DALAM sebuah rapat Komando Mandala Siaga (Kolaga), para panglima daerah Kalimantan dikumpulkan di Banjarmasin. Panglima Kolaga merangkap Menteri Panglima Angkatan Udara Laksamana Madya Omar Dani memberikan pengarahan terkait situasi politik serta strategi konfrontasi militer Ganyang Malaysia. Setelah rapat usai, Brigadir Jenderal TNI Soemitro, panglima Kodam IX/Mulawarman mencemooh Omar Dani.
Sejak bertugas sebagai panglima di Kalimantan Timur, Soemitro memang sudah tidak menyukai Omar Dani. Menurutnya, Omar Dani hanyalah anak kemarin sore yang belum memiliki pengalaman perang. Tapi, Presiden Sukarno malah menunjuknya untuk memimpin para jenderal senior seperti dirinya.
Tak hanya merundung Omar Dani, Soemitro juga merendahkan indoktrinasi ajaran Sukarno. “Menteri kok hanya bicara masalah Nasakom. Apa itu Nasakom,” ledek Soemitro.
Komodor Udara Leo Wattimena, bawahan langsung Omar Dani, naik pitam mendengar ocehan Soemitro yang menghina pimpinannya. Hampir saja dia mendatangi Soemitro untuk memberi perhitungan, tiba-tiba dari sudut lain terdengar suara kursi terpelanting. Seorang jenderal Angkatan Darat bangkit dari tempat duduknya. Orang itu adalah Brigadir Jenderal TNI Musannif Ryacudu, panglima Kodam XII/Tanjung Pura di Kalimantan Barat.
“Siapa yang berani menentang Nasakom, akan berhadapan dengan saya, Ryacudu,” seru Musannif sembari menepuk dada, seperti dituturkan dalam Pledoi Omar Dani: Tuhan, Pergunakanlah Hati, Pikiran dan Tanganku, yang ditulis Benedicta Surodjo dan J.M.V. Soeparno.
Mendengar koleganya itu berang, Soemitro kicep tak berkutik.
Pendukung Bung Karno
Insiden Ryacudu menghardik Soemitro sampai ke telinga Sukarno. Untuk mengonfirmasi kejadian itu, Sukarno menanyakan kepada pengawalnya, Kolonel Maulwi Saelan, wakil komandan Resimen Tjakrabirawa.
“Saelan, ken je een zekere (apakah kamu mengenal seorang bernama) Brigjen Ryacudu?” tanya Sukarno.
“Kenal Pak. Brigjen Ryacudu adalah Panglima Kalimantan Barat. Kalau tidak salah, beliau putera seorang kaya dan terhormat dari Palembang, sedangkan ibunya adalah putri dari Bayumi, seorang pengusaha paling kaya dan terkenal di Palembang,” jelas Saelan dalam Kesaksian Wakil Komandan Tjakrabirawa dari Revolusi 45 sampai Kudeta 66.
Musannif Ryacudu bertugas sebagai Pangdam Tanjung Pura sejak tahun 1963. Saat itu, Indonesia sedang konfrontasi dengan Malaysia terkait pembentukan Federasi Malaysia yang didukung Inggris. Malaysia ingin menggabungkan Brunei, Sabah, dan Sarawak, dengan provinsi-provinsi milik Indonesia di Kalimantan.
“Presiden Sukarno menolak, lalu memutuskan perang, Ryacudu turun pada Operasi Dwi Komando Rakyat 1963–1966. Di sini Ryacudu mulai disukai Presiden Sukarno,” sebut buku 100 Tokoh Lampung Terkemuka suntingan Heri Wardoyo.
Ketika dana untuk Operasi Dwikora dari pusat macet, Ryacudu mendanai sendiri biaya operasi. Menurut Omar Dani, Ryacudu dan istri diam-diam menyediakan dana untuk Operasi Dwikora. Mereka tidak pernah gembar-gembor dan tak ingin mempublikasikan bahwa pasangan ini telah mendanai operasi tersebut.
Mereka tahu betul pentingnya Operasi Dwikora dan karena loyalitas pada Sukarno, sehingga Ryacudu dan istri melakukan pengorbanan secara diam-diam. Sebagai pemegang teguh gagasan Sukarno, Omar Dani menyebut Ryacudu sebagai pendukung Nasakom sejati.
“Brigjen Ryacudu yang perwira Angkatan Darat itu adalah pendukung Nasakom sejati. Dia mengetahui betul pentingnya Nasakom sebagai perekat persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia, sehingga harus dibelanya,” kata Omar Dani.
Menumpas PKI Dituding Kiri
Karena kedekatannya dengan Sukarno, nama Musannif Ryacudu dicatut dalam Dewan Revolusi bentukan Letkol Untung yang memimpin Gerakan 30 September (G30S) 1965. G30S yang menurut Angkatan Darat didalangi oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) mempengaruhi citra Ryacudu.
Namanya santer disebut-sebut punya hubungan dengan PKI, tapi Ryacudu membantah terlibat dalam G30S. Dia membuktikan diri sebagai perwira Saptamargais dengan memimpin operasi penumpasan PKI di Kalimantan Barat.
“Sebagai komandan kesatuan yang bertanggung jawab atas seluruh potensi kerusakan tatanan negara akibat rongrongan dari organisasi makar, dia turun langsung ke lapangan. Dengan ketegasan dan keberaniannya yang tak bisa dibendung, dia kerap memimpin pasukan untuk operasi penumpasan dan pengamanan objek kecil sekalipun,” sebut Sudarmono dalam biografi Mayjen M. Ryacudu: Prajurit Perang dari Mesir Ilir.
Sebelum pembunuhan massal orang-orang komunis terjadi di daerah lain, militer di Kalimantan Barat sudah membekukan PKI sejak 16 Oktober 1965. Disebut dalam buku Tandjungpura Berdjuang: Sedjarah Kodam XII/Tandjungpura Kalimantan Barat, pada 1967, Ryacudu dalam usaha menumpas gerombolan Cina Komunis PGRS/Paraku telah melancarkan Operasi Tertib I dan Operasi Tertib II serta pelaksanaan Operasi Sapu Bersih I yang kemudian dilanjutkan oleh Pangdam Brigjen TNI A.J. Witono.
Namun, Ryacudu disebut-sebut menyediakan tempat perlindungan bagi ketua PKI cabang Kalimantan Barat, Said Achmad Sofyan ketika diburu massa anti-PKI. Sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas penangkapan Sofyan, keputusan Ryacudu untuk melindunginya jadi sorotan sampai ke Markas Besar Angkatan Darat di Jakarta.
Menurut Jamie S. Davidson, pakar politik National University Singapore, dalam From Rebellion to Riots: Collective Violence on Indonesian Borneo, Ryacudu tidak bersekongkol dengan PKI, meskipun dia adalah seorang Sukarnois yang teguh. Demonstrasi mahasiswa yang terjadi di Kalimantan Barat memprotes jaringan patronase Ryacudu dan campur tangannya dalam ekonomi lokal, yang menurut mahasiswa, telah menyebabkan kenaikan harga bahan pokok.
“Tapi tidak ada seorang pun yang menuduh Ryacudu sebagai antek PKI. Jawabannya ditemukan pada hubungan persahabatan antara Ryacudu dan Sofyan, sebuah hubungan yang sudah dikenal luas secara lokal,” catat Davidson.
Seperti Ryacudu, J.C. Oevaang Oeray, gubernur pertama Kalimantan Barat dan tokoh besar Dayak, juga pendukung Sukarno. Keduanya dianggap lunak dalam menghadapi pembersihan orang-orang komunis.
“Contohnya, dua tokoh HSI (Himpunan Sarjana Indonesia), Tanting Ngo dan W.S. Silitonga, yang divonis pada 19 Oktober 1965, direhabilitasi kembali oleh Ryacudu sebulan kemudian setelah ada jaminan tertulis pribadi dari Gubernur Oeray,” tulis Taufik Tanasaldy dalam Regime Change and Ethnic Politics in Indonesia.
Letnan Jenderal TNI Alamsyah Ratu Perwiranegara, yang menjabat Menteri Sekretaris Negara (1968–1972), berkali-kali meyakinkan Departemen Hankam bahwa Ryacudu bukan PKI. Alamsyah dan Ryacudu sama-sama perwira Angkatan Darat putra daerah Lampung. Namun, lobi-lobi Alamsyah tak menyelamatkan karier militer Ryacudu.
Usai menjabat Pangdam Tanjung Pura pada 1967, Ryacudu ditugaskan sebagai Kepala Staf Komando Antar Daerah (Koanda) Indonesia Timur. Namun, tak lama kemudian Ryacudu dipensiundinikan. Ryacudu tak menjadi pilihan bagi Jenderal TNI Soeharto, pemimpin Angkatan Darat yang kemudian menjadi presiden.
“Sebagai Panglima Tanjung Barat (Kalimantan Barat) dia terlalu dekat dengan ketua PKI Kalimantan Barat,” kata Alamsyah dalam otobiografinya, Perjalanan Hidup Seorang Anak Yatim Piatu. “Sangat saya sesalkan saya tidak dapat menyelamatkan Mayjen Ryacudu.”
Riwayat Akhir Ryacudu
Faktor kesehatan menjadi alasan non-politis di balik berakhirnya karier militer Ryacudu. Semasa perang kemerdekaan, dia tertembak saat menghadapi Belanda di Ogan Komering Ilir. Sisa-sisa luka tembakan itu masih kambuh ketika Ryacudu bertugas sebagai Pangdam Tanjung Pura. Kadang-kadang dia merasakan sakit di dada.
“Rupanya bekas tembakan peluru membuat paru-parunya mengecil. Khawatir makin fatal, akhirnya dia mengundurkan diri pada April 1975. Dia pensiun dini dengan pangkat mayor jenderal (purnawirawan),” sebut buku 100 Tokoh Lampung Terkemuka.
Pada paruh kedua 1970, ketika rekan-rekan seangkatannya telah mencapai pangkat jenderal, Ryacudu memilih hidup tenang dengan kembali ke kampung halaman di Mesir Ilir, Bahuga, Way Kanan, Lampung. Sempat membangun usaha, Ryacudu akhirnya lebih banyak menghabiskan waktunya untuk beribadah. Di masa tuanya, dia menjadi pengurus Masjid Istiqlal.
“Umur memang tidak bisa diundur. Dia sakit akut ketika menikahkan si sulung Ryamizard Ryacudu yang mendapatkan jodoh bernama Nora Trisyana. Gadis pujaan hati anaknya itu adalah puteri dari Wakil Presiden Try Sutrisno. Presiden Soeharto hadir pada perhelatan resepsi saat itu, tetapi Musannif Ryacudu tak bisa mendampingi karena harus dalam perawatan dokter,” terang Sudarmono.
Ryacudu tutup usia pada 6 Maret 1987 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Nama Musannif Ryacudu kemudian diabadikan sebagai nama jalan di Lampung dan Palembang, serta rumah sakit di Kota Bumi, Lampung Utara; sementara tugunya berdiri kokoh di Way Kanan.
Meski Musannif tak mencapai pangkat jenderal, putranya berhasil mencapai pangkat jenderal. Ryamizard melampaui ayahnya ketika menjadi Kepala Staf Angkatan Darat pada 2000 di masa Presiden Megawati Soekarnoputri, putri dari Presiden Sukarno. Ryamizard yang wafat pada 31 Mei 2026 adalah kawan seangkatan Prabowo Subianto semasa menempuh pendidikan Akademi Militer. Mantan menantu Presiden Soeharto itu kini menjadi presiden Indonesia. (Selesai)*




.png)














Komentar