KAPAL Belanda S.S. Tjisedane yang mengangkut 807 eks romusha mendekat pelabuhan Tanjung Priok. Di atas kapal, Kriamadja, lelaki asal Purbalingga (Jawa Tengah) berusia 34 tahun, bercerita bagaimana ia bisa terlantar di Singapura.
Pada 1942, Kriamadja menerima pesan dari lurah untuk segera melapor kepadanya. Tak ada alasan yang diberikan sama sekali. Setelah melapor, dia tidak diizinkan pulang. Keesokan harinya, dia diangkut ke Singapura oleh Jepang. Empat hari setelah tiba di sana, dia dikirim ke Siam dan dipekerjakan di Jalur Kereta Api Maut, jalur rel sepanjang sekitar 415 km yang menghubungkan Ban Pong (Thailand) dan Thanbyuzayat (Burma/Myanmar).
Selama Perang Dunia II, militer Jepang memobilisasi jutaan rakyat di Jawa untuk dijadikan romusha. Ribuan di antaranya dikirim ke berbagai kawasan di Asia Tenggara melalui Singapura, kota pelabuhan utama di Selat Malaka sekaligus pusat imperialisme Jepang dan Inggris di Asia Tenggara —untuk kemudian disebar ke Malaysia, Thailand, hingga Burma. Mereka dipaksa membangun infrastruktur militer seperti pangkalan, lapangan udara, benteng, dan jalur kereta api demi kepentingan perang Jepang. Para romusha ditempatkan dalam kondisi yang tidak manusiawi. Menghadapi jam kerja yang ekstrem, siksaan fisik, kelaparan, dan wabah penyakit.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















