top of page

Hasil pencarian

9813 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Arsip-arsip yang Tercecer

    SEBAGAI pusat pemerintahan dan ekonomi era kolonial, pulau Jawa menyimpan banyak peninggalan sejarah. Termasuk dalam bentuk arsip-arsip berbahasa Belanda. Namun, selain faktor bahasa yang umumnya tidak dipahami, persebarannya juga tidak terpadu. “Banyak arsip yang tersimpan di lembaga keluarga atau dinasti-dinasti kerajaan yang masih tersisa,” ujar Sri Margana, sejarawan Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam seminar “Sinkronisasi Informasi Arsip Berbahasa Belanda di Indonesia melalui Penyusunan Guide Arsip di Luar ANRI (Pulau Jawa)” di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), 5 September 2017. Sinkronisasi ini merupakan tahap awal pemetaan arsip berbahasa Belanda di Nusantara yang dilakukan antara ANRI dengan Arsip Nasional Belanda (Nationaal Archief Nederland). Nantinya, arsip tersebut akan dituangkan dalam sebuah sarana bantu berbentuk guide arsip. Arsip-arsip itu disimpan oleh beberapa lembaga pengelola arsip daerah yang meliputi tujuh kota: Bandung, Cirebon, Bogor, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, dan Malang.

  • Daftar Pencarian Orang Bung Karno

    DARI Yogyakarta, ibu kota Republik Indonesia dipindahkan kembali ke Jakarta usai Perang Kemerdekaan. Presiden Sukarno ingin membenahi istana kepresidenan yang sekira empat tahun terbengkalai. Untuk itu, dia membutuhkan karya-karya lukisan dari pelukis ternama demi menghiasi dinding-dinding Istana. Salah satunya lukisan karya Ernest Dezentje, pelukis aliran mooi indie yang sudah terkenal sejak masa kolonial. Mangil Martowidjojo, ajudan presiden dari Detasemen Kawal Pribadi (DKP) Kepolisian, ditugaskan Bung Karno untuk mencari sang pelukis. “Bung Karno memerintahkan kepada saya untuk mencari peluki kenamaan, Ernest Dezentje. Bung Karno berkata, 'Cari dia sampai ketemu dan suruh dia datang ke Istana ditunggu Bapak. Saya sendiri tidak tahu dimana dia sekarang, tetapi kamu, polisi tentu dapat menemukannya,'” tutur Mangil dalam memoar Kesaksian tentang Bung Karno 1945—1967. Dezentje adalah pelukis yang memiliki talenta kuat dan terkenal di Hindia Belanda. Pelukis kelahiran Jatinegara pada 1885 ini mengawali kiprahnya secara otodidak. Lukisannya mengungkapkan pemandangan dengan gaya impresionisme. Nama Dezentje mentereng pada dekade 1930-an dan mendapat perhatian dari pengamat seni zaman itu. Dalam karya-karyanya, ia dikenal selalu menangkap cahaya tropis yang melimpah. “Selain sebagai anggota Bataviasche Kunstkring, Dezentje juga banyak menyelenggarakan pameran tunggal di Batavia. Pameran tersebut yaitu di Kunstzaal & Co. (1936—1938), dan di Expositiezaal F. van Eelde pada Desember 1939,” sebut Agus Burhan dalam Perkembangan Seni Lukis: Mooi Indie sampai Persagi di Batavia, 1900-1942. Lumayan sulit bagi Mangil untuk mengendus keberadaan Dezentje. Setelah keliling Jakarta, Mangil justru secara tak sengaja menemukan Dezentje di Jl. Veteran, tak jauh dari Istana Negara. Ketika bersua, Mangil mendapati sosok Dezentje yang sudah menua, kurus, dan terlihat sakit-sakitan. Setelah Mangil menyatakan maksudnya, Dezentje terkejut karena Sukarno masih mengingat dirinya. “Ya, saya bersedia datang ke Istana, tetapi harus dijemput, sebab saya takut masuk Istana,” ujar Dezentje kepada Mangil. Bung Karno dan Pelukis Ernest Dezentje. (Koleksi Agus Dermawan T.). Bagi Sukarno, Dezentce lebih dari sekedar pelukis ternama. Menurut kritikus seni Agus Dermawan T, seperti dikisahkan pelukis Dullah, Dezentje adalah sahabat Bung Karno yang super akrab. Kala istana kepresidenan di Jakarta dan Bogor sedang genting-gentingnya dirundung agresi militer Belanda pada tahun pertama kemerdekaan, Sukarno menitipkan keselamatan Guntur, anak sulungnya yang masih bocah, ke rumah Dezentje. “Dezentje itu sangat baik kepada Bung Karno dan juga kepada banyak orang. Pertolongannya tidak pernah dipikir panjang,” kata Dullah seperti dituturkan Agus Dermawan dalam Dongeng dari Dullah. Setelah menghadap Bung Karno, Dezentje kemudian sering dipanggil Bung Karno, terutama sekali ke Istana Bogor. Ia pun menjadi salah satu pelukis Istana yang karya-karyanya jadi langganan Bung Karno. Selain Dezentje, Mangil juga mendapat tugas untuk mencarikan pelukis lain bernama Henk Ngantung. Semula Mangil menyangka Henk Ngantung orang Tionghoa, namun nyatanya dia adalah orang Indonesia asli dari Minahasa. “Dia juga pelukis kenamaan. Henk Ngantung saya temukan dengan gampang di Jalan Tanah Abang II dekat Asrama Polisi Tentara, Asrama Kala Hitam namanya waktu itu,” kenang Mangil. Bung Karno telah mengenal Henk lewat karyanya semasa pendudukan Jepang. Lukisan Henk bertajuk “Memanah” pada 1944, membuat Bung Karno terpikat dan menawarkan dirinya sebagai model pemanah dalam lukisan itu. Ketika Belanda menduduki Jakarta pada 1945, teman-teman Henk sesama pelukis hijrah ke Yogyakarta, sementara Henk menetap di Jakarta. Henk bahkan ikut berjuang melawan Belanda dengan keterlibatannya dalam Laskar Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS). Selain lukisannya yang kerap jadi koleksi Bung Karno, menurut Obed Bima Wicandra, kedekatan Henk dengan presiden RI pertama itu terus berlanjut selama periode kepresidenan. Henk selalu menjadi seniman pilihan Bung Karno dalam pelbagai panitia negara (pusat) untuk memimpin bidang dekorasi pada tempat-tempat acara kenergaraan, kota, dan sebagainya sejak 1957. Henk kemudian dikenal publik dan melenggang menjadi anggota Dewan Nasional (kemudian Bernama Dewan Pertimbangan Agung). “Keterlibatan Henk Ngantung tidak berhenti pada Dewan Nasional saja, namun namanya terus merangkak ketika ia ditunjuk menjadi panitia dan Anggota Juri Sayembara Tugu Nasional, kemudian anggota parlemen (MPRS), anggota Front Nasional, dan sebagainya,” catat Obed dalam biografi Henk Ngantung: Saya Bukan Gubernurnya PKI. Setelah beres mengurusi pencarian Dezentje dan Henk Ngantung, Bung Karno masih menugasi Mangil untuk mencari satu orang lain. Kali ini bukan pelukis, melainkan tukang cukur rambut. Pak Azis namanya. Haji Abdul Azis yang akrap dipanggil Pak Azis adalah tukang cukur rambut langganan Bung Karno sejak zaman pendudukan Jepang. “Salah seorang tukang cukur di daerah Cikini dapat memberikan petunjuk, rumah Pak Azis tukang cukur, yakni dekat kuburan Menteng Pulo,” ungkap Mangil, “Jadi, kalau Bung Karno mau cukur, seminggu sebelumnya sudah harus memberi tahu Pak Azis.” Semenjak bertugas di Istana, menurut Minggu Pagi, 4 April 1954, Pak Azis dibekali alat cukur yang baru. Alat-alat itu disimpan di Istana dan khusus digunakan hanya untuk Presiden Sukarno dan kedua putranya, Guntur dan Guruh. Untuk pekerjaan itu, Pak Azis datang berkala ke Istana tiga kali sebulan. Demikianlah kisah Ernest Dezentje, Henk Ngantung, dan Pak Azis, orang-orang yang dicari Bung Karno setelah Perang Kemerdekaan berakhir dan ibu kota negara kembali ke Jakarta. Dezentje menghabiskan masa tuanya di Bogor dan wafat pada 1972. Henk Ngantung sempat menjabat Gubernur DKI Jakarta periode 1964—1965. Namun, saat peralihan rezim, Henk mengalami pengucilan sosial lantaran aktivitasnya dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang terafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Sementara itu, Pak Azis menjadi tukang cukur rambut yang setia melayani Bung Karno, bahkan hingga saat-saat terakhir mendekati ajalnya pada 1970.*

  • The Three Tarumanagara Inscriptions (Part I)

    THE VILLAGE of Cibuaya in Karawang was thrown into an uproar one day in 1951. It all began with a villager named Warsinah who was digging a well. Instead of water, he discovered a statue. Startled, the villager immediately reported the find to local authorities. “This object was discovered by Mr. Warsinah from the village of Cibuaya; it was found when he dug to a depth of 21 meters. After being reported to Village Head Erman, the statue was immediately handed over to the District Head at the time,” wrote historian Halwany Michrob in an article in Buletin Kebudayaan Jawa Barat, (the West Java Cultural Bulletin), Issue No. 2, 1976, titled “Some Issues and the Background of Archaeology in Indonesia”. It later turned out that what Warsinah had found was a statue of the god Vishnu—later known as the Cibuaya I Vishnu Statue. Then, in 1957 and 1975, similar statues were discovered in succession, designated as Cibuaya II and Cibuaya III. Cibuaya Village subsequently became a site for archaeological excavations. All of this is, in fact, still connected to the history of Tarumanagara.

  • Niti Soemantri Digoelis Peduli Koperasi

    HUKUMAN pembuangan ke Boven Digoel di pedalaman Papua tak membuat Niti Soemantri jera. Hingga dipulangkan kembali ke daerah asalnya di Jawa Barat, Soemantri tak berhenti bergerak. Soemantri, yang seorang guru di Hollandsch Inlandsch School (HIS) Pasoendan, aktif di Pegoejoeban Pasoendan. Dia rajin menghadiri rapat-rapat ataupun rapat umum organisasi tersebut di berbagai tempat. Het Nieuws van den dag voor Nederlandsch Indie tanggal 2 September 1939 memberitakan, Soemantri hadir dan memberi pidato dalam rapat propaganda paguyuban tersebut di Ujungberung. Aspek ekonomi merupakan hal yang amat penting bagi perorangan maupun organisasi. Oleh karenanya, Soemantri kemudian meluaskan sayap perjuangannya ke bidang ekonomi. Lebih tepatnya ekonomi kerakyatan, dengan perhatian pada koperasi. Menurut buku Orang Indonesia Terkemoeka di Djawa, Soemantri mendirikan Koperasi Oesaha Desa di Sukabumi pada 1932. Ia menjadi ketua dari koperasi yang didirikannya itu, yang agak mirip dengan Koperasi Unit Desa (KUD) yang berkembang pada era Orde Baru.

  • Arsip Terjaga Menjaga Indonesia

    SEBUAH film dokumenter tentang masa awal berdirinya Republik Indonesia memperlihatkan suasana Stasiun Manggarai Jakarta dan sebuah rangkaian kereta api berlokomotif seri C-28 buatan Jerman. Itulah situs dan benda bersejarah yang menjadi saksi bisu hijrahnya pemerintahan Indonesia ke Yogyakarta pada awal 1946. “Kereta inilah yang dulu digunakan oleh rombongan Bung Karno dan Bung Hatta untuk hijrah ke Yogyakarta. Selain sumber arsip primer yang bisa bersaksi, ternyata benda ini pun juga penting,” ujar sejarawan Rusdhy Hoesein dalam diskusi “Dokumen Negara dan Ular Besi Penyelamat Republik” di Galeri Foto Jurnalistik Antara, Jakarta Pusat, 3 September 2016. Cerita soal kereta api bersejarah itu menjadi pemantik untuk menyoroti abainya pemerintah terhadap peninggalan sejarah di Indonesia. Rusdhy menunjukkan bahwa dulunya Stasiun Manggarai memiliki tiga peron yang konstruksinya berbahan kayu besi. Tetapi, kini hanya tersisa dua peron yang masih asli karena peron paling barat telah dibongkar dan diganti kostruksi besi.

  • Arsip Konferensi Asia Afrika Menjadi Warisan Ingatan Dunia

    SEBANYAK 565 lembar arsip foto, 7 reel arsip film, dan 37 berkas arsip tekstual setebal 1778 lembar menjadi saksi sejarah berlangsungnya Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung, 18-24 April 1955. Arsip KAA mulai dari potret para delegasi, notulensi rapat, rekaman pidato, hingga surat menyurat, terdokumentasi dengan baik dalam koleksi Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Pada 8 Oktober 2015, UNESCO (Organisasi PBB bidang Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan), mengumumkan Arsip KAA itu sebagai Warisan Ingatan Dunia. Sepanjang peradaban dunia modern, KAA menjadi konferensi internasional pertama yang mempertemukan antar bangsa-bangsa Asia dan Afrika. Pencetusnya adalah Indonesia, India, Pakistan, Sri Lanka, dan Burma (Myanmar) yang diwakili perdana menteri masing-masing (Ali Sastramidjojo, Pandit Jawaharlal Nehru, Muhammad Ali, Sir John Kotelawala, dan U Nu). Kelima negara sponsor itu mempersiapkan KAA dalam Konferensi Panca Negara yang diadakan di Bogor tahun 1954. Mereka mengupayakan forum yang bisa menggaungkan suara rakyat Asia dan Afrika ditengah dominasi bangsa kulit putih dan Perang Dingin. Dari 29 negara peserta dan 200 delegasi itu lahirlah manifesto Dasasila Bandung. Sepuluh prinsip yang termaktub dalam Dasasila Bandung mencerminkan cita-cita luhur seluruh peserta KAA: merdeka dari imperialisme dan hidup berdampingan secara damai.

  • Tentang Arsip dan Laporan untuk Tuan

    SALAH satu tujuan utama kedatangan saya ke Den Haag adalah mencari arsip-arsip yang berkaitan dengan Boedi Oetomo. Organisasi yang digagas oleh dr. Wahidin Soedirohoesodo dan didirikan oleh dr. Soetomo itu berdiri pada 20 Mei 1908. Hari berdirinya Boedi Oetomo lantas diberlakukan sebagai hari kebangkitan nasional, karena dianggap sebagai awal tersemainya benih-benih nasionalisme Indonesia sekaligus dianggap sebagai organisasi modern pertama di Indonesia. Banyak terjadi perdebatan ihwal penetapan tersebut. Ide awal berdirinya organisasi ini lebih kepada untuk membantu pendanaan mahasiswa kedokteran yang sekolah di Stovia. Namun pada kenyataannya organisasi ini bergerak lebih jauh. Sebagian anggotanya, yang datang dari generasi muda, mulai mendiskusikan ke arah mana nasib bangsa Hindia. Ada perdebatan di dalam, tentang akan kemana nasionalisme akan dituju: Nasionalisme Hindia atau Jawa. Hanya selang setahun setelah berdirinya, organisasi ini mengalami kemunduran. Pangkal perkaranya karena organisasi ini dikuasai oleh para kaum feodal. Ketua Boedi Oetomo, Raden Adipati Tirtokoesoemo, mantan Bupati Karanganyar, lebih terlihat sebagai seorang yang tunduk kepada pemerintah kolonial Belanda. Dia bukan seseorang yang datang dengan gagasan kemerdekaan di kepalanya.

  • Mengadili Polisi Brutal

    KASUS penganiayaan yang dilakukan aparat kepolisian seakan tiada pernah habisnya. Baru-baru ini, viral video rekaman yang memperlihatkan personel Brimob membanting seorang mahasiswa yang berunjuk rasa di depan kantor bupati Tangerang. Bak seorang pegulat di atas ring, sang Brimob memiting lalu menghujam tubuh anak muda itu ke atas trotoar. Setelah aksi smackdown itu, si mahasiswa terlihat kejang-kejang lantaran mengerang kesakitan. Publik pun mengecam laku brutal personel Brimob yang identitasnya diketahui bernama Brigadir NP itu. Kasus serupa juga pernah menggemparkan institusi kepolisian pada dekade 1970-an. Martawibawa alias Tan Tjong ditemukan tidak bernyawa dalam tahanan. Sejumlah tanda kekerasan melekat pada jenazah tersangka kasus makelar mobil dan keimigrasian itu.

  • Kari Perjuangan Hamzah Abdullah

    DI MASA lalu, Rumah Makan (RM) Fadjar Asia cukup populer di Medan. Seperti umumnya rumah makan, Fadjar Asia juga dikenal karena menu andalannya. Rumah makan milik Nyak Hamzah Abdullah itu dikenal karena menu kari kambingnya. Hamzah merupakan saudagar perantau asal Aceh. Menurut Apriani Harahap dalam tulisannya berjudul “Mencari Jalan Aman: Strategi Bertahan dan Kekacauan Sosial dalam Komunitas India di Perkotaan Sumatera Timur, 1945-1946” di buku Dunia Revolusi Perspektif dan Dinamika Lokal Pada Masa Perang Kemerdekaan Indonesia, 1945-1949, Hamzah yang berdarah India besar di Aceh. Tidak mengherankan jika Hamzah berdagang kari di Medan. Orang India-Muslim sudah cukup lama masuk ke Sumatra Utara. “Pengaruh Muslim-India menghasilkan hidangan seperti nasi biryani, martabak dan berbagai hidangan kari,” catat Fadly Rahman dalam pembekalan Muhibah Budaya Jalur Rempah 2024 secara daring pada 18 Mei 2024.

  • Kisah Keluarga Tionghoa Saat Revolusi

    BATAVIA (kini, Jakarta), 12 Agustus 1945. Lim Him Nio atau dikenal dengan Laetitia, yang juga dipanggil Letty Kwee tengah berada di rumah sakit di daerah Menteng, Jakarta, yang berjarak sekitar satu kilometer dari tempat Sukarno dan Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Letty melahirkan Tjoe, yang berarti lemah lembut, pada momen bersejarah. Tiga hari sebelum kelahirannya, Jepang menyerah dan kalah dalam Perang Dunia II. Lima hari kemudian, Indonesia mendeklarasikan kemerdekaan. Letty menceritakan kisah hidup Tjoe dalam buku Baby Jaren in Indie (Tahun-tahun Bayi di Hindia), yang diterbitkan oleh Vereniging van Huisvrouwen te Batavia (Perkumpulan Ibu Rumah Tangga Belanda di Batavia). Letty pernah belajar di sekolah Eropa untuk menjadi guru ekonomi.

  • Bayi Revolusi Berbaju Sampul Buku

    “Baju-baju bayi ini simbol revolusi.” Merapi Obermayer mengisahkan episode kelahirannya sekitar 74 tahun lalu, tepatnya 6 September 1947 di koloni penderita kusta Plantungan, Jawa Tengah. Julia Nessen dan Paul Wolfgang mengambil nama gunung Merapi yang pernah meletus pada 1930 untuk nama depan putrinya itu. Nama yang kental dengan sejarah, begitu juga kehidupannya yang penuh perjuangan untuk bertahan di tengah kecamuk revolusi di Jawa. Merapi mengisahkan kembali masa-masa sulit orang tuanya melewati periode kelam revolusi. Mereka menyaksikan mayat-mayat korban kekerasan bergelimpangan di antara arus sungai yang melewati koloni di Plantungan.

  • Kesaksian Putri Tentara KNIL

    MARTHA Anthony Akihary terdiam sejenak. Lalu bibirnya bergetar saat menceritakan tentang ayahnya, Sersan Mayor Petrus Akihary, komandan KNIL asal Maluku. “Sepanjang revolusi… dia bahagia Indonesia telah merdeka. Dan… sebetulnya, dia ingin kembali di kepulauan Maluku sebagai purnawirawan. Tapi yang terjadi tak sesuai harapan,” kata Martha. Kesaksian Martha tentang ayahnya itu ditayangkan di channel Youtube Rijksmuseum, saat pembukaan pameran Revolusi! Indonesia Independent di Rijksmuseum, Amsterdam, Belanda, pada 11-12 Februari 2022. Martha adalah putri sulung dari Petrus Akihary, yang menjadi prajurit KNIL saat usia 18 tahun pada 1926. Petrus Akihary terdaftar sebagai prajurit KNIL dengan nomor 20574. “Saya bangga bila membaca nomor dog-tag-nya. Sebuah pencapaian luar biasa. Seorang biasa dari desa Aboru,” kata Martha.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page