top of page

Hasil pencarian

9739 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Sukarno Bilang Islam Sontoloyo

    PRESIDEN Joko Widodo berseru agar rakyat berhati-hati. Katanya, banyak politikus yang baik tapi juga banyak politikus yang sontoloyo. Jokowi jengkel lantaran kebijakan pemerintah yang akan mengucurkan dana kelurahan dikaitkan dengan kampanye pemilihan presiden mendatang. Pernyataan itu dilontarkan presiden saat menghadiri penyerahan sertifikat tanah untuk rakyat di Lapangan Ahmad Yani, Jakarta (23/10). Kata "sontoloyo" kemudian menjadi viral dan ramai diperbincangkan. Banyak yang mempertanyakan kepatutan presiden perihal ujarannya yang bernada umpatan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sontoloyo berarti konyol, tak beres, bodoh. Ini dipakai sebagai kata makian. Kata yang sama juga pernah dipakai Sukarno, presiden pertama RI. Si Bung tak tanggung-tanggung. Dia membubuhkan kata itu di samping nama agama. Pada 1940, Sukarno menulis artikel di Majalah Pandji Islam berjudul “Islam Sontolojo”. Kontroversi? Jelas. Tapi apa yang ada dalam benak Sukarno hingga terbersit kata sontoloyo?

  • Legiun Asing Persebaya

    ALKISAH di suatu petang pada 1996. Stadion Gelora 10 November Tambaksari, Surabaya tribunnya dipenuhi Bonek, menyaksikan laga bertajuk “Derby Surabaya” Persebaya vs Assyabaab Salim Group Surabaya (ASGS). Sialnya, getir dirasakan Bonek. Persebaya kalah 1-4 dari ASGS yang kala itu dibesut Rusdy Bahalwan. Persebaya yang diperkuat tiga pemain asing pertama mereka tak mampu berbuat banyak. Padahal, salah satunya, Plamen Iliev Kazakov, memberi asa dengan membuka skor lebih dulu. Namun, ASGS akhirnya membalas empat gol lewat Putut Wijanarko (2 gol), Ali Sunan, dan Gunung Ginting. Kazakov yang berpaspor Bulgaria jadi satu di antara tiga pemain asing pertama Persebaya sejak 1995. Dia direkrut lewat perantara ISA (International Sports Agency) besutan Angel Ionita. ISA juga mendatangkan pelatih asing pertama Persebaya di momen yang sama. “Dua lainnya itu Dejan Antonic (Serbia, dulu Yugoslavia) dan Nadoveza Branko (Montenegro, dulu Yugoslavia). Ketika itu Persebaya lagi senang-senangnya dengan pemain dari Balkan. Plus pelatihnya juga (Alexander Dimitrov Kostov) dari Bulgaria. Tapi dari tiga itu yang bertahan dan jadi topskorer sampai akhir musim dengan 16 gol, hanya Plamen (Kazakov). Yang lainnya diganti pemain asing lain,” terang sang penulis kepada Historia. Ada satu hal unik dari Kazakov di laga kontra ASGS itu. Tak banyak yang tahu bahwa sepanjang laga Kazakov bermain dengan mengenakan jam tangan! Ofisial pertandingan sepertinya khilaf. Pasalnya, tali jam tangan Kazakov berwarna coklat muda, begitu menyatu dengan kulitnya. Eladalah …! Kisah Kazakov ini hanya seujung kuku dari sekian kisah dalam buku Persebaya and Them: Jejak Legiun Asing Tim Bajul Ijo karya Dhion Prasetya ini. Dhion merupakan karyawan Ditjen Bea Cukai Surabaya yang sejak kecil menggilai Persebaya. Saking “gilanya”, dia menuangkan kisah-kisah seputar pemain Persebaya ke dalam buku yang diterbitkan Indie Book Corner dan diproduksi serta distribusikan oleh Surabaya Punya Cerita ini. Yang Pertama Bisa dibilang, buku ini merupakan katalog pesepakbola asing dari segala penjuru bumi yang pernah berseragam Persebaya. Bukan hanya itu, buku sejenis yang menghimpun ulasan serupa dari klub-klub lain juga belum ada. Gagasan untuk menghimpun serta meriset data dan mengulas 73 pemain plus delapan pelatih asing ini sudah terbersit sejak 2008. Namun, buku baru bisa diluncurkan pada Sabtu (20/10/2018) di Sunday Market, Surabaya Town Square setelah Dhion melengkapi data selama empat bulan dan menjalani proses editing hingga finishing ilustrasi dan cover selama 11 bulan. “Saya ingin kepingan puzzle yang berserakan terkait Persebaya bisa terkumpul sehingga bisa merepresentasikan sebagian sejarah Persebaya untuk generasi mendatang. Karena tak banyak suporter yang ingat dengan para pemain asing mereka. Paling hanya nama-nama tertentu saja. Persebaya sebagai klub besar dan berusia tua, sudah seharusnya mengingat sepak terjang mereka,” ujar Dhion. Segenap data Dhion sebagian dipetik dari beberapa arsip media massa, memori kolektif pribadi. Lainnya dari hasil wawancara. “Risetnya ada yang murni dari ingatan saya sendiri. Kebetulan saja juga punya data para pemain asing itu. Ada juga menghubungi si pemain langsung, baik via telefon maupun media sosial. Seperti Plamen Kazakov, (Juan Marcelo) Cirelli, dan Jacksen (Ferreira Tiago),” lanjutnya. Sosok Papi Jacko Nama terakhir, Jacksen F. Tiago, mendapat porsi lebih banyak. Sebab, pria Brasil yang akrab disapa Papi Jacko itu sudah melegenda tak hanya bagi Persebaya tapi juga dalam persepakbolaan Indonesia. Jacko seorang asing tersukses dalam persepakbolaan nasional. Sebagai pemain, dia berhasil mengantarkan Persebaya menjuarai Liga Indonesia 1996/1997. Sebagai pelatih, dia membawa Persebaya juara Divisi I 2003, Divisi Utama 2004, dan membawa Persipura juara Indonesia Super League 2008/2009, 2010/2011, dan 2012/2013. “Selama bermain di Indonesia, saya pernah bermain di tiga klub berbeda. Masing-masing memiliki arti tersendiri di hati. Tetapi dengan Persebaya, saya harus akui memiliki nuansa berbeda. Terutama karena loyalitas tanpa batas dari keluarga besar Bonek. Begitu istimewanya Persebaya maupun Kota Surabaya. Saya bangga bisa jadi bagian dari buku ini dan sejarah Persebaya,” kata Jacksen sebagaimana diungkap Dhion dalam buku ini. Overall, buku ini menarik untuk dibaca santai sambil menambah pengetahuan persepakbolaan nasional. Tidak hanya bagi penggila Persebaya namun juga warga sepakbola nasional. Lebih menarik lagi, banyak kisahnya disajikan dengan gaya bahasa Suroboyo-an sehingga tak melulu serius. Mata pun dimanjakan dengan sisipan infografis tentang jumlah dan asal negara para pemain asing Persebaya. Yang cukup unik dan jarang ditemukan dalam buku lain, penambahan “rubrik” Trivia Time, memuat tanya-jawab tentang para legiun asing Persebaya, di dua halaman depan sebagai pengenalan awal. Sayangnya, buku ini tidak memiliki indeks sehingga pembaca mesti berjuang lebih keras untuk mendapatkan apa yang dicari. “Iya, lali (lupa),” tutup Dhion.*

  • Memperjuangkan Pendidikan dan Perlindungan untuk Perempuan

    KERICUHAN melanda Kongres Perempuan Indonesia (KPI) II di Jakarta, 1935 yang dipimpin Sri Wulandari Mangunsarkoro. Dua peserta, Suwarni Pringgodigdio dari Istri Sedar dan Ratna Sari dari organisasi perempuan Persatuan Muslimin Indonesia (Permi), berdebat hebat soal poligami. Suwarni tak sepakat dengan pendapat Ratna Sari yang memandang poligami dari segi Islam yang sangat konservatif. Toh, kongres berakhir damai. Salah satu hasilnya, kesepakatan membentuk Badan Penyelidikan Perburuhan Perempuan Indonesia (BPPPI) dengan Sri Wulandari sebagai ketuanya. Badan ini bertugas menyelediki keadaan buruh perempuan di Indonesia, khususnya yang bergaji kurang dari 15 gulden sebulan. Selain itu, kongres menghasilkan pembentukan Biro Konsultasi yang bertugas mendampingi perempuan dalam masalah perceraian. Biro ini dipimpin Maria Ullfah. Namun, malang menimpa Sri Wulandari. Usai kongres, dia dipanggil PID (Dinas Intelijen Hindia Belanda) dan diinterogasi. Kepada pada petugas PID, Sri Wulandari mengatakan bahwa kongres mereka membahas tentang masalah-masalah perempuan dalam perkawinan, hak pilih, juga tentang kemerdekaan Indonesia. “Sejak itu beliau diawasi Belanda,” kata Anik Yudhastowo Mangunsarkoro, menantu Sri Wulandari, kepada Historia . Dikenal sebagai Nyi Mangunsarkoro Sri Wulandari lahir di Madiun, 16 Mei 1905. Semasa mengenyam pendidikan di Gouvernements Meisjes Kweekschool, Salatiga, Sri masuk Jong Java dan menjadi pemimpin Kelompok Pekerjaan Tangan Keputrian Jong Java cabang Salatiga. Pada 1920, dia dipercaya menjadi ketua Keputrian Jong Java. Selepas lulus dari sekolah guru, Sri pindah ke Tegal untuk mengajar di Taman Siswa. Di sini, Sri bergabung dengan Wanita Taman Siswa yang dipimpin Ny. Hadjar Dewantoro. Bersama Ny. Hadjar, Sri aktif dalam gerakan perempuan dan mewakili Wanita Taman Siswa di KPI. Sri pernah duduk sebagai ketua Wanita Taman Siswa cabang Jakarta. Melihat pola gerakan Wanita Taman Siswa yang terpisah antarwilayah, Sri menginisiasi pendirian badan yang mengorganisasi aktivitas gerakan Wanita Taman Siswa agar lebih terarah. Upayanya disambut baik oleh Nyi Hadjar. Maka, terbentuklah Badan Pusat Wanita Tamansiswa. Sebagai guru, Sri memikirkan betul pendidikan perempuan. Menurutnya, pendidikan untuk anak perempuan sangat penting sehingga mereka perlu diberi akses sama luasnya dengan anak lelaki. Pendidikan untuk anak perempuan mestinya tidak sebatas tingkah laku tapi juga pelajaran yang diterima anak lelaki, seperti pengetahuan umum dan bahasa Belanda. Pasalnya, selain berjuang untuk kemerdekaan, perempuan juga menjadi seorang ibu yang akan mendidik anak-anaknya dengan jiwa nasionalisme. Pendapat Sri ini kemudian dikenal sebagai konsep Ibu Bangsa yang dibawa gerakan perempuan pada masa kolonial untuk memperjuangkan pendidikan bagi anak perempuan. Ketika mengajar di Taman Siswa, Sri yang dikenal sebagai Ni Wulandari, panggilan untuk guru perempuan yang belum menikah, inilah dia bertemu dengan kekasih hati yang sepemikiran dengannya, Sarmidi Mangunsarkoro. “Ki Mangunsarkoro mendukung sekali perjuangan Ibu Sri Wulandari. Bahkan di dalam keluarga perlakukannya pada anak perempuan dan lelaki sama,” kata Anik. Mereka lalu menikah pada 24 Agustus 1929. Sejak itu, Ni Wulandari lebih dikenal dengan Nyi Mangunsarkoro, seperti perempuan sezamannya yang menggunakan nama suami di belakang namanya. Mendapat dukungan suami, upaya Sri memperjuangkan nasib kaum putri semakin keras. Pengawasan aparat kolonial tak menghentikannya untuk terus aktif dalam gerakan perempuan. Pada KPI III tahun 1937, para perempuan secara serius membahas tentang perlindungan pada perempuan dan anak, terlebih dalam perkawinan dan poligami sewenang-wenang. Kongres memutuskan untuk membentuk Komite Perlindungan Kaum Perempuan Indonesia (KPKPI). Sri dipercaya menjadi pemimpinnya. Sri punya prinsip menolak poligami sewenang-wenang yang marak dilakukan di masanya. Menurutnya, poligami bersumber dari kurangnya pengetahuan tentang derajat manusia dan juga kelemahan dalam menahan hawa nafsu. Sementara, perempuan menanggung akibatnya karena menimbulkan kecemburuan dan persaingan tak perlu antarsesama perempuan. “Perasaan cemburu menjadi sumber kesengsaraan,” kata Sri seperti dikutip Putri Megawati dalam skripsinya, “Pemikiran Sri Wulandari Mangunsarkoro tentang Pendidikan dan Wanita”. Dalam Setengah Abad Kongres Perempuan Indonesia, Sri tercatat aktif dalam KPI hingga 1950-an. Pada KPI tahun 1952 di Bandung, Sri mengusulkan pendirian monumen peringatan KPI 1928 di Yogyakarta. “Tapi ibu tidak mengusulkan bentuknya tugu atau monumen karena tak banyak fungsi. Ia usul bentuknya gedung supaya berguna untuk kegiatan gerakan kaum perempuan,” kata Anik.

  • Gempur-menggempur di Malang Timur

    TAMAN bin Muhammad Tohir begitu antusias menceritakan pengalaman masa mudanya. Saking antusiasnya, lelaki tua itu sampai mohon diri sejenak untuk mengganti kaosnya dengan seragam kebanggaannya, seragam biru muda dengan sederet tanda penghargaan di dada kiri plus baret jingga TNI AU di kepala, sebelum melanjutkan cerita. Seragam itulah simbol pengabdiannya pada negeri. Pengabdiannya dimulai ketika Perang Kemerdekaan pecah tak lama setelah proklamasi. Taman yang kala itu anggota Brigade 13 Divisi Untung Suropati TNI Angkatan Darat, ikut bergerilya di Malang. Meski sudah lebih dari 70 tahun, Taman masih ingat betul kisah sebuah pertempuran di Tumpang, Malang, Jawa Timur. Bersama pasukan dari bagian Teknik AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia, kini TNI AU), dia ikut beradu nyawa berbekal sten gun meladeni serdadu Belanda, medio Juli-Agustus 1947. Pertempuran itu terjadi di Kota Malang sepekan pasca-Agresi Militer I (21 Juli 1947). Sekira sebulan, Koninklijke Landmacht (KL) atau Angkatan Darat Belanda dan Mariniersbrigade atau Marinir Belanda “kucing-kucingan” dengan pasukan republik. Kedua pasukan akhirnya terlibat pertempuran dahsyat pada 31 Agustus 1947 di front Malang timur. Gerilya dan pertempuran tak hanya dilakoni oleh Divisi Untung Suropati tapi juga dilakoni unsur Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI, kini TNI AU) pimpinan Opsir Muda Udara (OMU) III Hanandjoeddin, putra Belitung yang mengepalai Bagian Teknik Pangkalan Bugis Malang (kini Lanud Abdulrahman Saleh Malang). “Agustus 1947 itu terjadi pertempuran besar di Front Malang Timur. Saya sendiri dari Brigade 13 Divisi Untung Suropati. Pak Hanandjoeddin hubungannya dekat dengan komandan saya, Letkol Zainal Abidin. AURI waktu itu basisnya di Kewedanan Tumpang. Di situ Pak Hanandjoeeddin Komandan Sektor I-nya. Bahu membahu kita, sama ALRI (Angkatan Laut Republik Indonesia, kini TNI AL) juga ada, pimpinan Pak Warouw di Tumpang itu,” kenang Pelda (Purn.) Taman bin Muhammad Tohir kepada Historia. Di front tengah, menurut Haril M. Andersen dalam Sang Elang: Serangkai Kisah Perjuangan H. AS. Hanandjoeddin di Kancah Revolusi Kemerdekaan RI , formasi pasukan republik diisi Brigade Mobile (Brimob), Laskar Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI), kesatuan Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS). Sementara, front barat jadi tanggungjawab TRIP Batalyon 5000. Hanandjoeddin memimpin Pasukan Pertahanan Teknik dari PPU III/930 Malang, sebuah unit tempur para teknisi AURI Lanud Bugis yang dipimpin OMU II Soedirman. Gara-Gara Mata-Mata Melihat situasi kian gawat akibat Belanda merangsek ke kota dan pasukan republik kalah persenjataan, Hanandjoeddin mengarahkan 250 personelnya untuk mundur guna menggulirkan taktik gerilya di kampung-kampung di Kewedanan Tumpang. “Banyak mata-mata di Malang, utamanya di front kami (Front Malang Timur). Mereka kepala dua itu. Orang-orang Tionghoa. Mereka pura-pura mendukung kita, tapi sebetulnya memihak Belanda. Pak Hanandjoeddin ini sering diikuti mata-mata,” ingat Taman yang berpangkat kopral ketika ikut bertempur di front Malang Timur. Pelda (Purn) TNI AU Taman bin Muhammad Tohir (91 Tahun) Gara-gara mata-mata itu, pasukan Hanandjoeddin urung melancarkan serangan balik ke sebuah markas Belanda di kota. Rencananya sudah bocor duluan. Ditambah lagi, Hanandjoedin sempat terciduk Belanda kala tengah bergerilya di Kampung Pakis, 30 Juli 1947. Dia sengaja menyerahkan diri demi mengalihkan perhatian Belanda agar sisa regunya bisa meloloskan diri. “Sekompi Marinir Belanda dengan kendaraan-kendaraan tempurnya mengepung Kampung Pakis menjelang senja. Pak Anan (sebutan Hanandjoeddin) tertangkap di sebuah rumah penduduk. Dia dibawa dan ditahan di Singosari untuk diinterogasi,” sambung Haril. Lantaran menolak membelot untuk KNIL (Koninklijke Nederlandsch Indische Leger) atau Tentara Kerajaan Hindia Belanda, Hanandjoeddin mengalami penyiksaan psikis dan fisik. Eksekusi mati jadi konsekuensinya karena ogah membelot. Tengah malam saat sudah berganti tanggal, Hanandjoeddin hendak dibawa ke sebuah “ladang” eksekusi. Tapi saat akan dinaikkan ke truk, fenomena ganjil berupa asap putih tebal tiba-tiba menyelimuti halaman markas. Hanandjoeddin langsung memanfaatkannya dengan melarikan diri meski kedua tangannya terborgol. “Dalam keadaan kritis pistol di kepala dan laras sten gun di perut, datang pertolongan Allah,” kenang Hanandjoeddin dalam buku catatannya tahun 1964 yang dikutip Haril. Hanandjoeddin berhasil mencapi ke batas kota meski sejumlah luka menghiasi wajah dan sekujur tubuhnya akibat penyiksaan kala diinterogasi. Dia kemudian bisa menemui sisa pasukannya. “Seakan ada kekuatan gaib yang memberinya tenaga tambahan. Rupanya berasal dari ilmu spiritual Hanandjoeddin yang pernah berguru dengan Haji Hasyim, ayah angkatnya beberapa tahun sebelumnya di Gunung Membalong, Pulau Belitung,” sebut Haril. Balas Menggempur Menanggapi keagresifan pasukan Belanda yang terus maju, pasukan Pertahanan Pangkalan Udara (PPU) III mengupayakan serangan balasan. Setelah melakukan konsolidasi ulang, hal pertama yang dilakukan pasukan AURI dan Brigade 13  adalah melakukan pembersihan terhadap mata-mata. “Kita usir, kita bakar rumahnya. Saya sendiri ikut membakar satu rumah mata-mata itu,” sambung Taman. Laporan intelijen menginformasikan, pasukan Belanda telah merencanakan serangan lagi ke arah Kampung Bugis, Kawedanan Tumpang, menggunakan sejumlah Amtrack-nya. Pasukan PPU III selaku “tuan rumah” pun menjawabnya dengan memasang ranjau di jalan-jalan utama yang mengarah ke Kampung Bugis. Pada 31 Agustus 1947, penantian mereka terentaskan. Beberapa truk dan Amtrack Belanda lumpuh oleh ranjau-ranjau republik. Belanda yang meneruskan agresinya melalui darat dan udara, mulai menemui perlawanan dahsyat di front timur. “Dari semak-semak belukar pasukan AURI melancarkan tembakan dan serangan granat. Meriam PSU (Penangkis Serangan Udara) bekas Jepang juga dikeluarkan untuk melawan serangan pesawat-pesawat Belanda,” lanjut Haril. Hanandjoeddin dan satu regu pasukannya sempat mengalami kondisi kritis kala terkepung di batas wilayah Wates dan Tumpang. “Pasukan Pak Hanan terkurung di kebun tebu selama berjam-jam. Kondisi sudah tak karuan, makanan juga sulit. Perlawanan habis-habisan di sana sampai empat anak buahnya gugur. Wakilnya Pak Hanan, Sersan Supandri, juga kena tembak di pundaknya,” kata Taman. Emosi lantaran beberapa anak buahnya gugur, Hanandjoeddin nekat melancarkan serangan untuk menembus kepungan Belanda menggunakan mitraliur tiong. Mentalnya anak buahnya yang sempat jatuh sontak bangkit lagi. Berondongan tembakan Hanandjoeddin dan pasukannya berhasil merobohkan satu garis kepungan Belanda. “Pasukan Belanda kaget hingga kendor mentalnya. Mereka pun dipaksa mundur dari area pertempuran,” imbuh Haril. Situasi berbalik seiring makin gelapnya hari. Tentara Belanda yang kocar-kacir mundur dari perkebunan tebu, kini dikejar pasukan AURI dan Brigade 13. Sayang, Belanda mampu lari lebih cepat. Pengejaran pun dihentikan mengingat keadaan pasukan sudah mulai kepayahan. “Kemudian datang SMU (Sersan Muda Udara) S Soekani menanyakan situasi pertempuran. Mereka ramai melihat keadaan kami yang pakaian banyak terkoyak, compang-camping saat baku tembak dengan Belanda. Tapi tak satupun dari kami yang luka. Kami pun dikira kebal peluru,” tandas Hanan dalam buku hariannya. Meski gerilya tetap berjalan hingga Perjanjian Renville, 17 Januari 1948, pasukan AURI tak lagi terlibat dalam pertempuran besar seperti pada 31 Agustus 1947. Pasukan Hanandjoeddin lalu berpindah ke Campurdarat, Tulungagung setelah Renville. “Belanda sendiri baru meninggalkan Malang Timur pada 1950. Dua tahun kemudian saya minta pindah ke AURI meski pangkat saya diturunkan dari Kopral Dua menjadi Prajurit Dua AURI. Ya selain karena kagum dengan Pak Hanan, saya terkesan dengan penampilan prajurit AURI. Pakaiannya lima setel drill , pakai dasi, kacamata rayban dan gajinya Rp.90 saat itu,” terang Taman, veteran berusia 90 tahun yang kini menjabat Ketua Persatuan Purnawirawan ABRI (Pepabri) Tumpang, Malang dan Ketua Perhimpunan Purnawirawan Angkatan Udara (PPAU) Ranting Tumpang.

  • Tragedi Bintaro

    PADA 19 Oktober 1987, dua rangkaian kereta api bertabrakan di Bintaro, Tangerang —sekarang masuk Provinsi Banten. Lokomotif dan gerbong pertama masing-masing kereta hancur-lebur. Ratusan penumpang tewas mengenaskan. Suara tabrakan terdengar hingga beberapa belas meter. Kecelakaan kereta terburuk sepanjang sejarah Indonesia. Kecelakaan ini terjadi Senin pagi, sekira jam tujuh. Waktu padat penumpang untuk Kereta api (KA) 225 trayek Rangkasbitung—Jakarta Kota. Kereta ini mengangkut 1.887 penumpang. “Penumpang KA 225 itu sudah melebihi kepadatan maksimal (200 persen dari kapasitas padat),” catat redaksi Suara Pembaruan dalam Rekaman Peristiwa '87 . Para penumpang KA 225 memenuhi lokomotif dan atap gerbong. Situasi berbeda tampak dalam KA 220 jurusan Tanah Abang—Merak. Kereta ini terisi oleh 478 penumpang. Kapasitas angkutnya 685 penumpang. Kepadatannya menyentuh angka 72.6 persen. Masih dalam batas normal. Semua penumpang kebagian tempat duduk. Salah Komunikasi Pada pukul 06.46, Pemimpin Perjalanan Kereta Api (PPKA) Stasiun Kebayoran mengabarkan bahwa KA 220 dengan masinis Amung Sonarya berangkat dari Stasiun Kebayoran (arah timur) menuju Stasiun Sudimara (arah barat). Kabar ini mengejutkan PPKA Stasiun Sudimara. Ada tiga sepur (lajur kereta) di Stasiun Sudimara. Semuanya terisi. Salah satunya oleh KA 225. “Dalam keadaan seperti itu di stasiun Sudimara tidak mungkin dilakukan persilangan dengan KA 220 yang akan datang dari stasiun Kebayoran seperti lazimnya berlaku sesuai jadwal,” ungkap Panji Masyarakat , 11—20 November 1987. PPKA Sudimara meminta persilangan kereta dilakukan di Stasiun Kebayoran. PPKA Sudimara mengatakan rencana itu sudah disepakati oleh PPKA Kebayoran sebelum KA 220 berangkat dari Kebayoran. Tapi rupanya terjadi pergantian PPKA di Stasiun Kebayoran, sedangkan di Stasiun Sudimara tetap. PPKA Kebayoran baru inilah yang tidak mengetahui rencana sebelumnya. “Kontak memang sempat dilakukan lagi, tapi apa yang disampaikan masing-masing pihak tidak jelas. Petugas baru di Stasiun Kebayoran agaknya tidak memahami percakapan penting sebelumnya antara pihak Sudimara dengan Kebayoran,” tulis Panji Masyarakat . Mendengar kabar dari PPKA Kebayoran bahwa KA 220 telah berangkat menuju barat, PPKA Sudimara berupaya mengosongkan salah satu sepur di Stasiun Sudimara untuk KA 220.  “Usahanya dengan cara memindahkan rangkaian KA 225 yang berada di spur tiga ke sepur satu, walaupun di sepur satu sudah ada rangkaian tujuh gerbong pula,” catat redaksi Suara Pembaruan . Upaya darurat ini sesuai aturan, sebab dua rangkaian kereta di sepur satu masih berada dalam satu zona ke arah timur. PPKA Sudimara memerintahkan seorang petugas untuk memberitahu rencana itu kepada Slamet Suradyo, masinis KA 225. Tapi Slamet justru membawa keretanya meninggalkan Sudimara bergerak menuju Kebayoran pada pukul 06.50. Keputusan Slamet berbekal dari rencana persilangan semula oleh PPKA Sudimara dan PPKA Kebayoran di Stasiun Kebayoran. Dia tidak mengetahui ada serangkaian kereta telah berangkat dari Kebayoran. “Seharusnya, Kereta Api No. 225 dari arah Rangkasbitung langsir atau berhenti di Stasiun Sudimara, menunggu sampai kereta api dari Jakarta lewat,” tulis Imran Hasibuan dkk. dalam Biografi Roesmin Nurjadin: Elang dan Pejuang Tanah Air .  Karuan PPKA Sudimara panik. Dua rangkaian kereta ini akan bertabrakan di sepur yang sama jika KA 225 tidak dihentikan. Seorang Petugas Sudimara berlari sembari menggerakkan kedua tangannya, tanda kereta harus berhenti. Dia juga membunyikan terompetnya. Tapi Slamet tak melihat tanda dan mendengar bunyi harus berhenti. Slamet terus melajukan keretanya. Makin cepat. Desakan Mundur Hingga akhirnya pada sebuah tikungan sepanjang 407 meter, Slamet terkejut melihat ada kereta datang dari arah timur. Penumpang di lokomotif dan atap gerbong KA 225 sama kagetnya. Sebagian mereka melompat. Sementara masinis KA 220 berupaya mengerem tapi terlambat. Dia melompat. Dua rangkaian kereta terus laju. Braaak! Dentuman dahsyat. Penumpang terjepit. Potongan tubuh terserak di sekitar bagian kereta paling depan. Tanah Bintaro kian merah. Hari itu jadi hari paling kelam dalam sejarah transportasi Indonesia. Menteri Perhubungan Roesmin Nurjadin tiba di lokasi kecelakaan beberapa jam setelah kereta bertabrakan. “Dalam 19 tahun terakhir, inilah kecelakaan kereta api terburuk,” kata Roesmin. Sore hari Roesmin bersama Presiden Soeharto menjenguk para korban luka di rumah sakit. Menurut Roesmin, kecelakaan itu tak perlu terjadi kalau para petugas kereta api bekerja secara benar. Dia juga mengatakan, “Ini pelajaran bagi PJKA. Tapi, masyarakat juga agar memenuhi ketentuan-ketentuan dalam menggunakan jasa kereta api.” Orang-orang bertanya, kecelakaan ini tanggung jawab siapa? PJKA menunjuk empat petugas sebagai biang penyebab kecelakaan. Tapi anggota parlemen enggan menerima pelemparan tanggung jawab itu. “Kalau prajurit bersalah, komandanlah yang bertanggung jawab,” kata seorang anggota DPR, dikutip Panji Masyarakat . Dia menuntut sang komandan mengundurkan diri dari jabatannya. Komandan yang dimaksud adalah Roesmin. “Sampai di mana kita mau berhenti menuntut tanggung jawab?” tanya Roesmin. Dia menolak mundur. “Saya tak akan melepaskan tanggung jawab. Saya tidak akan mundur karena saya ditugaskan dan tidak meminta jabatan." Setelah kecelakaan itu, PJKA dan menteri perhubungan berupaya memperbaiki teknologi, kualitas, dan aturan perjalanan kereta api. Antara lain dengan komputerisasi perjalanan kereta, pembuatan rel ganda, dan pelarangan naik ke atap gerbong dan lokomotif bagi penumpang. Fisika Tragedi Bintaro Ratusan orang meninggal setelah dua rangkaian kereta bertabrakan. Mengapa bisa sebanyak itu? Penyebab pertama berasal dari kepadatan penumpang di KA 225. Penyebab lainnya bersumber dari momentum dua rangkaian kereta. Momentum adalah hasil rumusan massa dikali kecepatan. Massa rangkaian KA 220 adalah 287.800 kilogram, sedangkan kecepatannya mencapai 25 kilometer per jam. Dengan demikian, KA 220 memiliki momentum 1.998.611,1 kg meter/detik atau 1.998 ton meter/detik. Sementara rangkaian KA 225 bermassa 285.000 kilogram dengan kecepatan 36,48 kilometer per jam. Maka momentum yang dihasilkan sebesar 2.888.000 kg meter/detik atau 2.888 ton meter/detik. “Demikian besar momentum kedua rangkaian KA itu hingga akibat yang terjadi pun begitu hebat,” ungkap redaksi Suara Pembaruan . Besaran momentum ini menyebabkan bagian depan kereta hancur-lebur. Dua lokomotif merangsek ke dalam gerbong pertama. Semua gerbong di belakangnya juga ikut rusak, meski tingkat kerusakaannya berbeda-beda. Penumpang di barisan terdepan terjepit material baja badan kereta. Momentum dan material ini cukup bisa membelah tubuh manusia dan meremukkan tulangnya. Kemungkinan luka parah dan meninggal di tempat pun kian besar. Kecelakaan kereta api di Bintaro mendorong ilmuwan untuk merancang material dan teknologi perkeretaapian yang bisa mengurangi efek tabrakan. Dari kecelakaan kereta api di Bintaro, manusia bisa belajar banyak hal.*

  • Cerita dari Stadion Gelora 10 November Surabaya

    BANGUNAN stadion berbentuk oval bercat jingga kekuningan itu masih kokoh berdiri di seberang Taman Mundu, Jalan Tambaksari, Surabaya. Tak sulit untuk menerka bahwa gelanggang olahraga ini sudah melintas lorong zaman. Di atas gerbang utamanya tertulis plang nama yang mengingatkan pada perjuangan arek-arek Suroboyo : Stadion Gelora 10 November. Stadion ini satu dari sedikit ikon legendaris Kota Pahlawan, Surabaya. Tidak hanya jadi saksi bisu perjalanan sejarah persepakbolaan Surabaya, namun juga beragam kegiatan politik, budaya, hingga keagamaan. Tak heran sejak 22 tahun lampau ia ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya (BCB) bernomor urut 44 lewat Surat Keputusan Walikota Nomor 188.45/251/402.104/1996, sebagaimana yang tertera dalam Prasasti Lapangan Tambaksari. Ya, stadion ini mulanya bernama Lapangan Tambaksari. Belum ada yang tahu kapan pastinya Lapangan Tambaksari lahir. Menurut beragam literatur yang ditelusuri,  Lapangan Tambaksari eksis sebagai sebuah kompleks olahraga bagian dari proyek pembangunan Kota Surabaya tahun 1907-1923. “Sejak awal sudah dinamakan Lapangan Tambaksari. Kompleksnya terbagi jadi tiga bagian. Lapangan A yang sekarang jadi Stadion Gelora 10 November, Lapangan B di sebelah selatan yang sekarang jadi Mess Persebaya, dan Lapangan C di sebelah timur yang sekarang jadi gedung olahraga,” terang pemerhati sejarah sepakbola Dhion Prasetya kepada Historia . Penulis buku Persebaya and Them: Jejak Legiun Asing Tim Bajul Ijo itu menambahkan, awalnya penampakan Lapangan Tambaksari belum seperti sekarang. “Ya hanya lapangan. Tribunnya sederhana, belum bertingkat seperti saat ini. Kalau bentuk aslinya hampir mirip dengan Stadion Gelora Pancasila (di Jalan Indragiri VI),” imbuhnya. Stadion Gelora 10 November saat Masih Bernama Lapangan Tambaksari pada 1950-an (Foto: Nieuwe Courant 15 Mei 1951) Pemerintah Hindia Belanda membangunnya untuk dipergunakan bagi orang-orang Belanda yang mulai keranjingan olahraga pada awal abad ke-20. Lapangan Tambaksari lalu dijadikan markas klub Soerabaiasche Voetbalbond (SVB). Meski dijadikan kandang SVB, lapangan ini pernah jadi saksi bisu aksi boikot kompetisi Stedenwedstrijden (kompetisi internal NIVB, federasi sepakbola Hindia Belanda) oleh para pendukung sepakbola nasional pada 1932. Aksi boikot itu bikin rugi kompetisi secara ekonomi. Sementara, beberapa bulan pasca-Proklamasi, Lapangan Tambaksari dijadikan tempat Rapat Samudera (rapat raksasa) untuk show of force terhadap Jepang yang mempertahankan status quo jelang kedatangan Sekutu. Baru sesudah penyerahan kedaulatan 27 Desember 1949, Lapangan Tambaksari diambil-alih Persebaya dan lima tahun berselang direnovasi untuk dijadikan stadion. Mengutip suratkabar De Nieuwsgier 15 September 1954, renovasinya diketuai arsitek seorang Tionghoa Ir. Tan Giok Tjiauw. Dibuka secara resmi dengan nama Stadion Tambaksari pada 11 September 1954 oleh Walikota Moestadjab Soemowidagdo. Untuk meramaikan peresmiannya, dua laga persahabatan dihelat: Tiong Hwa Soerabaja vs West Java (tim A) yang berakhir 1-3 untuk West Java dan Persibaja (nama lawas Persebaya) vs West Java (tim B) yang berkesudahan 5-2 untuk tuan rumah. Berganti Nama Jelang Pekan Olahraga Nasional (PON) VII 1969, Tambaksari kembali dipercantik. Tribunnya direnovasi jadi bertingkat. “Renovasinya berjalan hampir setahun untuk persiapan PON. Dana renovasinya dari undian Lotto Surya (Lotere Totalisator Surabaya). Berbau judi memang, tapi karena waktu itu kan (panitia penyelenggara) enggak ada dana, ya diambilnya dari situ,” sambung Dhion. Stadion Gelora 10 November Diresmikan Menjelang PON 1969 (Foto: Randy Wirayudha/Historia) Uniknya, renovasi stadion tak menghilangkan beberapa pohon angsana yang ada di sekitar lapangan. Pohon-pohon itu difungsikan sebagai atap alami mengingat panasnya cuaca Kota Surabaya. “Mungkin satu-satunya di dunia yang ada pohon-pohon di tribunnya,” ujar peneliti sejarah olahraga cum dosen Universitas Negeri Surabaya Rojil Nugroho Bayu Aji kepada Historia. Dalam peresmian renovasi itu, namanya ikut diganti. “Nah, saat peresmian, namanya berganti jadi Stadion Gelora 10 November. Nama yang diambil dari spirit perjuangan arek-arek Suroboyo pada Pertempuran 10 November 1945,” sambung Rojil . Penulis buku Tionghoa Surabaya dalam Sepakbola: 1915-1942 dan Mewarisi Sepakbola, Budaya dan Kebangsaan Indonesia itu menambahkan, seiring waktu stadion itu selain jadi markas tim Persebaya –sampai 2017 sebelum pindah ke Gelora Bung Tomo– juga menjadi magnet bagi beragam kegiatan akbar di Kota Pahlawan. Seperti, kegiatan rutin kebaktian bersama, Salat Idul Fitri, Pengajian Nuzulul Quran 1990, hingga konser World Tour band Sepultura pada 1992. Seni Relief Stadion Sepengamatan Historia, stadion gagah itu juga sarat pesona artistik. Relief  yang menggambarkan sejumlah olahragawan dari berbagai cabang olahraga melekat di badannya. “Itu reliefnya yang bikin maestro seni rupa Tedja Suminar. Beliau seniman dari Akademi Kesenian Surakarta. Pembuatannya bersamaan dengan renovasi jelang PON 1969,” tutur pemerhati budaya Dhahana Adi Pungkas kepada Historia. Tedja Suminar alias The Tiong Tien (Foto: Koleksi Dhahana Adi, Surabaya Punya Cerita Vol. 1) Ipung, begitu biasa dia disapa, mengungkapkan dalam bukunya Surabaya Punya Cerita: Volume 1 , bahwa figur mendiang Tedja Suminar merupakan orang Tionghoa yang lahir pada 15 April 1936 dengan nama The Tiong Tien. Dia anak ke-10 dari saudagar palawija asal Ngawi The Kiem Liong. Sang maestro mengganti namanya jadi Tedja Suminar kala masuk Akademi Kesenian Surakarta pada 1957. “Ukiran relief di stadion itu hasil desain dari sketsa Tedja Suminar berdasarkan permintaan langsung dari Raden Soekotjo, walikota Surabaya saat itu dalam menyambut PON VII tahun 1969,” kata Ipung.

  • Solusi Praktis Minum Teh

    Teh kali pertama masuk ke Hindia Timur pada abad ke-17. C.P. Cohen Stuart, ahli tanaman pada Algemeen Proefstation Voor Thee , Buitenzorg, menyebut Andreas Cleyer, seorang peneliti alam dari Jerman, sebagai pembawa pertama perdu teh ke Jawa. Perdu teh itu berasal dari Jepang dan tumbuh dengan baik di Tanah Hindia. Kemudian asisten Andreas Cleyer membawa perdu teh itu ke Belanda untuk kepentingan penelitian pada 1687. Demikian keterangan Stuart dalam “Permulaan Budidaya Teh di Jawa” termuat di Sejarah Perusahaan-Perusahaan Teh Indonesia 1824–1924 , Johannes Camphuys, Gubernur Jenderal Hindia Timur 1684–1691, turut berhasil menanam teh di halaman rumahnya, di Batavia. J.H. van Emden dan W.B. Deijs dalam Perkebunan Teh , menyatakan teh tersebut berasal dari Tiongkok. Camphuys menanamnya sebagai hiasan dan kesenangan. Upaya mengubah orientasi penanaman teh di Hindia Timur terjadi pada 1728. Tuan-Tuan Tujuh Belas (Heeren XVII), para pemegang saham di Maskapai Dagang Hindia Timur (VOC), menyurati pemerintah VOC di Batavia tentang perlunya membudidayakan teh untuk perdagangan. Tapi pemerintah VOC di Batavia kurang berminat membudidayakan teh. Seratus tahun setelah surat Tuan-Tuan Tujuh Belas VOC, pembudidayaan teh untuk keperluan dagang baru terlaksana di tanah Hindia. Tapi VOC sudah bangkrut sejak 1799 sehingga semua urusan mengenai Hindia dipegang oleh pemerintah Kerajaan Belanda. Pieter Creutzberg dan J.T.M van Laanen dalam Sejarah Statistik Ekonomi di Indonesia mencatat bahwa pemerintah kolonial telah membuka perkebunan teh di Jawa Barat sepanjang 1833—1838. “Pada tahun 1835 teh Hindia Belanda untuk pertama kali masuk ke pasaran Amsterdam,” tulis Creutzberg dan Van Laanen. Perkembangan selanjutnya muncul pada 1878. Masa ini mencatatkan pengenalan beraneka macam jenis teh dari Assam, India. Pengenalan ini tak lepas dari berakhirnya masa Tanam Paksa pada 1870 dan diganti oleh masa Undang-Undang (UU) Agraria 1870. UU ini membuka kesempatan luas bagi para pengusaha swasta untuk berinvestasi di Hindia Belanda. Pertumbuhan ekspor teh dari Hindia Belanda meningkat sepanjang 1890—1920. “Beberapa tahun kemudian pertumbuhan ini tercermin dalam angka-angka ekspor,” lanjut Creutzberg dan Van Laanen. Peningkatan ekspor teh seiring dengan peningkatan produksi teh untuk konsumsi dalam negeri di Hindia Belanda. Minum teh menjadi kebiasaan baru bagi masyarakat Hindia Belanda pada awal abad ke-20. Mereka membuat miuman teh dengan menaruh daun teh dalam cangkir atau gerabah. Air panas dituang, lalu daun teh itu disaring. Hasil saringan itu kemudian disajikan pada sore hari. Teh berpadu dengan makanan Eropa seperti pannekuk , pudding , dan tart . Cara membuat teh seperti ini bertahan hingga 1960-an ketika orang Indonesia butuh cara lebih praktis untuk menghidangkan minuman teh. Seorang pengusaha bernama Johan Alexander Supit mulai berpikir tentang cara baru menyajikan minuman teh. Johan mengetahui bahwa cara baru menyajikan minuman teh telah berkembang di luar Indonesia. Orang tak perlu lagi menyaring teh, melainkan cukup dengan mencelupnya ke air hangat. Teh demikian dibungkus dalam kemasan khusus ( tea bags ). Permintaan terhadap teh jenis ini cukup besar. “Adanya permintaan besar akan teh celup itu juga mendorong timbulnya industri teh celup di Indonesia. Yang terkenal karena pertama-tama timbul dengan idea membuat teh celup itu adalah merek Sariwangi,” tulis James J. Spillane dalam Komoditi Teh: Peranannya dalam Perekonomian Indonesia . Sariwangi adalah jenama bikinan Johan Alexander Supit pada 1973. Sebelummya dia telah mendirikan perusahaan teh pada 1962. Teh celup Sariwangi kemudian diikuti oleh merek-merek teh besar lain.*

  • Prabowo di Mata Soe Hok Gie

    KENDATI terpaut usia yang agak jauh (9 tahun), tak banyak orang tahu kalau Prabowo Subianto dulu sempat berteman akrab dengan tokoh demonstran 1966, Soe Hok Gie. Perkawanan itu terjalin bisa jadi karena keterlibatan Gie dalam gerakan bawah tanah anti Sukarno yang digalang secara rahasia oleh orang-orang PSI (Partai Sosialis Indonesia).

  • Akar Perlawanan Ken Angrok

    HAMPIR sembilan abad yang lalu, Raja Jayabhaya memberikan anugerah kepada Desa Hantang dan 12 dusun yang masuk ke dalam wilayahnya. Hak-hak istimewa dilimpahkan kepada para penduduk. Sebab mereka telah berbakti kepada raja saat perang perebutan takhta. Mereka setia memihak paduka raja.

  • Peluru Nyasar ke Gedung DPR

    GEDUNG DPR RI menjadi sasaran peluru nyasar pada 15 Oktober 2018. Peluru dari senjata jenis Glock 17 itu mengenai ruang kerja (1313) anggota Fraksi Golkar, Bambang Heri Purnomo, dan ruang kerja (1601) anggota Fraksi Gerindra, Wenny Warouw. Polisi menetapkan dua tersangka yang bekerja sebagai PNS Kementerian Perhubungan dan bukan anggota Perbakin (Persatuan Menembak Sasaran dan Berburu Indonesia). Dua hari kemudian, 17 Oktober 2018, peluru nyasar kembali ditemukan di ruang kerja (1008) anggota Fraksi Demokrat, Vivi Sumantri Jayabaya; dan retakan di kaca ruang kerja (2003) anggota Fraksi Partai Amanat Nasional, Totok Daryanto, tapi pelurunya belum ditemukan. Peluru nyasar bukan kali ini saja terjadi. 19 tahun lalu peluru nyasar menggegerkan para politikus Senayan. Majalah bulanan DPR, Parlementaria No. 28 Th. XXXI, 1999, sampai menurunkan tulisan berjudul “Penembak Gelap Mulai Incar Anggota DPR Vokal: Orang Mau Celaka Itu Tak Lihat Tempat.” Pada 7 Februari 1999, peluru ditemukan di ruang kerja (1601) anggota Fraksi PPP Suryadharma Ali. Ketika bekas tembakan itu ditemukan, dia tidak berada di tempat. Dia sedang membacakan pemandangan umum fraksinya terhadap RUU Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu, RUU Rahasia Dagang dan RUU Desain Industri di Sidang Paripurna DPR. Bekas tembakan itu ditemukan tak sengaja. Chaeruddin, staf Suryadharma Ali, curiga dengan serpihan kaca di meja kerja, sofa panjang termasuk karpet. Dia lalu mencari asal serpihan kaca tersebut dan melihat lobang berdiameter 3 mm persis di tempat duduk Suryadharma Ali. “Mungkin karena penembaknya orang terlatih, maka bekas tembakan itu mengarah tepat di bagian belakang kepala calon korban,” tulis Parlementaria . Chaeruddin segera melapor ke pimpinan Fraksi PPP. Sekretaris Fraksi PPP Endin AJ Soefihara dan wakilnya, Achmad Farial, disertai beberapa petugas Pamdal (pengamanan dalam) DPR memeriksa ruang kerja Suryadharma Ali. Setelah melakukan pemeriksaan, petugas Pamdal menyampaikan bahwa lobang yang terletak persis di belakang kepala Suryadharma Ali berasal dari tembakan senjata api laras panjang. Proyektil sepanjang 1,5 sentimeter ditemukan nyangkut di lampu neon. Barang bukti itu diserahkan ke polisi untuk diteliti di laboratorium forensik Mabes Polri. Dari jenis pelurunya, Endin merasa tak mungkin tembakan itu datang dari lapangan tembak Senayan, tempat latihan menembak. Ini pasti senjata laras panjang. Menurutnya, tembakan itu mungkin dari gedung bertingkat –seperti Hotel Mulia– yang bisa saja digunakan penembak jitu mengarahkan moncong senjata ke calon korban. Kendati demikian, dia berharap mudah-mudahan hanya peluru nyasar. Endin tak tahu apakah penembakan itu ada kaitannya dengan pernyataan keras Suryadharma Ali soal bisnis panti pijat beberapa hari sebelumnya. Dia minta pengamanan ditingkatkan, jangan sampai ada anggota DPR yang mati konyol. “Kita jadi heran, kenapa teror terhadap FPPP akhir-akhir ini makin meningkat. Sesudah anggota kita, Tengku Nashiruddin Daud ditemukan tewas di Pancurbatu, Sumatra Utara, kok kini ancaman diarahkan ke anggota yang lain,” ujar Endin masih dalam Parlementaria . Sementara itu, Suryadharma Ali mengaku tak punya musuh dan selama ini berusaha baik kepada siapa pun. Dia juga mengaku tak pernah diteror, baik melalui telepon, didatangi atau lewat surat kaleng. Suryadharma Ali kemudian menjabat ketua umum PPP (2007-2014). Dalam pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, dia menjabat Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (2004-2009) dan Menteri Agama (2009-2014). Akhirnya, Suryadharma Ali terkena “peluru” KPK. Dia divonis enam tahun penjara karena menyalahgunakan kewenangan sebagai Menteri Agama dalam penyelenggaraan haji. Di tingkat banding, majelis hakim memperberat hukumannya menjadi sepuluh tahun penjara, denda Rp300 juta, dan mencabut hak politiknya selama lima tahun. Dia kemudian mengajukan Peninjauan Kembali.

  • Mengejar Gembong Nazi Terakhir

    KLAUS Eichmann (Joe Alwyn) begitu membanggakan ayahnya saat bercerita di depan calon mertuanya, Lothar Hermann (Peter Strauss). Klaus yang memacari Sylvia Hermann (Haley Lu Richardson) membuka sedikit demi sedikit kehidupan pribadinya. Dia mengaku diasuh pamannya di Buenos Aires, Argentina, sepeninggal ayahnya yang gugur di front timur Perang Dunia II sebagai prajurit SS (Schutzstaffel/Paramiliter Jerman Nazi). Plot film bertajuk Operation Finale ini lalu bergantian. Lothar Hermann, pria tunanetra Jerman berdarah Yahudi yang sejak 1938 mengungsi ke Buenos Aires, segera melayangkan info penting itu kepada Fritz Bauer (Rainer Reiners), jaksa penuntut umum (JPU) Hessen, Jerman Barat yang lantas meneruskannya ke Direktur Mossad (Badan Intelijen Israel) Isser Harel (Lior Raz) di Tel Aviv, Israel, awal 1960. Bauer meyakinkan Harel bahwa Adolf Eichmann (Ben Kingsley) masih hidup di Buenos Aires dengan nama samaran Ricardo Klement, orang yang diaku Klaus Eichmann sebagai pamannya. Adolf Eichmann, bos SS urusan Yahudi yang terlibat pembantaian jutaan orang Yahudi dalam Perang Dunia II, merupakan satu dari sekian gembong terakhir Nazi yang masih hidup pasca-kematian Adolf Hitler, Reischsführer SS Heinrich Himmler, Menteri Propaganda Joseph Goebbels, dan Reichsmarschall Hermann Göring. Eichmann sukses melarikan diri ke Argentina berkat Carlos Fuldner (Pêpê Rapazote), eks-perwira SS yang dekat dengan Presiden Argentina Juan Péron. Peron acap membantu para eks-Nazi mengungsi, termasuk Eichmann. Misi Klandestin Setelah mendapat kepastian kabar bahwa Eichmann masih menghirup udara bebas di Buenos Aires, pemerintah Israel langsung menyusun rencana klandestin penculikan Eichmann dengan membentuk tim pasukan khusus Shabak. Israel ingin mengadili Eichmann dan menjadikannya sebagai penegas ingatan tentang kejinya holocaust setelah 15 tahun perang usai. Adegan Tim Shabak Merencanakan "Penjemputan" Adolf Eichmann dari Argentina ke Israel (Foto: MGM Pictures) Meski tim itu dipimpin interogator senior Zvi Aharoni (Michael Aronov) dan Rafi Eitan (Nick Kroll), penonton akan segera mengetahui peran sentral justru dipegang Peter Malkin (Oscar Isaac) dan Hanna Elian (Mélanie Laurent). Peter dan Hanna, yang banyak anggota keluarganya tewas akibat holocaust, diperintahkan membawa Eichmann hidup-hidup ke Israel. “Jika kalian berhasil membawanya hidup-hidup, maka untuk pertamakali dalam sejarah kita bisa mengadili algojo Nazi. Jika kalian gagal, dia akan terhindar dari keadilan. Demi rakyat kita, saya mohon kalian jangan gagal. Buku sejarah masih terbuka dan kalian adalah tangan-tangan yang memegang penanya,” pesan Perdana Menteri Israel David Ben-Gurion (Simon Russel Beale) kepada segenap anggota tim. Semua anggota tim sampai di Buenos Aires awal Mei 1960 dengan menggunakan paspor Prancis, Inggris, Jerman, Amerika Serikat, dan Spanyol. Dengan hanya berbekal pengintaian rutinitas Eichmann, bukan perkara sulit bagi mereka menculik target. Premis utamanya justru terletak pada bagaimana membawa Eichmann keluar dari Argentina tanpa diketahui otoritas setempat. Pasalnya, pemerintahan Argentina saat itu pro-fasis. Lebih sulit lagi, di masa itu belum ada penerbangan komersial Tel Aviv-Buenos Aires langsung. “Jika kita ketahuan, ini berarti pelanggaran terhadap kedaulatan Argentina saat mereka merayakan 150 tahun kemerdekaan. Israel juga akan mendapat malu, penduduk Yahudi di Argentina bisa diteror,” cetus Harel. Dalam keterbatasan waktu, Malkin mendapat ide memanfaatkan momen 150 tahun kemerdekaan Argentina untuk melancarkan misi. “(Maskapai) El Al bisa jadi opsi. Jadi kita bisa meminta duta besar, politisi atau pejabat negara lainnya untuk datang dengan El Al ke Argentina. Lalu kita selundupkan Eichmann ke pesawat untuk dibawa pulang langsung ke Tel Aviv,” seru Malkin memberi ide. Adolf Eichmann Diadili di Yerusalem pada 1961 (Foto: lakesuccessj.org) Drama seru penuh intrik dan trik pun bermunculan dalam scene - scene yang dilatari music scoring apik. Sutradara Chris Weitz dengan apik menutup film dengan footage rekaman asli Eichmann dihadapkan ke pengadilan pada 1961. Bagaimana hasil pengadilan itu dan berhasilkah tim Shabak? Ah , lebih baik saksikan sendiri. Menengok Fakta Sejarah Film berdurasi 122 menit ini nyaris tak mencederai fakta-fakta sejarah yang ada. Hampir setiap adegan berangkat dari kejadian asli. Selain tata suara yang simpel garapan Alexandre Desplat, film ini cukup mampu membawa penonton merasakan suasana di zaman itu dengan beragam properti dan busana yang otentik. Hanya ada beberapa poin kecil yang memang tak sesuai fakta sejarah dalam Operation Finale . Contohnya, status Lothar dan Sylvia Hermann. Lotar disebutkan sebagai seorang Jerman Katolik yang menjadi orangtua asuh Sylvia yang gadis Yahudi. Padahal menurut Deborah Lipstadt dalam The Eichmann Trial , Lotar memang orang Jerman yang mengungsi ke Argentina pada 1938, namun tetap punya darah Yahudi dan Sylvia adalah putri kandungnya. Adegan Klaus yang mengajak Sylvia ke sebuah pertemuan para eks-Nazi sebagai agenda pacarannya juga merupakan hasil dramatisir belaka. Contoh lain, adegan ketika Bauer bertemu Harel di Tel Aviv setelah mendapat info keberadaan Eichmann, pada awal 1960. Faktanya, Bauer menemui Harel di Jerman pada 1957. Lalu, keterlibatan Fuldner, anggota kepolisian Argentina, membantu Klaus saat mencari ayahnya. Faktanya, Klaus Eichmann tak pernah berani minta bantuan polisi karena takut ketahuan asal-usulnya. Pemerintah Argentina juga enggan terlibat karena bisa dicitrakan pro-Nazi. Overall , film ini layak ditonton sebagai versi lain sejarah penangkapan Eichmann. Sebelumnya, ada film serupa bertajuk The House on Garibaldi Street (1979) dan The Man Who Capture Eichmann (1996). Film yang rilisan tahun 1996 dan Operation Finale menggunakan sumber data sama, memoar Malkin berjudul Eichmann in My Hands (1990).

  • Jenderal Yani di Lapangan Golf

    SESUDAH makan siang bersama keluarga, Letnan Jenderal Ahmad Yani berangkat ke Senayan. Menteri Panglima AD itu punya agenda latihan golf bersama pengusaha Bob Hasan. Jelang petang, Yani tiba kembali di kediamannya, Jalan Lembang, Jakarta Pusat. Beberapa tamu penting akan sowan di malam hari. Salah satu di antaranya Panglima Brawijaya, Mayor Jenderal Basuki Rachmat. “Pada jam enam sore, bapak pulang dari bermain golf lewat garasi dan masuk melalui pintu belakang sambil berpesan kepada Pak Dedeng, supir bapak, agar alat-alat golf itu dibersihkan, karena sudah tak akan dipakai lagi,” tutur Amelia Yani dalam biografi ayahnya Profil Seorang Prajurit TNI . Alat-alat golf tadi menjadi saksi bisu hari terakhir Yani. Pada esok subuh 1 Oktober 1965, kediaman Yani disambangi sepasukan Tjakrawbirawa yang merenggut nyawa sang panglima. Kini, peralatan golf itu masih tersimpan sebagai koleksi Museum Sasmitaloka Pahlawan Revolusi Ahmad Yani, di Jalan Lembang.   Olahraga Para Jenderal Golf merupakan salah satu olahraga kegemaran Yani. Olahraga ini semakin rutin dilakoni Yani terutama setelah dirinya menjabat Menteri Panglima AD (Menpangad). Kesempatan main golf kerap menjadi ajang kongkow bagi Yani dengan para koleganya maupun sesama jenderal. “Jenderal Yani juga yang memulai bermain golf dan langsung mendapat pengikut pajabat-pejabat militer dan sipil lainnya dalam permainan golf, yang saat itu dipandang sebagai permainan atau hobi yang mahal atau mewah,” tulis Hario Kecik yang bernama asli Suharyo Padmodiwiryo, mantan Panglima Kodam Mulawarman, dalam Pemikiran Militer 2: Sepanjang Masa Bangsa Indonesia. Priguna Sidharta, dokter neurologi terkemuka yang juga doyan main golf, kerap menyaksikan Yani bermain bersama kawan-kawan pegolfnya di Jakarta Golf Club, Rawamangun. Yani, kata Priguna dalam otobiografinya Seorang Dokter dari Losarang, biasanya punya rekan tetap bermain ( golf buddy ) seperti Bob Hasan, Brigadir Jenderal Achmad Tirtosudiro, dan Junus Jahya, tokoh Tionghoa anggota Dewan Perimbangan Agung (DPA). Pernah sekali waktu, Yani membiarkan dan malah menonton Bob Hasan baku hantam dengan sesama rekan pegolf bernama George Hadi. Amelia Yani juga mengisahkan, beberapa bulan sebelum Gerakan 1 Oktober (Gestok), Yani bersama para asisten dan deputinya berkunjung ke Kalimantan. Turut serta dalam kunjungan itu Mayor Jenderal Harjono Mas Tirtodarmo, Mayor Jenderal Suwondo Parman, Brigadir Jenderal Donald Pandjaitan, dan Brigadir Jenderal Sutoyo. Tak ketinggalan, aktivitas main golf mengisi waktu luang sang panglima di sana. Di suatu sore, Yani main golf ditemani Taswin Natadiningrat. Panglima Mulawarman Brigjen Soemitro datang ke lapangan untuk melapor. Yani menyapa Mitro. “Golf, Mit?” kata Yani mengajak. Karena Soemitro belum mahir main golf, dia menolak. “Golf itu untuk orang disabled (cacat)!,” katanya. Yani membalas, “Kurang ajar kowe (kau)!” Nasution Main Duluan Pada 30 September 1965, hari itu, Yani dan Jenderal Nasution punya agenda serupa: main golf. Bedanya, Nasution main lebih pagi. Setelah berlatih di lapangan golf Rawamangun, Nasution pulang ke rumahnya. Dalam memoarnya Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 6: Masa Kebangkitan Orde Baru, Nasution masih mengingat sewaktu berada di jalan besar, mobilnya tedesak ke pinggir. Iring-iringan Korps Polisi Militer yang melintas, menutupi sebagian badan jalan. Ada pengawalan terhadap pejabat penting. Pada konvoi itu, terlihat Ahmad Yani didampingi deputi administrasinya, Mayor Jenderal Soeprapto dalam satu mobil yang memakai bendera Panglima AD menuju Tanjung Priok. Destinasi Yani siang itu berkunjung ke kantor Pelni untuk menyerahkan piagam penghargaan atas jasa-jasa membantu operasi TNI. “Tiada firasat pada saya, bahwa inilah yang terakhir saya melihat mereka,” kenang Nas.

bottom of page