Hasil pencarian
Cari di situs ini
10071 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Sudiro Berencana, Pusat Memutuskan
KETIKA memimpin Jakarta, Sudiro dihadapkan pada banyak masalah yang “diidap” kota yang dipimpinnya. Selain masih lebih pantas disebut “kampung” dengan banyak permukiman ala kampung dan lahan pertanian, Jakarta belum punya fasilitas-fasilitas kota besar. “Dan di dalam kota sendiri ternyata juga masih banyak rumah-rumah yang berciri khas kampung memakai bambu, dari kayu, terus jalannya masih becek. Makanya salah satu program Sudiro adalah perbaikan kampung. Kalau misalnya Bang Ali [Sadikin] yang disebut pionir perbaikan kampung, salah juga itu. Sejak zaman Sudiro sudah ada program perbaikan kampung,” terang Hendaru Tri Hanggoro, peneliti sejarah Jakarta, kepada Historia.ID. Di luar kondisi fisiknya, penduduk Jakarta pun masih banyak yang buta huruf. Aturan-aturan bila dikeluarkan, belum tentu langsung dapat dipahami apalagi dijalankan. Singkat kata, berbagai lini kehidupan di Jakarta masih sarat masalah.
- Ahmad Subardjo from Karawang
ON the banks of the Citarum River lies a small village called Teluk Jambe. It is located near Karawang, a regency that was famous during the colonial era as a rice-producing region. Traffic in Karawang was bustling and busy because it served as a train stop on the route from Bandung to Batavia and vice versa. To reach Karawang, people had to cross the Citarum River at Teluk Jambe. It was also in Teluk Jambe where Teuku Yusuf served as a civil service police officer. He was responsible for maintaining order and security in and around Teluk Jambe, which was frequently plagued by thieves and robbers. On March 23, 1896, Teuku Yusuf and his wife, Wardinah, were blessed with their fourth child, whom they named Ahmad Subardjo. “When I was born, my father was still serving as a civil service police officer, the lowest rank in the civil service,” Ahmad Subardjo recalled in Kesadaran Nasional: Sebuah Otobiografi (National Consciousness: An Autobiography). “My mother proudly told me that my father had once been awarded a medal by the government in recognition of his service after he successfully apprehended a much-feared robber.”
- Memata-matai Istana dan PKI
JUSUF Wanandi membuka rahasia. Menjelang keruntuhan Sukarno, dia mengumpulkan informasi dari dalam Istana untuk mencari tahu siapa orang yang punya pengaruh kuat terhadap Sukarno. Dia dan kawan-kawan aktivis Katolik juga punya mata-mata di dalam lingkaran kelompok komunis. Pengakuan Jusuf Wanandi tersebut tertuang dalam memoarnya, Menyibak Tabir Orde Baru: Memoar Politik Indonesia 1965-1998, yang diluncurkan di Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Jakarta, 20 Februari lalu. Edisi bahasa Inggrisnya, Shades of Grey, sudah terbit pada 2012 di Singapura. “Banyak kisah dalam buku ini yang orang lain belum tentu mau mengisahkannya,” ujar sejarawan Anhar Gonggong, pembedah buku itu.
- Solusi Praktis Minum Teh
TEH kali pertama masuk ke Hindia Timur pada abad ke-17. C.P. Cohen Stuart, ahli tanaman pada Algemeen Proefstation Voor Thee, Buitenzorg, menyebut Andreas Cleyer, seorang peneliti alam dari Jerman, sebagai pembawa pertama perdu teh ke Jawa. Perdu teh itu berasal dari Jepang dan tumbuh dengan baik di Tanah Hindia. Kemudian asisten Andreas Cleyer membawa perdu teh itu ke Belanda untuk kepentingan penelitian pada 1687. Demikian keterangan Stuart dalam “Permulaan Budidaya Teh di Jawa” termuat di Sejarah Perusahaan-Perusahaan Teh Indonesia 1824–1924, Johannes Camphuys, Gubernur Jenderal Hindia Timur 1684–1691, turut berhasil menanam teh di halaman rumahnya, di Batavia. J.H. van Emden dan W.B. Deijs dalam Perkebunan Teh, menyatakan teh tersebut berasal dari Tiongkok. Camphuys menanamnya sebagai hiasan dan kesenangan.
- Minuman Beralkohol Khas Nusantara
NEGERI ini sangat kaya. Terdapat sebuah gua di mana air garam keluar dengan sendirinya. Orang-orang di negeri ini membuat arak dari bunga pohon kelapa yang menggantung. Panjang bunganya lebih dari tiga kaki. Tebalnya sebesar lengan orang dewasa. Untuk menjadi arak, bunganya akan dipotong dan niranya dikumpulkan. Rasanya manis. Jika mereka meminumnya, mereka cepat mabuk. Proses pembuatan minuman memabukan itu tertulis dalam catatan Sejarah Lama Dinasti Tang (618-907) dan Sejarah Baru Dinasti Tang. Penulisnya membicarakan negara bernama Ho-ling atau Kalingga yang terletak di sebelah timur Sumatra dan sebelah barat Bali. Ery Soedewo, arkeolog Balai Arkeologi Medan, dalam “Produk Local Genius Nusantara Bernama Tuak” yang terbit di Jejak Pangan dalam Arkeologi menjelaskan, minuman yang menurut berita Tiongkok itu diolah dari air bunga kelapa, merujuk pada bahan bakunya yang berasal dari nira kelapa. Hasil olahannya kini dikenal sebagai tuak kelapa.
- Minum Spirtus Bersama Perwira Rusia
ORANG-orang Rusia dikenal sebagai peminum sejati. Salah satu minuman yang menjadi favorit mereka adalah vodka. Itu sejenis minuman keras khas Rusia yang dibuat dari hasil fermentasi kentang dan biji-bijian dengan kadar alkohol sebanyak 40 persen. Tentara Rusia yang ditempatkan pemerintah Uni Sovyet di Pangkalan Angkatan Laut Dermaga Ujung Surbabaya pada era Operasi Trikora (1961-1962) tak lepas dari kebiasaan tersebut. Laiknya orang-orang Rusia, mereka pun mengkonsumsi vodka dalam keseharian-nya. “Vodka yang mereka minum, khusus dikirim langsung dari negeri mereka setiap bulannya,” ungkap Kolonel (Purn) F.X. Soeyatno yang pernah bergaul akrab dengan orang-orang Rusia itu.
- Cara Penduduk Batavia Memperoleh Air Minum
BERAGAM air minum kemasan berjejer di rak-rak supermarket maupun mesin pendingin di warung-warung setiap sudut kota Jakarta. Air minum kemasan ini berbagai jenis, mulai dari air mineral, air soda atau minuman berkarbonasi, infused water hingga purified water. Air minum kemasan tersebut dijual dengan harga bervariasi tergantung ukuran. Salah satu air minum kemasan yang dijual dengan beragam bentuk dan ukuran adalah air mineral yang tersedia dalam bentuk gelas, botol kecil berukuran 330 ml, botol berukuran sedang hingga 1500 ml, serta kemasan galon yang kapasitasnya mencapai 19 liter. Ukuran yang beraneka ragam tersebut menyesuaikan kebutuhan air minum masyarakat. Air minum kemasan gelas maupun botol biasanya digunakan untuk keperluan acara yang dihadiri banyak orang, seperti pengajian hingga pertemuan atau rapat kerja di perkantoran. Sementara air minum kemasan galon cocok untuk memenuhi kebutuhan air minum konsumen rumah tangga karena kapasitasnya yang besar.
- ORI, Uang Perjuangan dan Persatuan
BANK Indonesia mengeluarkan uang baru edisi khusus pecahan Rp75.000 tepat pada perayaan 75 tahun usia Republik Indonesia, 17 Agustus 2020. Desain uang ini elegan dan sarat makna. Bagian muka bergambar wajah Sukarno dan Hatta. Bagian belakang berisi gambar wajah orang Indonesia dari beragam suku dan daerah. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, uang tak sebatas alat pembayaran. “Tetapi lambang kedaulatan, sistem kemandirian bangsa Indonesia,” kata Perry secara virtual. Ucapan Perry mengingatkan peran Oeang Republik Indonesia (ORI), uang kertas pertama keluaran pemerintah Indonesia. Uang itu mulai beredar pada 30 Oktober 1946. “Dalam sejarah kemerdekaan Indonesia, ORI tercatat sebagai alat yang mempersatukan tekad seluruh bangsa Indonesia untuk bersama-sama pemerintah Republik Indonesia berjuang menegakkan kemerdekaan,” ungkap Oey Beng To, mantan Gubernur Bank Indonesia, dalam Sejarah Kebijakan Moneter Indonesia Jilid I (1945–1958).
- Lahirnya Uang Putih
PADA perayaan 75 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 2020, Bank Indonesia mengeluarkan uang baru edisi khusus pecahan Rp75.000. Desain uang ini elegan dan sarat makna. Bagian muka bergambar wajah Sukarno dan Mohammad Hatta. Bagian belakang berupa gambar wajah orang Indonesia dari beragam suku dan daerah. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang mengamanatkan bahwa rupiah tak hanya alat pembayaran. Ia juga harus ditempatkan sebagai simbol kedaulatan. Bangsa Indonesia patut berbangga pula mempunyai mata uang sendiri sebagai pemersatu bangsa. Ini tak lepas dari sejarah rupiah ketika masih bernama Oeang Republik Indonesia (ORI). Uang itu mulai beredar pada 30 Oktober 1946. Cerita ORI bermula dari banyaknya mata uang di Indonesia saat awal kemerdekaan. Ada empat mata uang; tiga dikeluarkan Jepang dan satu mata uang peninggalan pemerintah Hindia Belanda. Peredaran empat mata uang itu merugikan Indonesia. “Menyebabkan situasi moneter menjadi sangat ruwet dan membingungkan,” catat Oey Beng To, mantan Gubernur Bank Indonesia, dalam Sejarah Kebijakan Moneter Indonesia Jilid I (1945-1958).
- Sebelum Jenderal Symonds Tewas di Surabaya
HARI ini, 10 November 1945, merupakan Hari Pahlawan. Hari tersebut diperingati untuk menghormati para pejuang yang telah mengorbankan jiwa-raga dalam menghadapi pasukan asing pertama pasca-kelahiran Republik Indonesia, Inggris, di Surabaya. Kendati tak terhitung jumlah darah yang tertumpah dan berapa banyak nyawa pejuang yang melayang di sana, Pertempuran Surabaya juga menjadi “neraka” buat pasukan raksasa Inggris yang baru menang perang. Tak hanya sampai meminta bantuan Sukarno-Hatta untuk menghentikan pertempuran, Inggris juga kehilangan jenderalnya. Namun, sejarah selama ini hanya memberitakan Brigadir A.W.S. Mallaby sebagai perwira tinggi Inggris yang kehilangan nyawa di Surabaya. Padahal, ada juga nama Brigadir Robert Guy Loder-Symonds.
- Gugurnya Jenderal Inggris Kedua
PERTEMPURAN Surabaya baru saja berjalan beberapa jam, ketika sebuah kabar bertiup kencang di medan perang: Brigadir Robert Guy Loder Symonds, komandan Detasemen Artileri Tentara Inggris di Surabaya, telah tewas. Menurut Kantor Berita Reuters, Symonds tewas akibat pesawat Mosquito yang ditumpanginya mengalami kecelakaan di landasan Lapangan Udara Morokrembangan, Surabaya pada Sabtu, 10 November 1945. Ikut tewas bersama sang jenderal seorang pilot RAF (Angkatan Udara Kerajaan Inggris) bernama Letnan Phillip Norman Osborne. Dalam rilis yang dikeluarkan oleh Mayor Jenderal E.C. Mansergh, panglima Tentara Inggris di Jawa Timur, dikatakan bahwa Symonds mengalami kecelakaan saat tinggal landas di Lapangan Udara Morokrembangan tepat jam 09.50.
- Dilema Brigadir Mallaby
JUMAT, 26 Oktober 1945. Gubernur R.M.T.A. Soerjo baru saja menandatangani kesepakatan dengan Brigadir A.W.S. Mallaby. Pertemuan yang terbilang sukses itu melahirkan empat kesepakatan. Pertama, pihak Inggris (Sekutu) mengakui keberadaan Republik Indonesia sebatas distrik Surabaya. Kedua, Pihak Inggris tidak akan membawa masuk pasukan Belanda dan tidak ada pasukan Belanda yang disusupkan pada pasukan Inggris yang mendarat di Surabaya. Ketiga, pasukan Inggris hanya dibolehkan berada pada radius 800 meter dari pelabuhan. Keempat, untuk memperlancar komunikasi antara pihak Inggris dengan Republik dalam keseharian, maka dibentuk Biro Kontak beranggotakan perwakilan dari kedua belah pihak. Menurut sejarawan Frank Palmos dalam Surabaya 1945 Sakral Tanahku, kesepakatan antara dua pihak itu lantas disiarkan secara luas oleh Radio Surabaya. Sementara semua puas. Untuk membuktikan adanya niat baik dari Pemerintah Jawa Timur, hari itu juga salah satu komandan kesatuan tentara Inggris yang mendarat di Tanjung Perak mendapat sambutan kalungan bunga.




















