top of page

Titiek Puspa Melintasi Zaman

Sumarti menggunakan nama samaran Titiek Puspa saat memulai karier sebagai penyanyi agar tak diketahui keluarganya. Putri seorang mantri yang pemalu ini menjelma menjadi bintang besar di industri hiburan.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Titiek Puspa ketika tengah bernyanyi di salah satu acara. (Alberthiene Endah, Titiek Puspa: A Legendary Diva).

11 Apr 2025
6 menit membaca

Diperbarui: 10 Apr

DUNIA hiburan Indonesia berduka. Legenda di bidang musik, teater, dan film, Titiek Puspa, meninggal dunia di usia 87 tahun. Putri sulung Titiek, Petty Tunjungsari, mengungkapkan, ibunya dilarikan ke rumah sakit setelah menyelesaikan syuting acara televisi pada 26 Maret 2025. Hasil pemeriksaan medis ditemukan adanya pendarahan di otak bagian kiri. Setelah menjalani perawatan selama lebih dari dua pekan, maestro musik Indonesia itu tutup usia pada Kamis (10/4/2025) sore.


Titiek Puspa bukan seniman biasa. Penyanyi yang puluhan tahun malang melintang di industri hiburan itu tak hanya piawai memanjakan telinga melalui suaranya yang merdu dengan husky voice (umum disebut serak-serak basah, red.) dan improvisasi yang jempolan, tetapi juga sukses menyentuh hati para pendengarnya melalui berbagai lagu yang ia ciptaankan.


Tak hanya didedangkan sendiri, lagu-lagu ciptaannya juga dibawakan oleh penyanyi lain dan menjadi hit hingga kini. Beberapa di antaranya Gang Kelinci, Jatuh Cinta, Apanya Dong, hingga Kupu-kupu Malam. Sementara itu, aksi panggungnya yang lincah dan menghibur, serta sikapnya yang ramah dan hangat membuat pelantun Puspa Dewi dan Minah Gadis Dusun itu memiliki banyak penggemar dari beragam kalangan lintas generasi.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
transparant.png
bottom of page