflik antara Indonesia dengan Belanda mulai mereda. Kedua negara memutuskan untuk membawa masalah mereka ke meja perundingan. Perang pun batal terjadi di Irian. Seiring situasi semakin aman, para sukarelawan Rusia itu pun perlahan ditarik kembali ke negara-nya dan ditempatkan lagi di kesatuannya masing-masing.


Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
PKI memiliki tradisi intelektual yang kuat. Membawa gagasan ke tengah masyarakat melalui pendidikan dan pemberantasan buta huruf. Hasilnya menjadi salah satu partai terbesar.
bg-gray.jpg
Selama tiga dekade tinggal di Uni Soviet, Semaoen menggeluti berbagai profesi: penyiar radio, penerjemah, dosen, hingga wakil perdana menteri.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
Pandemi COVID-19 berimbas pada Olimpiade Tokyo. Seolah mengulang cerita kelam 80 tahun silam meski penyebabnya berbeda.
Pandemi COVID-19 berimbas pada Olimpiade Tokyo. Seolah mengulang cerita kelam 80 tahun silam meski penyebabnya berbeda.
Sebuah museum yang tak sekadar membuat pengunjungnya terjebak dalam masa lalu, atau menangis, tapi memberi makna atas apa yang terjadi.
Sebuah museum yang tak sekadar membuat pengunjungnya terjebak dalam masa lalu, atau menangis, tapi memberi makna atas apa yang terjadi.
Tingkat dan perubahan populasi permukiman kuno bisa diteliti lewat ekstrak tinja manusia dan hewan.
Tingkat dan perubahan populasi permukiman kuno bisa diteliti lewat ekstrak tinja manusia dan hewan.
Dansa maraton menjadi salah satu hiburan populer penduduk Amerika di masa Depresi Besar. Para peserta menari berpasangan hingga berbulan-bulan demi mendapatkan hadiah uang.
Dansa maraton menjadi salah satu hiburan populer penduduk Amerika di masa Depresi Besar. Para peserta menari berpasangan hingga berbulan-bulan demi mendapatkan hadiah uang.
Dengan pendekatan yang kreatif, museum bukan lagi destinasi yang menjemukan.
Dengan pendekatan yang kreatif, museum bukan lagi destinasi yang menjemukan.
Buya Hamka tak pernah menyangka orang yang terlihat baik kepadanya ternyata memiliki niat yang jahat.
Buya Hamka tak pernah menyangka orang yang terlihat baik kepadanya ternyata memiliki niat yang jahat.
transparant.png
bottom of page