top of page

The Birth of the Pao An Tui Chinese Militia

The emergence of Pao An Tui cannot be separated from the situation during the colonial era and the independence revolution. This militia was formed as the Chinese people's response to uncertain security conditions.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Lim Seng and some members of Pao An Tui chatting with Capt. V. Been (The National Archives of Indonesia).

29 Apr 2024
7 menit membaca

THE night was increasingly tense for the Chinese people in Tangerang. It was May 1946, the days when revolution was raging in Indonesia, and rumors were circulating that Laskar Rakyat (the People's Army) would burn down Tangerang, which was known as a vital and strategic buffer zone connecting Jakarta and other areas in the West. Not surprisingly, both the Dutch and the Indonesians tried their best to control the area.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page