Diperbarui: 11 Des 2025
DI masa lalu pemerintah kolonial Belanda memberlakukan aturan ketat soal pemakaian jubah atau pakaian bergaya Arab. Pakaian ini diasosiasikan dengan orang-orang yang pulang beribadah haji di Mekah, yang kerap menjadi penyebab keonaran.
Dalam berbagai pemberontakan dan peperangan besar maupun kecil di Hindia Timur, Belanda dihadapkan pada masyarakat yang memakai jubah panjang putih dengan serban di kepala. Mereka juga mempropagandakan cara hidup puritan; melarang perjudian, minuman-minuman beralkohol; mengisap opium dan tembakau; dan semacamnya.
“Dalam gelombang propaganda anti-VOC pada 1670-an di Banten, banyak orang meninggalkan pakaian Jawa dan memakai pakaian Arab,” tulis Kees van Dijk dalam “Sarung, Jubah, dan Celana: Penampilan sebagai Sarana Pembedaan dan Diskriminasi”, yang termuat dalam Outward Appearances: Trend, Identitas, Kepentingan.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















