Hasil pencarian
9870 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Profil Pahlawan Revolusi: MT Haryono, Calon Dokter yang Memilih Jadi Tentara
Sejatinya, Mas Tirtodarmo (MT) Haryono bercita-cita menjadi dokter. Namun, Perang Kemerdekaan memaksanya putar haluan menjadi tentara. Profesi inilah yang membingkai namanya menjadi Pahlawan Revolusi . MT Haryono lahir di Surabaya, Jawa Timur, pada 20 Januari 1924. Ayahnya, Mas Harsono Tirtodarmo, merupakan asisten wedana di Gresik pada masa penjajahan Belanda. Pada 1924, Mas Harsono mendapatkan tugas menjadi jaksa di Sidoarjo. Ia pun memboyong istrinya, Alimah, yang sedang mengandung Haryono. Dalam perjalanan dari Gresik ke Sidoarjo itulah Haryono lahir. Sebagai anak bangsawan, Haryono mendapatkan kesempatan mengenyam pendidikan yang baik. Setelah menamatkan pendidikan di Hollandsch Inlandsche School (sekolah rendah Bumiputra), Haryono bersekolah di Eurospeesch Lagere School (setingkat sekolah dasar) dan kemudian Hoogere Burgerschool (sekolah tingkat kedua). Semasa pendudukan Jepang, Haryono masuk sekolah kedoteran Ika Dai Gakko. Ia juga masuk ke dalam Peta. Haryono belum lulus ketika Jepang kalah perang pada 1945. Setelah proklamasi kemerdekaan, Haryono melupakan cita-cita menjadi dokter dan berjuang mempertahankan kemerdekaan bersama pemuda-pemuda lainnya. Perjuangan itu membawa Haryono masuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Kemampuan bahasa Belanda, Jepang, dan Inggris yang didapatnya semasa di HBS membuat Haryono ditugaskan menjadi kepala Kantor Penghubung (1 September 1945) dan kemudian kepala Bagian Penerangan sekaligus juru bicara Staf Angkatan Perang RI. Kemampuan bahasa itu pula yang membuatnya dipercaya menjadi sekretaris Delegasi Militer Indonesia pada Konferensi Meja Bundar, di Den Haag, Belanda (23 Agustus-2 November 1949). Usai pengakuan kedaulatan, karier Haryono terus menanjak. Dimulai dari atase militer RI di Den Haag (1950-1954), pada 1 Juli 1964 Haryono diangkat menjadi Deputi III Menteri/Panglima Angkatan Darat (Menpangad) dengan pangkat mayor jenderal. Situasi perpolitikan saat Haryono menjabat sebagai Deputi III Menpangad sedang panas oleh Konfrontasi dengan Malaysia. Di dalam negeri, Angkatan Darat bersaing keras dengan PKI demi merebut pengaruh Sukarno dalam segitiga perpolitikan. Ketika isu Dewan Jenderal mulai santer, Haryono ditugaskan Menpangad Letjen A. Yani menjalin kontak dengan perusahaan-perusahaan minyak asing. Situasi panas tersebut membuat Haryono kerap ikut rapat dengan presiden atau rapat hingga larut malam di SUAD. Di luar yang formal, Haryono kerap berdiskusi tentang perpolitikan nasional dengan rekan-rekannya dari Partai Sosialis Indonesia seperti Soedatmoko dan Rosihan Anwar. Untuk meredakan ketegangan akibat padatnya kerjaan, Haryono biasa mengatasinya dengan mendengarkan musik klasik sambil menata anggrek di halaman belakang rumahnya. Anggrek merupakan hobinya. Saking sukanya, Haryono pernah minta pada Brigjen Sumitro dibawakan anggrek pedalaman Kalimantan ketika Sumitro menjabat sebagai panglima Kodam Mulawarman. Namun, kebiasaan itu berubah menjelang Oktober 1965. “Sungguh tak biasa, beliau duduk sendiri, melamun sambil mendengarkan musik klasik. Biasanya sambil mendengarkan musik klasik, Ayah sibuk menata tanaman bunga anggrek yang ada di halaman belakang dan selalu ditemani putri kecilnya, Enda, yang duduk di kursi kecilnya di samping beliau. Namun kelaziman itu sirna, ketika Enda mendekati untuk menemani ayahnya, ia justru disuruh menjauh. Kami merasakan kejanggalan tersebut dengan perasaan heran yang tertahan,” tulis putra-putri Haryono dalam Kunang-Kunang Kebenaran di Langit Malam . Kejanggalan tersebut menjadi tanda alam yang tak disadari keluarga Haryono. Pada dini hari 1 Oktober 1965, rumah Haryono digerebek pasukan Tjakrabirawa yang dipimpin Serma Boengkoes. Jenazah Haryono dan lima perwira tinggi AD lain beserta satu perwira menengah lalu dibawa ke Lubang Buaya dan ditimbun di dalam sumur tua. Jenazah mereka baru dikeluarkan pada 4 Oktober 1965 dan dikuburkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, pada 5 Oktober 1965, bertepatan dengan Hari Jadi ABRI Ke-20. Presiden Sukarno menetapkan ketujuh korban pembunuhan itu sebagai Pahlawan Revolusi dan menaikkan pangkat masing-masing satu tingkat.
- Kontestasi Dua Narasi dalam Peristiwa 1965
SETIAP menjelang peralihan September ke Oktober pasca-Reformasi, isu PKI jadi isu yang ramai diperbincangkan masyarakat. Setiap kali itu pula dua narasi yang hadir menemui tembok tebal. Narasi pertama adalah tentang kebiadaban Partai Komunis Indonesia (PKI) dalam penculikan, penyiksaan, dan pembunuhan perwira-perwira Angkatan Darat (AD) pada dini hari 1 Oktober 55 tahun lampau. Narasi kedua, kekerasan dan pembunuhan terhadap siapapun yang dicap PKI dari ujung barat hingga timur Indonesia. “Ada berbagai macam versi, tapi versi yang resmi, PKI ada di belakang ini semua. Diikuti dengan gelombang penangkapan, pembunuhan, pemenjaraan massal baik dengan atau tanpa pengadilan. Jadi menurut Bung Karno ada satu cerita prolog, nalog, ada epilog. Jadi ada tiga babak peristiwa dan yang lebih banyak diketahui orang, termasuk generasi kita, peristiwa ini berhenti di 1 Oktober, ketika para jenderal dibunuh,” ujar Pemimpin Redaksi Historia.id Bonnie Triyana dalam dialog sejarah daring di Youtube bertajuk “1965: Sejarah yang Dikubur”, Selasa (29/9/2020). Dialog Sejarah "1965: Sejarah yang Dikubur" secara daring di Youtube Historia.id . Penculikan dan pembunuhan para perwira AD serta dua korban dari eksesnya, Ade Irma Suryani (putri Jenderal AH. Nasution) dan Albert Naiborhu (kerabat Jenderal DI. Pandjaitan), tentu tak bisa dibenarkan. Namun, narasi lain tentang kekerasan yang terjadi setelahnya tidak hanya dikubur dalam-dalam sejak masa Orde Baru, namun juga dianggap semacam tindakan yang normal. Hal itu seperti yang ditemukan Grace Laksana, peneliti Peristiwa 1965 yang meraih gelar doktornya di Universitas Leiden, Belanda, dalam risetnya. Disertasinya yang bertajuk “Embedded Remembering: Memory Culture of 1965 Violance in East Java’s Agrarian Society” mengangkat tentang peristiwa kekerasan pasca-G30S di masyarakat Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang, Jawa Timur. “Kasusnya di sini sebenarnya enggak jelas. Tentang bagaimana, siapa yang terlibat, siapa korbannya, siapa pelakunya, semua masih agak buram. Jadi sebelum saya bicara ingatan itu, saya terpaksa membicarakan dulu peristiwanya, mundur jauh sebelum 1965,” kata Grace dalam dialog daring itu. Dalam merekonstruksi peristiwa di Donomulyo, Grace berangkat dari meneliti kehidupan masyarakatnya sebelum peristiwa 1965 dan bagaimana perubahan yang terjadi setelahnya menggunakan pendekatan antropologis. Ia berupaya keluar dari narasi G30S pemerintah dan counter -narasinya yang muncul pasca-Reformasi dengan melihat konteks kekerasan yang terjadi dan ingatan yang terbangun. “Misalnya ingatan tentang apa yang terjadi di desa itu, bagaimana orang-orang yang dikatakan sebagai pelaku turut berperan membantu operasi pembersihan PKI. Penting sekali buat mereka mempertahankan narasi pemerintah Orde Baru karena berkaitan dengan posisi yang mereka dapatkan setelah kekerasan itu terjadi. Misalnya ada banyak dari mereka yang mendapat posisi menjadi sekretaris desa atau pamong desa yang sebelumnya posisi-posisi itu dikuasai (orang-orang) PKI di desa itu,” imbuhnya. Ilustrasi penangkapan orang-orang terduga PKI pasca peristiwa 1965. ( hrw.org ). Narasi resmi, menurut Grace, dipoles dengan begitu kuat dan terkesan overlap . Salah satu contohnya, dibangunnya sebuah monumen oleh kepolisian yang jadi korban Pemberontakan PKI Madiun tahun 1948. “Saya sulit memverifikasi peristiwa itu karena tak menemukan catatannya. Monumennya dibangun tahun 1972. Jadi sekian dekade sampai akhirnya monumennya dibangun di era Orde Baru, persis di masa-masa Pemilu pertama era Soeharto. Itu ilustrasi yang menunjukkan bagaimana Peristiwa 1948 selalu dikaitkan untuk meng- counter narasi-narasi tentang kekerasan 1965,” tambah Grace. Padahal, bagi Grace, Peristiwa 1948 dan 1965 berbeda dalam konteks dan skala peristiwanya. Peristiwa Madiun 1948 terjadi dalam situasi Perang Kemerdekaan, dua kubu yang bertarung sama-sama bersenjata. Lalu, skalanya tak sampai menjamah ke luar Pulau Jawa. Grace Leksana, peneliti peristiwa kekerasan 1965 dari Universitas Leiden. ( Historia.id ). Overlap soal isu 1965 juga disepakati sejarawan John Roosa. Namun sejarawan dari University of British Columbia, Vancouver, Kanada itu melihat setidaknya ada dua persamaan antara Peristiwa 1948 dan 1965. “Waktu 1948 orang-orang antikomunis di Indonesia, termasuk perwira-perwira tentara, mereka belajar sesuatu dari peristiwa itu. Kalau mereka menghajar PKI, membuktikan bahwa mereka antikomunis, mereka akan dapat imbalan dari Amerika Serikat. Misal, sesudah Peristiwa 1948 di Madiun, pemerintah Amerika mulai mendukung Republik supaya ada kemerdekaan dan tentara Belanda keluar dari Indonesia,” kata Roosa, penulis buku Pretext for Mass Murder: The September 30th Movement and Suharto’s Coup d’état in Indonesia, menimpali. “Di peristiwa 1965, kelompoknya Soeharto tahu kalau mereka membunuh orang-orang PKI, Amerika akan membantu dengan investasi, bantuan luar negeri, dan segala macam. Jadi ada konteks isu global karena saat itu sedang Perang Dingin,” lanjut sejarawan yang baru menerbitkan buku Buried Histories: The Anticommunist Massacres of 1965-1966 in Indonesia itu. Tuduhan PKI bagi Peneliti Kekerasan 1965 Hingga kini, banyak pihak tetap menjadikan kekerasan dalam pembersihan pasca-G30S baik berupa penahanan, penghilangan paksa, dan pembunuhan sebagai narasi pembenaran bahwa PKI di tahun 1948 juga melakukan pembunuhan. Pandangan tersebut bersumber pada propaganda Orde Baru. Padahal, di lapangan realitasnya tidak hitam-putih. Dari risetnya di Donomulyo, Grace menyingkap bahwa masyarakat desa tersebut di masa itu tak banyak tahu tentang konflik yang terjadi pada 1948 dan 1965 lantaran separuhnya masih buta huruf. “Masyarakat di sana sebenarnya resilient juga. Artinya, seberapa jauh mereka termakan stigma atau seberapa jauh stigma itu bisa dikompori. Konflik agraria sebelum 1965 memang ada tapi tak setajam di daerah lain seperti di Kediri atau Jombang. Tapi mereka tak gampang termakan stigma itu karena separuh dari mereka buta huruf. Satu-satunya sumber berita mereka hanya tentara ketika masuk ke desa mereka,” sambung Grace. Penangkapan orang-orang yang diduga terlibat pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948. ( nationaalarchief.nl ). Grace justru menemukan hal menarik bahwa meski stigmatisasi sudah digempurkan ke kepala masyarakat desa itu, mereka malah menyatakan informasi berbeda sesuai kenyataan yang mereka lihat. Dalam kasus penilaian terhadap penduduk desa yang ditangkap, misalnya, mereka menyatakan bahwa yang ditangkap bukan orang-orang PKI. Ketidakmudahan penduduk menerima kabar burung itulah yang meneyebabkan tidak terjadinya kekerasan dan pembunuhan di Donomulyo. “Jadi tidak ada pergerakan di masyarakat. Baru setelah tentara masuk, kekerasan itu terjadi. Antara pelaku dan korban banyak yang tetangga sendiri. Menariknya, setelah itu mereka tetap bisa hidup berdampingan,” tuturnya. Terkait propaganda, Roosa juga mengulasnya dalam bab “Operasi Mental” di buku barunya. Nama bab itu mengacu pada istilah militer Indonesia yang poluler saat itu. “Semua pers saat itu dikontrol pemerintah, tidak ada cerita lain yang bisa keluar. Bung Karno sendiri punya perspektif lain tapi perspektif dia sudah disaring oleh pers di bawah tangan tentara. Tapi kita harus ingat juga bahwa kalau orang baca koran, dengar radio, mereka tidak langsung ambil tindakan. Harus ada faktor lain yang mendorong pengorganisiran dan koordinasi supaya mereka siap dan bersedia melakukan kekerasan yang sangat keji,” sambung Roosa. Propaganda itulah yang jadi salah satu unsur yang membuat narasi resmi, yang hanya bicara soal pembunuhan para jenderal pada 1 Oktober, menjadi awet. Keawetan itu diperkuat dengan pemaksaan, khususnya terhadap pelajar, menonton film Pengkhianatan G 30 S/PKI (1984) di masa Orde Baru. Profesor John Roosa, sejarawan University of British Columbia di Vancouver, Kanada. ( Historia.id ). Faktor penting lain yang membuat narasi resmi menjdi awet ialah formalisasi narasi tersebut lewat buku-buku pelajaran, museum-museum, hingga beragam hari peringatan. Ditambah dengan pembungkaman counter -narasi di sisi lain, maka hasilnya adalah ketidakberimbangan dalam kontestasi narasi yang mestinya sudah bisa dibicarakan secara terbuka. “Saya membayangkan kalau dulu sudah ada media sosial, orang bisa cepat meng- counter narasi itu. Tapi dulu media hanya radio dan media cetak yang menyebabkan histeria. Terjadi semacam mewajarkan tindakan pembunuhan karena lagi-lagi memori 1948 yang diciptakan, serta narasi yang dibuat setelah pembunuhan para jenderal,” tutur Bonnie lagi. Akibatnya, siapapun yang menyuarakan narasi kekerasan pasca-G30S di ruang publik, maka harus siap dipersekusi, dituduh PKI, atau minimal dicap sebagai simpatisan PKI. “Padahal, misalnya, kalau saya menulis tentang Masyumi, saya tidak serta-merta dituduh membela Masyumi. Atau menulis Buya Hamka, tidak serta-merta dituduh membela Hamka. Tapi ketika mencoba menulis tentang Peristiwa 1965 dari cara pandang lain, langsung dituduh. Pola itu masih terjadi sampai sekarang di beberapa tempat, di mana kekerasan terjadi atas nama negara, atas nama apapun, seperti di Papua, di mana mestinya kekerasan itu bisa distop. Polanya berulang terus,” kata Bonnie. “Kita melihat ketidakseimbangan narasi. Kalau di riset 1965, membicarakan peristiwa ada pembunuhan massal yang mengikuti setelah pembunuhan para jenderal, dibalikkannya ke memori tentang 1948. Kontestasinya selalu seperti itu. Ada (ingatan) tentang 1965, ada 1948,” imbuhnya. Grace mengamini posisi dua narasi dalam kontestasi itu sangat tidak balans. Padahal, dua narasi itu akan selalu mengiringi ke mana bangsa ini melangkah hingga di masa depan, hingga membentuk masyarakat Indonesia saat ini. “Enggak mungkin salah satu narasi itu akan hilang, walau posisinya tidak berimbang. Narasi tentang kekerasan itu jauh lebih sedikit dibicarakan daripada narasi tentang G30S. Karena narasi tentang G30S itu sudah masuk ke ranah-ranah formal. Sekarang bagaimana narasi tentang kekerasan 1965 itu bisa terus dibicarakan lewat ranah-ranah formal atau diformalisasikan,” sambung Grace. Oleh karena itu, Roosa mengemukakan cara untuk penyelesaiannya mesti dari dasar, yakni berpegang pada perspektif kemanusiaan. Dengan begitu maka akan muncul kesadaran bahwa tindak kekerasan dalam bentuk apapun tidak bisa dibenarkan dan itu harus diingatkan lagi agar tak mengulang siklus sejarahnya. “Kalau ada represi terhadap satu kelompok, saya bisa paham kalau ada represi terhadap PKI karena ada yang tidak senang dengan mereka. Saya bisa paham itu terjadi. Yang tidak saya pahami adalah perspektif yang membenarkan penyiksaan, penghilangan paksa, penahanan massal dalam jangka panjang, itu semua enggak bisa ditolelir,” tandas Roosa.
- Kasus Bank Vanuatu di Indonesia
Dragon Bank International Ltd. yang berbasis di Vanuatu membuka cabang di Jakarta pada awal Januari 1996. Bank ini membuat kejutan dengan mengumumkan akan menangani dua proyek bernilai miliaran dolar dengan mitra Indonesia dan Malaysia. George Junus Aditjondro, dosen sosiologi korupsi di Universitas Newcastle, Australia, menyebut bahwa Vanuatu adalah negara kepulauan yang juga dikenal sebagai tax haven (tempat wajib pajak mengurangi atau menghindari kewajiban membayar pajak, red .) dan pusat pencucian uang di Samudra Pasifik. "Di sinilah tempat kedudukan Dragon Bank International Ltd., lembaga keuangan milik PT. Harapan Insani, yang pada gilirannya bernaung di bawah Yayasan Harapan Kita [yang didirikan oleh Ibu Tien Soeharto]," tulis George dalam tulisannya "Mencermati Misi Muladi-Ghalib" di majalah Tempo , 30 Mei 1999. Dalam tulisannya yang lain, "Yayasan-Yayasan Soeharto" di Tempo Interaktif , 14 Mei 2004, George menguraikan proyek ambisius Dragon Bank dan PT. Harapan Insani bernilai lebih dari US$7 miliar. Rinciannya adalah bisnis telekomunikasi senilai US$4 miliar bekerja sama dengan Ghuangzhou Greatwall Electronic & Communication Co., Ltd. dari Republik Rakyat China, dan pembangunan satu gedung pusat perdagangan setinggi lebih dari 101 lantai di Arena Pekan Raya Jakarta, Kemayoran, senilai US$3 miliar. Selain di Indonesia, menurut George, kongsi Dragon Bank dan PT Harapan Insani juga menandatangani rencana kerja sama dengan Mara Holding Sdn. Bhd, satu perusahaan di bawah partai pemerintah Malaysia, UMNO, untuk membangun proyek perumahan dan hotel bernilai Rp200 miliar di resor pariwisata Pulau Langkawi, Malaysia. Richard Borsuk dalam laporannya di wsj.com , 31 Mei 1996, menyebutkan bahwa Dragon Bank, sebuah bank tidak terkenal yang berbasis di Vanuatu, mengumumkan bahwa pihaknya menandatangani perjanjian dengan dua perusahaan di Kuala Lumpur mengenai rencana untuk membangun sekitar 68 vila eksklusif di Pulau Langkawi, pulau lepas pantai barat laut Semenanjung Malaysia. Nilai proyek ini sebesar US$80 juta hingga US$85 juta. Namun, rencana itu gagal karena Dragon Bank tersandung masalah. Standard Chartered Bank cabang Jakarta membekukan rekening salah satu perwakilannya karena dicurigai setorannya sebesar US$1,1 juta terkait dengan penipuan kredit sebesar US$42 juta di Hongkong and Shanghai Bank cabang Jakarta. Sementara itu, George menyebut kasusnya adalah Dragon Bank tak mampu membayar utangnya kepada Standard Chartered Bank, padahal berlagak mau membangun berbagai megaproyek berharga jutaan bahkan miliaran dolar di Jakarta dan Langkawi, Malaysia. Setelah diprotes Standard Chartered Bank dan Hongkong and Shanghai Bank, dua orang Taiwan (Yee Mei Mei dan Wang Zhi Ying) pengelola Dragon Bank diusir dari Jakarta. "Protes oleh bank asing membuat pemerintah Indonesia menutup kantor perwakilannya pada Juni 1996," tulis George dalam Korupsi Kepresidenan . Menteri Investasi/Ketua BKPM mencabut izin operasi Dragon Bank di Jakarta melalui surat No. 577/A.1/1996 tanggal 14 Juni 1996. Setelah itu, menurut George, bos PT. Harapan Insani, Ibnu Widojo, diumumkan akan diperiksa oleh Mabes Polri. Siapakah Ibnu Widojo? Harian Neraca (18 Juli 1996) menyebut Ibnu Widojo adalah adik dari seorang pejabat tinggi pemerintahan Indonesia. Harian Sydney Morning Herald pada hari yang sama secara eksplisit mengatakan bahwa Ibnu Widojo adalah seorang ipar Presiden Soeharto. Majalah bisnis Warta Ekonomi (1 Juli 1996) lebih jelas lagi bahwa Ibnu Widojo adalah adik kandung Ibu Tien Soeharto. "Setelah Ibnu Widojo, adik Nonya Tien Soeharto (alm.) yang jadi direksi PT. Harapan Insani, mulai diperiksa aparat kepolisian di Jakarta, mendadak kasus itu dipetieskan," tulis George. "Ibnu Widojo jelas-jelas tidak pernah diajukan ke depan meja hijau (pengadilan, red .)." George menyebut bahwa setelah itu mendadak berita-berita tentang Dragon Bank lenyap, sama misterius dengan kedatangannya. Uang yang konon disalurkan oleh bank itu, lewat Vanuatu, juga lenyap tak berbekas. Pertanyaannya apakah betul Dragon Bank dan partnernya, PT. Harapan Insani, terlibat dalam pencucian uang, dan kalau betul, milik siapa uang yang mau dicuci itu, belum terjawab.*
- Makanan Kesukaan Sultan Yogyakarta
Keluarga bangsawan Yogyakarta punya tradisi menyajikan makanan kesukaan raja-raja pada peringatan hari lahir atau wafatnya. Misalnya, sugengan haul dalem Sri Sultan Hamengkubuwono VII setiap malam Jumat Kliwon. Haul Hamengkubuwono VIII setiap bulan puasa tanggal 9 malam Minggu Kliwon. Haul Hamengkubuwono IX setiap malam Senin Wage 21 Sapar. Dan haul K.G.P.A.A Mangkubumi, adik kandung Hamengkubuwono VII, setiap malam Senin Kliwon 2 Jumadilakhir. “Memperingati hari lahir atau wafat sesepuhnya melalui doa disertai kegiatan memasak dan menghidangkan masakan kesukaan para raja itu. Misalnya keturunan Hamengkubuwono VII akan menyajikan kersanan dalem HB VII, begitu juga keturunan raja lainnya,” kata Murdijati Gardjito, Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Gadjah Mada dalam webinar “Budaya Rempah-rempah dalam Khazanah Kuliner di Daerah Istimewa Yogyakarta” yang diadakan BPCB DIY melalui kanal Youtube. Kebiasaan itu membuat kuliner tradisional bangsawan di Yogyakarta dapat terjaga. “Jadi, mengapa budaya kuliner Yogya di lingkungan masyarakat keraton masih eksis, itu karena keturunannya memelihara apa yang disuka para leluhurnya,” kata Murdijati. Murdijanti menambahkan, masakan kegemaran para sultan itu biasanya dibuat dari bahan berkualitas prima kalau tidak bermuatan filosofis. Ini berbeda dengan makanan raja pada era Jawa Kuno yang bisa dibilang aneh dan tak biasa bagi orang sekarang. Hanya untuk Raja Arkelog UGM Tjahjono Prasodjo menjelaskan, pada era Jawa Kuno dikenal istilah rajamangsa , artinya makanan yang khusus disediakan untuk raja. Berdasarkan data prasasti, rakyat bisa mencicipi masakan VIP itu jika mendapat anugerah berupa hak istimewa dari raja. Tjahjono menyebut rajamangsa banyak jenisnya. Namanya aneh-aneh, seperti wdus gunting . “Ada yang mengatakan ini seekor kambing yang belum keluar ekornya, ada yang bilang kambing yang sudah dikebiri. Ada juga asu tugel . Aneh-aneh namanya,” kata Tjahjono. Dalam Prasasti Rukam (907 M), Prasasti Sarwwadharmma dari masa Singhasari (1269 M), dan Prasasti Gandhakuti (1043 M) disebutkan nama-nama rajamangsa ,yakni badawang, wdus gunting , karung pulih , dan asu tugel. Menurut arkeolog Universitas Indonesia, Kresno Yulianto Sukardi, karung pulih adalah babi hutan aduan. Sedangkan menurut arkeolog dan dosen sejarah UNM, Dwi Cahyono, karung pulih adalah babi yang dikebiri. “Ini yang membuat kita susah menerjemahkan istilah kuliner dari Jawa Kuno yang kita dapat dari data prasasti dan naskah,” kata Tjahjono. Kuliner Asli dan Akulturasi Yogyakarta memiliki kuliner asli dan hasil akulturasi dengan budaya lain, seperti pengaruh kuliner Belanda, Tionghoa, dan Timur Tengah. “Bakpia Yogya yang terkenal, warung-warung sate gulai tongseng kambing, ini salah satu contoh pengaruh kuliner Tionghoa dan Timur Tengah,” kata Murdijati. Kuliner hasil akulturasi juga nampak pada kuliner di lingkungan keraton. “Makin ke arah sekarang makin banyak pengaruh Eropa,” kata Murdijati . Murdijati menyontohkan makanan asli Jawa adalah dendeng age . Cara membuatnya daging berkualitas primadicincang, ditata di atas jepitan dari bambu, lalu diguyur santan yang berbumbu bawang putih, bawang merah, ketumbar, dan daun salam. “Ini berkali-kali dilakukan. Kemudian dipanggang, diturunkan, ditambah bumbu terus menerus sampai bumbunya sangat meresap,” kata Murdijati. Makanan asli lain seperti blebet bebek , glendoh piyik , dan tolo tawon alias sarang lebah yang masih ada larvanya. Makanan ini bernilai tinggi untuk kesehatan. “Coba lihat propolis dari lebah , satu tetes harganya berapa, tapi dulu disajikan sebagai makanan istimewa untuk raja,” kata Murdijati. Menu utama kegemaran para raja adalah dhahar ijem , yakni nasi yang ditanak dengan ekstrak daun pandan; dan bethak ayam , yakni nasi yang ditanak dengan bawang merah, daun salam, dan ayam. Untuk memenuhi makanan di lingkungan keraton, termasuk untuk sultan dan keluarganya, keraton Yogyakarta memiliki empat dapur ( pawon ) yang masih aktif hingga kini. Yaitu Pawon Gebulen dan Pawon Sekulanggen digunakan secara bergantian untuk menyediakan kebutuhan sesaji. Pawon Ageng Prabeya menyediakan masakan khusus untuk raja atau disebut dhahar dalem . Makanan wajib untuk dhahar dalem adalah lodeh kluwih . “Kenapa lodeh kluwih selalu dimasak dan disajikan. Masyarakat keraton punya filosofi sayuran itu dinamakan kluwih karena hanya pantas disajikan kepada poro linuwih atau yang punya kelebihan, yang linuwih ya sang raja,” kata Murdijati. Menu ini selalu dihidangkan setiap hari bersama teh yang disajikan di dalam cangkir di atas baki berlapis emas. Upacara ini masih berjalan hingga hari ini setiap pukul 11.00. Pawon Gedhong Patehan menyediakan minuman untuk rajasetiap hari dan menyediakan teh bagi semua abdi dalem . Makanan Sultan Jadi Makanan Rakyat Beberapa kuliner keraton tak dikenal oleh masyarakat luar keraton, seperti dendeng age . Namun, banyak juga makanan yang akhirnya merembes keluar keraton. Menurut Murdijati, 61 persen dari makanan yang tadinya hanya dimasak untuk raja juga beredar di masyarakat Yogyakarta. Salah satunya gudeg Yogyakarta, makanan favorit Hamengkubuwono IX. “Ini hidangan luar keraton yang masuk keraton. Lalu brongkos, ini juga kesukaan HB IX,” ujar Murdijati. Kemudian sayur lodeh yang memiliki riwayat legendaris. Berdasarkan catatan Murdijati, menu ini menjadi kersanan dalem Sultan Hamengkubuwono VIII. Di sisi lain, lodeh punya arti tolak bala. “Kenapa? Karena sayur lodeh luwes. Secara ekonomis apa saja bisa dimasak jadi sayur lodeh. Berapa pun uangnya bisa jadi sayur lodeh,” jelas Murdijati. Murdijati menyayangkan nihilnya catatan kuliner di lingkungan keraton. “Untungnya masih ada narasumber yaitu anggota keluarga keraton, antara lain keturunan Hamengkubuwono VI, VII, VIII, dan IX,” katanya. Ketiadaan pencatatan tradisi kuliner ini juga terjadi pada masa Jawa Kuno. Menurut Tjahjono, dalam prasasti dan naskah kesusastraan kuno tak ada yang secara khusus menjelaskan soal kuliner maupun bumbu-bumbu masakan. “Tak ada penjelasan seperti resep masakan misalnya,” kata Tjahjono. Jikapun ada prasasti yang menyebut soal makanan, itu hanya data sampingan. Biasanya disebutkan pada bagian pesta dalam upacara Sima. “Itu pun banyak istilah kuliner dan rempah yang belum diketahui pandangan dan artinya,” kata Tjahjono. Menurut pakar kuliner Indonesia, Bondan Winarno dalam kata pengantar buku Warisan Kuliner Keraton Yogyakarta karya menantu Sultan Hamengkubuwono IX, Nuraida Joyokusumo, sebenarnya masih banyak abdi dalem di Pawon Ageng Keraton yang punya resep masakannya. Namun, mereka tak mencatat. Kenyataan ini membuktikan bahwa selama ini seni boga tak pernah dianggap sebagai suatu yang serius. “Keraton yang merupakan pusat budaya Jawa pun tidak memiliki catatan tentang seni boga,” kata Bondan. Karenanya hanya sedikit resep kesukaan Hamengkubuwono VII dan VIII yang berhasil dicatat. “Hal yang sama juga terjadi di keraton-keraton Nusantara lainnya, yakni absennya catatan resep masakan keraton masa lalu,” kata Bondan.
- Alan Budikusuma Terpuruk di Kuala Lumpur, Berjaya di Barcelona
SETELAH Olimpiade Tokyo 2020, turnamen bulutangkis bergengsi Thomas dan Uber Cup tahun ini juga terpaksa diundur ke tahun 2021 gegara pandemi virus corona . Thomas dan Uber Cup 2020 sebelumnya dijadwalkan digelar di Aarhus, Denmark, 3-11 Oktober 2020. Pandemi membuat lima dari 16 negara pesertanya satu per satu mengundurkan diri. Dipelopori Thailand, Australia, China Taipei (Taiwan), Korea Selatan, dan Indonesia mengikuti. Induk bulutangkis dunia BWF pun pada 15 September 2020 memutuskan menunda turnamen dengan jadwal yang belum ditentukan. Thomas Cup merupakan salah satu lambang supremasi bulutangkis internasional. Indonesia sebagai pengoleksi terbanyak sudah 18 tahun atau delapan edisi puasa gelar. Kenyataan itu turut disayangkan legenda tunggal putra Alan Budikusuma. Pasalnya, Thomas Cup punya kenangan tersendiri di lemari ingatannya. Alan menjadi bagian dari pahit-getir perjuangan tim Indonesia dalam Thomas Cup 1992 di Kuala Lumpur. Arek Suroboyo Jagoan Tepok Bulu Kisah Alan adalah bukti sahih memanen prestasi untuk negeri dari keringat dan air mata. Di tengah masih kencangnya isu diskriminasi rasial kala meniti karier di arena bulutangkis, pantang buat Alan yang ber- spirit “arek-arek Suroboyo” untuk patah arang. Sifat tersebut sudah tinggal dalam diri pria bernama lahir Goei Ren Fang itu sejak memilih bulutangkis sebagai jalan hidupnya. Kesukaan Alan, yang lahir di Surabaya pada 29 Maret 1968, pada bulutangkis dimulai setelah dikenalkan olahraga tersebut oleh orangtuanya. “Orangtua saya, Arya Wiratama dan Veronika, hobi bulutangkis. Dari usia enam tahun sering diajak mereka ke tempat latihan. Keduanya lumayanlah, sering jadi juara se-Jatim (Jawa Timur),” kata Alan mengenang, kepada Historia. Alan Budikusuma semasa di PB Djarum dan Pelatnas PBSI. (Repro Setengah Abad PB Djarum: Dari Kudus Menuju Prestasi Dunia ). Dari main-main, Alan mulai menseriusi bulutangkis sejak duduk di bangku kelas III SD dengan masuk klub tempat kedua orangtuanya bernaung, Rajawali, kemudian Suryanaga. Namun saat pindah ke PB Djarum pada 1986, Alan baru mendapat suntikan motivasi besar lantaran bisa berlatih bersama salah satu idolanya, Liem Swie King. “Dulu memang awalnya idola saya Pak Rudy Hartono. Tapi memang usia kita jauh ya. Kalau dengan Pak Liem sempat latihan bersama. Itu yang membuat saya lebih senang lagi ketika latihan. Dengan Pak Liem di Djarum dan Pelatnas (PBSI), saya belajar banyak tentang latihannya, cara memukul, smes, dari caranya melatih kekuatan fisik,” tambahnya. Di PB Djarum, Alan ditempa pelatih berwatak keras Anwari dan Johan Wahyudi. Setelah masuk Pelatnas PBSI, ia diasuh Tong Sinfu dan Rudy Hartono. PBSI pada medio Januari 1990 menggulirkan proyek besar untuk Olimpiade Barcelona 1992. Musyawarah Nasional PBSI di Manado, 18 Desember 1989, memutuskan M.F. Siregar , kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI, sebagai pimpinan proyek tersebut. “Pak Siregar, saya minta bantuan Bapak untuk menjadi pimpinan proyek Olimpiade. You langsung pegang pasukan tempur,” kata Ketua PBSI Jenderal Try Sutrisno kepada Siregar, dikutip Brigitta Isworo Laksmi dan Primastuti Handayani dalam biografi M.F. Siregar, Matahari Olahraga Indonesia . Alan berkisah tentang kerasnya latihan di Pelatnas PBSI jelang Olimpiade 1992 (Foto: Dok. Historia) Selain itu, PBSI juga memanggil pulang dua pelatih yang “mengasingkan diri”, Tong Sinfu dan Liang Tjiu Sia . Alan jadi satu di antara “prajurit tempur” yang dimaksud. Di tunggal putra, Alan punya waktu dua tahun untuk mendaki peringkat delapan besar dunia. Tak hanya bersaing dengan para jagoan raket negara lain, Alan pun harus bersaing dengan empat kompatriot di Pelatnas: Joko Supriyanto, Ardy B. Wiranata, Hermawan Sutanto, dan Hariyanto Arbi . “Di zaman (kepemimpinan) Pak Siregar, semua dikumpulkan satu tim. Sebelumnya latihan di masing-masing klub. Pelatihnya juga satu orang bisa untuk ramai-ramai. Di zaman Pak Siregar sistemnya berubah, lebih fokus per sektor. Saya dilatih Pak Rudy (Hartono) dan Tong Sinfu. Dia sangat disiplin. Kalau datang latihan telat satu menit atau kelihatan kurang tidur, disuruh pulang. Banyak aturannya sama dia. Keras memang tapi terbukti yang dia latih berhasil semua,” sambung Alan. Bangkit dari Kubur Memasuki awal 1992, Alan bersama Ardy B. Wiranata dan Hermawan Sutanto sudah masuk peringkat delapan besar dunia, sehingga bisa turut dalam tim persiapan akhir untuk Olimpiade. Namun sebelum berangkat ke Barcelona pada Juli 1992, mereka masih menyisakan satu ajang “pemanasan” lagi yang kalibernya bukan “kaleng-kaleng”, yakni Thomas Cup di Kuala Lumpur, 5-16 Mei 1992. Di awal turnamen, tim Indonesia lolos Grup A sebagai runner - up . Indonesia hanya kalah sekali, dari China, 1-4. Di semifinal, Indonesia sukses mengalahkan Korea Selatan. Namun Indonesia mengalami antiklimaks di partai puncak saat berhadapan dengan tuan rumah, Malaysia. Tim Malaysia meraih gelar kelima Thomas Cup-nya usai menundukkan Indonesia di final. ( New Sunday Times , 17 Mei 1992). Alan menanggung beban sebagai pemetik poin. Sebab, di tunggal lain, Ardy kalah dari Rashid Sidek usai pertarungan sengit tiga set. Adapun tunggal lainnya, Joko Supriyanto, menang mudah atas Kwan Yoke Meng. Sementara pasangan Rudy Gunawan/Eddy Hartono menang dari Razif Sidek/Jalani Sidek dan pasangan Ricky Subagdja/Rexy Mainaky kalah dari Cheah Soon Kit/Soo Beng Kiang. Penentuan ada di pundak Alan yang meladeni Foo Kok Keong. Namun, Alan gagal mewujudkan harapan. Dia kalah dengan angka mencolok, 6-15 dan 12-15, walau di set kedua ia nyaris menang. “Foo Kok Keong tertinggal 6-9 di gim kedua, namun ajaibnya ia mendapat ‘ second wind ’ dan membalikkan keadaan setelah menyamakan skor 10-10 dan kemudian menang di angka 15-12. Malaysia mengubur tim Indonesia yang selalu jadi hantu atas kekalahan di tahun 1970. Pembalasan dendam yang manis,” demikian potongan berita suratkabar New Sunday Times , 17 Mei 1992. “Saya pribadi merasa gagal karena ditargetkan PBSI mengambil satu poin tapi ternyata saya tidak bisa. Sempat seminggu saya tidak latihan. Stres, depresi. Sempat berpikir keras karena sebentar lagi Olimpiade,” ujar Alan. Alan Budikusuma di Olimpiade 1992 Barcelona. (BWF). Beruntung bagi “pasukan” Indonesia karena saat kembali ke tanah air, Try maupun Siregar bersikap bijak dalam merespon frustrasinya tim. Mengingat tak lama lagi Olimpiade, Siregar berusaha membangkitkan semangat Alan dkk. “Olimpiade kurang dari 2,5 bulan tapi saya mainnya kayak gini. Performa saya kurang baik. Saya kecewa dan hampir putus asa. Dengan keadaan seperti ini, bagaimana ini? Itu yang saya tanyakan pada diri saya. Tapi puji syukur, ada dukungan orangtua, Pak Siregar, dari Susy, bahwa kamu bisa. Karena tidak selalu semuanya pada hari itu main akan jelek terus. Yang penting bagaimana bangkit, latihan lebih giat dan fokus habis-habisan untuk Olimpiade,” imbuhnya. Wejangan dari Siregar membuat Alan menolak patah arang walau sebelumnya jadi sasaran kemarahan pelatih Rudy Hartono dan Indra Gunawan. “Keduanya marah besar pada Alan. Mereka menimpakan penyebab kekalahan tim Indonesia ke pundak pemuda kelahiran Surabaya tersebut. Siregar lalu berkata pada Alan yang masih syok: ‘Kamu harus latihan setengah mati. Datang lebih awal dan pulang paling akhir’,” tulis Brigitta dan Primastuti. Selain melanjutkan program yang sedikit berbeda untuk Olimpiade, Alan dan Susy Susanti yang saat itu sudah menjalin asmara, berkomitmen untuk memprioritaskan diri di lapangan dan mengesampingkan urusan percintaan mereka. Alan pun harus mau menjalani pra-Olimpiade bersama Sarwendah Kusumawardhani. Ardy Bernardus Wiranata, kompatriot Alan di final Olimpiade 1992 (Foto: pbdjarum.org ) Dari situ, Alan mulai paham bahwa pada Olimpiade 1992 ia hanya akan berstatus “ underdog ”. Andalan PBSI dijatuhkan ke pundak Ardy. Pasalnya Ardy tak diminta hal serupa untuk berangkat ke pra-Olimpiade. Siregar pun mengakui bahwa Alan tak masuk hitungan berpeluang meraih medali. “Jujur saja, ketika itu saya sudah menargetkan yang membawa pulang medali ada pada Susy, Ardy, dan ganda putra Rudy Gunawan dan Eddy Hartono. Tapi saat masyarakat mulai menonjolkan Ardy, saya tidak memberi komentar,” aku Siregar. Diposisikan bukan sebagai andalan justru membuat Alan bisa mengambil hikmahnya saat bertarung di Barcelona. Ia menjalani babak demi babak tanpa beban. Sedari babak pertama, nyaris tiada lawan yang sulit untuk disisihkannya di seksi 3 tunggal putra. Sementara, Ardy di seksi 2 maupun Hermawan di seksi 1 harus saling “bunuh” di semifinal. Alan baru menemui lawan tangguh di semifinal, Thomas Stuer-Lauridsen. Meski begitu, Alan sukses menang dua set langsung atas andalan Denmark itu. Alan pun bersua Ardy sang andalan di final. “Perasaan saya biasa saja dulu. Kita ketemu di final (dengan Ardy). Bagi saya semua teman-teman sama. Saya enggak berpikir untuk melihat sisi (kelemahan dan kekuatan) Ardy. Fokus diri sendiri saja,” kenang Alan. Walau tak diunggulkan, Alan justru di luar dugaan meraih emas Olimpiade 1992. (Repro Setengah Abad PB Djarum: Dari Kudus Menuju Prestasi Dunia ). Di atas kertas, Ardy lebih diunggulkan karena juara dunia dan All England 1991. Namun di luar dugaan, Alanlah yang berdiri di podium tertinggi saat upacara penyerahan medali setelah menang dua set langsung, 15-12 dan 18-15. Bagi Ardy, pengalaman itu jelas tak terlupakan. “Itu pengalaman yang paling pahit. Tapi jangan salah tanggap, saya juga bangga bisa menyumbang medali perak untuk Indonesia. Bagi saya tidak peduli siapa lawan saya, sesama pemain Indonesia atau negara lain. Waktu final Alan bermain lebih bagus dari saya. Kecewa itu pasti. Bohong kalau saya bilang tidak kecewa. Tapi saya tetap bangga mendapat perak buat Indonesia,” tutur Ardy yang sejak 1998 melanglang buana ke Amerika Serikat dan Kanada, via surat elektroniknya. Kepahitan Ardi menjadi manis bagi Alan. Capaian manisnya merupakan buah dari proses mati-matiannya untuk bangkit pasca-Thomas Cup 1992. Menjelang Olimpiade, Alan saban hari mesti melakoni enam jam latihan di tangan pelatih “diktator” Tong Sinfu. Dia juga mesti mengenyampingkan ego pribadinya, pacaran dengan Susy, untuk fokus pada Olimpiade. “Memang dari sisi masyarakat kan melihat Ardy performance -nya lebih baik. Saat itu saya posisinya underdog . Jadi pikiran saya, kalaupun kalah di final ya kalahnya sama teman sendiri. It’s okay . Saya enggak ada beban, rileks. Ternyata saat main saya lebih oke (hasilnya),” tandas Alan.
- Aryono, Ayutthaya, dan Adelaide: Testimoni untuk Aryono
Pagi itu, Selasa, tanggal 15 September, berita sedih yang dikirim dari Bonnie Triyana muncul di telepon saya, yang memberitahu tentang meninggalnya teman baik, Aryono, yang juga seorang periset arsip andal dan ulung dari Historia.id di Jakarta. Berita ini membuat saya meneteskan air mata dan menambah jumlah kepergian menjadi tiga belas teman di Indonesia yang mendahului kita semua di masa pandemi ini. Terakhir, pada bulan Desember 2019, saya bertemu dengan Aryono di Le Chocolat Lounge di lobby Hotel Pullman di Jakarta, sambil menitipkan oleh-oleh dari Adelaide untuk dia dan Bonnie. Sebetulnya, pertemuan saya yang lebih intensif dengannya terjadi ketika ia dan Bonnie mengunjungi Adelaide selama sepuluh hari pada bulan September 2019 untuk melakukan riset arsip tentang pemberontakan Tiga Daerah milik sejarawan Anton Lucas yang diwakafkan di Perpustakaan Flinders University, Adelaide, Australia Selatan. Di antara kesibukannya melihat dan meneliti arsip sejarah revolusi sosial di wilayah Pantura, Jawa Tengah, saya juga berdiskusi panjang dengan Aryono, Bonnie, dan Wahyu Susilo (yang juga berada di Adelaide untuk konferensi) mengenai jejak-jejak masa lalu jalur perdagangan antara kota tua Ayutthaya di Muangthai dengan pusat perdagangan yang lainnya di kepulauan Nusantara atau Hindia Belanda saat itu, seperti Banten, Batavia, Lasem, dan Makassar. Dalam diskusi dengan teman-teman ini, saya bertanya mengapa tidak ada ahli sejarah atau sejarawan dari Indonesia yang sudah belajar dan studi sejarah Muangthai secara serius, khususnya tentang sejarah jalur perdagangan masa lalu antara, misalnya, Ayutthaya dan Batavia? Jika tidak ada, perlukah kita mempersiapkan studi tour ke Ayutthaya dengan membawa sejarawan muda dari Historia.id atau peneliti muda sejarah Asia Tenggara dari Indonesia? Bangunan bersejarah peninggalan Ayutthaya. (Dok. Priyambudi Sulistyanto). Ketertarikan saya dengan Ayutthaya ini bermula setelah saya mengunjungi kota bersejarah ini lebih dari lima kali sejak kunjungan pertama di akhir tahun 1990 dan yang paling terakhir kalinya adalah bulan Desember 2018 yang lalu. Ayutthaya berada sekitar 90 kilometer disebelah utara Bangkok. Dalam sejarahnya, Ayutthaya adalah bekas ibukota kedua (setelah Sukothai) di Muangthai dan berdiri tahun 1350 dan mengalami zaman keemasan dari abad 14 hingga 18 dimana Ayutthaya menjadi pusat peradaban Hindu dan Buddha, menggantikan posisi keberadaan peradaban Angkor di Kamboja yang mulai runtuh pada abad 13. Di samping itu , Ayutthaya juga menjadi pusat perdagangan maritim yang penting di Asia Tenggara. Dengan lokasinya yang strategis yaitu di sebuah pulau kecil di tengah tiga sungai yang mengelilinginya , yaitu Chao Praya, Lopburi , dan Pasak, Ayutthaya didatangi oleh para pedagang dari Asia Tenggara, Cina, India, Arab dan juga belakangan, dari Eropa. Sayangnya, Ayuthaya dihancurkan hingga luluh lantak oleh serangan tentara dari pihak Burma tahun 1767. Dengan segala warisan sejarah yang unik dan kaya inilah yang hingga kini, Ayutthaya juga diakui sebagai salah satu kota bersejarah yang penting di dunia oleh UNESCO . Pengakuan dari UNESCO inilah yang mengundang banyak perhatian dari para sejarawan Muangthai sendiri untuk kembali melakukan penelitian arsip-arsip mengenai Ayutthaya yang berada di Cina, Portugis, Inggris, Prancis, dan juga didalam negeri. Sejarah masa lalu yang gemilang ini mengundang banyak perdebatan bagi para sejarawan di Muangthai. Salah satu tokoh sejarawan Muangthai yang gigih mengajak sejarawan muda lainnnya untuk meriset kembali Ayutthaya sebagai pusat perdagangan maritim yang terpenting di Asia Tenggara adalah Charnvit Kasetsiri. Ia menerbitkan bukunya yang berjudul The Rise of Ayudhya (Kuala Lumpur: Oxford University Press, 1976) dan buku ini merupakan hasil dari disertasi doktoral di Cornell University, Amerika Serika, pada 1973. Buku ini sangat berpengaruh bagi sejarawan Muangthai dan Barat yang ingin melakukan riset tentang pentingnya jalur perdagangan maritim di Asia Tenggara. Peninggalan VOC di Ayutthaya. (Dok. Priyambudi Sulistyanto). Pada 2017, terbit juga buku baru yang berjudul A History of Ayutthaya , yang ditulis oleh dua akademisi/sejarawan yaitu Chris Baker dan Pasuk Phongpaichit. Buku ini memperkuat gagasan sebelumnya yang mengatakan bahwa ketika itu, Ayutthaya, bisa disetarakan sebagai “Venice” di Asia Tenggara. Bahkan bisa dikatakan Ayutthaya merupakan pusat perdagangan maritim terbesar di Asia Tenggara dari abad 14 hingga 18 yang menghubungkan Cina, Asia Tenggara, dan Eropa. Setelah berkali-kali mengunjungi Ayutthaya, saya selalu tertarik dengan aneka ragam kuliner dan adanya kampung Islam/Makassar. Beragam kuliner di Ayutthaya juga dipengaruhi cita rasa dari India, Cina, Melayu, Portugis, Jepang,dan Belanda. Beberapa contoh kuliner tersebut adalah foi tong, gulai gaeng, gulai masaman dan juga sup tahu, dan panggang babi dan bebek. Keberadaan kampung Islam/Makassar juga masih nampak unik dimana menunjukkan nenek moyang mereka yang datang dari Arab, Persia, India dan juga Makassar (yang berasal dari pelaut Bugis dan elitenya yang merantau atau lari setelah Perang Makassar di abad 17). Seperti yang saya diskusikan dengan Aryono, Bonnie , dan Wahyu, namun yang paling unik dan penting dari kunjungan terakhir saya ke Ayut t haya adalah menemukan dan mengunjungi Baan Hollanda yang terletak di pinggiran sungai Chao Praya. Lokasinya adalah tanah bekas didirikannya kantor perwakilan VOC ( Venerigde Oost-Indische Compagnie ) di Ayut t haya yang mulai beroperasi di tahun 1608. Menurut buku yang ditulis oleh Baker and Pasuk (2017:120-121) Ayutthaya mulai berkembang pesat dibawah kepemimpinan Raja Ekathotsarot (1605–1620) dimana ia mengundang banyak perwakilan perdagangan maritim asing untuk beroperasi dan berdagang rempah dan komoditas lainnya secara besar-besaran. Di kota tua inilah perwakilan VOC memperkuat dominasi dan kekuataan perdagangan maritim di Asia Tenggara. Jejak-jejak masa lalu Muangthai dan Nusantara inilah yang saya bisa pelajari dan teliti ketika saya mengunjungi Baan Hollanda yang juga menyajikan informasi dan arsip lama dari Belanda secara padat namun juga interaktif. Para pengunjung diajak masuk ke berbagai ruang dengan disertai peta dan informasi lengkap mengenai sejarah berdirinya perwakilan VOC di Ayutthaya ( baanhollanda.org ). Semua informasi tersaji dengan detail dan runtut mengikuti runtutan abad dan peristiwa-peristiwa penting yang menjadikan perwakilan VOC berperan penting dalam pertumbuhan ekonomi perdagangan maritim di Muangthai ketika itu. Priyambudi Sulistyanto, dosen senior Flinders University, dan Wahyu Susilo, Direktur Eksekutif Migrant Care, di depan patung gajah di Museum Nasional hadiah Raja Chulalongkorn. (Dok. Priyambudi Sulistyanto). Yang paling penting untuk saya adalah mengapa para sejarawan Indonesia belum atau tidak tertarik melakukan studi atau riset arsip tentang hubungan perdagangan maritim antara Muangthai dan Nusantara? Sebaliknya, sejarawan muda Muangthai, Kannikar Sartraprrong, menerbitkan bukunya yang berjudul A True Hero, King Chulalongkorn of Siam’s visit to Singapore and Java in 1871 (Bangkok: Institute of Asian Studies, Chulalongkorn Univeristy, 2008). Buku ini menceritakan mengenai kunjungan Raja Chulalongkorn (1868-1910) dari Muangthai ke Pulau Jawa (Batavia, Bogor, Yogya, Semarang , dan Surabaya) berkali-kali yaitu tahun 1871. Dari kunjungan ini, Raja Chulalongkorn bertemu dengan pihak Belanda dan raja-raja di Jawa dengan misi untuk belajar dan studi mengenai aspek perdagangan, pemerintahan, budaya, kuliner, dan bahasa. Sebagai apresiasinya, Raja Chulalongkorn memberikan hadiah patung gajah ke pemerintah Hindia Belanda dan sekarang masih berada di depan gedung Museum Nasional di Jakarta. Sebagai ketertarikan atau langkah strategis, Raja Chulalongkorn mengunjungi Nusantara lagi pada 1891 dan 1901. Semoga tulisan singkat ini yang merupakan sebuah testimoni pendek untuk Aryono bisa mengingatkan kita semua dan juga mendorong generasi sejarawan Indonesia untuk mau membuka kembali lembaran sejarah lama yang gemilang dan unik yang menghubungkan Muangthai dan Nusantara. Salam hangat dari Adelaide, 23 September 2020. Dr. Priyambudi Sulistyanto adalah dosen senior Flinders University, Adelaide, Australia Selatan .
- Kisah Rempah dan Kuliner Khas Yogyakarta
Sebanyak 135 ragam rempah digunakan di seluruh Indonesia. Sejauh ini kuliner Aceh paling banyak menggunakan jenis rempah, yakni 129 macam. Disusul kuliner Yogyakarta yang memakai 119 macam rempah, dan Sumatra Utara yang memakai 96 ragam rempah. “Yogyakarta daerah kuliner yang memiliki banyak ragam rempah. Karenanya Yogyakarta termasuk daerah kuliner yang hidangannya kaya rasa,” kata Murdijanti Gardjito, Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Gadjah Mada dalam webinar “Budaya Rempah-rempah dalam Khazanah Kuliner di Daerah Istimewa Yogyakarta” yang diadakan BPCB DIY melalui kanal Youtube. Yogyakarta mengenal bumbu khas yang sangat jarang dipakai di daerah lain, yakni tempe semangit dan pete rese . Tempe semangit , atau sering disebut tempe bosok, dan pete rese biasanya dipakai dalam masakan sayur lodeh. Adapun tempe semangit muncul dalam masakan sayur bobor yang biasa disajikan bersama sambel jenggot. Bumbu terpenting dalam kuliner khas Yogyakarta adalah bawang putih, bawang merah, gula, daun salam, dan lengkuas. “Sehingga rasa kuliner Yogya itu gurih, legit, ada rasa gurih yang manis, ini kaitannya dengan cita rasa khas Yogya,” kata Murdijati. Sementara itu, Indonesia Timur yang dikenal sebagai sumber rempah, kulinernya justru tak begitu mengenal banyak ragam rempah. NTT, Papua, dan Maluku menggunakan rempah lebih sedikit, yakni antara 31-61 ragam rempah saja. “Ini sulit dipikirkan mengapa begitu,” kata Murdijati. “Apa mungkin karena Aceh berada di jalur rempah dari timur ke barat dan menjadi tempat persinggahan jadi lebih banyak rempah yang dikenal?” Tak Cuma Makanan Orang Yogyakarta tak hanya mengenal rempah sebagai penyedap masakan. Beberapa jenis minuman juga menggunakan bahan baku rempah-rempah. Jamu adalah minuman dari rempah yang terkenal. Kendati banyak pula penggunaan jamu yang tak diminum, tetapi dioles. “Ini unggulan yang sulit ditandingi di dunia,” ujar Murdijati. Jamu sangat erat dengan budaya masyarakat keraton dalam membangun kesehatan, kebugaran, dan kecantikan. “Mereka bahkan bikin peralatan khusus minum jamu dengan seremoni menarik,” jelas Murdijati. Peralatan minum jamu disebut sumbul . Bentuknya seperti separuh batok kelapa yang diukir indah dan terbuat dari logam. “Ini untuk disuguhkan bagi putri keraton,” kata Murdijati. Selain jamu, ada juga bir Jawa yang terbuat dari ekstrak serutan kayu secang berwarna merah muda. Jika ditetesi air perasan jeruk nipis, ia berubah cokelat. Selain sari jeruk nipis, minuman ini terdiri dari jahe, sereh, cengkeh, kayu manis, pala, merica, mesoyi, dan kemukus. “Minuman yang ceritanya sangat penting, mengandung cerita bersejarah,” ujar Murdijati. Ceritanya, pada akhir abad ke-19 dan era abad ke-20 bir masih diimpor dari Belanda menggunakan kapal laut. Pengirimannya membutuhkan waktu sebulan. Jadi, harganya mahal sekali. Bir Jawa memiliki warna yang persis dengan warna bir Eropa. Bir ini selalu disajikan setiap keraton mengadakan pisowanan ageng yang dihadiri oleh perwakilan pemerintah Belanda. “Dampaknya apa? Orang Belanda mengira keraton Jogja kaya sekali, jadi masih bisa memberi bir pada semua yang ada di pisowanan agung ,” jelas Murdijati . Padahal, kata Murdijati, bir yang sebenarnya hanya disuguhkan bagi raja, tamu, dan para pangeran. Sedangkan para abdi dalem kebagian bir Jawa. “Abdi dalem yang ditanya oleh salah seorang tamu: ‘kamu tadi minum apa?’ akan menjawab: ‘bir Jawi’,” kata Murdijati. “Tapi ‘Jawi’-nya diucapkan dengan pelan. Ini cerita nenek saya yang masih mengalami masa itu.” Secara umum, budaya rempah di Yogyakarta terbukti dari masyarakatnyayang memiliki wadah rempah atau bothekan , berupa almari atau laci-laci berisi puluhan rempah untuk keperluan sehari-hari. “Masyarakat awam juga punya, tapi di kalangan bangsawan mereka sangat mengenal apa yang disebut bothekan ,” jelas Murdijati. Tak Tercatat Kendati rempah-rempah begitu melekat dengan orang Jawa, khususnya orang Yogyakarta, tetapi tak banyak ditemukan catatan mengenai tradisi rempah dan kuliner. Bahkan, kata arkeolog Universitas Gadjah Mada, Tjahjono Prasodjo, dalam prasasti dan naskah kesusasteraan kuno pun tak ada yang secara khusus menjelaskan soal kuliner maupun bumbu-bumbu masakan dari rempah. “Tak ada penjelasan seperti resep masakan misalnya,” kata Tjahjono. Jika pun ada prasasti yang menyebut soal makanan, itu hanya data sampingan. Biasanya disebutkan pada bagian pesta dalam upacara Sima. “Itu pun banyak istilah kuliner dan rempah yang belum diketahui artinya,” jelas Tjahjono. Khususnya rempah-rempah, kata Tjahjono, lebih banyak ditemukan di dalam naskah kesusasteraan. Misalnya,istilah trikatuka atau tiga rempah utama, yakni lada hitam, cabe Jawa, dan jahe. Ini agaknya mendapat pengaruh dari India. Tiga rempah ini sering digunakan. Semua rasanya pedas. Sering dipakai untuk pengobatan. Naskah juga menyebutkan pemakaian ketumbar. Disebut dengan istilah tumbara. “Mungkin ketumbar maksudnya,” kata Tjahjono. Murdijati pun menyayangkan nihilnya catatan kuliner tradisional di lingkungan keraton. Untungnya di kalangan keraton, tradisi kuliner Yogyakarta masih terjaga. “Untungnya masih ada narasumber yaitu anggota keluarga keraton, antara lain keturunan Hamengkubuwono VI, VII, VIII, dan IX,” kata Murdijati. Dari mereka diketahui bahwa keluarga bangsawan Yogyakarta memiliki kebiasaan unik. Mereka masih menyediakan makanan kesukaan raja-raja terdahulu setiap peringatan haulnya. Misalnya, keturunan Hamengkubuwono VII akan menyajikan kersanan dalem Hamengkubuwono VII, begitu juga keturunan raja lainnya. “Jadi mengapa budaya kuliner Yogya di lingkungan masyarakat keraton masih eksis, itu karena keturunannya memelihara apa yang disuka para leluhurnya,” kata Murdijati. Bagaimana rempah-rempah yang tak berasal dari wilayah Jawa bisa melekat dengan orang Yogyakarta? “Tentu ini intrepretasi lagi,” jawab Tjahjono.Namun, yang jelas, pada masa Jawa Kuno pun perdagangan antarwilayah sudah ramai. Pun pelabuhan di pantai utara Jawa. Pada periode kekuasaan kerajaan di Jawa Timur, pelabuhan Jawa menjadi tempat transit. “Rempah didatangkan dari Indonesia Timur, transit di sana, lalu diperdagangkan ke wilayah barat,” kata Tjahjono. “Dari India dan Tiongkok produk mewah itu datang ke pelabuhan Jawa, disebarkan ke seluruh Nusantara atau mungkin di Jawa sendiri.” Karenanya, menurut Tjahjono, tak heran kalau di Yogyakarta, atau bahkan Aceh, ditemukan beragam jenis rempah-rempah dari berbagai tempat. “Itu karena ada perdagangan,” jelasnya. “Kalau komoditas yang dari Jawa sendiri adalah beras dan lada, ini perdagangan utama dari Jawa pada periode Jawa Timur.”
- Kala Benny Moerdani Kerjai Kolonel Djarot
Mayor Benny Moerdani bergerak cepat. Begitu mengetahui Menhan Malaysia Tun Abdul Razak akan singgah di Bangkok sepulang dari kunjungannya ke Burma (kini Myanmar) pada pertengahan Juli 1965, Benny bersama Letkol Ali Murtopo, atasannya di Opsus (Operasi Khusus), organ intelijen di bawah Kostrad, langsung ke Bangkok untuk mendapatkan kontak Razak. Upaya Benny itu merupakan kelanjutan dari upaya membuka pintu normalisasi hubungan Indonesia-Malaysia yang sedang panas akibat Konfrontasi. Sebelumnya, Benny telah melakukan pertemuan penjajakan dengan wakil Malaysia Ghazali Shafie, kepala Intelijen Keamanan Nasional (kelak menjadi menteri dalam negeri dan menteri luar negeri Malaysia), dan Des Alwi, anak angkat Sutan Sjahrir yang tinggal di Malaysia selepas PRRI-Permesta. “Langkah mengakhiri konfrontasi sudah dimulai bahkan sejak konfrontasi itu muncul,” kata Mindra F dalam “Normalisasi RI-Malaysia Tak Ada Yang Menang, Apalagi Kalah”, dimuat dalam Warisan [Daripada] Soeharto . Malaysia membuka upaya normalisasi pada pertengahan 1964 lewat Ghazali Shafie yang menemui Menpangad A. Yani di Hongkong. Sementara, Indonesia lewat utusan yang dikirim Presiden Sukarno. Menurut Harry Tjan Silalahi, intelektual CSIS yang dekat dengan Benny, upaya normalisasi dari pihak Indonesia diupayakan bukan hanya oleh satu pihak. “Masing-masing kirim utusan. Presiden Sukarno kirim, Ahmad Yani kirim, Soeharto kirim. Presiden mengirim agar mendapat cara penyelesaian konfrontasi tanpa kehilangan muka,” ujarnya kepada Historia pada 2013. Namun, semua utusan itu tak membawa hasil. Upaya normalisasi dari Indonesia baru makin serius ketika AD makin terang-terangan menentang konfrontasi. “Belakangan Yani dan stafnya merekrut Soeharto untuk memainkan peranan rahasia yang penting dalam usaha mereka untuk menggembosi konfrontasi, kampanye anti-Malaysia Sukarno,” tulis John Roosa dalam Dalih Pembunuhan Massal . “Barangkali Yani dan kepala intelijennya, S. Parman, mempercayakan kepada Soeharto tugas yang peka ini sehingga mereka bisa dengan tenang mengingkarinya seandainya komplotan mereka terbongkar,” sambung Roosa. Di bawah Soeharto, upaya normalisasi berjalan lebih serius dan kontinyu. Dia menugaskan Ali Murtopo yang kemudian memerintahkan Benny sebagai pelaksana lapangan. Meski memakan waktu panjang dan melelahkan, Benny-Ali akhirnya mendapat kontak Razak lewat Des Alwi. Dari Razak, Opsus pun akhirnya berhasil masuk ke PM Tunku Abdul Rahman. Untuk membuktikan keseriusan pihak Indonesia, Benny lalu mengusulkan agar Indonesia mengirim delegasi resmi ABRI ke Malaysia. Usul itu disampaikannya ketika pulang ke Jakarta menghadap Pangkostrad Mayjen Soeharto, dan Soeharto menyetujuinya. Namun, bukan perkara mudah untuk mengirim delegasi resmi secara sembunyi-sembunyi menggunakan pesawat AURI. Apabila pers mencium, Presiden Sukarno bisa marah. Sementara bila sembunyi-sembunyi, risiko pesawat AURI ditembak pasukan Inggris amat besar. Tapi Benny tak terlalu ambil pusing untuk urusan yang di Malaysia karena yakin Razak dan Shafie pasti sudah mengatasinya. Benny akhirnya terbang ke Bangkok untuk meminta bantuan Kolonel Sugeng Djarot, atase militer Indonesia di Bangkok, sehari sebelum delegasi ABRI bertolak ke Kuala Lumpur. Djarot langsung “diculik” Benny ke Bandara Don Muang. Tentu saja upaya Benny membuat Djarot bingung sehingga dia menanyakan akan dibawa ke mana. “Sudahlah, pokoknya kita rekreasi,” jawab Benny, dikutip Julius Pour dalam Tragedi Seorang Loyalis . Mendengar jawaban Benny, Djarot pun senang. Namun kesenangannya hanya sesaat karena pengumuman awak kabin menginformasikan bahwa pesawat yang ditumpanginya akan bertolak ke Kuala Lumpur. Seketika, wajah Djarot langsung pucat. Makanan yang disajikan awak kabin tak disentuhnya. Esok paginya, Djarot yang masih bingung diajak Benny ke Bandara Subang. Setelah diberitahu bahwa mereka akan menyambut rekan dari militer Indonesia dan disarankan, Djarot mengenakan seragam TNI-AD lengkap. Namun begitu tahu di bandara hanya dia sendiri yang mengenakan seragam militer Indonesia, Djarot kembali kaget. “Ben, kalau nati ada apa-apa, nanti bagaimana?” tanya Djarot dalam bahasa Jawa. “Yah, kalau Bung Karno besok tahu yang ditangkap nanti kan Anda,” jawab Benny juga dengan bahasa Jawa. “Diancuk...” kata Djarot.
- Peran Adam Malik di PBB
PRESIDEN Joko Widodo menyampaikan pidato secara virtual dalam Sidang Umum PBB pada Rabu, 24 September 2020. Ada yang menilai pidato itu baik sehingga Jokowi layak jadi Sekretaris Jenderal PBB. Warganet pun menanggapinya sehingga "Sekjen PBB" jadi trending topic. Saat ini, sejak 1 Januari 2017 jabatan Sekjen PBB dipegang oleh Antonio Guterres dari Portugal. Dia adalah Sekjen PBB kesembilan. Sekjen PBB sebelumnya antara lain Trygve Lie (Norwegia), Dag Hammarskjöld (Swedia), U Thant (Myanmar), Kurt Waldheim (Austria), Javier Pérez de Cuéllar (Peru), Boutros Boutros-Ghali (Mesir), Kofi Annan (Ghana), dan Ban Ki-moon (Korea Selatan). U Thant adalah Sekjen PBB pertama dari Asia dan Asia Tenggara. Dia menggantikan Dag Hammarskjöld yang meninggal dalam kecelakaan pesawat di Zambia pada 18 September 1961.
- Cerita Lahirnya Kota Bandung
“ Bumi Pasundan lahir ketika Tuhan sedang tersenyum.” “ Dan Bandung bagiku bukan cuma masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi. ” Jika berkunjung ke Kota Bandung, dua tulisan di atas dapat dijumpai di Jalan Asia Afrika, dekat Gedung Merdeka dan Masjid Agung Bandung. Tulisan pertama dibuat oleh seorang filsuf, cum budayawan berkebangsaan Belanda bernama M.A.W. Brouwer. Sementara tulisan kedua lahir dari tangan Pidi Baiq, novelis asal Kota Bandung yang terkenal berkat seri novel remaja “Dilan”. Coretan dinding itu cukup melekat dengan image Kota Bandung dan menjadi salah satu spot foto yang tidak boleh terlewat. Kota Bandung memang memiliki banyak sekali julukan, mulai dari Paris van Java, surga kuliner, hingga Kota Kembang. Ingat Bandung, ingat suasana yang sejuk, beragam jenis clothing , serta pusat segala macam kuliner. Banyak hal bisa ditemukan di ibukota Provinsi Jawa Barat ini. Lantas bagaimana Bandung lahir? Menemukan Bandung Dilihat dari sudut pandang orang-orang Belanda, wilayah Bandung sekarang ditemukan secara tidak sengaja. Itu karena pemerintah Belanda tidak menaruh perhatian lebih ke negeri di sebalah timur Batavia tersebut. Mereka hanya sekedar tahu bahwa di sana berdiri sebuah pemerintahan. Negeri itu sejak awal memang tidak masuk dalam rancangan pembangunan pemerintah Belanda. Sedangkan bagi masyarakat pribumi, Bandung sudah lama berdiri. Dahulu dikenal dengan sebutan Tatar Ukur, yang kekuasaannya ada di bawah Banten dan Mataram. Baca juga: Mengapa Bandung Dijuluki Parijs van Java? Dijelaskan Haryoto Kunto dalam Wajah Bandoeng Tempo Doeloe, perhatian Belanda kepada negeri ini baru muncul saat penguasa Tata Ukur, Wangsanata (Dipati Ukur), ikut terlibat dalam peristiwa penggempuran benteng VOC di Batavia yang diperintahkan oleh Sultan Agung dari Mataram. Akibatnya pemerintah Belanda mulai menaruh curiga atas wilayah Tatar Ukur. Tanah yang mereka anggap 'daerah tak bertuan' itu dikhawatirkan menjadi sarang para pemberontak, yang dikemudian hari bisa mengancam kedudukan kompeni di Batavia. Wilayah perkebunan Bandung. ( nationaalarchief.nl ). Untuk itu, pemerintah Belanda pada 1641 menempatkan seorang Mardijker –sebutan untuk bekas budak Portugis di Asia dan Afrika yang dimerdekakan oleh bangsa Belanda– bernama Juliaen de Silva di Tatar Ukur sebagai mata-mata. Dia ditugasi memantau pergerakan orang-orang di Tatar Ukur dan perkembangan negeri tersebut. “Ada sebuah negeri dinamakan Bandong yang terdiri atas 25 sampai 30 rumah,” tulis Silva dalam laporannya kepada pemerintah Belanda di Batavia, seperti dikutip Haryoto Kunto. Peneliti sejarah Nandang Rusnandar dalam “Sejarah Kota Bandung dari Bergdessa (Desa Udik) menjadi Bandung Heurin ku Tangtung (Metropolitan)” dimuat Patanjala Vol. 2, Juni 2010, menyatakan bahwa penyebutan wilayah Tatar Ukur setelah abad ke-17, berdasar laporan Silva, mulai diubah oleh pemerintah Belanda menjadi Negorij Bandong atau West Oedjoeng Broeng . Wilayah itu pun semakin mendapat perhatian lebih markas pusat di Batavia. Baca juga: Bandung Ibukota Kerajaan Belanda? Sekira tahun 1712, Abraham van Riebeek mendarat di Wijnkoopsbaai (Pelabuhan Ratu). Dia merupakan orang pertama yang membawa benih tanaman kopi ke Pulau Jawa. Kedatangan Riebeek ke Tatar Bandung dimaksudkan untuk penjelajahan mencari belerang (sulfur). Dia diketahui membangun bisnis senjata dan mesiu. Belerang menjadi komponen terpenting bisnisnya. Tahun berikutnya, Riebeek berhasil mendaki gunung Papandayan dan Tangkuban Parahu. Dia mendapat sumber belerang yang dicarinya. “Lewat catatan-catatan van Riebeek, barulah Kompeni Belanda menyadari akan potensi wilayah Tatar Ukur (Bandung),” tulis Kunto. Membuka Bandung Sampai pertengahan abad ke-18, menurut Haryoto Kunto, orang-orang dari Batavia biasanya naik perahu atau rakit, melewati Sungai Citarum dan Cimanuk, jika ingin pergi ke Bandung. Mereka harus melewati pedalaman hutan Priangan. Baru pada 1786, jalan setapak yang bisa dilewati kuda mulai dibuat untuk menghubungkan Batavia-Bogor-Bandung. Keberadaan jalan setapak, meski kecil, amat penting bagi kegiatan ekonomi Belanda. Sebab perkebunan kopi di sekitar Gunung Tangkuban Parahu milik Pieter Engelhard telah dibuka sejak 1789. Kopi miliknya menjadi salah satu pemasukan terpenting pemerintah Belanda. Selain itu, menurut Yan Daryono dalam R. Dewi Sartika 1884-1947: Sebuah Biografi Pahlawan Nasional , berkat adanya jalan setapak juga membuat akses orang-orang Belanda menuju Bandung yang berudara segar menjadi lebih mudah. Terbukti dengan cukup semaraknya kota itu pada penghujung abad ke-18. Baca juga: Rezim Kopi di Priangan Melonjaknya keinginan penduduk Eropa di Batavia memasuki kawasan Bandung menarik perhatian pemerintah Belanda. Mereka mulai merancang pembuatan akses jalan yang lebih layak, yang tidak hanya menghubungkan Batavia-Bandung saja, tetapi seluruh daerah di Pulau Jawa. Pembangunan jaringan jalan yang amat luas itu baru benar-benar terlaksana tatkala Herman Willem Daendels menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda (1808-1811). Jalan Raya Pos. (Troppenmuseum). “Keberadaan Jalan Raya Pos berhasil merubah wajah Bandung, dari sebuah kampung di tengah hutan belantara menjadi sebuah kota yang terus berkembang hingga menjadi salah satu kota besar di Indonesia. Sebuah kota yang jika dipandang dari berbagai aspek kehidupan memiliki nilai strategis, terutama secara ekonomi, politik, dan militer,” tulis peneliti Balai Arkeologi Bandung, Iwan Hermawan dalam Bandung Sebagai Ibukota Hindia Belanda . Jaringan raksasa “Grote Postweg” (Jalan Raya Pos) dari Anyer sampai Panarukan ini rupanya tak hanya difungsikan sebagai akses jalan, tetapi juga benteng pertahanan. Daendels mendapat tugas dari Raja Belanda untuk memperkuat pertahanan Belanda di Jawa dari kemungkinan serangan Inggris. Hal itu dilakukan demi menjaga kedudukan Belanda di Nusantara. Baca juga: Sepuluh Fakta di Balik Pembangunan Jalan Daendels dari Anyer ke Panarukan Tatkala pembangunan jalan memasuki kawasan Tatar Bandung, Daendels memerintahkan Bupati Kabupaten Bandung dan Bupati Parakanmuncang agar memindahkan ibukotanya masing-masing ke tepi jalan raya. Bupati Kabupaten Bandung R.A. Wiranatakusumah II (1794-1829) lantas memindahkannya dari Karapyak (Dayeuh Kolot), yang berjarak kurang lebih 11 km dari jalan raya, ke daerah Alun-alun sekarang. Kemudian di suatu tempat di dekat jalan raya, seberang Hotel Savoy Homan di Jalan Asia-Afirka sekarang, Daendels menancapkan sebuah tongkat kayu dan berkata: “Zorg, dats als ik terug kom hier een stad is gebouwd! ” (coba usahakan, bila aku datang kembali, di tempat ini telah dibangun sebuah kota!). Di tempat itulah orang kemudian membuat patok yang menandakan lokasi “Kilometer Nol”, sebagai batas awal kota Bandung. Tugas pendirian kota lalu diberikan kepada Wiranatakusumah II. Maka tidak heran jika banyak literatur yang akhirnya menyebut Daendels sebagai perancang kota Bandung. Baca juga: Daendels Napoleon Kecil di Tanah Jawa Namun berdasar hasil penelitian sejarawan S. Sobana Hardjasaputra dalam “Perubahan Sosial di Bandung 1810-1906”, dimuat Jurnal Sosiohumaniora Vol. 5, Maret 2003, pendirian kota Bandung sebenarnya dilakukan atas kehendak R.A. Wiranatakusumah II sebagai Bupati Bandung ke-6. Akan tetapi dalam proses pendiriannya kehendak sang bupati tersebut secara kebetulan sejalan dengan keinginan Daendels. Perintah sang gubernur jenderal-lah yang mempercepat keinginan Wiranatakusumah II. “Lewat perintah yang keluar dari mulut Daendels itulah, kemudian orang bergegas membangun Kota Bandung, hingga akhirnya menemukan bentuknya seperti yang sekarang,” ungkap Kunto. Peresmian kota Bandung, kata Sobana, dilakukan oleh Daendels berdasarkan surat keputusan ( besluit ) tanggal 25 September 1810. Tanggal inilah yang kemudian dianggap sebagai Hari Jadi Kota Bandung.
- Penyebaran Pandemi Ribuan Tahun Lalu
Para arkeolog mengungkap bagaimana caranya penyakit menular pada masa prasejarah dapat menyebar dan menjadi pandemi. Mereka mengemukakan pula konsekuensinya jika pandemi dibiarkan terus meluas. Penelitian bioarkeologi terbaru dari Universitas Otago, Selandia Baru, menunjukkan kemungkinan penyakit menular telah menyebar sejak 4.000 tahun yang lalu. Para peneliti mempelajari sisa-sisa kerangka dari situs arkeologi Man Bac di Provinsi Ninh Binh, Vietnam. Mereka menemukan tanda-tanda infeksi bakteri treponema. Treponema adalah nama genus bakteri. Subspesiesnya yang terkenal adalah penyebab penyakit sifilis dan frambusia atau patek. Disebutkan dalam laman phys.org (21/09/2020) , situs arkeologi Man Bac digali pada 2005 dan 2007. Hasilnya menunjukkan peran Man Bac selama peralihan dari masa berburu-mengumpulkan makanan ke masa bercocok tanam di Asia Tenggara daratan. “(Hasil penggalian, red. ) Sekarang disimpan di Institut Arkeologi Hanoi, sisa-sisa itu telah dipelajari dengan baik tetapi belum dianalisis untuk mencari bukti adanya frambusia,” kataMelandri Vlok,salah satu peneliti dari Departemen Anatomi, Universitas Otago,sebagaimana dikutip phys.org . Supervisornya, ahli biologi terkenal, Prof. Hallie Buckley, melihat kemungkinan gejala frambusia pada foto sisa-sisa rangka di situs itu. Buckley kemudian bergabung dengan tim peneliti yang terdiri dari Vlok dan ahli asal Vietnam. Penelitian di situs Man Bac dimulai pada 2018. Para peneliti pun mengonfirmasi kecurigaan Buckley. Belakangan, Vlok menemukan contoh kedua dari penyakit itu. Jejak Lesi Pada Rangka Vlok dkk. menerbitkan hasil penelitiannya, "Two Probable Cases of Infection With Treponema pallidum during the Neolothic Period in Northern Vietnam (ca. 2000-1500 BC)",dalam jurnal Bioarchaeology International Volume 4 . Mereka tidak mendiagnosis jenis treponema pada rangka yang ditemukan karena sulit diketahui hanya dari kondisi tulangnya.Namun,berdasarkan konteks epidemiologi, sosial, dan lingkungan, mereka menduga manusia di situs itu telah mengenal penyakit frambusia. “Secara iklim, Vietnam berada pada batas garis lintang di mana penyakit frambusia telah terdokumentasi secara historis,” tulis Vlok. Frambusia adalah endemik di Vietnam. WHO melakukan pemberantasan frambusia pada 1950-an. Penyakit ini masih menunjukkan riwayatnya hingga 1990-an. Berdasarkan usia, penyebaran penyakit bukan lewat hubungan seksual . Sebab, lesi (kerusakan jaringan atau tubuh) pada tulang sebagian besar ditemukan pada rangka anak-anak . Infeksi frambusia paling sering terjadi antara usia dua dan 15 tahun. Penyakit ini pada anak-anak menyebabkan lesi kulit yang menular serta memengaruhi tulang dan tulang rawan.Penyebarannya melalui kontak fisik. Kendati penyakit ini mudah disembuhkan pada tahap awal, tapi kalau sudah mengalami kerusakan tulang,tak akan bisa disembuhkan. “Karena itu, frambusia merupakan kandidat yang mungkin untuk penyakit treponema yang ada di Man Bac,” jelas Vlok. Perpindahan Manusia dan Kontak Fisik Bukti arkeologi di Man Bac digunakan untuk melihat penyebaran penyakit ketika populasi yang berbeda bertemu untuk pertama kalinya. Vlok menyebutnya “zona pergesekan”.Di Man Bac, manusia pendukung kebudayaan bertani awal bertemu dengan para pemburu dan pengumpul. “Ini penting, karena situs arkeologi tersebut diperkirakan berusia 4.000 tahun,” jelas Vlok, sebagaimana dilansir Express.co.uk (22/09/2020). Penelitian itu menunjukkan frambusia diperkenalkan ke pemburu-pengumpul di Vietnam oleh populasi petani yang pindah ke selatan dari Tiongkok. Populasi pemburu-pengumpul itu adalah keturunan orang pertama yang keluar dari Afrika, yang bermigrasi ke Asia. Mereka ini yang juga akhirnya mendiami kawasan New Guinea, Kepulauan Solomon, dan Australia. Komunitas pendukung pertanian sudah berada di Tiongkok setidaknya selama 9000 tahun. Namun baru sekira 4000 tahun yang lalu pertanian diperkenalkan ke Asia Tenggara. “Bisa jadi perpindahan orang ini membawa penyakit, termasuk frambusia, pada saat bersamaan,” ujar Vlok. Hipotesisnya, transisi demografis mengakibatkan ketidakstabilan nutrisi. Ini memungkinkan masuknya penyakit menular baru lewat migrasi, dengan konteks sosial dan lingkungan Man Bac yang cocok untuk penyebaran treponema. Sementara itu, percampuran dengan para penjelajah di Vietnam utara memungkinkan penularan lebih lanjut penyakit treponema di seluruh Asia Tenggara daratan. Meskipun demikian, hingga kini belum ada bukti penyakit treponema masa prasejarah pada rangka-rangka yang ditemukan di kawasan Asia Tenggara. “Meski kami menyadari bahwa tidak adanya bukti, bukan berarti tidak ada. Penyakit treponema yang ada di Asia Tenggara daratan mungkin terjadi sebelum transisi ke masa bertani,” jelas Vlok. Pun tak ada indentifikasi penyakit menular lainnya, seperti TBC atau kusta, sebelum era ini di kawasan Asia Tenggara daratan. Padahal penelitian bioarkeologi sudah intensif dilakukan. “Bukti penyakit menular di Asia Tenggara daratan meningkat pesat dari zaman perunggu dan besi,” lanjut Vlok. Kini, frambusia sudah berhasil diberantas di sebagian besar dunia. Namun,frambusia masih lazim di wilayah Pasifik Barat yang menginfeksi sekira 30.000 orang. “Meskipun frambusia tidak lagi menjadi masalah medis di sebagian besar dunia, frambusia tetap lazim di Pasifik Barat, memengaruhi ribuan orang,” kata Vlok. Para arkeolog percaya lamanya penyakit berjangkit di suatu wilayah penting untuk diketahui. Artinya penyakit ini sulit diberantas. “Ini penting, karena mengetahui lebih banyak tentang penyakit ini dan evolusinya, itu mengubah cara kita memahami hubungan orang-orang dengannya,” jelas Vlok. Menurut Vlok, jika suatu penyakit menular sudah berjangkit selama ribuan tahun, mungkin penyakit itu sudah begitu berkembang dan menjadi cocok dengan manusia. Seperti dalam kasus penyakit frambusia.Ini pelajaran berharga dari masa lalu, mengingat kini dunia tengah menghadapi penyakit menular Covid-19. “Arkeologi adalah satu-satunya cara untuk mendokumentasikan berapa lama suatu penyakit telah bersama dan beradaptasi dengan kita,” ujar Vlok. Sekarang, kata Vlok, virus Covid-19 begitu hebat beradaptasi dengan manusia. Padahal treponema sudah lebih lama bersama dengan manusia. Karenanya penelitian ini bisa menunjukkan apa yang akan terjadi jika tidak ada tindakan berarti terhadap suatu penyakit menular. “Ini adalah pelajaran tentang apa yang penyakit menular dapat lakukan pada suatu populasi jika dibiarkan menyebar secara luas,” tegas Vlok. Vlok pun meny ebut pentingnya segera intervensi karena penyakit dapat sangat cepat beradaptasi dengan manusia dan menyebar.
- Kala Amerika Serikat Merambah Hindia Belanda
Petualngan orang-orang Amerika Serikat (AS) menuju jaringan pelayaran dunia sekurang-kurangnya baru dimulai pada dekade terakhir abad ke-18. Setelah melalui konflik yang panjang dengan Inggris, AS akhirnya mampu turut meramaikan jalur perdagangan ke belahan bumi bagian timur. Mereka menjadi pesaing terberat bangsa-bangsa di barat Eropa. Sebagai bangsa yang baru merdeka, terbukanya jaringan dagang tersebut menjadi kunci orang-orang AS membangun negeri mereka. Menurut Jeremy Osborn dalam “India and the East India Company in the Public Sphere of Eighteen-Century Britain” dimuat The Worlds of the East India Company , informasi tentang perdagangan di wilayah Asia sudah lama diketahui AS dari berita dan laporan-laporan pemerintah Inggris. Begitu revolusi usai, para pedagang AS segera mengembangkan layar, tanda dimulainya penjelajahan menelusuri jalur perdagangan menuju Hindia Timur. “Dalam membina hubungan dengan kekuatan kolonialis-kolonialis dunia ketika itu, meski AS menentang prinsip kolonialisme sesuai dengan pengalaman sejarahnya, tidak ada usaha-usaha resmi dari pemerintah AS untuk membebaskan wilayah-wilayah kolonial yang ada,” tulis Yuda B. Tangkilisan dalam “Ekonomi Politik dan Diplomasi: Studi Pendahuluan Mengenai Persetujuan Awal antara Amerika Serikat dan Belanda” dimuat Kongres Nasional Sejarah 1996 . Sikap itu juga ditunjukkan AS ketika tiba di Hindia Belanda. Meski praktek kekejaman tepat berada di depan mata, pemerintahannya tidak menunjukkan niat mencampuri urusan negeri-negeri koloni milik para adidaya Eropa. Terlebih kepentingan AS di koloni Belanda itu tidak lebih hanya untuk persinggahan dalam menjalin hubungan dagang dengan jaringan pasar di Timur Jauh, terutama Kanton yang merupakan target utama mereka. Sambutan Dingin Hindia Belanda Dicatat James T. Collins dalam Sejarah Bahasa Melayu: Sulawesi Tengah , kapal dagang AS, Hope , yang berlayar dari New York tiba di pelabuhan Batavia pada 1786. Kapal mengangkut cukup banyak saudagar AS, termasuk seorang penumpang penting Samuel Shaw, konsul AS di Kanton. Pada kesempatan itu, pemerintah Hindia Belanda memberi akses kepada orang-orang AS ke seluruh pelabuhan Batavia, dengan syarat AS tidak melakukan transaksi gelap dengan para saudagar di sana. Namun pada kedatangan kapal dagang yang kedua di Hindia Belanda sekira tahun 1790 rupanya AS tidak lagi dianggap penting oleh pemerintah Hindia Belanda. Malah sambutannya saat itu terkesan dingin. Oleh para saudagar pelabuhan, perwakilan AS diberitahu bahwa keistimewaan terhadap mereka telah dicabut. AS tidak diizinkan melakukan bongkar muat di Batavia. Kondisi itu, kata Yuda, sangat jauh berbeda dengan wilayah koloni Inggris. Di sana, para utusan AS memperoleh banyak kemudahan. Mereka bahkan diperlakukan sebagai bangsa yang paling disukai. Sementara di Hindia Belanda, para utusan itu menemui kesulitan-kesulitan dalam menjalin hubungan ekonomi. “Di Hindia Belanda mereka harus menghadapi kenyataan bahwa di koloni Belanda tidak ada privilege semacam itu. Mereka diperlakukan sama seperti pedagang-pedagang asing lainnya,” tulis Yuda. Akibatnya, sempat terjadi ketegangan antara AS dengan pemerintah HIndia Belanda. Para pedagang AS menuntut perlakuan layak, sementara Hindia Belanda tidak bisa mudah mengabulkannya sebab AS sendiri tidak memiliki nilai lebih di mata mereka dalam urusan perdagangan. Komoditas yang dibawa AS kebanyakan tidak laku di pasaran. Untuk menyelesaikan perselisihan itu, kedua pihak sepakat mengadakan perundingan. Meski tetap saja pihak AS ada dalam kondisi tidak menguntungkan. Konsul Shaw lalu melaporkan perlakuan itu ke atasannya di Washington. Protes pun langsung dilayangkan kepada pemerintah Hindia Belanda. Pemerintah AS menagaggap Hindia Belanda telah melanggar kesepakatan tentang kebijakan perdagangan internasional. Namun pihak Belanda menyangkal, dengan mengatakan kondisi serupa juga dialami bangsa asing lainnya di Batavia, tidak hanya AS. “Sebenarnya kebijakan tersebut bertujuan untuk melindungi kepentingan dagang VOC yang mulai merosot menjelang akhir abad ke-18,” ungkap Yuda. Tragedi Dagang di Aceh Terbukanya jalur perdagangan untuk AS di Hindia Belanda terjadi saat orang-orang Belanda mulai terdesak oleh kehadiran armada Inggris. Juga saat VOC menghadapi kehancurannya pada awal abad ke-19. Para pedagang AS lalu membuka kesempatan menguasai perdagangan di tanah Sumatera, di beberapa daerah yang belum sepenuhnya dikuasai Belanda. Pada 1790, seorang pelaut AS membawa pulang sekapal penuh muatan lada dari Sumatra. Dia meraup keuntungan lebih dari 700%. Lada memang menjadi komoditas utama pelabuhan Sumatra. Pada 1803, sebanyak 21 kapal AS merapat di wilayah Kuala Batu, Aceh. Mereka datang untuk menguasai jaringan perdagangan lada di sana. “Monopoli itu memungkinkan kapal-kapal AS untuk memperoleh keuntungan yang besar, yang mana tampak sejak tahun 1820 sekitar 40 kapal AS dengan muatan masing-masing mencapai 200 ton setiap tahunnya berlayar ke dan dari Kuala Batu,” tulis Yuda. Keberadaan AS di Kuala Batu berujung tragedi. Pada 1830-an antara penduduk setempat dan pelaut AS terlibat pertempuran. Banyak orang menjadi korban. Dicatat David Foster Long dalam Gold Braid and Foreign Relations: Diplomatic Activities of U.S. Naval Officers 1798-1883 , sebanyak 450 warga Kuala Batu, termasuk perempuan dan anak-anak, tewas. Sementara jumlah korban di pihak Amerika tidaklah banyak. Serangan AS itu merupakan peringatan bagi penduduk Kuala Batu yang dianggap mengganggu kepentingan dagang mereka. Padahal, menurut Robeth Booth dalam Death of an Empire: The Rise and Murderous Fall of Salem, America’s Richest City , ketegangan terjadi karena banyak pemimpin Kuala Batu yang dicurangi oleh para pedagang AS. Setelahnya, arus kapal-kapal dagang dari Salem ke Aceh kian masif dilakukan untuk meraup seluruh lada di tempat itu.





















