Hasil pencarian
9823 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Baret Merah Bikin Inggris Berdarah-darah
SETELAH pertempuran salah paham antara Yon 1/RPKAD melawan Yon 454/Diponegoro di luar PAU Halim Perdanakusuma pada pagi 2 Oktober 1965 mereda, Sersan mayor (Serma) Soediono mendapat perintah dari Kapten Oerip, atasannya di Kompi Ben Hur. Soediono diperintahkan sang komandan masuk ke Halim untuk menemui Komandan RPKAD (kini Kopassus) Kolonel Sarwo Edhie Wibowo guna melaporkan perkembangan situasi dan minta arahan lebih lanjut. Ditemani Kopral Miptah, Serma Soediono lalu berjalan kaki masuk ke Halim. Sempat salah masuk ke markas Kolaga, Soediono dan Miptah berhasil menemui Sarwo Edhie di Makoops AURI. Sarwo Edhie berada di Makoops AURI ditemani sejumlah petinggi AURI seperti Laksda Udara Sri Mulyono Herlambang. Di sana, Sarwo Edhie mendapatkan penjelasan bahwa AURI tidak punya rencana membombardir titik-titik vital AD sebagaimana diyakini Pangkostrad Mayjen Soeharto dan pimpinan AD. Maka begitu berhasil menemui sang kolonel, Soediono langsung menjalankan tugasnya. Dia diterima dengan baik oleh Sarwo Edhie. “Kolonel Sarwo Edhie mengenalnya dengan baik, karena dialah yang memberikan kenaikan pangkat luar biasa, menjadi Sersan Mayor di perbatasan Kalimantan Barat, berkat keberhasilannya menghancurkan perkubuan Inggris di Mapu, Sarawak,” tulis Aristides Katoppo dan kawan-kawan dalam Menyingkap Kabut Halim 1965 . Soediono merupakan anggota Kompi B “Ben Hur”, kompi yang dipilih untuk menjalankan tugas menghancurkan pos terdepan Inggris di Desa Plaman Mapu, Sarawak, sekira satu kilometer dari perbatasan Kalimantan Barat, pada 27 April 1965. “Plaman Mapu adalah serangan utama terhadap pangkalan Inggris dan dilakukan oleh pasukan berpengalaman sebagai bagian dari strategi eksperimental Indonesia bahwa pasukan kecil dapat mengalahkan pasukan gerilya yang lebih besar,” tulis Nicholas van der Bijl dalam Confrontation the with Indonesia, 1962-1966 . Serangan itu merupakan penjabaran lapangan dari keinginan politik Presiden Sukarno dalam Konfrontasi dengan Malaysia. Perang tanpa deklarasi itu tak kunjung menampakkan hasil gemilang bagi Indonesia setelah lebih dua tahun dijalankan. Sebaliknya, Konfrontasi semakin mempersulit posisi politik Sukarno di dalam negeri karena perekonomian terkesampingkan dan adanya penentangan dari angkatan darat. “Konfrontasi membantu menyulut masalah ekonomi Indonesia, menjadi semakin vital bagi masa depan politik Presiden Sukarno untuk membuat pasukannya harus mengamankan kemenangan militer yang menentukan. Inilah latar belakang Pertempuran Plaman Mapu,” ujar sejarawan Charles Allen dalam The Savage Wars of Peace: Soldiers’ Voices, 1945-1989 . Adanya keinginan untuk membuat satu serangan fenomenal itu bertemu dengan keinginan Sarwo Edhie yang ingin menguji konsepsinya. Saat mengikuti kursus Staff Queenschliff di Australia, sekutu Inggris dalam Konfrontasi, Sarwo Edhie pernah mendiskusikan konsep itu dengan rekannya asal Inggris, lawan Indonesia dalam Konfrontasi, Mayor Jeremy Moore. Edhie yakin pengerahan sedikit pasukan khususnya jauh lebih efektif untuk melumpuhkan lawan ketimbang menggunakan pasukan besar gerilyawan. Konsepnya terinspirasi dari pasukan Belanda ketika melakukan agresi di Perang Kemerdekaan. Meski jumlahnya kecil, mereka dapat mengalahkan pasukan gerilya yang jumlahnya jauh lebih besar. “Wibowo yakin bahwa para komandannya dapat melakukan hal yang sama. Wibowo memilih kompi FDL di Plaman Mapu untuk menguji teorinya,” sambung van der Bijl. Pos Plaman Mapu, yang terletak di atas sebuah bukit, dipilih sebagai sasaran karena sering digunakan untuk mendrop pasukan elit Inggris SAS sebelum melakukan patroli di hutan-hutan perbatasan atau penyusupan ke wilayah Indonesia. Selain itu, pos tersebut juga dipilih jadi sasaran karena pada awal 1965 dijaga Kompi B Batalyon Ke-2 Resimen Parasut (2 Para) AD Inggris yang personilnya minim jam terbang. Lima belas dari personil Kompi B masih berusia 18-19 tahun dan baru saja menyelesaikan pendidikan singkat jungle warfare di hutan Semenanjung Malaya pada Februari. Untuk mewujudkan rencana itu, RPKAD mengirim satu batalyon dari Grup 2 pada Februari. Setelah mendarat di Pontianak, mereka berjalan kaki menuju pos di Balai Karangan. Dari sana, mereka terus melakukan pengintaian ke pos terdepan Inggris dan mengonsep serangan. Mereka mendapati ada hari-hari di mana pos Inggris hanya dijaga oleh satu pleton karena dua pleton lain berkeliling patroli. Setelah sebulan mengadakan pengintaian dan persiapan, pada 25 April Komandan Batalyon Mayor Sri Tamigen memutuskan tiga kompi, termasuk Kompi Ben Hur, sebagai pelaksana misi, sementara satu kompi lain bersiaga di wilayah Indonesia. Selepas magrib tanggal 26 April yang diiringi hujan, sekira 200 personil RPKAD itu berjalan menuju Mapu dengan bersenjatakan masing-masing senapan otomatis AK-47. Kompi itu juga membawa bren, mortir, peluncur roket serta Bangalore torpedo untuk menyingkirkan rintangan kawat atau ranjau. Saat itu, pos Mapu dijaga oleh 36 personil. Pos itu terbagi ke dalam empat seksi, masing-masing seksi dilengkapi senapan mesin, dengan pusat komando di tengah. Selain dilengkapi bungker dan parit perlindungan, pos itu dipagari kawat berduri, ditanami ranjau, dan dilindungi dua mortir 3 inci. “Pos ini bila dihujani peluru dari luar perimeter tidak akan menghasilkan apa-apa karena lubang-lubang di pos-Ubang sangat kuat perlindungannya. Satu-satunya cara untuk merebut pos ini adalah mendorong ke perimeter dan bertarung dari jarak dekat,” kata Mayor Sri Tamigen dalam laporannya, dimuat di paradata.org.uk . Namun, suara hujan membuat suara langkah-langkah manusia atau suara lain tak terdengar dari pos itu ketika peluru-peluru pasukan RPKAD menghujani pos pukul 5 pagi. “Dalam kegelapan total dan hujan lebat, pasukan parasut Indonesia menyerang Plaman Mapu dengan kekuatan penuh senjata superior mereka, menembakkan artileri, mortir, senapan mesin, dan roket langsung ke salah satu segmen (pos, red .) Inggris, segera memangsa posisi dan salah satu mortir,” tulis buku terbitan RW Press Paratroopers, Ready for Anything: From WWII to Afghanistan . “Dalam rentetan tembakan pertama, salah satu dari dua posisi mortir kami dihancurkan, bersama dengan setengah dari orang-orang yang memegang mortir. Mereka telah membunuh dua tentara dan melukai beberapa lainnya yang membuat jumlah kami turun menjadi delapan belas yang berdiri dan mampu bertempur,” kata Serma John Williams, dikutip Allen. Mayor Jon Fleming, komandan Kompi B, baru tahu jika posnya diserang setelah seorang petugas sinyal memberitahunya. “Sambil meletakkan kainnya di atas sarung yang ia kenakan, ia (Fleming) keluar ke malam yang basah diterangi ledakan, tracer , dan suar. Kedua tangki air tertembak, seperti juga area di sekitar menara penjaga. Meski personil para-nya berdiri dengan cepat, sebuah mortir membunuh Prajurit Smith dan melukai dua lainnya ketika mereka bergegas ke mortir di dekat gudang,” sambung Allen. Seluruh personil di pos Inggris kaget oleh serangan kilat RPKAD itu dan secepat mungkin meraih senjata untuk mengadakan perlawanan. Serma Williams langsung berlari menuju sektor tempat pertempuran berlangsung. “Ia bertemu Prajurit Kelly, seorang penembak mesin dari bunker yang telah diserang, linglung karena kepalanya tertembak dua kali dan terus mengacungkan pistol Browning 9mm-nya ke hampir semua yang bergerak. Williams dengan tenang melucuti dirinya dan menginstruksikan seorang prajurit untuk membawa Kelly ke Pos Komando tempat para korban sedang berkumpul,” sambung Allen. Mayor Fleming langsung melaporkan serangan itu ke atasannya, Letkol Ted Eberhardie. Karena setiap kali Fleming akan kembali ke lokasi pertempuran dia dipanggil kembali ke radio, dia lalu menyerahkan kepada Serma Williams. “Dia (Williams) berkeliaran, meraih sebanyak mungkin prajurit yang bisa dikerahkannya, dan berusaha membawa mereka ke posisi yang menguntungkan, tetapi, ketika dia melakukannya, pasukan Indonesia meledakkan mortir, menyebar prajurit dan hanya menyisakan lima kaki. Williams melesat ke salah satu posisi senapan mesin, dijaga Kopral Malcolm Baughan dan beberapa lainnya sementara mereka memaksa musuh kembali ke parit,” sambung Paratroopers, Ready for Anything. Pertempuran yang melibatkan pertarungan jarak dekat itu akhirnya berubah begitu fajar menyingsing dan pasukan Inggris mulai mendapatkan jarak pandang yang baik. Ketika pasukan Gurkha tiba untuk membantu pasukan pos jaga Inggris sekira dua jam dari awal pertempuran, pasukan Indonesia telah mundur. Pertempuran Plaman Mapu pun berakhir.*
- Supeni, Kim Il-sung, dan Ganefo
PRESIDEN Sukarno mengangkat Supeni, politisi perempuan PNI, sebagai duta besar keliling. Ia ditugaskan meyakinkan pemimpin negara-negara Asia-Afrika untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Non Blok pertama di Beograd, Yugoslavia, pada 1–6 September 1961. Di luar tugas resmi itu, saat diundang ke Korea Utara, Supeni sempat menyinggung soal pesta olahraga yang sedang dipersiapkan oleh Sukarno untuk menandingi Olimpiade, yaitu Games of The New Emerging Forces (Ganefo). "Meskipun Bu Peni tidak punya urusan kegiatan apa-apa dengan Ganefo, tapi dalam pembicaraan dengan Kim Il-sung, sepintas lalu disinggung juga masalah ini," tulis Paul Tista dalam Supeni, Wanita Utusan Negara .
- Martir Anarkis pada Peristiwa Mei 1886
1 MEI 1886. Puluhan ribu buruh di Chicago turun ke jalan. Mereka menuntut delapan jam kerja dalam sehari. Aksi itu disambut oleh senjata api polisi sehingga menggerakan aksi lebih besar lagi yang kemudian menjadi cikal bakal May Day atau Hari Buruh Internasional. Kala itu, Chicago menjadi pusat gerakan anarkis terutama di kalangan imigran Jerman dan Ceko. Pada Kongres Internasional Kedua 1883 di Pittsburgh, mereka mengirim lebih banyak delegasi daripada kota-kota lain. Jumlahnya bahkan mencapai setengah dari total keanggotaan Amerika Serikat. Tiga makalah anarkis juga diterbitkan di Chicago dan dibaca banyak kelas pekerja. “Agitasi mencapai puncaknya di Chicago pada tahun 1886. Pada 3 Mei polisi menembaki kerumunan di luar pabrik McCormick Reaper Works yang telah mengunci orang-orangnya, membunuh beberapa orang,” tulis Peter Marshall dalam Demanding The Impossible, A History of Anarchism.
- Wabah Penyakit Kala Puasa Ramadan
WABAH penyakit beberapa kali menyerang umat muslim saat Ramadan. Tak jarang pada bulan puasa itu wabah mencapai pucaknya. Para ulama pun mencatat wabah itu dalam karya-karyanya. Karya-karya itu lahir saat Maut Hitam (Black Death) menyergap. Wabah ini dengan dahsyat menyebar melintasi padang rumput Asia Tengah ke pantai-pantai Laut Hitam, tak terkecuali kota-kota besar dan kecil Islam. "Persebaran wabah ini sangat terkait dengan aktivitas keagamaan," kata Oman Fathurahman, Guru Besar Filologi UIN Syarif Hidayatullah dalam seminar daring lewat aplikasi zoom tentang "Wabah dalam Lintasan Sejarah Umat Manusia" yang diselenggarakan Museum Nasional pada 21 April 2020.
- Temu Legenda Banyuwangi
IKON kesenian gandrung Banyuwangi, Jawa Timur, unjuk kebolehan. Meski usianya menua, gerakan tangan, pinggul, kaki, dan kepalanya masih lincah dan luwes. Mengikuti irama gamelan yang rancak. Sesekali, dengan cekatan, tangannya melempar sampur. Begitulah Temu menari kala mengisi acara Sarasehan Budaya “Masa Depan Kesenian Gandrung di Banyuwangi” yang merupakan bagian dari Festival Lembah Ijen, medio Februari lalu. Temu dikenal sebagai maestro gandrung Banyuwangi. Sebagai penari gandrung senior, Temu memiliki kemampuan dalam bernyanyi, menari, dan wangsalan . “Penari gandrung sekarang, ada yang bisa menyanyi tapi tak bisa menari, atau ada yang bisa menari tapi tak bisa menyanyi –sehingga yang menyanyi adalah orang lain,” ujar Temu dalam wawancara yang dimuat buku Perjalanan Kesenian Indonesia Sejak Kemerdekaan suntingan Philip Yampolsky. Sang Primadona Nama kecil Temu adalah Misti. Dia lahir 20 April 1953 di Dusun Kedaleman, Desa Kemiren, sekira tujuh kilometer dari Kota Banyuwangi. Misti adalah anak kedua dari pasangan Mustari dan Supiah. “Darah seni Temu mengalir dari sang ayah yang merupakan pemain ludruk dan biasa membawakan lagu jula-juli yang disebut kidungan ludruk . Darah seni juga dimiliki sang kakek, yakni Samin. Beliau ahli dalam seni tradisi mocoan lontar ,” tulis Dwi Ratna Nurhajarini dalam artikelnya “Temu: Maestro Gandrung dari Kemiren Banyuwangi”, dimuat Patrawidya , Desember 2015. Misti kecil sering sakit. Karena khawatir, ibunya bernazar kalau sudah besar Misti menjadi gandrung. Mirip dengan kisah Semi yang dikenal sebagai penari gandrung pertama. Namun jalan Temu menjadi penari gandrung lebih berliku. Karena orangtuanya bercerai, Misti kecil tinggal bersama keluarga bude dan pakdenya. Karena sejak kecil sakit-sakitan, Misti dibawa dan diobati ke seorang dukun. Misti juga dibawa ke juragan gandrung bernama Mbah Ti'ah. Oleh Mbah Ti’ah, dia diharapkan menjadi gandung. “Kesembuhan Misti dari sakit menurut istilah dari juragan Ti'ah adalah nemu nyawa (mendapatkan kehidupan lagi setelah sakit parah). Dari istilah nemu kemudian berubah menjadi Temu,” tulis Dwi. Temu mulai intens belajar gandrung. Menginjak usia 15 tahun, dia manggung untuk pertama kali di Dusun Gadok, tak jauh dari tempat tinggalnya. Pementasan ini merupakan fase wisuda sebagai penari gandrung atau biasa disebut meras . Nama Gandrung Temu kemudian melekat padanya, kendati o rang Using sering menyebutnya dengan nama Gandrung Temuk atau Mak Muk. Dengan suara dan gerak khas yang tak dimiliki gandrung lain, Temu perlahan dikenal orang. Dia kerap ditanggap. Jadwal pentasnya padat; bisa sampai 20 kali dalam sebulan. Temu jadi primadona. Penari gandrung Banyuwangi, Jawa Timur. (@banyuwangi_kab) Album Rekaman Selain teknik menari yang bagus, Temu piawai melantunkan gending atau lagu gandrung. Dengan cengkok khas Osing, suara melengking tinggi dan jelas, keindahan suara Temu disebut-sebut sebagai eksotisme dari timur. “Memang sulit untuk mempelajari lagu-lagu gandrung, saya tak tahu kenapa,” ujar Temu dalam buku Yampolsky. Karena keindahan suaranya, Temu dilirik perusahaan rekaman. Sejumlah album lagu gandrung direkam dan dijual dalam bentuk kaset atau CD. Penjualannya lumayan laris di pasaran. Farida Indiriastuti dalam “Dari Kemiren ke Hollywood” di Kompas , 3 November 2007, mengambil sampel album kompilasi Temu Disco Etnik Banyuwangi yang direkam Sandi Record. Album ini mampu menembus angka penjualan fantastis: 50.000 VCD dan 10.000 kaset dengan distribusi meliputi Jawa, Madura, dan Bali. “Lagu bahasa Osing itu disenangi. Lagunya sendiri gak dimengerti. Tapi orang senang. Enak didengar,” ujar Hasnan Singodimayan, budayawan Banyuwangi, dalam tayangan berjudul “Bahasa Using (Osing) Banyuwangi” produksi Balai Pelestarian Nilai Budaya D.I. Yogyakarta yang beredar di YouTube . Suara emas Temu bahkan melanglang hingga ke mancanegara. Pada 1980-an, Smithsonian Institution dari Amerika Serikat melakukan proyek pendokumentasian dan penerbitan musik rakyat bekerjasama dengan Masyarakat Musikologi Indonesia –kini, Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia. Mereka membuat 20 volume atau album yang dilabeli Music of Indonesia . Volume pertama adalah Gandrung Banyuwangi dengan judul Songs Before Dawn yang rilis tahun 1991. Gandrung Banyuwangi dibawakan oleh Temu dan direkam di sebuah kebun pada malam hari di Desa Kemiren. Rekaman dalam bentuk CD itu berisi 11 lagu gandrung. Di Indonesia, album ini rilis enam tahun kemudian dengan judul Nyanyian Menjelang Fajar . Seperti judul albumnya, 11 lagu itu biasa dibawakan kala seblang subuh atau bagian terakhir dari pertunjukan gandrung. Pada bagian ini, penari gandrung menari sendiri sambil melantunkan lagu-lagu gending untuk mengakhiri pertunjukan. Tujuannya mengingatkan penonton atau para tamu untuk kembali ke rumah, bertemu dengan keluarga, dan memenuhi kewajiban sebagai kepala rumah tangga. Dewasa ini seblang subuh jarang dipentaskan. Songs Before Dawn rupanya diperjualbelukan secara luas dan laku. Pada medio Juli 1992 saja, catat Farida, amazon.com (AS) mencatat angka penjualan sebanyak 284.999 keping CD dalam tempo 24 jam. Belum lagi kalau dihitung angka penjualan di negara-negara lain dalam format CD, kaset, dan unduhan via internet. Popularitas Temu tak berbanding lurus dengan penghasilan yang didapatkannya. Temu tetap hidup sederhana. Dengan kesederhanaan pula dia menjalani hidup sebagai seniman. Berkat Temu, gandrung Banyuwangi kian dikenal di dunia. Berkat dedikasi Temu pula, gandrung Banyuwangi tetap lestari dan ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia. Menurut Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, Temu menjadi salah satu inspirasi bagi Banyuwangi untuk menggelar Festival Gandrung Sewu. “Kami bangga memiliki Bu Temu yang tak pernah lelah dan bosan menguri-uri kesenian Gandrung. Festival Gandrung Sewu juga terinspirasi dari semangat Bu Temu,” ujar Anas dalam laman Pemkab Banyuwangi . Kini, di rumahnya yang sederhana, Temu masih berupaya melestarikan gandrung. Temu memiliki grup gandrung sekaligus sanggar di rumahnya yang diberi nama Sopo Ngiro. Salah satu yang nyantrik atau belajar kepadanya adalah Mudaiyah, yang kini dikenal sebagai penari gandrung muda Desa Kemiren. “Saya akan terus menari sampai saya tak laku lagi. Saya ingin terus menari sampai saya punya murid yang menekuni tradisi ini, sampai murid itu bisa menari semua tarian dan bisa menyanyi semua lagu. Baru saya bisa pensiun!,” ujar Temu dalam buku Philip Yampolsky.
- Agus Salim Bicara Islam di Negeri Paman Sam
PADA 1953, Haji Agus Salim menerima undangan dari Cornell University, Ithaca, New York, Amerika Serikat. Dia diminta menjadi guru besar tamu selama semester perkuliahan musim semi (Januari-Juni). Di salah satu universitas bergensi negeri Paman Sam itu, Agus Salim banyak berbicara soal Islam, agama yang masih sangat asing di kalangan orang-orang AS kala itu. Menurut Kambiz Ghanea Bassiri dalam A History of Islam in America: From the New World to the New World Order, keberadaan Islam sebenarnya sudah cukup lama di AS. Namun baru benar-benar mendapat perhatian dari pemerintah setelah Perang Duni II berakhir. Pada periode 1950-an AS tengah berusaha mendekati negara-negara Islam, baik secara politik maupun ekonomi. Pengetahuan dari Agus Salim inilah yang diharapkan dapat memberi gambaran tentang Islam secara jelas. Berbagai hal diangkat oleh The Grand Old Man di dalam mengisi perkuliahannya. Mulai dari hal yang mendasar, seperti rukun iman dan rukun Islam; hingga soal perkembangan dunia Islam sejak zaman Nabi Muhammad SAW sampai muculnya negara-negara Islam. “Dia menyatakan keyakinannya bahwa Islam berisi pesan ke seluruh alam semesta, tetapi bukan berarti bahwa Islam bermaksud menghapuskan agama lain. Faktanya, Islam memadukan mereka. Tidak hanya itu, bagi Salim agama dimaksudkan untuk berbuat baik,” tulis Purwanto Setiadi dalam Agus Salim: Truth and Nationalism. Kewajiban Seorang Muslim “ Bismillahirrahmanir Rahim. Saya mulai kuliah ini dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” Kalimat inilah yang dilafalkan Agus Salim ketika membuka kuliahnya. Sebagaimana terangkum dalam Pesan-Pesan Islam: Rangkaian Kuliah Musim Semi 1953 di Cornell Uniersity , Agus Salim memilih tema “Rukun Iman dan Islam” pada kesempatan pertamanya menjadi dosen tamu di Negeri Paman Sam ini. Sebagai permulaan, dia menerangkan tentang adanya lima kewajiban beribadah seorang muslim: Rukun Islam. Itu mencakup lima ibadah “fardu” yang harus dilakukan orang Islam selama hidupnya. Menurut Agus Salim, fardu di sini bukan wajib; makna yang lebih tepat adalah bagian atau jatah. Sehingga fardu dapat diartikan sebagai karunia dari Tuhan kepada manusia. “Penunaian kewajiban itu bukanlah diperlukan bagi Tuhan, melainkan diperlukan bagi manusia. Jika kita ingin hidup beribadah, hidup secara saleh, maka kita mutlak perlu untuk mematuhi suatu ketertiban, suatu disiplin tertentu,” tutur Agus Salim. Ibadah fardu ada lima jenis. Pertama adalah pemurnian atau menyucikan diri. Selain melafalkan kalimat syahadat –sebagai syarat sah menjadi Muslim– memurnikan tubuh lima kali sehari, melalui wudhu , menjadi kewajiban seorang Muslim. Pemurnian ini dilakukan guna menghilangkan semua benda asing yang melekat pada tubuh, seperti lumpur, kotoran, bau, dan sebagainya. Kedua , mengerjakan ibadah shalat. Jumlah wajibnya lima kali dalam sehari. Agus Salim lalu menceritakan bagimana pembagian waktu shalat dari mulai fajar hingga malam tiba, sesuai dengan teladan Nabi Muhammad Saw. Mengenai ibadah yang kedua ini, Agus Salim menerangkan jika setiap tempat mempunyai waktu yang berbeda karena mengikuti pergerakan bumi. Kepada para mahasiswa di Cornell, Agus Salim mengemukakan pandangan modern soal shalat yang disesuaikan dengan kegiatan sehari-hari. Menurutnya, setiap orang harus menyisihkan sejenak waktunya untuk beribadah. Meski kegiatan dari pagi hingga malam begitu padat, selalu ada waktu di sela-sela jadwal itu yang bisa digunakan untuk shalat. “Setiap kali, kita kesampingkan segala pikiran, suka duka, kecemasan, dan harapan dari kehidupan keseharian, untuk menghadapkan wajah kita dan memusatkan jiwa raga kita kepada Tuhan,” kata Agus Salim. Ketiga , menjalankan puasa selama bulan Ramdhan , yakni bulan kesembilan menurut tahun takwim Islam. Akhir dari kewajiban ibadah yang ketiga ini adalah Hari Raya pada 1 Syawwal, bulan kesepuluh dalam tahun takwim Islam. Lalu kapan puasa ini dijalankan jika melihat tahun masehi? Dikatakan oleh Agus Salim, di negara empat musim ibadah puasa bisa jatuh pada musim yang berbeda tiap tahunnya. Sementara di zone khatulistiwa, termasuk Indonesia, perbedaan ini tidak terlalu terlihat. Keempat, kewajiban mengeluarkan zakat, sejenis pajak kekayaan. Besarannya 2,5% atas kekayaan pada suatu batas tertentu. Ada banyak jenis zakat. Tiap-tiap jenis memiliki besaran pengeluaran yang berbeda. “Bayaran ini tidak dipandang sebagai sedekah, pemberian amal, tapi dipandang sebagai pajak penyucian. Maka itu disebut zakat, artinya pemurnian, penyucian”. Kelima , menunaikan ibadah Haji bagi yang mampu memikul biayanya dan cukup sehat secara jasmani, dengan syarat bahwa situasi untuk menjalankan perjalanan itu sedang aman. “Masing-masing kewajiban itu disebut rukun atau sendi agama Islam. Boleh pula kita menyebutnya sokoguru atau batu-alas agama Islam,” kata Agus Salim. Pondasi Keimanan Setelah menjabarkan tentang Rukun Islam sebagai kewajiban ibadah seorang Muslim, Agus Salim mulai berbicara tentang pondasi seorang muslim: Rukun Iman. Jumlahnya ada enam, yakni iman kepada Allah sebagai Tuhan tunggal, tiada yang lain; iman kepada Malaikat-Nya sebagai pesuruh Allah; iman kepada kitab-kitab, yang di dalamnya mengandung firman Allah dan disampaikan kepada para Nabi dan Rasul-Nya; iman kepada Rasul sebagai duta Allah di dunia; Iman kepada Hari Akhir; dan iman kepada Qada dan Qadar , yang secara harfiah berarti ukuran baik dan buruk ditentukan oleh Allah. Menurut Agus Salim, empat rukun permulaan masuk akal dan jelas. Pengetahuan tentang kehendak Tuhan dari para Nabi, serta tentang kitab berisi firman Allah dan kisah hidup Nabi, bahkan perjalanan hidup Nabi dan Rasul-Nya dari orang-orang yang pernah hidup sezaman merupakan suatu mata rantai yang jelas. Sementara rukun kelima, iman kepada hari akhir (kiamat) sebagai hari diputuskannya amal manusia oleh Allah, menjadi sesuatu yang belum tampak. Banyak orang (ahli agama) mengartikan pesan Nabi Muhammad SAW seakan-akan hari kiamat itu sudah dekat sekali di depan mata. Mereka akhirnya menyangka bahwa kiamat akan melanda manusia pada masa hidup mereka. “Namun itu bukan cara pandang yang tepat menurut saya. Pesan yang dibawa oleh Nabi ditujukan kepada setiap orang, kepada kita masing-masing. Dan, masing-masing dari kita hanya dapat bersiap-siap berusaha dan berikhtiar menjelang kiamat itu, hanya semasa hidup kita yang tidak seberapa lama ini. Setelah tiba ajal, habislah segala ikhtiar, habislah usaha dan kegiatan kita, kita tinggal menantikan kiamat saja,” tutur Agus Salim. “Oleh karena itu, Nabi Muhammad telah memberi peringatan, dan sungguh benar peringatannya bahwa bagi kita masing-masing saat perhitungan itu sudah dekat sekali”. Mengenai rukun keenam, iman kepada Qada dan Qadar , Agus Salim menjelaskan jika Tuhan sebenarnya tidak pernah menciptakan suatu keburukan. Manusialah yang pada akhirnya menentukan ukuran kebaikan dan keburukan itu. Manusia bisa saja membawa kebaikan kepada keburukan, ataupun sebaliknya. Semua itu hanyalah tentang cara memanfaatkan ciptaan Tuhan dengan sebaik-baiknya. "Anda tahu bahwa udara adalah suatu syarat kehidupan manusia. Udara itu terdiri atas suatu campuran senyawa. Jika anda mengatakan dari campuran itu hanya oksigenlah yang berkhasiat bagi kesehatan, maka anda pun tidak seluruhnya benar. Sebab, jika udara yang kita hirup hanya terdiri atas oksigen murni, maka segera tamatlah riwayat kita. Tiada sebagian kecil pun dari udara itu yang tidak berfaedah," kata Agus Salim.*
- Gurauan Sukarno untuk Kennedy dan Khrushchev
MEMASUKI dekade 1960, ketegangan Perang Dingin memuncak. Kala itu, Amerika Serikat (AS) dipimpin Presiden Kennedy sedangkan Uni Soviet oleh Nikita Khrushchev. Krisis di antara Kennedy dan Khrushchev ditandai dengan perlombaan senjata dan eksplorasi luar angkasa. Ketegangan ini membagi dunia atas dua kubu Blok Barat (AS) dan Blok Timur (Uni Soviet). Di tengah persaingan AS dan Uni Soviet, Presiden Sukarno tampil membawa Indonesia sebagai negara non blok. Meski demikian, Sukarno ikut aktif menjalin persahabatan baik terhadap Kennedy maupun Khrushchev. Sukarno lebih dahulu menggaet Khrushchev dengan mengundang sang kamerad berkunjung ke Indonesia.
- Saran Para Ulama dalam Menghadapi Wabah
DUNI tengah berjuang melawan pandemi virus corona. Pemeritah Indonesia telah mengeluarkan protokol kesehatan menghadapi Covid-19. Begitu pula Majelis Ulama Indonesia pun telah mengeluarkan fatwa agar umat Islam menjaga kesehatan diri dan berperan dalam memutus penyebaran virus corona, di antaranya dengan beribadah di rumah. Dalam sejarah Islam, para ulama telah menghasilkan karya-karya tentang wabah dan cara menghadapinya. Oman Fathurahman, Guru Besar Filologi UIN Syarif Hidayatullah, menjelaskan bahwa para sarjana muslim biasanya mengawali penjelasannya dengan hadis. “Kalau ada wabah di suatu daerah kamu jangan masuk ke situ, dan jangan lari dari situ karena akan menularkan. Ini kejadiannya dalam wabah amwas pada masa Sayyidina Umar,” kata Oman dalam seminar daring lewat aplikasi zoom tentang “Wabah dalam Lintasan Sejarah Umat Manusia” yang diselenggarakan Museum Nasional pada Selasa, 21 April 2020 . Memanjatkan Doa Ibnu Abi Hajalah menulis Daf’an-niqmah ketika wabah melanda Kairo pada 1362. Saat itu Maut Hitam merebak di Eropa dan Timur Tengah. Ia mengisahkan pengalamannya dalam menghadapi wabah. Michael Walters Dols, sejarawan Amerika Serikat, dalam The Black Death in the Middle East menjelaskan bahwa menurut Abi Hajalah pertahanan terbaik menghadapi wabah adalah berdoa. Salah satunya dengan memperbanyak membaca salawat nabi. "Ini menghiasi beberapa karya ulama pada masa itu (abad ke-14, red .)," kata Oman. Dols mencatat, risalah ini juga mencakup diskusi tentang tiga kepercayaan muslim terkait wabah, yaitu kematian oleh wabah adalah syahid untuk muslim yang setia, hadis mengenai seorang muslim tidak boleh masuk dan melarikan diri dari daerah yang dilanda wabah, dan bagaimana sifat wabah itu sendiri. Abi Hajalah menyebut kematian anaknya oleh wabah sebagai mati syahid. Ia menguburkannya berdekatan dengan makam seorang wali. "Sebagaimana hadis nabi, kematian sang putra, ia sebut sebagai kematian syahid," kata Oman. Ibnu Hajar al-‘Asqalani (1372-1449), ahli hadis mazhab Syafi’i yang terkemuka, juga termasuk yang memakai penjelasan teologis. Ia meyakini bahwa penyakit lahir karena kehendak Tuhan, hukuman, rahmat, atau dosa. Menurut Oman, di antara ulama-ulama yang memakai penjelasan serupa, mereka percaya penyakit menular itu tak ada. Bagi mereka, penyakit datang langsung dari Tuhan. "Al-‘Asqalani juga menulis doa supaya sehat, lalu agar bersabar dan berbaik sangka, plus di rumah saja saat ada tha’un ," kata Oman. Mencari Ketenangan Muhammad al-Manjibi al-Hambali, cendekiawan dari Suriah Utara abad ke-14, menulis kitab saat wabah merebak pada Rajab 775 H (1373). Penyebaran wabah meningkat menjelang akhir Syawal, Dzulka’dah, dan Dzulhijah, kemudian menurun pada Muharram tahun berikutnya. Kitab karya Al-Manjibi itu diterjemahkan oleh Avner Giladi, profesor sejarah Timur Tengah di University of Haifa, dalam "'The Child Was Small... Not So the Grief for Him': Sources, Structure, and Content of Al-Sakhawi's Consolation Treatise for Bereaved Parents" yang terbit di jurnal Poetics Today. Wabah itu mengakibatkan banyak rumah dikosongkan dan ribuan orang meninggal dunia. "Karena begitu banyak orang beriman yang meninggal, saya menyebut wabah ini 'wabah orang-orang saleh' ( ta’un al-akhyar )," kata Al-Manjibi. Namun, mayoritas yang tewas adalah anak-anak. "Sangat parah sehingga keluarga teman-teman kami kehilangan semua anak-anak mereka, tidak ada yang selamat," kata Al-Manjibi. Menurut Oman, Al-Manjibi menulis karya itu untuk menghibur orang yang sedang bersedih karena tertimpa wabah. Karya itu diharapkan memberikan rasa tenang kepada orang-orang yang panik. "Saya ingin menghibur supaya mereka rileks, tidak stres, maka aku karanglah kitab ini. Ini untuk menghibur mereka yang terkena wabah," kata Al-Manjibi dikutip Oman. Ibnu Khatimah, ulama sekaligus ahli medis, sejarawan, dan penyair dari Andalusia, juga menyaksikan wabah Maut Hitam merebak di Eropa. Menurutnya, ketika wabah merebak, penting untuk menjaga moral dan jiwa agar terus merasa gembira, tenang, rileks, dan penuh harapan. "Masyarakat harus mencari pendamping yang menyenangkan, pendamping yang terbaik adalah Alquran," kata Ibnu Khatimah dikutip Dols. Masyarakat yang berada di tengah wabah juga bisa mencari ketenangan lewat buku sejarah, humor, dan kisah cinta untuk mengisi pikiran. Mereka harus mengindari berbicara tentang apapun yang bisa membangkitkan kesedihan. "Intinya Anda harus ceria, harus rileks, jaga asa, di sini contohnya jangan bicara yang sedih-sedih, baca buku sejarah, humor, dan kisah cinta," kata Oman. Ibnu Khatimah juga menyarankan untuk mengurangi pergerakan supaya menghindari penularan lewat pernapasan. Mengisolasi Diri Banyak ulama dan cendekiawan muslim mendukung hadis yang melarang tidak masuk dan melarikan diri dari wilayah terkena wabah. Salah satunya Ibnu al-Khatib (1313–1375) yang lahir di Loja, Granada (sekarang masuk wilayah Spanyol). Al-Khatib banyak menulis tentang sejarah, filsafat, mistisisme, kedokteran, dan puisi. Risalahnya yang penting tentang wabah pes (Maut Hitam) berjudul Muqni’at as-sa’il ‘an marad al-ha’il. Menurut William B. Ober dan Nabil Alloush dalam "The Plague at Granada 1348–1349: Ibn Al-Akhatib and Ideas of Contagion" yang terbit dalam Bulletin of the New York Academy of Medicine , karya itu ditulis setelah tahun 1352 karena Al-Khatib juga menyebut kisah Ibnu Battutah tentang wabah di Timur Tengah. Pengelana asal Maroko itu sempat mengunjungi Granada pada 1349–1352. Al-Khatib merekomendasikan sejumlah tindakan pengobatan yang tak banyak berbeda dengan ulama lainnya. Namun yang menarik, ia menekankan adanya penularan. Penyebaran penyakit terjadi melalui kontak antarmanusia. Menurutnya orang yang kontak dengan korban wabah akan mati. Sedangkan orang yang belum terpapar akan tetap sehat. Pakaian mungkin salah satu yang bisa membawa penyakit masuk ke rumah. Bahkan anting-anting yang dipasang di telinga pun bisa berakibat fatal. "Penyakit ini bisa muncul pertama kali dalam satu rumah di kota tertentu, lalu menyebar dari sana ke tetangga, kerabat, atau pengunjung," kata Al-Khatib dikutip Ober dan Alloush. Wabah dapat merebak ke kota pantai karena seseorang yang mengidapnya datang dari seberang lautan yang wilayahnya terjangkit penyakit. "Banyak orang tetap dalam kondisi sehat jika menjaga diri mereka terisolasi dari dunia luar," kata Al-Khatib. Al-Khatib mencontohkan, seorang saleh bernama Ibnu Abi Madyan dari wilayah Salé, Maroko, percaya adanya penularan. Karenanya ia menyiapkan perbekalan, membangun rumah dengan bata, dan mengisolasi keluarga besarnya. " Kota itu sangat terdampak, tapi tak ada seorang pun dari keluarganya yang terjangkit," kata Al-Khatib. Ada banyak komunintas yang tinggal jauh dari jalan raya dan jalur perdagangan tetap sehat. "Contoh lain adalah para tahanan di Sevilla, mereka tak terdampak. Padahal kota itu sangat terpukul akibat wabah," kata Al-Khatib. Menjaga Imunitas Ibnu Khatimah menganjurkan untuk menjaga imunitas saat menghadapi wabah. Dalam karyanya, ia menjelaskan ada orang yang punya imun baik dan tidak. Oman mengatakan Ibnu Khatimah memberikan berbagai tips untuk memperkuat ketahanan tubuh. "Ulama sekaliber Ibnu Khatimah menjelaskan dari herbal. Logikanya seperti sekarang," kata Oman. Misalnya, mengolesi muka, tangan, dan tubuh dengan sitrun, kandungan dalam jeruk, atau bunga segar. Ia juga menyebutkan buah-buahan untuk diminum. "Seseorang harus menggosok wajahnya dan tangannya dengan aroma lain seperti serai, lemon, dan bunga segar seperti mawar dan violet," kata Oman. Ibnu Khatimah juga menyarankan agar banyak menghirup udara segar, tinggal di rumah yang menghadap ke utara, dan menjaga tetap terkena sinar matahari dan angin hangat. Ia juga menganjurkan agar memenuhi rumah dengan wangi-wangian, seperti membakar kayu cendana dan kayu gaharu; merendam mawar dan memercikan air mawar di rumah dan penghuninya. "Karena diyakini penyakit muncul dari tempat kotor dan bau. Campuran kayu gaharu dengan air mawar juga bisa diminum," kata Oman. Menurut Oman, kebanyakan naskah terkait wabah dihasilkan oleh para ulama yang hidup saat Maut Hitam menyergap. Wabah ini dengan dahsyat menyebar melintasi padang rumput Asia Tengah ke pantai-pantai Laut Hitam. Tak terkecuali kota-kota besar dan kecil Islam juga terdampak. "Dalam tradisi Islam, dari Alquran dan Injil dilihat secara bersama-sama, ketemu titik temunya bahwa ini wabah kemanusiaan. Sama seperti sekarang, etnis apapun, agama apapun bersama menangani wabah ini," kata Oman.*
- Ahmadiyah dan Sukarno
ENDEH, 25 November 1935, rasa gundah datang menyelimuti Sukarno. Sudah beberapa hari pikirannya begitu terbebani oleh sebuah surat dari kawannya, A. Hassan, di Bandung. Pasalnya, ia dituduh telah mendirikan cabang Ahmadiyah di Sulawesi. Bahkan menjadi propagandis untuk penyebaran Ahmadiyah di wilayah itu. Menurut sang kawan, berita tentang hubungan dirinya dan Ahmadiyah pertama kali tersebar di surat kabar Pemandangan , pada sebuah kolom berita singkat. Mengingat surat kabar yang dimaksud baru sampai di Endeh tiga sampai empat hari, Sukarno belum sempat membacanya. Namun ia sangat yakin dengan kabar dari kawan yang dipercayainya itu. Kerisauan Bung Karno kemudian dituangkan di dalam sebuah surat berjudul “Tidak Percaya Bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah Nabi” (dimuat dalam bukunya, Di Bawah Bendera Revolusi Jilid Pertama) . Sukarno tidak habis pikir bagaimana bisa tuduhan sebagai propagandis Ahmadiyah di Sulawesi ini dialamatkan kepadanya, sedangkan di dalam pengasingan ia tidak bisa begerak secara bebas. Sukarno lalu meminta kepada A.Hasan untuk membantunya membantah segala berita tentang dirinya di surat kabar Pemandangan . “Saya bukan anggota Ahmadiyah. Jadi mustahil saya mendirikan cabang Ahmadiyah dan menjadi propagandisnya, apalagi buat bagian Celebes! Sedang plesir ke sebuah pulau yang jauhnya hanya beberapa mil saja dari Endeh, saya tidak boleh!” kata Sukarno. Diakui Sukarno, jika di Endeh dirinya memang menjadi lebih memperhatian urusan-urusan agama dibandingkan sebelumnya. Selain karena studi ilmu sosial yang mulai didalami, ia juga banyak membaca buku-buku soal agama. Tapi ditegaskan oleh Sukarno bahwa ia tidak pernah terikat oleh suatu golongan agama tertentu. Ia lebih suka disebut sebagai penganut Islam. “Dari Persatuan Islam Bandung, saya banyak mendapat penerangan; terutama personnya tuan A. Hassan sangat membantu penerangan bagi saya itu. Kepada tuan Hassan dan Persatuan Islam saya di sini mengucapkan saja punya terima kasih, beribu-ribu terima kasih,” ucapnya. “Kepada Ahmadiyah pun saya wajib berterima kasih.” Tentang Ahmadiyah Kendati menolak jika dikaitkan dengan Ahmadiyan, Sukarno mengagumi beberapa hal yang terdapat di dalam ajaran Ahmadiyah. Ia bahkan membaca beberapa buku keluaran Ahmadiyah, yang menurutnya memberi banyak pelajaran, di antaranya: “ Mohammad the Prophet ”, dan “ Inleiding tot de Studie van den Heiligen Qoer’an ” karya Mohammad Ali; ” Het Evangelie van den daad ”, dan “ De bronnen van het Christendom ” karya Chawadja Kamaloedin; serta kumpulan artikel di dalam “ Islamic Review ”. “Mengenai Ahmadiyah, walaupun beberapa pasal di dalam mereka punya visi saya tolak dengan yakin, toh pada umumnya ada mereka punya features yang saya setujui: mereka punya rasionalisme, mereka punya kelebaran penglihatan ( broadmindedness ), mereka punya modernism, mereka punya hati-hati terhadap kepada hadist, mereka punya striven Qur’an saja dulu, mereka punya systematische aannemelijk maken van den Islam ,” ujar Sukarno. Menurut Lukman Surya dan Nur Kholik dalam Manifesto Modernisasi Pendidikan Islam: Ulasan Pemikiran Soekarno , tidak hanya mengungkapkan kekagumannya, Sukarno juga menolak dan tidak menyetujui beberapa uraian yang ada di dalam buku-buku Ahmadiyah. Misalnya menjadikan tokoh Mirza Ghulam Ahmad sebagai seorang yang dikeramatkan, dan kecintaan kepada imperialisme Inggris. Jadi Sukarno menempatkan dirinya pada posisi yang relatif netral. Ada beberapa soal di dalam ajaran Ahmadiyah yang dia terima sebagai sebuah ilmu pengetahuan yang rasionil. Tapi ada pula bagian-bagian ajaran itu yang ia tolak mentah-mentah. “Toh saya merasa wajib berterima kasih atas faedah-faedah dan penerangan-penerangan yang telah saya dapatkan dari mereka punya tulisan-tulisan yang rasionel, modern, broadminded dan logis itu,” ucap Sukarno. Namun ditegaskan juga oleh Sukarno bahwa ia mempelajari agama Islam tidak hanya dari satu sumber saja. Karena bagi Sang Proklamator, agama Islam adalah satu agama yang luas, yang menuju kepada persatuan manusia. Untuk itu telah begitu banyak buku “yang saya datangi dan saya minum airnya”. “Buku-buku Muhammadiyah, buku-buku Persatuan Islam, buku-buku Pelajaran Islam, buku-buku Ahmadiyah, buku-buku dari India dan Mesir, dari Inggris dan Jerman, tafsir-tafsir bahasa Belanda dan Inggris, buku-buku dari lawan-lawan Islam (Snouck Hurgronje, Arcken, Dozy Hartmann, dan lain sebagainya), buku-buku dari orang bukan Islam tapi yang simpati dengan Islam, semua itu menjadi material bagi saya. Ada beberapa ratus buku yang saya pelajari itu. Inilah satu-satunya jalan yang memuaskan kepada saya di dalam saya punya studi itu,” kata Sukarno.*
- Gebrakan Anti Korupsi Ala Jenderal Jusuf
JENDERAL TNI Mohammad Jusuf masuk gelanggang baru usai purna tugas sebagai Panglima ABRI. Presiden Soeharto menunjuk bangsawan Makassar itu untuk memimpin Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menggantikan Jenderal TNI (Purn.) Umar Wirahadikusumah. Umar berhenti sebagai Ketua BPK karena harus mendampingi Soeharto sebagai wakil presiden. Pada 29 Maret 1983, Jusuf resmi menjadi ketua BPK. Dari Istana setelah serah terima jabatan, Jusuf langsung menuju kantor BPK yang terletak di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Pusat. Hari itu, semua staf BPK telah menanti bos baru mereka dengan harap-harap cemas. Ketika Jusuf memperkenalkan diri, sepatah amanat terlontar. “Yang memeriksa harus lebih bersih sebelum melakukan pemeriksaan,” kata Jusuf dicatat dalam Apa & Siapa Sejumlah Orang Indonesia: 1983—1984 . “Tidak ada bangsa di dunia ini dapat menjadi besar apabila apabila tidak memiliki harga diri dan kehormatan.” Itulah amanat perdana Jusuf yang disampaikan dihadapan seluruh jajaran BPK. Jusuf berupaya menegakkan wibawa lembaga yang saat itu dipandang sebelah mata. Memangggil Pejabat Negara Sebagai ketua BPK, Jusuf tidak begitu sering muncul ke muka publik sebagaimana waktu menjabat panglima ABRI. Penampilan pertama Jusuf di depan umum terjadi ketika Menteri Dalam Negeri Soepardjo Rustam mengundangnya pada 12 Oktober 1983. Menteri Rustam meminta Jusuf memberikan presentasi dalam rapat kerja gubernur se-Indonesia. Dalam pertemuan itu, Jusuf berbicara blak-blakan mengemukakan berbagai penyimpangan yang terjadi di pemerintahan. Temuan penyimpangan itu diteruskan BPK dalam Hasil Pemeriksaan Tahunan (Haptah). Laporan tersebut kemudian diserahkan kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dalam bentuk buku tebal. Walau demikian, Jusuf masih geregetan lantaran Haptah hanya dianggap sebagai angin lalu belaka oleh DPR. Di sisi lain, BPK tidak punya kewenangan untuk menindaklanjuti saran-saran yang diberikan oleh Tim Auditor BPK kepada DPR. Pada akhir 1984, Jusuf berdasarkan kewenangan yang diatur undang-undang memulai gebrakannya. Dia memanggil pejabat tingkat menteri untuk datang ke kantornya. Tindakan Jusuf terbilang berani. Pada masa itu, tidak sembarang orang biasa memanggil menteri selain presiden dan wakil presiden. Jusuf mula-mula memanggil empat menteri. Kemudian pada 11 Desember 1984, Jusuf memanggil Menteri Pekerjaan Umum Suyono Sosrodarsono, Menteri Kesehatan Suwardjono Suryaningrat, dan Menteri Pertambangan dan Energi Dr. Subroto. Pemanggilan mereka berhubungan dengan hasil auditor BPK menyangkut keuangan negara. “Pokoknya, semua pihak yang kita perlukan untuk dipanggil, ya kita panggil,” ujar Jusuf seperti terkisah dalam biografinya Jenderal M. Jusuf: Panglima Para Prajurit karya Atmadji SumarkidjoSewaktu memanggil Menteri Transmigrasi Martono, Jusuf mengemukakan banyaknya penyelewengan. Diantaranya soal pemberian hak transmigran di daerah baru. Ketika keluar dari kantor BPK, Martono mengatakan bahwa Ketua BPK mengingatkan dirinya agar hak para transmigran “jangan dilipat-lipat”. Hal yang sama terjadi kepada Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Ketua Bapennas J.B Sumarlin. Dari Jusuf, Sumarlin mendapat informasi mengenai bentuk-bentuk penyelewengan yang ditemukan di kementeriannya. Tidak hanya menteri, Jusuf juga tidak segan memanggil pejabat level di bawah menteri bila diperlukan. Ini terjadi kepada Kepala Badan Urusan Logistik (Bulog) Bustanil Arifin yang tergolong kerabat "keluarga Cendana" dari pihak Ibu Tien Soeharto. Bustanil dipanggil karena adanya temuan auditor BPK bahwa beras yang dibagikan kepada pegawai negeri tidak sesuai dengan mutu yang ditentukan. Hingga akhir tahun 1985, Jusuf telah memanggil dan bertemu dengan hampir semua Menteri Kabinet Pembangunan IV, kecuali Menteri Pertahanan dan Panglima ABRI. Bagi Jusuf setiap warga negara menurut ketentuan undang-undang harus mau memberikan keterangan kepada BPK. “Kalau tidak, orang itu bisa aku ajukan ke pengadilan!” katanya seperti dicatat Atmadji. Ketua Dua Periode Sorotan atas Kinerja BPK di bawah kepemimpinan Jusuf terbilang positif. Tajuk rencana Suara Pembaruan , 9 Februari 1987 mengungkapkan temuan-temuan BPK atas penyalahgunaan uang negara. Kerugian negara dari Pemilu 1987 mencapai Rp1,8 milyar. Piutang Bulog di berbagai perusahaan rekanannya sebesar Rp300 milyar. Sementara itu, kredit macet di Koperasi Unit Desa (KUD) juga mencapai belasan milyar rupiah. Meski kebijakannya memanggil menteri agak kontrovesial, Presiden Soeharto tampaknya sepaham dengan Jusuf. Hal ini dibuktikan dengan dipilihnya kembali Jusuf sebagai ketua BPK. Pada 9 Agustus 1983, Soeharto melalui surat keputusannya menetapkan Jusuf menjadi ketua BPK untuk periode kedua. Kebiasaannya memanggil menteri pun tetap diteruskan. Pada 1990, Jusuf menyerahkan hasil pemeriksaan tahunan BPK kepada DPR. Dalam laporannya, Jusuf menyebut betapa banyaknya pemakaian dana-dana pembangunan yang menyimpang. Misalnya, BPK menemukan penyertaan modal pemerintah dalam BUMN yang tidak jelas statusnya. Jusuf juga melaporkan penemuan penanganan kredit macet yang tidak didasarkan atas ketentuan-ketentuan yang berlaku. Berbagai proyek Pemerintah Daerah yang tidak efektif dan efisien menjamur dimana-mana. Juga ditemukan instansi-instansi yang melakukan pengeluaran tidak pada tempatnya, seperti pembelian barang untuk jangka waktu panjang. “Sayang laporan BPK itu tidak disiarkan seluruh isinya dari tahun ke tahun untuk diketahui masyarakat. Dan pers Indonesia sendiri kelihatannya cukup lama tidak lagi bersemangat untuk membongkar kasus korupsi, kecuali pernyataan-pernyataan dari sumber resmi,” tulis Mochtar Lubis dalam Korupsi Politik . Cara kerja Jusuf melaporkan hasil temuan BPK pernah ditanyakan oleh Ben Mboi, gubernur Nusa Tenggara Timur. Menurut Mboi, Jusuf selalu membuat dua laporan temuan BPK. Laporan sesuai dengan realitas temuan diberikan kepada Presiden Soeharto agar dia mengetahui kondisi birokrasi negara yang sebenarnya. Sementara kepada DPR hanya laporan yang memperhatikan dampak-dampak poltik saja. “Hal-hal yang berdampak politik secara kualitatif saja dan bukan kuantitatif saya kirim ke DPR. Tapi Presiden harus tahu yang kualitatif dan kuantitatif,” kata Jusuf kepada Mboi dalam memoar Ben Mboi: Memoar Seorang Dkoter, Prajurit, Pamong Praja . Dengan demikian, aksi lanjutan pemberantasan korupsi terpulang kembali kepada Soeharto sendiri. Pada 1993, Jusuf mengakhiri periode keduanya sebagai ketua BPK. Kedudukan itu pula yang menjadi jabatan terakhirnya dalam pemeritahan. Setelah 45 tahun mengabdi negara yang dirintis dari prajurit hingga pejabat sipil, maka purnabaktilah Jenderal (Purn.) M. Jusuf.*
- Pesona Braga Tak Pernah Usai
Jika berkunjung ke Bandung, tentu saja tak akan melewatkan untuk jalan-jalan di sepanjang Braga. Di sana berjajar bangunan berarsitektur Eropa yang masing-masing memiliki kisah masa lalu. Sudah lama Braga menjadi destinasi wisata. Setiap hari, ada saja pelancong berlalu-lalang. Apalagi jika hari libur, pejalan kaki di Braga menyemut. Entah sekadar cuci mata atau melampiaskan hasrat berbelanja. Pengunjung menikmati Braga di kota Bandung. (Fernando Randy/Historia). Seorang anak kecil saat bermain di depan toko zaman dulu di Braga. (Fernando Randy/Historia). Para pengunjung di antara lukisan kawasan Braga. (Fernando Randy/Historia). Namun siapa sangka jika dahulu kawasan Braga adalah salah satu kawasan yang dihindari oleh masyarakat. Awal abad ke-19, Jalan Braga berjuluk Jalan Culik karena hanya jalan kecil dengan permukiman penduduk yang sunyi. Seiring berjalannya waktu kawasan tersebut mulai bersolek. Para usahawan yang rata-rata berkebangsaan Belanda mulai membangun toko, bar, tempat hiburan dengan konsep Eropa. Braga makin moncer dengan adanya gedung Societeit Concordia. Di gedung inilah sosialita dan kaum elite kota Bandung berkumpul. Mereka rajin menggelar berbagai pertunjukan kesenian seperti musik dan tari. "Pesta yang pernah usai" di Concordia ini turut merangsang beberapa pertokoan di Jalan Braga menyediakan keperluan pesta. Salah satu bangunan lama di kawasan Braga. (Fernando Randy/Historia). Braga yang berusia dua abad tetap menjadi pesona bagi wisatawan. (Fernando Randy/Historia). Seorang wisatawan berfoto di kawasan Braga. (Fernando Randy/Historia). Braga yang sudah berusia dua abad seperti tak kehilangan pesonanya. Arsitektur khas Eropa tetap dipertahankan. Pertokoan yang menjual pernak-pernik antik, lukisan hingga wayang masih bisa ditemui. Toko roti Sumber Hidangan sejak 1929 juga masih melayani pembeli. Bahkan penjual jamu gendong juga masih sesekali ditemukan. Kini bisa dibilang Braga makin "modis" dengan hadirnya berbagai kedai-kedai kopi kekinian. Ramdan Kosasih salah satu penjual wayang di Braga. (Fernando Randy/Historia). Toko roti dari jaman Belanda, Sumber Hidangan. (Fernando Randy/Historia). Salah satu toko yang menjual pernak-pernik dari zaman dulu. (Fernando Randy/Historia). Salah satu toko di kawasan Braga. (Fernando Randy/Historia). Pedagang jamu tradisional turut menambah kesan zaman dulu di Braga. (Fernando Randy/Historia). Kehidupan di sekitar kawasan Braga. (Fernando Randy/Historia). Seorang anak memakai jersey Persib Bandung, klub sepakbola dengan pendukung terbanyak di Jawa Barat. (Fernando Randy/Historia). Seorang kasir di toko roti Sumber Hidangan di Braga. (Fernando Randy/Historia). Di malam hari, Braga tak pernah sunyi karena banyak bermunculan tempat hiburan malam. Itulah Braga dengan segala daya pikatnya. Ia menjadi tujuan orang melepas penat sekaligus menjadi tumpuan banyak orang untuk bertahan hidup. Centre Point salah satu bangunan bersejarah di Braga. (Fernando Randy/Historia).
- Kawanan Serigala Berburu Mangsa
““YA Tuhanku, biarkanlah malaikat kudus-Mu membimbing dan menyertaiku,” tutur Kapten Ernest Krause (diperankan Tom Hanks) dalam doanya di atas kapal perusak USS Keeling . Doa itu sebagai penguat batinnya lantaran nantinya ia bakal dihadapkan pada marabahaya pertempuran dahsyat yang belum pernah ia alami sebelumnya. Kisahnya diangkat ke layar perak bertajuk Greyhound. Film yang disutradarai Aaron Schneider itu merupakan adaptasi dari novel The Good Shepherd karya CS. Forester, nama pena novelis Inggris Cecil Louis Troughton Smith, yang terbit 1955. Kisahnya berpusar pada epik Kapten Krause yang bertugas melindungi konvoi Sekutu berisi 37 kapal logistik dan kapal dagang melintasi Samudera Atlantik Utara, demi menyokong Inggris dan Uni Soviet di awal 1942 di tengah Perang Dunia II. Meski sang kapten merupakan perwira senior, itu jadi penugasan lapangan pertamanya. Kala langit mulai dibalut awan gelap dan ombak mulai mengganas, alarm dan sirine tanda bahaya kapal meraung-raung. Benar saja, sebuah Unterseeboot atau yang dikenal U-Boat di kalangan Sekutu alias kapal selam Kriegsmarine (AL Jerman) menampakkan bagian sail -nya. USS Keeling segera mengejar untuk melepaskan belasan depth-charge (peledak kedalaman). U-Boat Jerman itu pun hancur dalam sekali hantam. Krause dan para krunya masih larut dalam euforia ketika tanpa dinyana kemudian sirine dari salah satu kapal dagang meraung-raung lagi. Satu kapal lainnya pun terbakar dan karam. Krause segera insyaf. Ia terhenyak ketika menyalakan radar dan mendapati belasan titik di sekitar posisi kapalnya. Itu artinya konvoi mereka tengah dikepung belasan U-Boat yang bersiap menyerang mangsanya dalam formasi wolfpack (kawanan serigala). Lantas, apa yang terjadi? Anda mesti bersabar. Jadwal tayang film yang tadinya akan dirilis pada 12 Juni 2020 ini diundur ke waktu yang belum ditentukan. Apa lagi penyebabnya kalau bukan gara-gara pandemi virus corona . Namun sepertinya tak sia-sia menunggu, mengingat di belakangan ini jarang film mengangkat epik tentang wolfpack di front Atlantik sebagaimana Das Boot (1981), U-571 (2000), atau In Enemy Hands (2004). Tom Hanks (kanan) sebagai Kapten Krause di atas kapal perusak USS Keeling menghadapi kawanan U-Boat Jerman. (Sony Pictures). Mula Kawanan Serigala Bila di darat Jerman-Nazi gilang-gemilang pada awal Perang Dunia II berkat taktik blitzkrieg dengan pasukan lapis baja sebagai ujung tombaknya, di laut, Kriegsmarine dengan tulang punggung sejumlah U Boat mengembangkan pola berbeda tapi memiliki kesamaan esensi dalam “sengatan” terkonsentrasi dan terkoordinir pada kubu musuh yang lemah. “Menurut saya tetap beda konteksnya. Wolfpack hanya pengembangan strategi kapal selam Jerman dalam Perang Dunia II yang pada intinya adalah mengeroyok konvoi. Awalnya strategi ini dari zaman Perang Dunia I. Populer diterapkan di Perang Dunia hasil buah pikir (Panglima Kriegsmarine, großadmiral ) Karl Dönitz,” ujar peneliti sejarah Perang Dunia II cum penulis buku 1000+ Fakta Nazi Jerman Alif Rafik Khan kepada Historia . Adalah Laksamana Hermann Bauer, Führer der Unterseeboote (FdU) atau Panglima Unit U-Boat Jerman di Perang Dunia I, yang disebut-sebut membidani embrio taktik kawanan serigala. Pada awal 1917, ia menggagas garis patroli U-Boat secara terkoordinir dan disokong kapal logistik Kriegsmarine di Atlantik Utara dengan tujuan menerkam konvoi Sekutu. Percobaannya pada Mei 1918 gagal. Banyak dari enam U-Boat dalam operasi perdana di Selat Inggris itu malah tumbang tertabrak kapal-kapal tempur dalam konvoi Sekutu. Penyebab utamanya soal komunikasi. Baru pada 1935 ketika Kriegsmarine mulai membangun lagi kekuatannya, sejumlah taktik eksperimental sebagai revisi strategi Bauer dilancarkan Dönitz yang saat itu komandan sebuah armada kapal torpedo. Dalam penilaian Dönitz, kapal selam mesti jadi tulang punggung baru bagi Kriegsmarine. Großadmiral Karl Dönitz di salah satu pangkalan U-Boat di St. Nazaire, Prancis, medio 1941. (Bundesarchiv). Pokok dari revisi Dönitz adalah pendekatan koordinasi dan komunikasi yang lebih canggih menggunakan mesin kode enkripsi Enigma. Kode yang biasanya berisi perintah ini datang dari stasiun komando BdU di Kerneval menginformasikan posisi-posisi konvoi yang bisa diterkam. Ketika formasi kawanan serigala itu sudah siap, setiap komandan U-Boat diberi keleluasaan memilih mangsanya satu per satu. Konsep Dönitz itu mulanya menuai penolakan, salah satunya dari Panglima Kriegsmarine Großadmiral Erich Raeder . Namun, gagasan Dönitz justru didukung Adolf Hitler. “Ia mengembangkannya menjadi konsep Rudeltaktik ( wolfpack /kawanan serigala). Gagasan yang kemudian diapresiasi Kanselir Adolf Hitler dan membuahkan promosi menjadi Befehlshaber der Unterseeboote/BdU (komandan unit kapal selam) di tahun yang sama,” ungkap David T. Zabecki dalam The German War Machine in World War II: An Encyclopedia. Dönitz pun memberi bukti di awal-awal Perang Dunia II. Buah pikirannya kemudian bikin keringat dingin para pembesar Sekutu di fase Pertempuran Atlantik (3 September 1939-8 Mei 1945). Pasalnya, sebelum 1943 konvoi Sekutu minim pengawalan kapal perang. “Satu-satunya yang membuat saya benar-benar ketakutan selama perang adalah bahaya U-Boat… Saya merasa lebih gelisah terkait pertempuran ini ketimbang Battle of Britain (pertempuran udara Inggris, 10 Juli-31 Oktober 1940),” kata Perdana Menteri Inggris Winston Churchill, dikutip Jonathan Dimbleby dalam The Battle of the Atlantic: How the Allies Won the War. Kapitänleutnant Günther Prien dan U-Boat yang dipimpinnya, U-47. (Bundesarchiv). Pemburu Berbalik Diburu Dalam catatan sejarawan Bernard Edwards yang dituangkannya dalam Dönitz and the Wolfpacks: The U-Boats at War , sepanjang Perang Dunia II Kriegsmarine mengerahkan 248 kawanan serigala. Wolfpack merupakan gugus tempur kecil yang kekuatannya minimal dua atau tiga U-Boat. Jika di darat perwira yang mengukir prestasi pertama menggunakan blitzkrieg adalah Jenderal Heinz Guderian dan Erwin Rommel, di laut dengan wolfpack perwira kondangnya adalah Korvettenkapitän (setara mayor) Gunther Prien. Wolfpack Prien, gugus tempurnya berkekuatan tujuh U-Boat yang berburu dalam kurun 12-7 Juni 1940, sukses memangsa lima kapal (40.949 ton) dalam Konvoi Sekutu HX 47. Kendati Wolfpack Prien lebih tenar di kalangan Kriegsmarine, catatan lebih fenomenal digoreskan Wolfpack West. Dengan kekuatan 23 U-Boat, kawanan yang berburu sepanjang 8 Mei-20 Juni 1941 itu menelan mangsa 33 kapal logistik/kapal dagang (191.414 ton) dan empat kapal tempur (33.448 ton) dari 10 konvoi yang diterkamnya. Namun, taktik wolfpack nan moncer itu seketika berbalik. Mulai akhir 1942 hingga akhir Perang Dunia II, kawanan serigala yang menjadi pemburu malah balik diburu gugus-gugus tempur Sekutu. Ini berkat keberhasilan Sekutu memecahkan kode-kode Enigma andalan kawanan serigala U-Boat dan mengembangkan alat pencegat transmisi komunikasi U-Boat, Huff-Duff (High Frequency Direction Finder). Alat itu membuat Sekutu tahu isi perut musuh. Mereka bisa melacak posisi-posisi musuh untuk kemudian mengerahkan gugus tempur pemburu U-Boat dari mulai kapal perusak hingga pesawat anti-kapal selam. “Ya, faktor kemunduran prestasi wolfpack karena Sekutu kemudian mengembangkan pertahanan yang lebih maju untuk menangkal serangan keroyokan dari U-Boat. Di antaranya adalah mengawal konvoi kapal dagang mereka dengan banyak destroyer (kapal perusak) dan mempersenjatai setiap kapal dagangnya,” tandas Alif.





















