top of page

Hasil pencarian

Search this site

10003 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Batalyon Jawa yang Merepotkan Tuan Tanah di Toraja

    BATALYON Andjing Laut melawan tentara Belanda pada masa revolusi kemerdekaan di Jawa Timur. Komandannya Mayor Ernest Julius Magenda (1919–1972), mantan perwira tentara sukarela Pembela Tanah Air (Peta). Anak buahnya di antaranya Bungkus, Djaharup, dan Dul Arif. Bungkus menyebut Magenda berasal dari Sangihe-Talaud (Sangir, Sulawesi Utara). “Ia terlihat seperti peranakan Portugis atau Belanda. [Posturnya] Cukup tinggi,” kata Bungkus kepada Ben Anderson dalam “The World of Sergeant-Major Bungkus”, di jurnal Indonesia, No. 78, Oktober 2004. Bungkus menyebut 85 persen personel Batalyon Andjing Laut adalah orang Madura. Andjing Laut pernah dianggap bagian dari bekas Angkatan Laut yang masuk Brigade 18 dari Tentara dan Teritorium Brawijaya, Jawa Timur. Batalyon ini terlibat dalam penumpasan pemberontakan di Indonesia Timur.

  • Persahabatan Petinju Jerman dan Afro Amerika

    SELEMBAR kertas berisi alamat itu dilihatnya kembali sesaat keluar dari mobil. Kegugupan mulai muncul di benaknya saat melangkah ke pintu di hadapannya. Bel di pintu rumah yang dikunjunginya pun beberapakali dipencetnya untuk memanggil tuan rumah. Sembari memencet bel, ia terus memainkan topi fedoranya dari tangan kiri ke kanan dan sebaliknya. Kegugupannya belum pergi. Pada hari di tahun 1954 itu, Max Schmeling, pria tadi, sengaja berperjalanan dari Jerman ke Chicago, Amerika Serikat. Dia ingin melakukan klarifikasi. Seorang perempuan lalu muncul dari balik pintu. Schmeling menuturkan niat kedatangannya untuk bersua sang tuan rumah. Namun, kata si perempuan, sang tuan rumah tengah bermain golf. Seraya mempersilakan Schmeling menunggu di dalam, perempuan itu menyampaikan pesan ke klub golf bahwa di rumah sedang ada tamu.

  • Ketika Mohammad Hatta Merayakan Natal di Jerman

    JERMAN, Pekan Natal 1921. Seluruh daratan telah memutih. Jalanan dan atap-atap bangunan tampak ditutupi oleh lapisan salju. Asap pun mulai membumbung dari rumah-rumah. Di tengah udara menggigit itu Mohammad Hatta dan Dahlan Abdullah berjalan. Menyusuri jalan utama dengan pakaian musim dinginnya. Meski telah tiga bulan di Eropa, keduanya tetap belum terbiasa dengan udara di sana. Terlebih Natal tahun itu menjadi perayaan musim dingin pertama mereka di Benua Biru. Kedatangannya ke Jerman bukan sebagai warga koloni Hindia Belanda. Melainkan pelajar dari Belanda. Kala itu Hatta sedang menempuh pendidikan Ekonomi di Handels Hogeschool, Belanda. Pada Desember 1921, ia mendapat jatah libur tahunan, menyambut Natal dan Tahun Baru, selama lebih dari tiga minggu.

  • Bunuh Diri Massal Penduduk Jerman di Demmin

    WALTRAUD Reski masih berusia 11 tahun ketika kengerian melanda Demmin, kota kecil 220 kilometer di utara Berlin yang jadi tempat tinggalnya, pada 30 April 1945. Kendati belum paham apa yang sebenarnya sedang terjadi, batinnya diliputi ketakutan ketika mendengar derap langkah dan deru kendaraan tempur Tentara Merah memenuhi Demmin. “Suara ini –tank-tank bergerak masuk– suara yang menakutkan. Setiap kali saya melihatnya dalam sebuah film, sekarang ingatan ini kembali kepada saya,” ujarnya sebagaimana dikutip sejarawan Laurence Rees dalam bukunya yang berjudul Their Darkest Hour: People Tested to the Extreme in WW II. Sebagaimana warga Demmin umumnya, ketakutan Waltraud timbul akibat berbulan-bulan terus dicekoki berita propaganda oleh pemerintah Jerman-Nazi. Sejak Jerman kalah di Stalingrad, Menteri Propaganda Joseph Goebbels selalu mempropagandakan kengerian yang bakal diterima rakyat Jerman apabila tentara Soviet mencapai tempat tinggal mereka. Dalam pidatonya Goebbels menyatakan begitu “Gerombolan Bolshevik Mongol” –demikan julukan kaum fasis terhadap pasukan Soviet– tiba, mereka akan membumihanguskan kota-kota Jerman yang dilalui, membiarkan penduduk kelaparan, mengirim penduduk kerja paksa ke tundra, dan memerintahkan eksekusi massal. Para prajurit Soviet juga bakal menjarah apa saja yang mereka temui, menyiksa anak-anak sebelum membunuh mereka, dan memperkosa perempuan-perempuan yang ada.

  • Akhir Tragis Penduduk Jerman di Fase Akhir Rezim Fasis

    SETELAH lebih dari 10 tahun dari kunjungan pertamanya, fotografer-jurnalis Margaret Bourke-White kembali mendapat kesempatan meliput ke Jerman pada awal 1945. Pada kunjungan pertamanya, tahun 1932, Margaret yang masih bekerja untuk Majalah Fortune mendapati keadaan Jerman mengkhawatirkan. Jerman yang saat itu dilarang memiliki militer dalam jumlah besar oleh Perjanjian Versailles usai Perang Dunia I, justru getol melakukan pelatihan militer dan sedang diwabahi Naziisme. “Dia tinggal di Jerman cukup lama untuk memotret pasukan Jerman yang sedang berlatih dengan peralatan tiruan, seperti senapan kayu. Saat itu, Jerman dilarang memiliki tentara yang besar dan menimbun persenjataan,” tulis Emily Keller dalam biografi Margaret berjudul Margaret Bourke-White: A Photographer’s Life. Maka ketika mendapat kesempatan kedua mengunjungi Jerman, Margaret bersemangat. Dia berangkat pada Maret 1945, ketika negeri itu telah berada di jurang kekalahan dalam Perang Dunia II. Sebagai fotografer-koresponden AD Amerika Serikat, Margaret bertugas mendokumentasikan dan melaporkan keadaan di tempat-tempat yang disinggahinya mengikuti gerak-maju Tentara Ketiga AD AS pimpinan Jenderal George Patton.

  • Lonceng Kematian Kapal Kebanggaan Jerman

    BARU kemarin Oberbootsmannmaat (setara sersan kepala) Wilhelm Gödde merayakan Hari Natal bersama rekan-rekannya, hari berikutnya awak Scharnhorst –nama kapal tempur kebanggaan Kriegsmarine (Angkatan Laut Jerman)– itu terombang-ambing di perairan Nordkapp, Tanjung Utara, Norwegia. Di kegelapan malam dengan hawa dingin dari salju yang turun dan air laut yang membeku, Gödde hanya bisa menggantungkan nasibnya pada Yang Kuasa. Gödde satu dari sedikit penyintas Scharnhorst yang tenggelam pada malam 26 Desember 1943 usai dikeroyok kapal-kapal armada Inggris dalam Pertempuran Tanjung Utara. Pertempuran itu jadi ajang terakhir bentrok antarkapal permukaan murni tanpa keterlibatan kapal selam dan pesawat udara di front Eropa. Bersama sekitar selusin rekannya, Gödde mesti susah payah dan nyaris menyerah saat belum diselamatkan musuhnya, awak kapal perusak HMS Scorpion. Para awak Scorpion sudah mencoba menurunkan jaring dari lambung kapal namun Gödde dan rekan-rekannya sudah lebih dulu kehabisan tenaga untuk memanjatnya.

  • Lika-liku Kisah Pelarian Tawanan Sekutu dari Kamp Jerman

    UDARA dingin yang menusuk tulang tak memadamkan keinginan kuat Letda (penerbang) Bertram Arthur James untuk meraih kebebasannya. Menjelang tengah malam, 24 Maret 1944, James bersama puluhan rekan sesama tawanan perang di Kamp Stalag Luft III di Sagan, Silesia (kini Żagań, Polandia) merangkak di terowongan bawah tanah yang lebarnya hanya 60 centimeter (cm). “Musim dingin tahun itu sangat buruk. Itu bulan Maret terdingin selama 30 tahun dan orang-orang yang berjalan kaki akan sangat menemui kesulitan,” James berkisah. Tetapi bukan perkara mudah bagi James dkk. bisa keluar dengan selamat. Tebalnya salju di atas tanah berpasir di sekitar kamp membuat bagian ujung terowongan sepanjang 102 meter itu amblas. Butuh sekira satu jam bagi rekan-rekan James di bagian depan untuk memperbaiki terowongan itu, termasuk pintu terowongan yang membeku.

  • Bekas Kampung Jerman di Sarangan

    WAKTU tentara Jerman menduduki Belanda, banyak orang Jerman di Hindia Belanda ditangkapi dan diisolasi dalam sebuah kamp interniran, di antaranya di Sarangan, Plaosan, Magetan, Jawa Timur. Mereka tidak hanya orang dewasa, tapi juga anak-anak. Selama dalam tahanan, mereka tetap mengadakan pendidikan untuk anak-anak mereka. “Orang-orang Jerman itu kemudian ditempatkan di hotel-hotel resort Sarangan yang sejuk itu. Sehingga Sarangan menjadi sebuah deutsche dorf (kampung Jerman) lengkap dengan sekolah SD sampai SMP-nya,” catat Daud Sinjal dkk. dalam Laporan kepada Bangsa: Militer Akademi Yogya. Orang-orang Jerman di Sarangan sempat jauh dari front pertempuran antara Belanda dan Jepang. Setelah ditahan sejak 1940, hidup mereka berubah pada awal 1942 karena Jepang mengalahkan Belanda.

  • Pasukan Ekspedisi Brasil Datang, Jerman Lari Tunggang Langgang

    SENIO, Italia Utara pada malam 6 April 1945. Satu dari dua kubu pertahanan terakhir Jerman di Italia itu dibombardir dengan dahsyat oleh Sekutu yang memulai Operasi Grapeshot atau Kampanye Musim Semi Italia 1945. Kampanye Sekutu berskala besar itu tujuannya untuk mengusir sisa-sisa kekuatan Jerman di Italia. Hingga awal April 1945 itu, kekuatan Jerman hanya merupakan sisa-sisa dari Grup Angkatan Darat (AD) C pimpinan Heinrich von Vietinghoff. Dari total 585 ribu personil di sepanjang kubu pertahanan di tepian Sungai Senio dan Santerno, 55 ribu di antaranya adalah Divisi Esercito Nazionale Repubblicano (ENR) atau pasukan nasionalis Italia yang masih setia pada diktator fasis Benito Mussolini. Pada malam bombardemen Sekutu, 6 April 1945, Senio sekadar dipertahankan pasukan Divisi Infantri ke-98 AD Jerman pimpinan Generalleutnant Alfred-Herman Reinhardt dan Falschirmkorps I (Korps Parasut ke-1) Angkatan Udara (AU) pimpinan Jenderal Richard Heidrich. Keduanya adalah unit tempur di bawah naungan Korps Panser ke-76 yang dikomandani Jenderal Traugott Herr.

  • Repatriasi Bukan Sekadar Memulangkan Benda Bersejarah ke Tanah Air

    MENTERI Muda urusan Kebudayaan dan Media Belanda Gunay Uslu serta Dirjen Kebudayaan Kemendikbudristek RI Hilmar Farid meneken peresmian penyerahan 472 benda bersejarah yang akan direpatriasi dari Belanda. Keduanya sama-sama menyadari pentingnya penelitian bersama agar repatriasinya tak sekadar memulangkan benda ke negeri asalnya. Menukil keterangan pers Tim Repatriasi Koleksi Asal Indonesia di Belanda, peresmian itu dihelat di Museum Volkenkunde, Leiden, Belanda pada Senin (10/7/2023) pagi waktu setempat. Ke-472 artefak yang ditransfer itu meliputi sebuah Keris Klungkung, empat arca era Kerajaan Singhasari, 132 benda seni koleksi Pita Maha, dan 335 harta karun jarahan Ekspedisi Lombok 1894. “Ini menjadi langkah penting. Sebuah milestone dalam kerjasama kita dalam hal bagaimana menangani koleksi dari konteks kolonial. Saya mengharapkan harta nasional Indonesia itu akan pulang dengan selamat,” tutur Menteri Uslu dalam sambutannya.

  • Di Balik Repatriasi Benda Bersejarah Indonesia dari Belanda

    REPATRIASI atau pengembalian ratusan benda bersejarah asal Indonesia yang dijarah Belanda pada zaman kolonial menarik perhatian publik. Penandatanganan serah terima telah dilakukan pada 10 Juli 2023 di Leiden, Belanda. Ini momen bersejarah karena upaya repatriasi telah dilakukan sejak lama. Ketua Tim Repatriasi Koleksi Asal Indonesia I Gusti Agung Wesaka Puja mengatakan pembicaraan mengenai pemulangan artefak-artefak Indonesia sudah berlangsung sejak masa-masa awal kemerdekaan Indonesia. “Saat Konferensi Meja Bundar berlangsung tahun 1949, pembahasan mengenai transfer benda-benda budaya telah dilakukan, tetapi tidak terealisasi karena hubungan Indonesia dan Belanda kala itu buruk sekali,” kata Pujadalam dialog sejarah bertajuk “Ada yang Mau Pulang” yang diselenggarakan Historia.ID.

  • Adu Gengsi dengan Hak Tinggi

    SEPATU hak tinggi bukan sekadar alas kaki. Sejarah kemunculannya berkaitan dengan obsesi kaum elite untuk memamerkan kekayaan dan status sosial. Sejak awal abad pertengahan, kaum elite di Eropa mengenakan sepatu berbeda dengan rakyat biasa. Perbedaan itu dapat dilihat dari warna, bahan, dan alas kaki. Para bangsawan mengenakan sepatu yang terbuat dari kain mewah, seperti sutra, beludru, brokat, dan kulit lembut. Guna memperindah tampilan, alas kaki dihiasi aneka sulaman, manik-manik, dan pewarna, yang menjadi penanda dari kalangan atas karena hanya mereka yang mampu membeli bahan-bahan mahal tersebut. Berbeda dengan kaum elite, para petani dan rakyat biasa mengenakan sepatu yang terbuat dari kulit dengan alas kaki sederhana dari balok kayu yang diukir seperti clogs. Pada akhir abad pertengahan dan masa pencerahan, kaum elite memiliki lebih banyak pilihan model. Sementara rakyat biasa tetap mengenakan sepatu dengan desain dan bahan sederhana. Di masa inilah, chopines, alas kaki dengan sol setinggi puluhan inci, menarik perhatian para wanita kelas atas yang tergila-gila memamerkan kekayaan dan status sosial di hadapan umum. Margo DeMello menulis dalam Feet and Footwear: A Cultural Encyclopedia, selama era Renaisans, sepatu dengan bentuk-bentuk tidak biasa bermunculan. Misalnya, sepatu berujung persegi yang dihias secara mewah dengan ujung selebar delapan atau sembilan inci. Lalu ada chopines, alas kaki dengan sol setinggi 20 hingga 30 inci. “Keduanya hanya dikenakan oleh kalangan elite, dan chopines khususnya menjadi simbol status, karena para wanita yang mengenakannya jelas bukan berasal dari kalangan pekerja dan sering kali harus dibantu oleh pelayan untuk berjalan atau berdiri,” tulis DeMello. Chopines sebagai penanda status sosial dan simbol kemewahan berkaitan dengan gagasan mengenai ketergantungan fisik, yang juga identik dengan kekayaan dan status, serta menjadi atribut yang sangat digemari oleh wanita dari kalangan atas. Wanita Penghibur Meski banyak digunakan oleh wanita dari kalangan atas, sejarah kemunculan chopines juga terkait dengan wanita penghibur di abad pertengahan. William Sharpe mencatat dalam The Art of Walking: A History in 100 Images, otoritas di beberapa wilayah Eropa menyusun aturan mengenai tata cara berpakaian para wanita penghibur untuk membedakan mereka dengan wanita “terhormat”. “Warna kuning adalah warna paling umum yang dipaksakan kepada pekerja seks –di Leipzig, Pisa, Venesia, dan Wina, misalnya– sementara di London dan Bristol mereka diwajibkan mengenakan tudung atau penutup kepala bergaris, dan di Marseilles mengenakan tunik bergaris. Di Florence, seorang wanita pekerja seks harus mengenakan pakaian rumit yang mencakup sarung tangan hingga alas kaki bertumit tinggi,” tulis Sharpe. Aturan penggunaan alas kaki dengan sol tinggi bagi wanita penghibur berkembang menjadi hal tak terduga. Setelah tahun 1400 para wanita dari kalangan atas, yang dianggap sebagai wanita “terhormat”, justru terobsesi dengan sepatu hak tinggi. Sebab, alas kaki tersebut memberi ilusi tinggi kepada penggunanya. Selain itu, sol yang tinggi juga mengharuskan penggunanya memperpanjang rok hingga menutupi bagian kaki. Dengan demikian, dibutuhkan lebih banyak kain mahal untuk membuat gaun tersebut. Menurut DeMello, sepatu platform berhak kayu atau gabus dengan bagian belakang terbuka itu pada mulanya dikenakan oleh wanita kaya saat keluar rumah untuk melindungi kaki dan pakaian dari kotoran dan lumpur. Hal ini berkaitan dengan fungsi awal chopines yang semula sebagai pelindung alas kaki kemudian digunakan sebagai sepatu mandiri. Pada abad ke-17, para wanita di Venesia mengenakan chopines yang terbuat dari sutra bersulam, beludru, atau bahan mewah lainnya, yang sering kali dirancang agar serasi dengan gaun yang dikenakan. Sepatu wanita dihias dengan mewah, umumnya dipasangkan gesper dan jalinan bordir yang dapat dilepas pasang dari satu sepatu ke sepatu lainnya. “Karena sepatu selalu menjadi penanda kelas dan status, sepatu wanita secara historis menandakan status mereka sehubungan dengan nilai suami (atau ayah) mereka. Wanita kaya di Venesia mengenakan chopines untuk menambah tinggi badan dan status sosial, tetapi, seperti halnya sepatu hak tinggi saat ini, alas kaki tersebut tidak praktis sehingga menghambat mobilitas dan bahkan kesehatan seorang wanita,” tulis DeMello. Peraturan Pembatasan Popularitas chopines membuat para wanita dari kalangan elite ramai-ramai mengenakannya saat beraktivitas di luar rumah. Mereka berlomba-lomba meninggikan sol sepatu untuk menonjolkan kekayaan dan status sosial. “Semakin tinggi seorang wanita, semakin kaya keluarganya, semakin tinggi status sosialnya, dan semakin memikat –jika dia mampu berjalan dengan anggun– sepatu yang dikenakannya,” tulis Sharpe. Obsesi terhadap sepatu hak tinggi memicu persoalan. Meski dibantu banyak pelayan untuk menggunakannya, tak sedikit wanita yang terjatuh saat memakai sepatu hak tinggi. Sejumlah kasus keguguran dilaporkan karena beberapa wanita hamil nekat mengenakan alas kaki dengan sol tinggi. Karena berbahaya dan terkait wanita penghibur, serangkaian undang-undang yang mengatur penggunaan chopines diberlakukan di Eropa. Pada abad ke-15, undang-undang yang membatasi tinggi chopines hanya tiga inci diberlakukan di Venesia. Namun, aturan ini tak diindahkan oleh para wanita yang terus mengenakan sepatu hak tinggi di sepanjang abad. Pada abad ke-16, diberlakukan peraturan melarang penggunaan bahan tertentu, seperti emas dan perak pada sepatu, terutama pada chopines. Bahkan, karena banyak pengguna sepatu hak tinggi memakai chopines untuk memberikan ilusi tubuh lebih tinggi, pada 1670 Inggris memberlakukan aturan melarang wanita menggunakan sepatu hak tinggi untuk menipu pria mengenai tinggi badan mereka. Undang-undang juga diberlakukan untuk membatasi konsumsi atau perilaku berlebihan untuk mengontrol penggunaan barang-barang mewah oleh kalangan non-elite. Misalnya, undang-undang yang disahkan oleh Louis XIV membatasi penggunaan sepatu hak merah hanya untuk anggota istana. Setelah Revolusi Prancis dan Revolusi Amerika, undang-undang pembatasan itu mulai menghilang di Eropa. “Sepatu hak tinggi mulai tidak populer lagi setelah era revolusi pada akhir abad ke-18; sepatu dengan hak rendah bahkan dikenakan oleh kalangan elite selama abad ke-19 karena sepatu hak tinggi dikaitkan dengan kaum bangsawan yang sembrono setelah Revolusi Prancis,” tulis DeMello. Meski begitu, sepatu hak tinggi kembali menjadi tren di kalangan wanita pada akhir abad ke-19.*

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bottom of page