Hasil pencarian
9739 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Larangan Hitam untuk Armada Hitam
“Tentara dan perwira Belanda jangan diberi transportasi. Amunisi Belanda jangan disentuh. Reparasi kapal-kapal Belanda, dll., jangan dikerjakan. Kapal-kapal Belanda jangan diberi batubara. Pandu jangan diberikan kepada kapal-kapal Belanda. Makanan, perbekalan, dll., jangan diberikan kepada kapal, kantor atau personel Belanda. Para perwira dan pelaut Belanda jangan dibawa ke dan dari kapal. Sejatinya segala sesuatu tentang Belanda adalah hitam.” Begitulah bunyi selebaran yang diedarkan oleh Departemen Perdagangan dan Buruh Australia pada Oktober 1945. Selebaran ini dikeluarkan menyusul boikot besar-besaran terhadap kapal-kapal Belanda yang hendak menuju Indonesia, sejak September 1945. Boikot ini dikenal dengan nama “larangan hitam”. Sementara itu, kapal-kapal Belanda di Australia mendapat julukan "Armada Hitam". Narasi tentang hubungan diplomatik Australia-Indonesia dalam rentang waktu 1945-1949 ini dipamerkan di Museum Nasional bertajuk Two Nations, A Friendship is Born . Pameran yang dibuka sejak 11 November 2019 ini menyajikan foto-foto, potongan surat kabar, sketsa-sketsa serta lukisan yang berkaitan dengan dukungan Australia terhadap kemerdekaan Indonesia. Sejarah hubungan Indonesia-Australia disajikan dalam bentuk foto, potongan surat kabar hingga film. (Fernando Randy/Historia). Boikot Belanda Pasca Jepang menyerah pada Sekutu dan Indonesia memproklamasikan kemerdekaan 17 Agustus 1945, kapal-kapal Belanda tengah bersiap di pelabuhan-pelabuhan Australia. Kala itu, Belanda hendak mencoba peruntungan untuk kembali menguasai wilayah Indonesia. Pada 24 September 1945, kapal-kapal Belanda di Brisbane dan Sydney diboikot. Kota Melbourne dan Fremantle kemudian menyusul. Dalam waktu singkat, boikot terhadap kapal-kapal belanda meluas ke serikat buruh industri maritim Australia. Tukang ketel, teknisi, pekerja besi, tukang cat kapal dan petugas dok, tukang kayu, petugas gudang, juru tulis hingga awak kapal pandu, turut dalam gerakan tersebut. Hal ini membuat kapal-kapal Belanda tidak dapat meninggalkan pelabuhan. Kapal Van Heutz yang mengangkut pejabat pemerintah, tentara dan senjata Hindia Belanda tertatih-tatih berlayar dari Brisbane ke Jawa dengan sedikit pasokan batubara dan perbekalan. Sementara itu, kapal Karsik yang mengangkut uang Belanda dan kapal Merak tertahan di Melbourne karena tidak mendapat batubara. Pada 28 September 1945, kantor-kantor perusahaan pelayaran dan diplomatik Belanda didemo para pekerja. Mereka membawa spanduk bertuliskan “Lepaskan Indonesia.” Aksi ini semakin meningkat pada Oktober 1945. Pada 1946, kamp tawanan perang Belanda di Australia diprotes. Kamp ini berisi tentara Indonesia di angkatan bersenjata Belanda yang menuntut repatriasi ke Indonesia untuk bergabung dengan pasukan Republik. Warga Australia bersimpati. Mereka memberikan hadiah Natal kepada para tahanan namun ditolak penjaga Belanda. Beberapa penduduk Casino di utara New South Wales kemudian mendirikan Komite Pembela Warga Indonesia. Mereka menuntut kamp ditutup. Pada April 1946, penjaga kamp melepaskan tembakan ketika 480 narapidana melakukan demonstrasi. Satu orang tewas dan satu terluka. Atas peristiwa itu, Arthur Caldwell, Menteri Imigrasi Australia, mengancam akan mengusir para penjaga Belanda. Belanda akhirnya setuju merepatriasi para narapidana. Atas bantuan serta biaya pemerintah Australia mereka bisa kembali ke tanah air. Arthur Caldwell juga merupakan orang yang berjasa memulangkan 1.416 warga Indonesia di mana sebagian merupakan mantan tahanan politik dari kamp Boven Digul, Papua. Pengunjung bisa melihat sketsa dan lukisan Tony Rafty, seniman dan kartunis Australia. (Fernando Randy/Historia). Sahabat-Sahabat dari Australia Pada saat yang bersamaan, banyak tentara Australia yang tinggal di Indonesia bersimpati dengan perjuangan bangsa Indonesia. Mereka kemudian turut membagikan pamflet serta ikut menyebarkan propaganda Republik. “Kami Angkatan Bersenjata bangga dengan aksi yang dilakukan oleh serikat buruh anda dan … yang memiliki pengetahuan langsung tentang mereka dan kondisi mereka … yakin bahwa klaim masuk akal,” tulis Angkatan Bersejata Australia kepada James Healy, Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Buruh Pelabuhan Air. Selain para tentara, ada pula Noel Constantine, pilot Angkatan Udara Inggris (RAF) yang pada 1946 keluar dari RAFF dan kembali ke Australia. Dia kemudian terlibat dalam misi mengirim perlengkapan medis dari Singapura ke Indonesia. Pada 29 Juli 1947, pesawat yang dipiloti oleh Constantine ditembak jatuh oleh pesawat Kittyhawk Belanda beberapa saat sebelum mendarat di Yogyakarta. Dalam peristiwa itu, hanya satu orang penumpang yang selamat. Constantine, istrinya dan kopilot Roy Hazlehurst gugur. Pesawat itu juga ditumpangi tiga perwira AURI yakni Adisutjipto, Abdul Rachman Saleh, dan Adisumarmo, yang juga gugur dalam peristiwa itu. Orang Australia lain yang memiliki peran penting ialah diplomat Australia William MacMahon Ball dan Joe Isac, dosen muda dari Universitas Melbourne. Mereka mengemban misi mencari fakta ke Jakarta pada 1945. Sementara itu, Molly Warner, seorang organisator, jurnalis dan penerjemah, merintis advokasi Australia untuk Kemerdekaan Indonesia. Molly berkiprah di Asosiasi Australia-Indonesia dan kemudian menikah dengan eks Digulis, Mohamad Bondan. Atas permintaan Indonesia, para pengamat militer Australia juga dikirim ke Indonesia untuk menjaga perdamaian. Setelah Belanda melancarkan agresi militer, Australia membawa permasalahan ini ke Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Australia kemudian ditunjuk oleh Indonesia sebagai perwakilan di Komite Jasa Baik yang dibentuk untuk mensponsori perundingan antara Indonesia dengan Belanda. Hakim Agung Australia Richard Kirby dan kemudian Tom Critchley membuat perjanjian gencatan senjata pada Januari 1948. Meski Belanda mengkhianati Perjanjian Renville tersebut dan melancarkan agresi militer kedua, Australia telah berperan penting dalam Komite Jasa Baik itu. Melalui narasi sejarah, pameran ini hendak mempererat hubungan dua negara. (Fernando Randy/Historia). Periode 1947-1949 menjadi puncak hubungan baik antara Indonesia dan Australia di bawah pemerintahan Ben Chifley. Namun, pada Desember 1949, Chifley digantikan oleh Menzies yang konservatif. Hubungan Indonesia-Australia pun mulai melemah. Peran terakhir Australia era itu adalah sebagai sponsor bersama keanggotaan Indonesia di PBB. Indonesia menjadi anggota PBB ke-60 pada 28 September 1950. Dalam pameran ini, pengunjung bisa melihat sketsa dan lukisan Tony Rafty. Seniman dan kartunis Australia itu bertugas sebagai jurnalis perang untuk Angkatan Darat Australia di Nugini, Kalimantan, dan Singapura. Selama Perang Dunia II, Rafty banyak merekam peristiwa-peristiwa melalui sketsa dan lukisan. Ia juga pernah melukis Sukarno. Dua film tentang perjuangan kemerdekaan Indonesia serta peran Australia di dalamnya juga dapat disaksikan dalam pameran ini. Indonesia Calling karya Joris Ivens menampilkan aksi solidaritas pekerja pelabuhan di Sydney kepada perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sedangkan film Batavia 1945 karya Graeme Isaac menarasikan kisah William MacMahon Ball dan Joe Isaac dalam misi pencari fakta di Jakarta.
- Perjuangan Rohana dalam Pendidikan Kaumnya
KENDATI masih berusia delapan tahun, sebagai gadis tertua Sitti Rohana (Kudus) mendapat tugas menjaga dua adiknya, Ratna dan Ruskan. Rohana tak merasa terbebani. Sembari menjaga, Rohana biasa menjalankan hobinya membaca dan menulis. Terkadang, Rohana membacakan cerita pada dua adiknya itu di teras rumah. Orang-orang yang lewat pun menyaksikan Rohana dengan perasaan heran sekaligus kagum. Kala itu di Simpang Tonang Tolu, Pasaman, Minangkabau, amat jarang anak perempuan bisa membaca dan menulis, terlebih huruf latin. Alhasil, anak-anak lain ikut berkumpul di rumah Rohana untuk mendengarkan kisah yang ia bacakan. Keluarga Rohana merupakan pendatang di Simpang Tonang Tolu. Mereka mulai tinggal di sana pada 1892. Kampung halaman keluarga Rohana berada di Koto Gadang. Profesi ayahnya, Moehammad Rasjad Maharadja Sutan, sebagai Hoofd Djaksa (Kepala Jaksa) di pemerintah Hindia Belandalah yang membuat keluarga itu sering pindah mengikuti kepindahan tugas Sutan. Dua tahun sebelum tinggal di Simpang Tonang Tolu, Rohana dan keluarga tinggal di Alahan Panjang. Di sana, Rohana punya ibu angkat bernama Adiesa yang gemar mengajarinya berbahasa Belanda, membaca, dan menulis. Keresahan akan minimnya akses pendidikan untuk anak-anak perempuan sudah dirasakan Rohana sejak kecil. “Ayah, mengapa hanya anak laki-laki yang diperbolehkan sekolah? Kapan ada sekolah untuk anak perempuan di sini? Kapan saya bisa sekolah?” tanya Rohana kecil. Beruntung, ayah Rohana bisa memahami kesedihan anaknya dengan cara rutin menyuplai bacaan anak di samping berlangganan koran dan majalah. Dari koleksi bacaan itulah Rohana menambah pengetahuannya. Alhasil, meski tak pernah merasakan bangku sekolah formal, Rohana beruntung karena ayah, ibu, dan orang-orang sekitarnya mengajarkan kemampuan baca-tulis-hitung dan keterampilan lain seperti menjahit dan menyulam. Rohana pun tak pelit berbagi ilmu. Ia senang sekali ketika teman-teman sebayanya menyimak apa yang ia baca. Di antara tetangga Rohana yang suka mendengarkan ceritanya, ada pula yang tertarik belajar membaca dan menulis. Mereka minta dituliskan nama masing-masing di telapak tangannya. Begitu melihat tulisan namanya, anak-anak perempuan itu amat gembira dan mencoba menghafal goresan di tangannya. Kadang, Rohana membawa buku bacaan atau majalah langganan ayahnya ke teras rumah. Di sanalah ia akan bersenang-senang bersama teman-temannya. Membacakan cerita lucu dengan lantang sambil mengajari mereka cara membaca. Dari situlah Rohana mulai mengajari teman-teman dan tetangganya baca-tulis. “Ayah, saya punya cita-cita. Saya ingin melakukan sesuatu untuk mengubah perlakuan tidak adil pada perempuan terutama di bidang pendidikan dan pekerjaan,” kata Rohana kecil seperti dikutip Fitriyanti dalam Wartawan Perempuan Pertama Indonesia: Rohana Kudus. Setelah beberapa tahun di Simpang Tonang Talu, Rohana kembali ke kampung halamannya pada 1901. Kala itu usianya 17 tahun dan ibunya, Kiam, sudah empat tahun meninggal ketika melahirkan anak paling kecil. Ayah Rohana lantas menikah lagi dengan Asiah, adik Kiam. Di Koto Gadang, Rohana tinggal di rumah neneknya, Tuo Tarimin, dan ibu tiri sekaligus bibinya. Di rumah itu tinggal pula adik neneknya, Tuo Sini, yang amat dekat dengan Rohana. Kedua neneknya inilah yang mengajari Rohana menjahit, menyulam, dan menganyam. Membangun Amai Setia Di kampung halamannya, keinginan Rohana untuk memajukan pendidikan kembali tumbuh. Ia pun membuka kelas kecil di salah satu kamar di rumah neneknya. Selain tulis-menulis, kegiatan lain yang diajarkan Rohana ialah menjahit, menyulam, merenda, dan menenun. Mulanya, murid Rohana hanya tetangga-tetangga perempuan sebayanya. Lambat laun, yang datang makin beragam, tak terkecuali ibu-ibu dan anak-anak lelaki yang tak sekolah. Makin bannyaknya murid membuat Rohana berpikir untuk membuka sekolah. Untuk mewujudkan keinginan itu, Rohana menjaring dukungan dari para tokoh perempuan setempat. Ia lantas meminta bantuan Ratna Puti, istri seorang jaksa. Lewat bantuan Ratna Puti, sekira 60 perempuan yang terdiri dari istri para pemuka adat, agama, dan pejabat daerah (para Bundo Kanduang ) berhasil diundang dalam pertemuan perempuan Koto Gadang. Dalam pertemuan itu, Rohana mengutarakan pentingnya membuka sekolah bagi anak perempuan di Koto Gadang untuk menyiapkan mereka menjadi orang yang mandiri. “Khususnya bagi perempuan dari kalangan tidak mampu. Apabila perempuan bisa mencari nafkah untuk diri sendiri, paling tidak, kaum perempuan tidak akan bergantung pada orang lain. Hidup terus berjalan, masalah selalu ada. Kita tidak bisa diam dan hanya menangis,” kata Rohana dalam pertemuan tersebut. Pidato itu menggugah hati para Bundo Kanduang . Alhasil, mereka sepakat membentuk perkumpulan Kerajinan Amai Setia (KAS) pada 11 Februari 1911. Perkumpulan ini selanjutnya mendirikan sekolah kepandaian putri, mengajarkan baca-tulis huruf Arab, Arab-Melayu, dan latin. Rohana duduk sebagai presiden perkumpulan KAS dan sebagai direktris perguruan itu. Peresmian sekolah KAS disambut baik masyarakat dan beberapa orang Belanda dari jawatan pendidikan. Namun, sekolah KAS tak punya bangunan sendiri. Lokasi kelas masih di rumah nenek Rohana meski muridnya sudah bertambah banyak. Ruangan itupun menjadi sesak. Sementara, untuk membangun sekolah KAS Rohana tak punya uang. Ia lalu meminta bantuan pemerintah untuk membuat lotere, “permainan” yang sering dipilih pemerintah kolonial untuk mengumpulkan uang dari warganya. Setelah mengajukan rekes (surat permohonan), Rohana mendapat izin pemerintah untuk mengadakan lotere. Dikisahkan Tamar Djaja dalam Rohana Kudus, Srikandi Indonesia , uang yang berhasil dikumpulkan dari permainan lotere itu mencapai 10.000 gulden. Hasil lotere itulah yang digunakan Rohana untuk membangun gedung sekolah KAS. Pada 1917, Rohana yang sudah menikah dengan Abdul Kudus pindah ke Bukittinggi. Dengan dukungan suaminya, Rohana mendirikan Rohana School di rumah kontrakannya. Kerier mengajarnya terus berlanjut. Ketika berada di Medan, serikat kaum guru di sana memintanya menjadi guru Sekolah Dharma dengan gaji 50 gulden. Upah itu cukup tinggi mengingat gaji sebesar itu biasanya diterima oleh guru lulusan kweekschool. Di tempat barunya ini, Rohana terus menyebarkan pemikirannya bahwa perempuan harus mandiri dan berdaya. “Perempuan harus mendapat pendidikan dan perlakukan yang lebih baik, tidak untuk ditakut-takuti, dibodoh-bodohi, apalagi dianiaya,” kata Rohana.
- Janji Seorang Komandan DI/TII
PEMBERONTAKAN Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) merupakan pembangkangan bersenjata paling panjang dalam sejarah Indonesia. Usianya berlangsung hingga 13 tahun lamanya (1949-1962). Versi orang-orang DI/TII sendiri perlawanan itu bahkan masih berlangsung hingga tahun 1964. Di awal revolusi, para anggota DI/TII (sebagian besar berasal dari lasykar Hizbullah dan Sabilillah) sejatinya ikut bahu membahu melawan militer Belanda bersama TNI. Pada 1946-1947, mereka kerap melakukan patroli dan penghadangan bersama. “Tak aneh jika hubungan kami sangat akrab dan seperti saudara,” ujar Asikin Rachman (96), salah seorang eks anggota TNI di wilayah Tasikmalaya. Permusuhan mulai mewarnai hubungan orang-orang DI/TII dengan para prajurit TNI pada awal 1949. Saat itu, pimpinan tertinggi DI/TII (S.M. Kartosoewirjo) memerintahkan anak buahnya untuk memerangi para prajurit TNI yang pulang kandang ke Jawa Barat akibat bubarnya kesepakatan Perjanjian Renville. “Begitu pulang long march dari Jawa Tengah, eh di Jawa Barat, kami dibantai dan diracuni oleh orang-orang DI/TII,” ungkap Rachman. Puncak permusuhan terjadi manakala Kartosoewirjo memproklmasikan berdirinya Negara Islam Indonesia (NII) pada 7 Agustus 1949. Tersebutlah Batalyon F.22 Djaja Pangrerot pimpinan Mayor Soegih Arto. Begitu TNI hijrah ke Jawa Tengah pada awal 1948, Yon F.22 diperintahkan untuk tetap “bertahan” di Jawa Barat dan merubah kesatuannya menjadi sejenis pasukan liar. Perintah yang datang langsung dari atasannya itu (Letnan Kolonel Daan Yahya, Komandan Brigade Guntur Divisi Siliwangi) langsung disanggupi oleh Mayor Soegih. Usai TNI keluar dari Jawa Barat, Mayor Soegih kemudian “membubarkan” Yon F.22. Dia memecah batalyon-nya menjadi unit-unit setingkat antara kompi dan seksi (sekitar 100 orang). Salah satu unit itu bernama Pasukan Siloeman, yang dipimpin oleh orang kepercayaannya, Letnan Muda Achmad Soengkawa. Pasukan Siloeman dalam petualangannya ternyata merambah sampai jauh dari wilayah teritorial eks Yon F.22. Mereka melakukan penjelajahan bahkan hingga ke Cianjur Utara. Di wilayah tersebut, Pasukan Siloeman melakukan kerjasama dengan unit-unit bersenjata yang ada di bawah TII. Karena putus koordinasi dengan induk pasukan, lambat laun Letnan Muda Achmad Soengkawa terpengaruh ide-ide DI/TII dan memutuskan untuk bergabung dengan angkatan bersenjata NII itu. Soegih masih ingat, suatu hari dia mendapat surat dari seorang kurir yang dikirim langsung oleh Letnan Muda Soengkawa. Dalam surat tersebut, Soengkawa menyatakan bahwa dia mengundurkan diri dari Yon F.22 dan diangkat sebagai bupati sekaligus komandan resimen di DI/TII. “Tapi Pak, meskipun organisasi berlainan, Pak Soegih pribadi tetap bapak saya pribadi,” tulis Soengkawa seperti dikutip oleh Soegih Arto dalam bukunya Sanul Daca (Saya Nulis Anda Membaca) Pengalaman Pribadi Letjen (Purn.) Soegih Arto . Kata-kata Soengkawa itu kelak dibuktikannya dalam suatu peristiwa. Suatu ketika pada 1950, Mayor Soegih Arto mendapat tugas untuk memimpin suatu operasi pembersihan unsur-unsur DI/TII di Garut. Saat tiba di suatu wilayah pegunungan dekat selatan Majalaya, Bandung Barat, pasukan Soegih harus melewati suatu tebing yang potensial dijadikan tempat penghadangan oleh pasukan musuh. “Di atas tebing terdapat sebatang pohon beringin, saya melewati pohon beringin itu dengan selamat…” kenang Soegih. Namun baru saja lewat dari kawasan itu (sekitar 100 meter), Soegih yang menunggang seekor kuda, mendengar kegaduhan di belakangnya. Terdengar serentetan tembakan, disusul para pengawal-nya berlarian menaiki tebing itu sambil berteriak-teriak. Tak lama kemudian, mereka datang dengan membawa seorang tawanan DI/TII. Rupanya tawanan DI/TII itu adalah seorang prajurit pemegang Brengun. Dia ditugaskan untuk menghabisi pimpinan pasukan TNI (Mayor Soegih Arto) yang tengah menuju Garut itu. Namun baru saja dia membidikan arah moncong Brengun-nya, tetiba Achmad Soengkawa (komandan pasukan DI/TII tersebut) berteriak. “Jangan tembak! Itu bapak saya!”ujarnya sambil memukul kepala Si Pemegang Brengun. Merasa kesakitan dan pusing, Si Pemegang Brengun refleks melepaskan senjatanya hingga jatuh ke bawah. Saat diburu, semua pasukan penghadang dari DI/TII langsung melarikan diri, kecuali Si Pemegang Brengun yang sudah tak berdaya akibat kepalanya dipukul komandannya sendiri. Achmad Soengkawa sendiri berhasil lolos. “Andaikan Achmad Soengkawa tidak memukul anak buahnya yang hendak menembak saya, mungkin saya sudah mati ditembak peluru Brengun. Dia menepati janjinya bahwa dia akan memperlakukan saya seperti bapaknya pribadi,” kenang Soegih Arto. Sejak penghadangan itu, Soegih Arto tak pernah bertemu lagi dengan Achmad Soengkawa. Hingga sekitar tahun 1960-an, dia mendengar mantan anak buah kesayangannya itu tewas tertembak peluru TNI di Sukabumi.
- Tinju Chairul Hampir Mendarat di Wajah Aidit
SETELAH turun dari mobil dan hendak memasuki Istana Bogor guna mengikuti rapat kabinet di pertengahan 1965, Waperdam III Chairul Saleh didekati mantan Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo. Ali menyodorkan secarik kertas pada Chairul dan memintanya agar segera membaca. "Dalam rapat nanti, Engkau akan diserang karena secarik kertas ini," kata Ali pada Chairul sebagaimana dikutip Irna H.N. Soewito, dkk. dalam biografi Chairul Saleh Tokoh Kontroversial . Lantaran tak paham yang dimaksudkan Ali, Chairul pun hanya diam sambil mengantongi surat itu. Apa yang dikatakan Ali ternyata terbukti. Entah siapa yang memulai, surat kaleng yang diterima Chairul tadi dibahas dalam rapat juga. D.N. Aidit langsung marah begitu mengetahui surat itu mengatakan PKI hendak memberontak. Aidit menyerang balik Chairul dan bahkan menuduhnya antek CIA. "Tak mungkin PKI menyusun kata-kata seperti itu. Yang menulis itu adalah kelompok Partai Murba, Chairul pulalah yang mendapatkan surat tersebut," kata Aidit, dikutip Irna. Kata-kata Aidit membuat Chairul naik pitam. Perang mulut pun terjadi antara kedua tokoh pemuda di era ‘45 itu. Meski presiden sudah menengahi, saling serang verbal tetap berlanjut. Chairul yang sejak muda menggemari pencak silat, hampir tak bisa mengendalikan emosinya. "Chairul hampir mendaratkan tinjunya ke muka Aidit. Para pejabat tinggi yang hadir menyaksikan ini, mereka melerai. Kedua menteri tersebut masih tetap ngotot. Dengan wajah geram dan urat leher yang menegang, Chairul memegang bibir meja dan mau mengangkatnya," sambung Irna. Kemarahan Chairul akhirnya mereda setelah para pejabat lain menenangkannya dan presiden menutup rapat. Hubungan politik Chairul (Murba) dan Aidit (PKI) memang bak kucing dan anjing. Pertentangan keras keduanya tak kalah keras dari pertentangan Aidit (PKI) dengan AH Nasution (angkatan darat). "Di mata PKI, Sukarni dan Chairul Saleh ini dipakai oleh CIA untuk melawan, jadi yang nggak setuju PKI itu semua dicap CIA," kata Soebadio Sastrosatomo, sahabat Chairul dari golongan sosialis, dalam testimoninya. Namun, pertentangan keras itu tak mempengaruhi hubungan pribadi Chairul dan Aidit yang terus berjalan baik. Hal itu diketahui betul oleh Hasjim Ning, sahabat Chairul yang juga keponakan Bung Hatta. Hasjim kerap menyaksikan Chairul dan Aidit ngobrol santai, termasuk ketika Hasjim menemui Chairul usai diperiksa kejaksaan terkait tuduhan penggelapan devisa oleh perusahaannya. "D.N. Aidit pun mengucapkan selamat padaku ketika aku ketemu dia di kantor Chairul Saleh," kata Hasjim dalam otobiografinya, Pasang Surut Pengusaha Pejuang . Konflik Chairul-Aidit di rapat kabinet itu akhirnya diselesaikan dengan bantuan Menteri Penerangan Sudibyo. Sang menteri mengajak keduanya makan bersama dan meminta Chairul jadi tuan rumah. Usulan Sudibyo pun disambut persetujuan oleh Chairul maupun Aidit. Beberapa hari kemudian, makan bersama itu terlaksana di rumah Chairul dengan Sudibyo sebagai "pemimpin" acara.
- Dua Rute Migrasi Leluhur Nusantara
Penutur Austronesia yang diyakini bermigrasi dari Taiwan bukan satu-satunya populasi ras Mongoloid yang pernah mendiami Nusantara. Ada kelompok lain yang diperkirakan lebih dulu bermigrasi ke Nusantara, bergerak dari Asia Daratan, melewati rute barat. Austronesia adalah istilah yang diberikan ahli linguistik untuk menyebut rumpun bahasa yang dituturkan oleh orang di Kepulauan Indo-Malaysia dan kawasan Oceania. Rumpun bahasa Austronesia terdiri dari 1.200 bahasa dan digunakan oleh sekira 270 juta penutur. Sebelum masa kolonialisme Eropa, persebaran bahasa Austronesia mencapai lebih dari separuh belahan dunia. Penuturnya meliputi Madagaskar di ujung barat hingga Kepulauan Paskah di ujung timur Pasifik, serta dari Taiwan-Mikronesia di batas utara hingga Selandia Baru di batas selatan. Kepala riset Balai Arkeologi Yogyakarta, Harry Widianto , menjelaskan kawasan penutur bahasa Austronesia di Indonesia sangat luas. Indonesia berada di tengah kawasan sebaran. “Penghuninya melingkupi 60 persen lebih dari seluruh penutur Austronesia di dunia,” kata Harry . Mayoritas penutur bahasa Austronesia adalah orang-orang di Indonesia bagian barat. Sedangkan orang-orang di Indonesia timur hingga kini memakai bahasa non-Austronesia atau Bahasa Papua. Secara bahasa, warisan Austronesia ditandai dengan kata-kata yang mirip dalam bunyi dan makna. Beberapa kata, seperti bilangan satu sampai sepuluh di berbagai kawasan persebaran Austronesia, menunjukkan kekerabatan itu. Misalnya, dalam bahasa Jawa kuno, hitungan satu sampai sepuluh, yaitu sa , rwa , telu , pat , lima , nem , pitu , wwalu , sanga , sapuluh . Dalam bahasa Minangkabau, hitungan satu sampai sepuluh, yaitu: ciek , duo , tigo , ampek , limo , anam , tujuah , salapan , sambilan , sapuluah . Dalam bahasa Bugis, hitungannya menjadi seddi , dua , tellu , eppa , lima , enneng , pitu , aruwa , asera , seppulo . Tak jauh beda dengan Tagalog,bahasa resmi di Filipina, yaitu isá , dalawa , tatló , ápat , lima , ánim , pitó , waló , siyám , sampû . Dua Cabang Migrasi Banyak ahli mengatakan bahwa persebaran rumpun bahasa Austronesia yang luas disebabkan proses perpindahan bangsa penutur rumpun bahasa itu ke luar dari daerah asalnya. Peter Bellwood, dosen arkeologi di School of Archaeology and Anthropology Australian National University, dalam Prasejarah Kepulauan Indo-Malaysia , mengajukan teori bahwa daerah asal bangsa Austronesia adalah Taiwan dan pantai Cina bagian selatan yang kemudian turun ke selatan melewati Filipina dan masuk ke Nusantara. Daerah itu menghasilkan bukti budaya khas Austronesia yang paling tua di Asia Tenggara. Seperti situs Hemudu di teluk Hangzou, Provinsi Zhejiang yang berumur 7.000 tahun. Selanjutnya, pada 5.000 tahun yang lalu, mereka menyebar ke berbagai bagian dunia. Mereka tiba di Nusantara paling tidak 4.000 tahun yang lalu, sebelum mereka mencapai wilayah Pasifik pada 2.000 tahun yang lalu. “Rute migrasi mereka itu yang diyakini teori Out of Taiwan , yang menyebut wilayah Cina bagian selatan, kemungkinan wilayah Fujian atau Zhejiang, adalah daerah asal mereka sebelum bermigrasi ke Taiwan,” kata Harry. Bangsa Austronesia banyak dikaitkan dengan dimulainya budaya Neolitik di Nusantara. Munculnya budaya ini dianggap sebagai peristiwa penting dalam sejarah pendudukan manusia di wilayah itu karena membawa perubahan yang signifikan.Budaya khas ini ditandai oleh kehidupan masyarakat yang menetap, penjinakan tanaman dan hewan, peralatan batu yang dipoles, pembuatan tembikar, perhiasan, dan pemujaan leluhur. Semua itu diyakini dibawa para penutur Austronesia sembari mereka berdiaspora. Rupanya penutur Austronesia bukan satu-satunya yang dihubungkan dengan persebaran budaya Neolitik. Kemungkinan ini diungkap pula oleh Truman Simanjuntak, arkeolog senior di Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, dalam “The Western Route Migration: a Second Probable Neolithic Diffusion to Indonesia” termuat di New Perspectives in Southeast Asian and Pacific Prehistory . Herawati Supolo-Sudoyo, peneliti dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman. (Fernando Randy/Historia). Menurut Truman data baru dari berbagai disiplin ilmu mengungkapkan kemungkinan masuknya budaya Neolitik lain dari Asia Tenggara Daratan yang kemudian masuk ke Indonesia bagian barat. Ini nampak ketika melihat temuan di situs Gua Sireh di Sarawak, Malaysia (Borneo), memiliki lebih banyak kesamaan dengan yang ada di Semenanjung Malaysia dan Thailand daripada yang tersebar melalui jalur Taiwan dan Filipina. Rute migrasi ini pun mencapai Indonesia barat lebih awal ketimbang migrasi rute timur oleh para penutur Austronesia. Mereka diperkirakan mulai ber migrasi ke Nusantara sekira 4.300–4.100 tahun lalu. Pembawanya mungkin orang-orang yang berbahasa Austroasiatik , rumpun bahasa yang berbeda dengan Austronesia namun diduga tetap berasal dari satu rumpun yang sama. Truman menjelaskan,Austronesia dan Austroasiatikberasal dari bahasa Austrik yang dipakai di Yunan. Bahasa itu kemudian terpecah dan berkembang masing-masing. Bahasa Austroasiatik digunakan di sekitar Asia Tenggara Daratan. Adapun bahasa Austronesia digunakan di sekitar wilayah kepulauan, seperti Taiwan, Filipina, Pasifik, Madagaskar, hingga Pulau Paskah, sesuai persebarannya. Bedanya adalah produk budayanya. Austroasiatik dicirikan dengantembikar berhias tali. Sedangkan Austronesia ditandai dengan gerabah berslip merah. Bukti Genetika Kemungkinan leluhur Nusantara datang lewat jalur barat itu dibuktikan secara genetika. Herawati Supolo-Sudoyo, peneliti dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, menjelaskan adanya pembauran gen leluhur penutur Austronesia dengan penutur Austroasiatik yang menetap di Indonesia bagian barat. Misalnya, gen manusia Jawa membawa gen Austroasiatik dan Austronesia. Begitu pula manusia etnis Dayak dan manusia di Pulau Sumatra yang nampak pada etnis Batak Toba dan Batak Karo. Dua gen leluhur itu kian tak muncul semakin ke timur. Misalnya, penduduk Lembata dan Suku Lamaholot, Flores Timur, membawa genetika Papua (Melanesia) dengan persentase paling tinggi dan sedikit genetika bangsa penutur Austronesia. Lebih ke timur, misalnya penduduk di Pulau Alo r , semakin kuat genetika Papua nya . “Latar belakang genetis itu bergradasi. Dari (Indonesia, red .) barat Austronesia yang dominan, lalu gen Papua dimulai dari NTT, Alor, dan seterusnya (di Indonesia bagian timur, red .),” kata Herawati. Genetika juga membuktikan migrasi kelompok Austroasiatik ini terjadi lebih dulu dibandingkan migrasi Austronesia. Dari asalnya di Yunan, mereka tak pergi ke Taiwan tapi langsung ke selatan menuju Asia Tenggara Daratan, seperti Vietnam dan Kamboja, menyusuri Semenanjung Malaya hingga ke Sumatra, Jawa, dan Kalimantan. Dua kelompok sesama ras Mongoloid itu (penutur Austronesia dan Austroasiatik) kemudian berbaur di Sumatra, Jawa, dan Kalimantan . Jika kini seluruh masyarakat akhirnya berbahasa Austronesia, itu karena penuturnya lebih bisa mempengaruhi penutur Austroasiatik kendati lebih dulu tiba di Nusantara.
- Kisah Mantri Hutan Selamatkan Buron PKI
PADA pertengahan 1944, satuan Polisi Militer Angkatan Darat Jepang (Kempeitai) menggelar razia besar-besaran di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Mereka mengincar tempat-tempat persembunyian para pemberontak –dalam hal ini dimotori oleh PKI– yang kerap merepotkan pemerintah militer Jepang. Penyergapan oleh Kempeitai itu merupakan buntut dari kegiatan anggota PKI yang sejak 1942 terus melakukan gerakan bawah tanah menyebarkan propaganda anti-Jepang kepada masyarakat. Kegeraman militer Jepang semakin bertambah mana kala para kader PKI tersebut melakukan sabotase terhadap sejumlah fasilitas seperti lapangan terbang, penyulingan minyak, galangan kapal, kereta api, dan sebagainya. Tindakan-tindakan itulah yang membuat militer Jepang akhirnya memutuskan bergerak memberantas para pembuat onar ini. Dijelaskan Sidik Kertapati dalam Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945 bahwa antara 1942-1944 sudah banyak kader PKI yang ditangkap dan dihukum mati. “… Hampir semua (gerakan) PKI di Jawa Timur telah dihancurkan, kader-kadernya ditangkap dan kekejaman yakni siksaan berlanjut dan menjalar sampai ke Jawa Tengah dan Jawa Barat.” Meski banyak kadernya yang diberantas, aksi-aksi propaganda PKI itu tetap berlangsung. Salah satu alasannya adalah keberadaan tempat persembunyian di Karesidenan Pekalongan yang tidak mampu dihancurkan tentara Jepang. Selain karena lokasinya yang berada jauh di hutan jati Sukowati, Pemalang Selatan, keberadaan seorang mantri kehutanan asal Ambon bernama K. Holle juga turut memberi pengaruh besar. Berdasarkan penelitian Anton E. Lucas, dalam Persitiwa Tiga Daerah: Revolusi Dalam Revolusi , disebutkan kalau Holle merupakan penduduk Pulau Nusa Laut, Kepulauan Maluku, yang dilahirkan pada 1914. Ayahnya, Jonathan Holle, adalah seorang pendeta di Ambon. Setamat dari MULO, ia dikirim ke Malang untuk memperdalam bahasa Belanda sebelum memasuki Pusat Pendidikan Zending Protestan di Oestgeest, Belanda. Namun meski telah dikirim ke Malang Holle tidak kunjung menguasai bahasa Belanda. Ia pun gagal mengikuti jejak ayahnya menjadi pendeta. Holle lalu memutuskan melanjutkan pendidikannya di Sekolah Kehutanan di Bogor. Setelah selesai, ia memulai karirnya di hutan jati Sukowati sesaat setelah militer Jepang tiba. “Baru dalam masa pendudukan itu ia memasuki gerakan bawah tanah, dan membantu menyembunyikan tokoh-tokoh pelarian pada keluarga bawahannya,” tulis Lucas. Holle sangat mengenal daerah hutan Sukowati. Sebagian besar waktunya dihabiskan menjaga dan meneliti hutan tersebut. Karena itu ia mampu menyembunyikan dan mempertahankan keberadaan tempat pesembunyian para pelarian PKI di sana dengan baik. Ditambah, dengan memanfaatkan kedudukannya sebagai pejabat senior kehutanan di Sekowati, Holle dapat membuat kamuflase yang sangat rapi, yakni dengan mengangkat sejumlah pelarian menjadi bawahannya. Dituturkan oleh seorang bawahan Holle dari Lasem yang diwawancara Lucas pada 1976, Holle telah mendapat kepercayaan dari militer Jepang. Buktinya tindakan apapun yang ia lakukan, pemerintah tidak pernah mengusiknya. Bahkan ketika ia mengangkat delapan pelarian menjadi mandor pengawas penebangan pohon jati dan membantu pembagian jatah makanan serta pakaian bagi para romusha. “Setiap hari dapur di dekat rumah Holle menerima pemberitahuan berapa banyak romusha yang harus diberi makan. Kalau ada 30 orang, kami memuat kupon untuk 60 orang. Jatah beras secara resmi adalah 200 gram per hari, tetapi kami melipatduakannya. Kempeitai tidak pernah datang. Kalau bukannya Holle yang bertugas, tak seorang pun berani melipatduakan jatah. Ia menguasai segalanya.” Di samping menyediakan tempat bersembunyi, Holle juga aktif memberikan bantuan dana untuk berbagai keperluan kegiatan para buron PKI itu. Sebenarnya sumber dana tersebut tidak langsung diperoleh dari Holle melainkan datang dari pemerintah militer Jepang. Saat itu para pekerja romusha di Sukowati mendapat upah setiap harinya berdasarkan jumlah batang pohon yang berhasil dikumpulkan. Selain upah perhari, para pekerja itu mendapat hadiah berupa uang dan potongan kain setiap tiga bulan sekali. Hadiah itulah yang langsung diambil oleh para pejuang bawah tanah sebagai tambahan dari dana berbagai keperluannya. Menurut Lucas alasan mereka mengambil jatah itu adalah “Para romusha telah mendapatkan cukup jatah pangan dan pelayanan yang baik.” Menurut Holle, sumber dana lain (yang jumlahnya tidak kalah besar) diterima para pelarian dari seorang pemilik perkebunan teh dan karet asal Swiss bernama Victor Stober. Sang pengusaha yang posisinya terancam setelah Belanda keluar dari Indonesia, diselamatkan oleh Holle. Berkat bantuan itu, Stober memberikan sebagian hartanya kepada Holle dalam bentuk mata uang Belanda yang kemudian ditukarkan ke mata uang Jepang untuk kepentingan pergerakan. “Entah karena rasa terima kasih atas campur tangan dan perlindungan Holle, atau entah karena dipaksa, Stober juga memberikan kepada Holle senapan berlaras ganda dan sebuah radio yang sangat bermanfaat bagi kelompok Pemalang (anggota PKI),” ungkap Lucas. Peran Holle yang tidak kalah penting juga terlihat saat ia membantu kelompok Pemalang memperoleh informasi perkembangan peperangan, utamanya terkait posisi Jepang di dalam perang. Lewat perangkat radio yang diberikan Stober, Holle berhasil memecah kode pembatas yang dipasang Jepang sebagai bagian dari upaya memutus jaringan informasi mancanegara ke Indonesia. Caranya yaitu dengan membongkar bagian penerima sinyal di dalam perangkat radio, sehingga sinyal dapat diterima kembali. “Dan orang-orang Jepang tidak pernah mengetahui bahwa segelnya telah dirusak,” tulis Lucas.
- Jenderal Nas dan Kamerad Khruschev
ABDUL HARIS NASUTION dikenal sebagai jenderal antikomunis. Namun sekali waktu, Nas –panggilan akrabnya – juga bisa bersikap luwes mengalahkan egonya. Ada momen bersejarah dalam hidup Nas yang mengharuskannya rapat dengan tokoh komunis. Siapakah itu? “Minggu ke-3 Februari 1960, Indonesia sedang menerima kunjungan Nikita Khruschev PM USSR (Union of Soviet Socialist Republics),” tutur Nas dalam memoarnya Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 5: Kenangan Masa Orde Lama. Di Lapangan Udara Kemayoran, Nas dan Khruschev berkenalan. Keduanya berjabatan tangan. Melalui penerjemahnya, Khruschev berkata bahwa Nas masih muda. Demikianlah kesan pertama pemimpin salah satu negara komunis terbesar di dunia saat itu. Pertemuan berlanjut di Kedutaan Besar Uni Soviet. Dalam sebuah resepsi, Nas datang hampir bersamaan dengan Presiden Sukarno. Saat akan memasuki ruangan resepsi, para hadirin harus melalui patung Vladimir Lenin – tokoh revolusi Bolshevik yang begitu dihormati rakyat Soviet. Khruschev terlihat mengambil sikap sempurna yang diikuti rombongannya untuk melakukan penghormatan militer kepada patung Lenin. Ketika giliran Nas memasuki ruangan, dia hanya berlalu karena tidak mengetahui aturan protokol pihak Kedubes USSR harus demikian. Nas boleh lega aksi melengosnya tidak dipermasalahkan oleh Khruschev. Kendati demikian, Nas jadi kikuk karena baru sadar belakangan. Namun di luar dugaan, Khruschev malah menyambut dan merangkulnya. Keramahan itu menyebabkan Nas tertekan oleh perut Khruschev yang cukup tambun itu. Khruschev menyempatkan berbincang agak lama dengan Nas. Khruschev menanyakan kabar keluarga Nas. Pertanyaan itu dijawab Nas dengan mengatakan bahwa istrinya, Sunarti tengan menantikan kelahiran anak ke-2 mereka. Khruschev tanya lagi, apakah Nas menginginkan anak laki-laki atau perempuan. “Perkenalan ini saya rasakan aneh. Bagi saya, ia adalah pimpinan komunis sedunia dan saya tahu, bahwa saya adalah orang yang dianggap musuh nomor satu oleh komunis Indonesia,” kenang Nas. Selama safarinya di Indonesia, Khruschev menginap di paviliun Istana Bogor. Nas menyempatkan berkunjung ke sana atas permintaan Khruschev. Kepada Nas, Khruschev menyerahkan senapan berburu sebagai kenang-kenangan. Nas menuturkan, “(senapan) langsung ia taruh pada bahu saya pada posisi menembak, tapi ialah yang menarik platuknya ( trekker ). Kami sama-sama tertawa!” Keakraban yang ditampilkan Khruschev ternyata bukan basa-basi belaka. Padahal, pimpinan PKI, D.N. Aidit pernah menyampaikan cerita yang kurang positif mengenai Nasution kepada Khruschev dalam satu pertemuan di Moskow. Namun di luar dugaan, Khruschev menanggapinya dengan kata-kata penghargaan terhadap pribadi Nasution. Hal ini diketahui Nasution dari salah seorang anggota politbiro PKI yang telah bebas dari penjara Pulau Buru. “Memang pandangan-pandangan tersebut tidaklah bisa lepas sama sekali dari persoalan politik, namun juga tidak bisa lepas sama sekali dari pandangan manusianya,” ujar Nas. Khruschev sendiri dalam memoarnya Memoirs of Nikita Khruschev Volume 3: Statesman (1953—1964) menyinggung perkenalannya dengan Nas. Khruschev mengakui bahwa dia sering berbicara dengan Nas. Menurutnya, mereka saling menghormati satu sama lain. Dalam pertemuan tatap muka, Khruschev tidak mendapatkan gelagat Nas membenci Uni Soviet. “Dia tahu bagaimana menyembunyikan perasaannya, sehingga kami tidak punya alasan untuk berpikir bahwa ia memusuhi kami. Meski begitu, dia memang musuh,” tulis Khruschev.
- Ludruk Marhaen di Kiri Panggung
Gelanggang kebudayaan Indonesia pasca kemerdekaan memang cukup riuh. Bukan hanya pada ranah sastra, musik atau film, panggung seni pertunjukan pun turut masuk dalam pusaran di mana bangsa Indonesia tengah mencari identitas kebudayaannya. Salah satunya ludruk, teater rakyat asal Jawa Timur. Dan nama Ludruk Marhaen merupakan yang paling terkenal pada era 1950-an hingga 1965. Tak hanya menyematkan nama Marhaen yang terdengar politis, ludruk ini juga turut andil dalam pergulatan kebudayaan Indonesia saat itu. Semangat Revolusi Menurut Henri Supriyanto dalam Lakon Ludruk JawaTimur , Ludruk Marhaen didirikan oleh pelawak Rukun Astari dan Shamsudin pada 19 Juni 1949. Namun, kelompok ludruk asal Surabaya ini awalnya telah dibentuk sekitar tahun 1945, pasca Proklamasi. “Dan di jaman bergejolaknya api revolusi 1945 lahirlah sebuah rombongan ludruk yang terdiri dari anak-anak muda dan hidup terus sehingga kini di bawah nama 'Marhaen'. Sandiwara ini terpaksa menghentikan kegiatannya pada tahun 1948 karena terserak-sebarnya para anggota-anggotanya dan pada permulaan tahun 1950 dibentuk kembali dan berkedudukan di Surabaya,” tulis Harian Rakyat , 14 April 1958. Setelah lahir kembali pada 1950, Ludruk Marhaen mulai aktif mementaskan lakon-lakon terutama terkait revolusi dan patriotisme. Ludruk ini kemudian dikenal luas tak hanya di wilayah Surabaya maupun Jawa Timur. “Sejak itu sandiwara ludruk membuka tradisi baru dalam sejarah ludruk: drama tragedi dipanggungkan, dan bersamaan dengan zamannya, ia sepenuhnya didukung oleh gelora dan api patriotisme tetapi tanpa kehilangan wataknya yang khas sebagai ludruk yaitu satirenya. Dari saat berdirinya itulah, kini Ludruk Marhaen tetap mempertahankan tradisinya sendiri dan ia tetap memelihara kecintaan dan kesayangan publik terhadapnya, sejak dari Bung Karno sampai rakyat jelata,” tulis Harian Rakyat . James L. Peacock dalam Rites of Modernization: Symbolic and Social Aspects of Indonesian Proletarian Drama, menyebut Ludruk Marhaen muncul pada 1945 sebagai bagian dari sayap drama Pesindo (Pemuda Sosialis Indonesia), yang pada 1950 menjadi Pemuda Rakyat. Meskipun Ludruk Marhaen tidak memiliki hubungan resmi dengan PKI atau Pemuda Rakyat, banyak aktornya terpegaruh ideologi komunis melalui ceramah, menghadiri kongres Pemuda Rakyat, atau ambil bagian dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Menurut Supriyanto, Rukun Astari mengatakan bahwa Ludruk Marhaen tidak berbau politik. Namun, Shamsudin mengatakan bahwa Ludruk Marhaen condong ke perjuangan kaum kiri. Dalam wawancara dengan Peacock, Shamsudin mengatakan bahwa panggung ludruk memang telah menjadi bagian dari propaganda politik. “Mereka yang mengkritik ludruk karena tidak menjadi seni, tidak berani berbicara tentang bagaimana ludruk diberangus oleh pemerintah kolonial, bagaimana Pak Gondo disiksa oleh Jepang karena perbuatannya. Kritik terhadap mereka yang menikmatinya... bagi kita di ludruk yang lahir dan menjadi hebat dalam kuali revolusi, ludruk menarik warisan heroik dari generasi rahim revolusioner!” kata Shamsudin. Pak Gondo yang dimaksud Shamsudin adalah Gondo Durasim atau yang lebih dikenal dengan sebutan Cak Durasim. Dia adalah seniman ludruk yang menciptakan parikan atau semacam pantun berbunyi, “ Pagupon omahe doro, melu Nippon tambah soro ” yang artinya “Pagupon rumah merpati, ikut Nippon tambah sengsara.” Parikan itu membuat Jepang geram. Sang seniman dibui dan setahun setelahnya meninggal dunia. Sukarno tertawa saat menonton Ludruk Marhaen di Istana Negara, 11 April 1958. (Perpusnas RI). Ludruk Marhaen dan Sukarno Di antara kelompok ludruk Surabaya, Ludruk Marhaen paling sering mendapat undangan Presiden Sukarno untuk pentas di Istana Negara. “Berdasarkan pengakuan Rukun Astari, tercatat 16 kali Ludruk Marhaen menerima undangan Presiden Sukarno,” kata Supriyanto. Dalam pidato Sukarno, Tjapailah Bintang-Bintang Di Langit! (Tahun Berdikari) tahun 1965 Ludruk Marhaen juga disebut Bung Besar. Sukarno mengatakan: "Kalau kaum tani menghasratkan tanah, tanah 'senyari bumi', apakah itu tidak masuk akal? Aku teringat kepada seniman-seniman Ludruk Marhaen yang mengatakan, 'Ia kalau punya pacul tapi ndak punya tanah, kemana pacul itu mesti dipaculkan!'" Beberapa lakon luruk seperti, Kunanti di Djogja , Memburu Menantu , Mawar Merah di Lereng Bukit , dan Pak Sakerah pernah difilmkan. Film Kunanti di Djogja digarap oleh sutradara Lekra, Tan Sing Hwat. Film ini kemudian menerima penghargaan kategori skenario terbaik dan hadiah khusus pada Festival Film Indonesia 1960. Sementara itu, pada 1961, kelompok ludruk bernama Tresno Enggal diindoktrinasi melalui ceramah oleh perwira militer yang menekankan tema "perang melawan Imperialisme dan Kolonialisme" dan "Cegah revolusi multi-level Sukarno dengan membangun negara secara moral, ekonomi, dan budaya,". Sejak itu Tresno Enggal membagi waktunya antara pertunjukan komersial untuk keuntungan sendiri dan tampil di kamp militer. “Marhaen dan Tresno Enggal adalah dua kelompok yang paling terkenal karena loyalitas partai atau faksi mereka: Marhaen kepada PKI, Tresno Enggal kepada tentara,” sebut Peacock. Selain dua ludruk tersebut, pada masa yang sama, di Surabaya berkembang berbagai ludruk seperti Ludruk Mari Katon, Ludruk Massa, Ludruk Sari Rukun, Ludruk Irama Enggal, Ludruk Massa Rukun, dan Ludruk Panca Bakti. Nama Marhaen ternyata tak hanya dipakai oleh Ludruk Marhaen Surabaya. Di Jombang, terdapat beberapa ludruk yang menyematkan nama Marhaen seperti Ludruk Banteng Marhaen, Ludruk Suluh Marhaen, dan Ludruk Marhaen Muda. Sebagian besar kelompok ludruk tersebut memiliki kecenderungan mendukung politik berhaluan kiri. Namun pasca peristiwa G30S 1965, semua hal yang terkait atau dikaitkan dengan PKI, termasuk ludruk kena imbasnya. Organisasi-organisasi ludruk dilebur dan pembinaannya berada di bawah militer. Ada pula yang senimannya dikirim ke Pulau Buru. Eks Ludruk Marhaen akhirnya dilebur menjadi Ludruk Wijaya Kusuma Unit I.
- Tjong Ling, Mata-mata Sultan Banten
Pramoedya Ananta Toer ditahan hampir setahun (1960-Agustus 1961) karena menerbitkan buku yang bersimpati kepada Tionghoa, berjudul Hoakiau di Indonesia . Buku itu berisi kumpulan tulisannya setiap minggu di Bintang Timur , koran Partindo (Partai Indonesia). Dalam buku itu, Pram menyebut bahwa Hoakiau (orang Tionghoa) di masa penjajahan Belanda mempunyai sumbangsih yang bisa diperhitungkan, tidak dapat disangkal, sekalipun ada juga Tionghoa yang merusak jasa itu. Misalnya, Sacanegara, seorang Tionghoa, berkong-kalikong dengan Ratu Syarifah Fatimah dari Banten, seorang keturunan Arab, yang bekerja sama dengan Belanda hendak menguasai Kesultanan Banten. Pram mengutip buku Fakta yang Dilupakan karya E.H. Bahruddin untuk menyebut contoh orang Tionghoa yang berjasa. Bahruddin menulis, karena Tionghoa bisa berdagang dan berhubungan, tidak jarang mereka menjadi mata-mata: “Demikian Sultan Ageng mempergunakan seorang Tionghoa sebagai mata-mata untuk menyelidiki Pasar Ikan dan kedudukan Belanda. Tionghoa itu yang dalam dokumen Belanda dinamakan de Chinees Jonge-ling (rupa-rupanya Tjong Ling atau Lin) kemudian ditangkap dan digantung setelah disiksa. Karena sikap Tionghoa yang sependirian dengan rakyat Indonesia, wajarlah bahwa VOC mencurigai mereka.” Pram tidak menjelaskan siapa Tjong Ling, mungkin karena Bahruddin juga hanya menyebut namanya tanpa menguraikan sepak terjangnya sebagai mata-mata? Mungkin karena itu pula, penulis sejarah Tionghoa yang mengutip buku Pram, berbeda soal siapa yang memerintahkan Tjong Ling menjadi mata-mata: Sultan Agung (berkuasa 1613-1645) atau Sultan Ageng (berkuasa 1651-1683)? Benny G. Setiono dalam bukunya yang tebal (lebih dari seribu halaman), Tionghoa dalam Pusaran Politik , menyebut Tjong Ling menjadi mata-mata Sultan Agung dari Mataram ketika menyerang VOC di Batavia. “Sultan Agung dari Mataram yang bertikai dengan kerajaan Banten meminta VOC untuk bersekutu dan membantunya, tetapi Belanda menolaknya. Belanda lebih menyukai bila tanah Jawa terpecah-pecah. Akibatnya Sultan Agung yang marah berusaha menyerang Batavia pada 1628 dan 1629,” tulis Benny. Sedangkan penulis lain, Hembing Wijayakusuma dalam Pembantaian Massal 1740: Tragedi Berdarah Angke , menyebut Tjong Ling menjadi mata-mata bagi Sultan Ageng Tirtayasa. Pada masa itu, nasionalisme warga etnis Tionghoa sudah terlihat sejak VOC berniat menguasai Banten. Sumbangsih warga Tionghoa kepada perjuangan rakyat Banten melawan VOC tidak dapat begitu saja dilupakan. Akan tetapi, lanjut Hembing, sulit untuk menentukan jumlah mereka secara pasti sebab mereka telah banyak berasimilasi, sehingga bukan saja menggunakan nama pribumi tetapi juga memasuki adat istiadatnya. “Salah seorang di antaranya yaitu Tjong Ling, yang membantu Sultan Ageng Tirtayasa dengan cara menjadi mata-mata bagi Banten, dalam menyelidiki gerakan Belanda. Dalam sebuah dokumen Belanda, Tjong Ling dinamakan de Chiness Jonge-ling , yang kemudian ditangkap dan digantung setelah disiksa oleh Belanda,” tulis Hembing. Agaknya memang yang lebih tepat adalah Tjong Ling mata-mata Sultan Ageng Tirtayasa. Sebab, Bahruddin pun menyebutnya “Sultan Ageng” bukan “Sultan Agung.” Dan dia disebut setelah Sacanegara, seorang Tionghoa yang merusak jasa kaum Tionghoa. Dia bersekutu dengan perempuan keturunan Arab, Ratu Syarifah Fatimah, istri Sultan Zainul Arifin (1733-1748), untuk menguasai Kesultanan Banten. Supono Soegirman, mantan anggota Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin, sekarang Badan Intelijen Negara), dalam Intelijen: Profesi Unik Orang-orang Aneh , menjelaskan bahwa Sultan (Supono menyebutnya Sultan Agung) sudah paham benar arti penting seorang “agen lokal” yang beretnis Tionghoa, dengan pertimbangan agen yang diduga bermatapencaharian sebagai pedagang ini pasti memiliki “akses” dan kemudahan untuk mendekati sumber informasi terkait pelabuhan Sunda Kelapa dan basis-basis tentara Kompeni. “Kesediaan Tjong Ling membantu Sultan diduga bermotif kenyamanan berusaha…Di sinilah, kejelian dan keberhasilan Sultan yang telah merekrut Tjong Ling dengan memanfaatkan sentimen ‘nasionalisme’ dicampur dengan sentimen kenyamanan mencari nafkah,” kata Supono, yang pernah menjabat Ketua II Sekolah Tinggi Intelijen Negara yang didirikan BIN. Menurut Supono, nasib Tjong Ling yang tertangkap, disiksa, dan digantung, memang sebuah risiko yang harus dihadapi oleh seorang yang melakukan kegiatan intelijen bila gagal melindungi kedoknya. “Betapapun,” kata Supono, “Tjong Ling merupakan orang Tionghoa nasionalis yang pemberani.”






















