top of page

“We Were Deceived by Emperor Hirohito”

Mitsuhiro Tanaka disclosed his account of ianfu in Indonesia and his regret for his involvement in the Pacific War.

loading_historia_white.gif
transparant.png

The coronation of Emperor Hirohito in 1928. (Wikimedia Commons).

24 Jul 2023
3 menit membaca

Diperbarui: 29 Apr

IN a war, no one wins. War doesn't only inflict suffering to those who are attacked. In some cases, the aggressors can be the indirect victims of the hidden political agenda of the ruler.


While still living in Japan, Mitsuhiro Tanaka worked as a woodcutter. After being drafted, he was trained in Manchuria, China, at the age of 20, before being assigned as a warship machinist in Indonesia. 


When Japan lost the war, Tanaka came to Magelang and subsequently decided to live there and marry a Chinese woman. Tanaka reasoned that at that time, there were no more ships carrying prisoners of war, and even if he insisted on returning home, he was sure he would be killed by the Allies.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
transparant.png
bottom of page