top of page

Teror Baret Hijau di Surakarta

Korps Pasukan Khusus Angkatan Darat Belanda menebar maut usai diberlakukannya gencatan senjata.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Kesatuan KST yang terlibat aksi teror di Surakarta. (Arsip Nasional Belanda).

11 Feb 2018
3 menit membaca

Diperbarui: 11 Agu 2025

KAMIS, 11 Agustus 1949. Surakarta mencekam usai diserang secara serentak oleh tentara. Suara rentetan tembakan sesekali masih terdengar. Kendati secara resmi gencatan senjata sudah mulai diberlakukan lima jam sebelumnya, hawa perang masih terasa.


Di suatu rumah yang masuk dalam wilayah Kampung Gading, Harjoso kecil nyaris pingsan ketika dari balik jendela melihat serombongan tentara Belanda bergerak bagai hantu di sela-sela pagar. Hampir saja dia berteriak, jika Karsono sang paman tidak cepat membekap mulutnya.


“Untung saja mereka tidak melihat kami, mungkin karena suasana rumah saat itu gelap gulita,” ungkapnya.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page