- 5 Okt 2023
- 3 menit membaca
Diperbarui: 2 hari yang lalu
DENGAN kondisi luka parah akibat memburu Teuku Cut Ali, Marsose Kromodikoro “ketiban” tugas berat. Ia harus memimpin sisa pasukan yang komandannya tewas. Kromodikoro hanya punya pilihan melanjutkan perlawanan dalam ketidakberdayaannya, atau kalah.
Kromodikoro merupakan pria kelahiran Landusari, Kedu, Jawa Tengah tahun 1883. Dia masih bayi ketika Gunung Krakatau meletus. Sebagaimana banyak pemuda Jawa di masa itu, Kromodikoro ketika dewasa memilih “jual kepala” dengan menjadi serdadu Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL). Dia lulus dan diberi nomor stamboek 8138. Di angkatan perang kolonial yang hanya bisa melawan pemberontak yang kurang senjata ini, Kromodikoro tergabung dalam satuan khusus anti gerilya bernama Korps Marsose Jalan Kaki.
Kendati pasifikasi Belanda di koloni Hindianya bisa dianggap telah berhasil, perlawanan bersenjata di berbagai daerah belum benar-benar padam di paruh awal abad ke-20 itu. Di Aceh, yang telah “ditaklukkan” Jenderal Van Heutzch lebih dari 10 tahun, perlawanan bersenjata masih terjadi. Bahkan, dalam perlawanan di Bakongan pada 11 Agustus 1926), Letnan WAM Molenaar Jr terbunuh.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















