Hasil pencarian
9739 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Karier Sepakbola Erdogan Penuh Tanda Tanya
TAHUN 2020 seolah milik Recep Tayyip Erdogan. Setelah pada 10 Juli lalu resmi mengubah status Hagia Sophia dari museum menjadi masjid, kini ia mendapati klub sepakbola yang didukungnya, Başakşehir FK, menjuarai Süper Lig Turki yang tutup musim 2019/2020 pada Minggu (26/7/2020). Saking girangnya, putra kedua Presiden Erdogan, Necmettin Bilal Erdogan, sampai berlarian ke tengah lapangan untuk turut merayakan kemenangan. Başakşehir merupakan klub plat merah milik Kementerian Pemuda dan Olahraga Turki, di dalamnya masih dikuasai Partai Pembangunan dan Keadilan Turki (AKP) yang mengusung Erdogan. Dibesut eks pemain timnas Okan Buruk, klub itu untuk kali pertama menjuarai liga Turki kasta teratas sejak promosi dari kasta kedua, TFF 1. League 11 tahun sebelumnya. Sukses Başakşehir via “jalur” Covid-19 itu sekaligus mematahkan dominasi “ The Big Three ”: Galatasaray SK, Beşiktaş JK, dan Fenerbahçe SK. Ketiga raksasa Turki itu kebetulan juga tengah dibelit persoalan finansial gegara pandemi virus corona , utamanya setelah liga dihentikan sementara pada Maret lalu. Namun, tidak halnya dengan Başakşehir. Klub semenjana ini tak punya problem serupa. Gaji para pemain bintangnya seperti Robinho (eks-Real Madrid), Demba Ba (eks-Chelsea), Martin Škrtel (eks-Liverpool), Eljero Elia (eks-Juventus), Gökhan İnler (eks-Napoli), dan Gaël Clichy (eks-Arsenal) lancar. Gelar juara tersebut paling ditunggu Erdogan sejak dua tahun silam. “Kami ingin Başakşehir menargetkan gelar juara di liga politik, sebagaimana di liga sepakbola. Jika kita tak berhasil di lapangan hijau, maka kita juga akan lemah dalam pertarungan politik,” kata Erdogan, dikutip Al-Monitor , 16 April 2018. Başakşehir FK merayakan gelar juara Süper Lig Turki musim 2019/2020 (Foto: ibfk.com.tr ) Bukan rahasia bila Başakşehir dijadikan alat politik Erdogan. Klub yang berdiri pada 1990 itu laiknya cabang buat AKP sejak 2014 ketika diambilalih kepemilikannya dari pemerintah kota Istanbul. Presiden klub, Göksel Gumüşdağ, merupakan kader Partai AKP yang masih punya hubungan keluarga dengan istri Erdogan. Salah satu anggota dewan direksinya, Ahmet Ketenci, adalah ipar dari salah satu putra Erdogan. Sebulan menjelang pemilihan presiden 2014, Erdogan rela tampil membelanya dalam sebuah laga eksebisi dalam rangka pembukaan stadion baru di Istanbul, 28 Juli 2014. Dalam laga yang turut diikuti beberapa pejabat, seniman, selebritis, dan sejumlah mantan atlet Turki itu, ia mencetak hattrick (tiga gol). Erdogan kala itu mengenakan jersey oranye bernomor punggung 12 dengan emblem Başakşehir walau timnya bernama Turuncu Takim. Nomor punggung itu resmi dipensiunkan Başakşehir saat merayakan juara musim 2019/2020. Sepakbola Sembunyi-Sembunyi Lahir dari rahim Tenzile Mutlu pada 26 Februari 1954 di perkampungan miskin di Istanbul, Kasımpaşa, Erdogan kecil mesti sudah banting tulang karena keluarganya hidup pas-pasan. Nafkah keluarga hanya seadanya karena ayah Erdogan, Ahmet Erdogan, hanyalah anak buah kapal di feri-feri Istanbul. Erdogan kecil sampai harus membantu ekonomi keluarga dengan menjadi pedangang asongan. Biasanya setelah pulang sekolah Erdogan menjajakan simit (roti khas Turki mirip donat) dan beragam minuman di jalan-jalan kota Istanbul. Satu-satunya kesenangan yang ia punya hanyalah sepakbola yang ia mainkan dengan teman-teman satu sekolahnya di waktu luang. Erdogan mengenang masa lalu sepakbolanya ketika diwawancarai dalam program olahraga NTVSpor yang disitat Daily Sabah , 14 November 2017. Menurutnya, ia memulai petualangan sepakbolanya di usia 15 tahun. “Kami biasanya bermain dengan bola yang terbuat dari kertas di perkampungan kami. Sementara di klub amatir, Erokspor menyarankan saya bermain di Camialtı , salah satu klub amatir top di 1970-an,” tutur Erdogan. Nomor punggung 12 di Başakşehir dipensiunkan untuk sang presiden (Foto: Twitter @ibfk2014) Meski sang ibu tak keberatan Erdogan punya angan-angan jadi pesepakbola, ayahnya tak mengizinkan. Akibatnya, sebagaimana dituliskan John McManus dalam Welcome to Hell? In Search of the Real Turkish Football , Erdogan sampai harus sembunyi-sembunyi untuk bisa tampil di lapangan membela Erokspor dan Camialtı SK di kompetisi amatir. “Saya mencintai sepakbola. Itu menjadi hasrat saya. Angan itu selalu masuk dalam mimpi saya saat tidur malam. Tetapi ayah saya tak pernah memberi izin. Katanya: ‘Sepakbola takkan membuat perut kenyang.’ Tetapi Recep Tayyip muda selalu menentang ayahnya dengan menyembunyikan sepatu sepakbolanya di bunker batubara,” kata Erdogan mengenang, dikutip McManus. Karena main di kompetisi amatir, Erdogan bisa menyambi sepakbolanya dengan sekolah. Walau tak terlalu pintar, Erdogan dikenal sebagai pelajar yang rajin dan punya nilai bagus di pelajaran agama Islam dan olahraga. Seorang tetangga Erdogan yang juga kapten tim semi-pro İETT Spor sampai merekomendasikannya untuk bergabung ke tim yang dimiliki İETT, badan usaha bidang transportasi milik Pemerintah Provinsi Istanbul. Prospek itu benar-benar dipikirkan Erdogan. Pasalnya, sebagaimana dituliskan Patrik Keddie dalam The Passion: Football and the Story of Modern Turkey , Erdogan di bawah panji Camialtı berkembang dengan cukup baik. Dengan keunggulan posturnya, pemain jangkung 185 cm saat berusia sekolah menengah atas itu disebutkan menarik perhatian Fenerbahçe, klub yang diidolakannya sejak bocah. Erdogan termasuk pemain serba bisa lantaran mulanya ia ditempatkan sebagai penyerang, lalu gelandang, kemudian bek. “Erdogan mengklaim bahwa saat bermain untuk Camialtı saat berlaga melawan Kasımpaşaspor di tahun 1973, ia dipantau oleh pelatih Fenerbahçe asal Brasil, Didi (Waldyr Pereira) dan klub memberikan tawaran (kontrak profesional, red ). Tetapi Erdogan mengaku bahwa ayahnya tak membolehkan proses transfer –dia menginginkan putranya fokus pada studinya,” ungkap Keddie. Di masa muda, Erdogan sempat meniti karier di sepakbola amatir dan semi-profesional (Foto: Repro "Onların da Yolu İETTden Geçti") Tapi begitu lulus pada 1970-an dan sudah berhak menentukan jalan hidupnya, Erdogan menghadap ke sang ayah dan menyatakan akan tetap bermain bola di klub yang juga membolehkannya bekerja. Maka tawaran dari tetangganya di İETT Spor diterimanya. Jadi sembari bekerja sebagai karyawan İETT dengan gaji bulanan, Erdogan main untuk klub IETT. “Saya menikmati lima gelar dalam tujuh tahun di İETT. Awalnya saya penyerang, kemudian main di tengah, lalu saya dipindah posisi di belakang sebagai sweeper. Selain posisi kiper, bisa dibilang saya mampu main di posisi mana saja. Sepakbola permainan keras. Tubuh saya terdapat beberapa luka jahit. Bekas lukanya masih tampak. Makanya setiap saya bercermin, saya mengingat masa-masa saya sebagai pesepakbola,” kata Erdogan mengenang. Di Balik Karier Sepakbola Karier sepakbola Erdogan harus berhenti pada 1980. Penyebabnya, Erdogan terlibat percekcokan dengan manajemen baru İETT. Di sisi lain, Erdogan makin sibuk dengan aktivitas politiknya. Sejak 1970-an, Erdogan ikut MTTB, sayap pemuda Partai Keselamatan Nasional (MSP) pimpinan Necmettin Erbakan. Keputusan Erdogan itu disayangkan beberapa rekannya. Walau secara teknik tak menonjol, Erdogan punya kelebihan fisik dan kelugasan bermain yang dibutuhkan untuk menjegal setiap alur permainan lawan. Erdogan juga punya pengaruh besar terhadap penyiapan mental rekan-rekannya dengan acap mengajak shalat berjamaah. “Dia selalu menggelar sajadah dan shalat di ruang ganti. Teman-teman setimnya menyebutnya hoca , guru agama. Seringkali Erdogan dan pelatihnya mengajak tim (shalat berjamaah) ke Masjid Sultan Eyüp dan sering menjadi imamnya. ‘Kami memenangi semua pertandingan yang dimainkan dekat (distrik) Eyüp. Keimanan adalah 50 persen dari kesuksesan’ katanya,” sambung McManus. Sejak keputusan mundur itu, Erdogan benar-benar meninggalkan sepakbola. Ia hanya menikmati sepakbola lewat tontonan semata. “Tetapi setelah kudeta militer di tahun itu juga, Erdogan vakum dari perpolitikan, mengingat MSP dibubarkan. Setelah meninggalkan İETT Spor, ia memilih bekerja di sektor swasta, di industri tekstil,” singkap Soner Çağaptay dalam The New Sultan: Erdogan and the Crisis of Modern Turkey. Erdogan kemudian sempat menjalani wajib militer sebelum masuk kembali ke dunia politik. Karier politik Erdogan melejit sejak 1994 dengan menjadi walikota Istanbul. Ia mendaki tangga politik lebih tinggi dengan menjadi perdana menteri pada 2003, untuk kemudian menjadi presiden (2014). Karier emas Erdogan di semi-pro bersama İETT Spor (Foto: Repro "Onların da Yolu İETTden Geçti") Lantaran penggunaan sepakbola untuk urusan politiknya, gosip-gosip miring tentang benar-tidaknya soal karier sepakbola Ergodang pun bermunculan. Utamanya tentang tawaran dari klub Fenerbahçe yang diklaimnya urung ia ambil gegara tak diizinkan ayahnya. Terdapat beberapa perbedaan detail tentang kariernya dari sumber-sumber berlainan. Oleh karenanya beberapa sumber mengambil “jalan tengah” dengan menyebut ia berkarier di era 1970-an. Dalam wawancaranya dengan NTVSpor , disebutkan ia memulai di klub amatir Erokspor di usia 15 tahun yang berarti ia memulai kariernya di Erokspor pada 1969. Sementara, Keddie menuliskan Erdogan memulai karier amatir di Erokspor pada usia 13 tahun (1967) dan pada 1969 Erdogan baru tampil bersama Camialt ı Spor. McManus mengungkap Erdogan sudah ikut tim Erokspor di usia 11 tahun, seiring ia masuk Sekolah Imam Hatip. Beberapa sumber lain juga terbelah dalam hal usia Erdogan memulai karier amatirnya. Mengenai isu Erdogan nyaris direkrut Fenerbahçe, Keddie menuliskan berdasarkan pernyataan Erdogan bahwa dia mendapat tawaran itu pada 1973 ketika masih membela Camialtı Spor. Pernyataan itu berbeda dari ketika Erdogan diwawancara suratkabar Miliyet jelang pemilihan walikota Istanbul pada 1994, di mana ia menyatakan Fenerbahçe ingin merekrutnya pada 1977 alias ketika ia sudah berseragam İETT Spor. “Disebutkan (di Miliyet ) bahwa dia masuk dalam daftar calon rekrutan Fenerbahçe pada 1977. Itu menguatkan keyakinan sejumlah penulis bahwa catatan historis tentang kariernya dilebih-lebihkan. Apalagi klaim tentang dia hampir bermain untuk The Canaries (julukan Fenerbahçe, red. ) selalu diulang-ulang selama karier politiknya,” tambah McManus. Erdogan di tengah-tengah dua tim dalam laga eksebisi pada 2014 di mana ternyata skill sepakbolanya masih tersisa dengan mencetak trigol (Foto: ibfk.com.tr ) Narasi itu, sambung McManus, dikemas lagi dengan begitu apik lewat biografi karya Haci Hasdemir, jurnalis suratkabar pro-pemerintah Zaman, yang terbit pada 2005, Aman Babam Gormesin: Basbakan Erdogan’in Futbol Macerasi . Menariknya, Hayri Beşer, jurnalis Zaman lain, menyiratkan keraguan lewat tulisannya dalam pendahuluan di buku tersebut: “Ketika membacanya, beberapa orang mungkin berkesimpulan bahwa buku ini adalah anatomi seorang malaikat. Karena petualangan sepakbola Tayyip Erdogan sejak usia 15 nyaris tak bercela.” “Jurnalis dan pemerhati olahraga Mustafa Hoş menyindir buku Hasdemir itu sebagai ‘kitab suci’, membandingkan masa-masa sepakbola Erdogan seperti mencoba membongkar bukti tentang sejarah yang terjadi 100 tahun lalu. ‘Semuanya ambigu dan kontradiktif’ katanya,” papar McManus. Penulis Soner Yalçın dengan lantang menyebutkan bahwa cerita tentang Fenerbahçe terlalu dibuat-buat. Dari penelusurannya, semua sejarawan resmi Erdogan menuliskan tahun yang berbeda terkait kapan dia menerima tawaran transfer itu. Hal yang sama juga terjadi pada fakta siapa pelatih Fenerbahçe yang diklaim tertarik padanya: Waldyr Pereira Didi atau Tomislav Kaloperović. “Yalç ı n juga mengklaim Erdogan menghabiskan dua tahun di Cam ı alti Spor sebenarnya hanya staf asisten perlengkapan dan dia bisa beralih ke lapangan sebagai pemain hanya karena tekanan seorang temannya yang berpengaruh di Kas ı mpaşa kepada pelatih. Hal-hal itu mencuatkan terbelahnya kepercayaan tentang karier sepakbola sang presiden. Tergantung dari mana Anda melihatnya, baik dia sebagai Pelé-nya Kas ı mpaşa atau penipu belaka,” tandasnya.
- Riwayat Politik Dinasti
Jelang Pilkada serentak 2020, politik dinasti menjadi sorotan. Paling banyak dibahas adalah majunya putra pertama Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka sebagai calon walikota Solo. Sedangkan iparnya, Bobby Nasution, maju sebagai calon walikota Medan. Putri Wakil Presiden Ma’ruf Amin, Siti Nur Azizah, juga maju dalam pemilihan walikota Tangerang Selatan, Banten. Ia akan bertarung melawan keponakan Prabowo Subianto, Rahayu Saraswati Djojohadikusumo. Dalam kontes yang sama, ada Pilar Saga Ichsan sebagai bakal calon (bacalon) wakil walikota Tangsel. Ia adalah putra Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah dan keponakan mantan Gubernur Banten, Ratu Atut Chosiyah. Masih ada lagi, Hanindhito Himawan Pramono, anak Sekretaris Kabinet Pramono Anung, maju dalam Pilkada Kediri. Irman Yasin Limpo, adik Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo yang maju sebagai balon walikota Makassar. "Ini bukan fenomena tapi juga tradisi," kata Sri Margana, sejarawan Universitas Gadjah Mada, dalam dialog sejarah "Riwayat Dinasti Politik" live di saluran Facebook dan Youtube Historia.id , Selasa, 28 Juli 2020. Akarnya bisa ditarik jauh ke masa lalu. Tradisi yang dimaksud Margana itu berawal dari budaya feodalisme di Nusantara yang juga menganut patrimonialisme. "Memang budaya politiknya mengarah ke sana, garis keturunan ayah diutamakan. Hampir semua kerajaan di Indonesia menerapkan tradisi ini, termasuk dari masa Hindu, Buddha, dan Islam," kata Margana. Margana menilai, ada jurang antara jalan politik demokrasi yang dipilih oleh bangsa Indonesia pada masa modern dengan kultur yang dibawa oleh orang-orang yang menjalankannya. Kultur ini tak mudah hilang begitu saja. "Teori bisa kita aplikasikan, institusinya bisa kita bentuk, tapi orang yang mengisi di lembaga-lembaga yang juga menjalankan kekuasaan itu, kulturnya masih feodal," kata Margana. Di Jawa Relatif Lebih Kuat Politik dinasti relatif lebih banyak ditemukan di Jawa dibanding di tempat lain. Margana berpendapat, ini ada hubungannya dengan langgengnya tradisi kerajaan di Jawa. Sudah sejak abad ke-7 orang Jawa terbiasa dengannya. Sumber-sumber dari masa Jawa kuno jelas menyebutkan konsep kekuasaan. Terlihat dari gelar penguasa atau raja. Konsep dewa raja pada zaman Hindu dan Buddha berarti raja memiliki sifat kedewaan. "Maknanya, apapun titah dia harus jadi undang-udang. Jadi absolut, pantang diubah, harus dipatuhi karena dia bukan hanya raja, dia juga dewa yang mengatur rakyatnya," ujar Margana. Dalam politik dinasti garis keturunan menjadi penting bagi seseorang yang ingin menjadi penguasa. Saking pentingnya dalam beberapa kasus raja-raja sampai harus merunut dan menyatakannya di hadapan publik. Seperti disebutkan dalam Prasasti Mantyasih (907). Raja Dyah Balitung menarik urutan raja-raja pendahulunya hingga Sanjaya, raja pertama Mataram Kuno dari Dinasti Sanjaya. Menurut Dwi Cahono, arkeolog dan sejarawan Universitas Negeri Malang, Balitung perlu melakukannya karena ada kemungkinan Balitung naik takhta bukan sebagai putra raja terdahulu. Statusnya adalah menantu yang kawin dengan putri mahkota. Balitung pun memberikan anugerah kepada orang-orang yang berjasa dalam pernikahannya. "Hal ini penting untuk mengingatkan khalayak bahwa dia menantu tetapi tetap memiliki trah panjang raja-raja terdahulu," kata Dwi. Raja Airlangga juga begitu. Dalam Prasasti Pucangan (1041), dia membeberkan silsilahnya hingga Mpu Sindok, raja Medang Kamulan. Dia naik takhta di Medang melalui pernikahan dengan putri Dharmawangsa Tguh, raja terakhir Medang Kamulan. "Sebenarnya ibunya (Airlangga, red. ) punya hak atas takhta di Jawa, tapi dia tidak naik takhta dan malah menikah dengan Udayana di Bali," kata Dwi. Pada masa perkembangan Islam, yakni era Mataram, dikenal konsep Khalifatullah. Artinya raja adalah wakil Tuhan di bumi. Raja-rajanya menggunakan gelar, misalnya Sayidin Panatagama Khalifatullah. "Konsepnya mirip. Sebagaimana dijelaskan dalam buku karya Soemarsaid Moertono dengan melihat kasus Kerajaan Mataram jelas bahwa raja-raja Mataram juga melanjutkan konsep dewa raja," kata Margana. Buku dimaksud berjudul Negara dan Usaha Bina-Negara di Jawa Masa Lampau: Studi Tentang Masa Mataram II, Abad XVI sampai XIX. Silsilah juga penting. Garis keturunan sang penguasa dibuat dari dua sisi yang disebut trah mangiwo dan manengen . Trah manengen merunut silsilah penguasa hingga era kenabian. Di Jawa, sering kali dalam suatu silsilah ditemukan nama nabi yang tidak begitu dikenal, misalnya Nabi Sis. Sementara trah mangiwo , silsilahnya diurutkan sampai tokoh-tokoh pewayangan hingga Parikesit, yaitu keturunan Pandawa terakhir. "Artinya tak ada perubahan berarti dalam konsep kekuasaan. Dari kebudayaan Hindu dan Buddha ke Islam budaya politiknya tetap sama," kata Margana. Menurut Margana, orang Jawa mengenal trahing kusuma, rembesing madu, wijiling naratapa, tedaking andana warih. Seseorang untuk menjadi raja harus berdarah bangsawan, yaitu orang-orang yang darahnya merembes dari sultan yang bangsawan, pendeta atau ulama. "Jadi hanya orang-orang itu yang dianggap bisa menjadi pemimpin," kata Margana. Kalau ada yang tidak sesuai kriteria itu tapi naik takhta, maka orang itu mendapat pulung . "Walau orang kecil tapi mendapat wahyu dari Tuhan maka dia legitimate . Ini cara orang Jawa mengkompromikan sesuatu yang tidak biasa," kata Margana. Kultur ini kemudian dipelihara oleh masyarakat sekarang dalam melihat seorang pemimpin. Kalau bukan seseorang yang dekat dengan bangsawan atau elite, paling tidak ia harus dari kalangan intelektual atau ulama. "Biasanya seseorang yang mempromosikan kandidat, walaupun program ada, visi misi juga punya, tidak kalah penting dikaitkan dengan itu," ujar Margana. "Itu alam bawah sadar." Kembali ke Etika Dengan adanya jurang antara politik demokrasi yang dipilih bangsa Indonesia dengan kultur yang dibawa oleh orang-orang yang menjalankannya, maka politik dinasti sangat mungkin terus terjadi. Apalagi itu bukan praktik ilegal. "Dalam undang-undang tak ada larangan. Masing-masing, setiap orang punya hak sama. Jadi sangat mungkin," kata Margana. Kendati tak persis seperti dipraktikkan pada masa lalu. Namun, dalam kasus Gibran dan Bobby misalnya, ada interpretasi bahwa efek dari sosok Joko Widodo masih berpengaruh. "Jadi, kemungkinan dinasti politik ini akan terjadi tapi dalam tanda kutip. Tidak bisa juga serta merta disebut sebagai dinasti," ujar Margana. Apa yang diharapkan kini adalah kesadaran untuk kembali ke etika berpolitik. "Oke, semua orang berhak dipilih dan mencalonkan diri. Mungkin yang diharapkan ada kesadaran kultural atau etika. Misalnya, saya (Gibran, red .) akan maju setelah Jokowi tidak lagi menjabat," kata Margana. Namun, mengubah kultur politik bukan perkara mudah. Itulah mengapa Sukarno bicara revolusi belum selesai. "Salah satu yang paling penting adalah merevolusi kultur yang masih kolonial dan feodal," kata Margana. "Harus cocok kan, institusinya demokrasi modern, tapi orang yang menjalankan, kulturnya masih feodal." Menurut Margana, salah satu caranya adalah memasukkan pembahasan soal budaya politik Indonesia ke dalam sistem pendidikan. Pendidikan politik seharusnya mengikuti kultur politik yang ada. "Orang yang menguasai kultur politik di Indonesia berarti akan bisa memenangkan pertarungan ini," kata Margana. Penyelenggara Pemilu juga mesti memiliki pemahaman terhadap kultur politik. Termasuk bagaimana sistem pemilihan calon pemimpin bisa memunculkan banyak tokoh alternatif yang bisa dipilih rakyat. "Sejauh mana mereka melihat ini sebagai fenomena yang tidak biasa dalam sebuah demokrasi. Kalau itu dianggap hal biasa matilah demokrasi kita," kata Margana. Pemimpin redaksi Historia.id , Bonnie Triyana yang memandu dialog sejarah, mengatakan adalah mimpi bersama demokrasi Indonesia tidak hanya prosedural, tetapi juga esensial. Semua pihak bisa bertarung dalam kontestasi pemilihan pemimpin di manapun wilayah administrasinya. "Tanpa harus mengandalkan trah, tanpa harus menjual atau berdayakan suatu hal yang justru datang dari masa lalu sehingga membawa kita ke dalam kemunduran praktik demokrasi," kata Bonnie.
- Kesaksian Hasjim Ning tentang Penyelesaian PRRI
Ketika sejumlah kolonel di daerah mulai mengeluarkan tuntutan kepada pemerintah pusat pada akhir 1956, Presiden Sukarno berupaya turun tangan mengatasinya lantaran kabinet Ali Sastroamidjojo II maupun Djuanda yang menggantikannya tak kunjung dapat menyelesaikan masalah tersebut. Tindakan Kolonel A. Husein di Padang merupakan bentuk protesnya terhadap pemerintah pusat yang dianggap oleh sejumlah perwira daerah sebagai mengabaikan kepentingan daerah. Sentralisasi pembangunan, pembubaran Divisi Banteng, makin menguatnya PKI setelah Pemilu 1955 dan diperparah oleh mundurnya Moh. Hatta dari kursi wakil presiden menjadi alasan di balik protes tersebut. Begitu mendengar kabar Kolonel A. Husein mengambilalih pemerintahan Sumatera Tengah dari tangan Gubernur Ruslan Muljohardjo, presiden segera mengutus Hasjim Ning, sahabatnya yang merupakan keponakan Bung Hatta. “Katakan pada A. Husein bahwa dia telah aku pandang anakku sendiri. Tindakannya mengambil oper pemerintahan dari tangan gubernur dapat membahayakan negara. Karena mungkin jadi panglima atau komandan militer lainnya akan melakukan hal yang sama. Katakan juga kepadanya bahwa aku tidak bisa melupakan budi baik istrinya, Des,” kata presiden sebagaimana dikutip Hasjim dalam otobiografinya yang ditulis AA Navis, Pasang Surut Pengusaha Pejuang . Hasjim pun langsung bertolak ke Padang esok harinya. Sesampainya di kampung halaman, Hasjim langsung menuju kediaman Husein di Jalan Hatta (kini Jalan A. Yani). Dia disambut hangat tuan rumah. “Dugaanku, melihat kedatanganku A. Husein menyangka aku datang sebagai ‘Raja Mobil’ yang ingin membantu gerakannya. Dan menahan aku agar menginap di rumahnya saja. Mungkin ia menyangka bahwa kedatanganku akan menyampaikan rencana besar lainnya untuk mengambil kesempatan berusaha seperti yang ia lakukan,” sambung Hasjim. Lepas pukul 22.00 WIB, Hasjim pun membicarakan tujuannya menemui Husein adalah diutus Presiden Sukarno. Hasjim menyampaikan semua yang dipesankan Sukarno kepada Husein di depan istri Husein agar menimbulkan kesan bahwa Husein tetap diperhatikan Sukarno, bukan seperti yang selama ini dianggapnya sendiri ditelantarkan pusat. Husein tak menyangka tujuan kedatangan Hasjim itu. Kepada Hasjim, Husein menjelaskan panjang lebar. “Ah, Bung Hasjim, tidak ada pikiranku, apalagi mengangan-angankan untuk memisahkan Sumatera Tengah dari Republik Indonesia. Kami hanya menuntut keadilan dan hak-hak kami kepada pemerintahan Ali. Bukan kepada Bung Karno,” kata Husein. Pembicaraan dilanjutkan Husein dengan menjelaskan program-program Dewan Banteng –bekas Divisi Banteng yang dibubarkan MBAD– yang didirikannya. Husein lalu menitipkan semua penjelasan itu kepada Hasjim agar disampaikan kepada presiden. Permintaan Husein itu membingungkan Hasjim. “Bagaimana aku harus menyampaikan pada Bung Karno bahwa Pak Husein tetap menjunjung tinggi pribadinya selaku presiden?” kata Hasjim bertanya pada Husein. “Aku akan mengirim surat padanya. Surat dari seorang anak kepada bapaknya,” jawab Husein. Begitu Hasjim kembali ke Jakarta sepekan kemudian, surat A. Husein telah lebih dulu tiba ke presiden. Situasi tetap tak mereda meski Kabinet Ali II telah digantikan Kabinet Djuanda. Bercampur dengan konflik internal Angkatan Darat, di mana sejumlah panglima daerah kecewa terhadap kebijakan tour of duty yang diterapkan KSAD AH Nasution, tuntutan daerah makin menguat. Posisi mereka kian kuat setelah beberapa tokoh politik pusat, seperti M. Natsir dan Sjafruddin Prawiranegara, dan perwira MBAD Kolonel Zulkifli Lubis bergabung. Puncaknya, mereka mengultimatum pemerintah pusat. “Pada tanggal 10 Februari 1958 mereka mengeluarkan ultimatum dari Padang yang menuntut supaya kabinet Djuanda mengundurkan diri dalam tempo lima hari, dan supaya dibentuk kabinet baru oleh Hatta dan Sultan Yogya. Jika tuntutan itu tidak dipenuhi, mereka akan membentuk pemerintah tandingan di Sumatera,” tulis Ulf Sundhaussen dalam Politik Militer Indonesia 1945-1967: Menuju Dwi Fungsi ABRI . Kendati tuntutan itu secara resmi dijawab Djuanda-KSAD Nasution dengan pemecatan para perwira daerah pembangkang, sejumlah pihak termasuk Nasution secara pribadi mengirim utusan untuk penyelesaian informal. Presiden kembali mengutus Hasjim menemui Kolonel Husein, PM Djuanda mengutus Mr. Hardi, KSAD Nasution mengutus Bachtar Lubis, Bung Hatta mengutus Baharudin Datuk Bagindo dan Bujung Djalil. Namun tak satupun dari utusan itu yang berhasil. Bachtar Lubis bahkan menyeberang ke kubu Husein. “Sikap yang diambil pemerintah pusat itu memaksa kaum pembangkang untuk melaksanakan ancaman mereka. Pada tanggal 15 Februari di Padang dibentuk Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) dengan Sjafruddin Prawiranegara sebagai perdana menteri,” sambung Sundhaussen. Maka sebelum memulai safarinya ke sejumlah negara Eropa esok harinya, presiden menyempatkan diri mampir ke rumah Bung Hatta untuk mendiskusikan penyelesaian PRRI. Meski mengkritik cara penyelesaian PRRI yang diambil Sukarno sebagai bertele-tele, Hatta dengan senang menyambut kedatangan Sukarno. Hatta tetap memandang Sukarno presiden yang sah dan gerakan Husein sebagai tindakan salah karena merupakan putsch militer. Saran Hatta bahwa cara penyelesaian PRRI hendaknya menjauhi penggunaan kekerasan lalu diikuti Sukarno. “Pada hari keberangkatannya, Bung Karno menyampaikan pidato agar sepeninggalnya tidak ada tindakan kekerasan dilakukan, harus diupayakan agar tidak ada pertumpahan darah,” kata Hasjim. Namun sepeninggal presiden, PM Djuanda dan KSAD Nasution menjawab tuntutan daerah dengan operasi militer berbekal UU Keadaan Darurat Perang. PRRI pun ditumpas oleh pasukan yang dipimpin Kolonel A. Yani. Di Eropa, setelah mendiskusikan dengan Jakarta lewat telegram dan mengirim kurir, presiden akhirnya menyetujui cara penyelesaian yang diusulkan Wakasad Gatot Subroto bahwa PRRI/Permesta harus segera diselesaikan dengan melakukan amnesti dan abolisi. Pada 1961, para petinggi PRRI/Permesta termasuk A. Husein menyerahkan diri ke Jakarta. “Akan tetapi pada suatu pagi, Bung Karno berkata kepadaku, ‘Hasjim, jij tahu, teman jij itu tidak setuju dengan amnesti abolisi itu. Maunya bertempur terus.’ Aku tidak tanyakan siapa yang dimaksud Bung Karno dengan istilah teman jij . Ia itu adalah Jenderal AH Nasution, yang sama-sama mendirikan IPKI dengan aku dahulu,” kata Hasjim.
- Kasino Sebelum Gabung Warkop
Kasino Hadiwibowo atau Kasino, sohor sebagai komedian serba-bisa dari grup Warkop Prambors. Dia lincah melawak dalam berbagai logat: Jawa, Betawi, Melayu, dan Mandarin. Dia juga piawai bergitar dan bernyanyi memplesetkan lagu-lagu tenar seperti “Come Together”, “My Bonnie”, “Sukiyaki”, dan “Feeling”. Kasino dianggap sebagai personel paling kocak di Warkop. Pleseten lagunya bikin orang tergelak. Dia tampil dengan gaya bicara ceplas-ceplos di panggung dan gesit menyampaikan humor tentang kondisi masyarakat. Celetukannya di film pun banyak dikenang. Sebutlah beberapa di antaranya. “Anak orang kaya emang begitu. Kayak duit bapaknya halal aja!”, “Kasino, Putra Gombong, nyogok tidak etis”, atau “Hidup di Jakarta musti lihai. Kalau gak lihai, kita yang dilihaiin orang.” Eddy Suhardi dalam Warkop: Dari Main-Main Jadi Bukan Main mengungkap kebisaan lain Kasino di luar lawak. “Mulai dari sekadar juru bicara, public relations sampai deal bisnis. Kasino pula yang mengatur strategi dan konsep Warkop sebagai sebuah usaha jasa tawa. Singkat cerita, Kasino adalah leader di kelompok ini.” Baca juga: Warkop, Ini Baru Namanya Mainan Tapi sebelum mencapai semua itu, Kasino melalui berbagai pengalaman yang penuh warna dan belum banyak diketahui orang. Dia lahir di Gombong, Jawa Tengah, pada 15 September 1950 dari pasangan Notopramono dan Kasiyem. Ayahnya pekerja di Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) dan sering berpindah tugas dari satu tempat ke tempat lainnya. Kasino sempat mencicip masa kecil di Padalarang, Bandung, Jawa Barat. Saat duduk di kelas 3 Sekolah Dasar, dia ikut ayahnya pindah ke Jakarta. Ayahnya sangat ketat dan disiplin dalam mendidik anak. Dia berharap anak-anaknya kelak bakal jadi pegawai negeri atau orang kantoran. Pengaruh Bing dan Mang Udel Kasino kecil pandai dalam pelajaran sekolah. Dia paling jago dalam pelajaran berhitung. Tapi di sisi lain, bakat humornya juga menonjol. Kasino mengaku sudah berkarib dengan humor sejak kecil. “Humor memang sudah menjadi bagian hidupku sejak dulu,” kata Kasino dalam “Biografi Kasino Warkop” termuat di majalah Vista , No. 550 tahun 1982. Kasino mempunyai pelawak favorit: Bing Slamet dan Mang Udel, dua komedian andal dari grup Trio Los Gilos. Bersama Mang Cepot, Bing dan Mang Udel mempelopori lawak dengan naskah. Mereka merajai panggung lawak dan siaran radio selama 1950–1960-an. Sebagian orang menyebut Los Gilos sebagai pelopor lawak cerdas. Baca juga: Los Gilos Pelopor Lawakan Cerdas Bing mahir menirukan suara anak kecil dan Bung Karno. Seluruh tubuhnya bisa menjadi sumber daya penunjang lawakan. Sedangkan Udel jago bermain ukulele dan berpegang pada naskah sebelum dan selama tampil di panggung. Terakhir Cepot, fasih membuat naskah humor yang berangkat dari idiom dan ungkapan masyarakat setempat. Kasino bilang lebih memperhatikan gaya Bing dan Mang Udel setiap kali mereka tampil. “Kalau Bing Slamet main, ku amati gayanya. Kemudian esoknya dalam panggung kut Demikian pula Mang Udel, gaya-gayanya yang khas banyak mewarnai penampilanku dalam panggung-panggung sekolah,” lanjut Kasino. Kasino semasa menjadi pelajar sekolah dasar, 1950-an. ( Vista , No. 550 tahun 1982). Selain gemar memperhatikan polah pelawak, Kasino kecil suka bicara ceplas-ceplos. “Apalagi ada orang yang bentuknya agak aneh, rasanya pengen nyeplos saja,” ungkap Kasino. Dia telah terbiasa pula memirip-miripkan polahnya dengan polah orang lain. Misalnya ketika dia punya teman sebaya dengan kaki pengkor dan berjalan pincang. Baca juga: Dono dan Novel-novelnya Suatu kali Kasino bertemu teman sebayanya di sebuah jalan. Dia mengikutinya dari belakang dengan menirukan cara berjalannya. Maksud hati ingin melucu di hadapan teman-teman lainnya, tapi dia justru kena sial. Saking asyiknya meniru, Kasino tak awas terhadap keadaan sekitar. Ayah si anak tiba-tiba muncul dari belakang. Melihat kepincangan anaknya jadi bahan tiruan, Sang ayah murka. “Karuan saja ditendangnya tubuhku, gusrak jatuh tersungkur. Sambil teriak ampun-ampun minta dikasihani,” kenang Kasino. Kasino merasa masa kecilnya penuh dengan kenakalan wajar. “Sebab masa itu masih murni. Kalau toh nakal, merupakan keindahan tersendiri untuk dikenang,” kata Kasino. Ingat Pesan Ibu Di luar meniru cara berjalan anak berkebutuhan khusus, Kasino pernah menghiraukan larangan orang tuanya berlari naik turun mengejar kereta api yang berjalan. Dia baru kapok dan sadar mengapa orang tuanya melarang perbuatan itu ketika menyaksikan temannya tewas setelah terjatuh dari sambungan kereta. Menginjak masa remaja, Kasino mulai sering tampil di panggung sekolah. Dia bermain sandiwara bersama teman-temannya ketika ada acara tur sekolah. Biasanya dia tampil membawakan lawakan. Karena lawakan, namanya jadi tenar di antara teman-teman. Baca juga: Dono dan Artikel-Artikelnya Polah kocak seorang lelaki remaja sering kali jadi jurus ampuh untuk memikat perempuan remaja. Kasino remaja tahu itu. Tapi orang tuanya melarang pacaran atau dekat-dekat dengan lawan jenis. “Pacaran boleh kalau sudah punya penghasilan,” kata Kasino menirukan ucapan ayahnya. Kasino remaja (kiri) bersama kerabat dan kakaknya (kanan). ( Vista , No. 550 tahun 1982). Remaja periang dan usil seperti Kasino sesekali akan melanggar larangan. Dia sempat mencuri-curi kesempatan berdekatan dengan lawan jenis. Tapi sebatas saling lirik dan berpegangan tangan saja. “Anehnya, kalau cewek tersebut saya pegang tangannya, nurut. Tidak dikipatake (ditepis, red .),” ungkap Kasino. Selain sesekali melanggar larangan pacaran, Kasino pernah pula mengabaikan larangan berkelahi dari orang tuanya. Dia sebenarnya bukan tukang kelahi. Tapi situasi membuatnya tak bisa menghindar dari perkelahian. Ceritanya ada tukang palak di dekat sekolahnya. Dia tak suka orang minta uang pakai cara begitu. “Terpaksa ku lawan. Terjadi pergumulan seru mempertahankan duit,” cerita Kasino. Baca juga: Dono Mahasiswa Kritis Ujungnya Kasino tak pernah berkelahi lagi. Dia berupaya keras memegang teguh pesan ibunya. “ Wong ngalah iku duwur wekasane ,” kata sang ibu kepadanya. Artinya, orang mengalah itu tinggi harkatnya. Alasan lainnya, Kasino tak mau kena tempeleng ayahnya. Menurutnya, kalau dia ketahuan terlibat perkelahian, ayahnya akan lebih dulu mengoreksi tingkah laku anaknya dengan memukulnya. Berdandan ala Hippies Masa remaja Kasino sebati dengan masa maraknya demonstrasi pelajar anti-Sukarno dan anti-PKI. Mereka tergabung dalam Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI). SMP tempat Kasino belajar tak luput pula dari pergolakan ini. Kegiatan belajar terganggu. Orang tua Kasino melihat tensi politik di Jakarta kurang baik bagi rencana masa depannya untuk Kasino. Mereka memindahkan putranya ke Cirebon agar tetap bisa belajar. Di sana dia memperoleh pelajaran membaca al-Qur’an dari guru ngaji. “Hampir setiap malam sehabis belajar aku berhadapan dengan kitab Al-Qur’an,” kata Kasino. Baca juga: Kelucuan Dono di Luar Film Cirebon memberikan pengalaman baru lainnya kepada Kasino. Dia mulai berkesempatan mempelajari alat-alat musik. “Saya menjadi pemain band, pegang rhythm, dan menyanyi,” kata Kasino. Dia sering memainkan lagu-lagu band kebanggaannya, The Beatles, saban ngeband. Saat itu kekuasaan Sukarno sudah melemah dan pengawasan terhadap musik-musik Barat melonggar. Kasino (tengah) sepulang dari mengaji di Cirebon sekira 1965. ( Vista , No. 550 tahun 1982). Situasi Jakarta berangsur pulih setelah huru-hara politik yang panjang. Sekolah kembali normal dan Kasino balik lagi bersekolah di Jakarta. Masa-masa awal Orde Baru sangat menyenangkan untuknya. Seiring kejatuhan rezim Sukarno, benteng terhadap penetrasi budaya Barat ikut roboh. Nilai-nilai baru dari Barat menerobos dan menyebar masuk ke Indonesia ibarat virus. Para remaja Indonesia ketularan gerakan generasi bunga ( flowers generation ). Tak terkecuali Kasino. Dia kini tampil dengan setelan ala hippies , sebuah tatanan hidup baru anak muda di Amerika Serikat. Baca juga: Virus Kaum Hippies “Dengan topi ala Bali, jaket klewer-klewer penuh gambar bunga hilir mudik naik motor. Kalau sudah begitu, urutan kalimat ngaji mulai lupa lagi,” kata Kasino. Tapi dia tak meniru semua gaya hidup Hippies . “Aku tak pernah sama sekali melibatkan diri dalam urusan narkotik,” terang Kasino. Meski penampilannya urakan, otak Kasino tetap cemerlang. Dia berhasil menembus jurusan Administrasi Niaga Fakultas Ilmu Sosial Universitas Indonesia. Kelak di kampus ini, dia bertemu dengan Nanu, Rudi Badil, Dono, Temmy Lesanpura, dan Indro. Pertemuan yang mengubah harapan orang tuanya dan jalan hidupnya sendiri.
- Awal Invasi Narkotika ke Indonesia
Baru-baru ini, model papan atas Catherine Wilson berurusan dengan pihak berwajib karena penyalahgunaan obat-obatan terlarang. Perempuan yang akrab dipanggil Keket itu terciduk setelah polisi menemukan sepaket sabu-sabu dikediamannya. Saat diperiksa, Keket positif menggunakan metamfetamin, jenis psikotropika golongan II. Nama Catherine Wilson menambah daftar panjang selebritis tanah air yang terjerat kasus narkotika. Selebritis dan kehidupan bebas ibarat satu paket. Salah satu rupa gaya hidup bebas itu mewujud dalam pemakaian narkotika. Dari masa ke masa, cukup banyak seniman maupun artis yang dikenal sebagai pemakai narkotika. Tidak sedikit pula yang meninggal karena overdosis. Zat candu berbahaya ini terdiri dari narkoba, psikotropika, dan obat-obatan terlarang Di luar kebutuhan medis, narkotika adalah barang haram. Namun, sejak kapan penyalahgunaan narkotika mulai marak di Indonesia? “Masuknya narkoba modern ke Indonesia itu mulai awal tahun 70-an,” ujar Tama Bara Sakti, arsiparis di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) kepada Historia . Generasi Bunga Situasi global pada dekade 1970-an melahirkan generasi yang disebut kaum hippies. Mereka dikenal sebagai generasi antikemapanan yang menolak nilai-nilai konservatif Amerika. Gelombang protes terhadap keterlibatan Amerika dalam Perang Vietnam pada 1960-an jadi momentum kemunculan hippies. Simbol mereka adalah bunga sehingga kerap disebut sebagai generasi bunga ( flower generation ). Kaum hippies identik dengan gaya hidup bebas, seperti aktivitas seks bebas dan konsumsi obat-obatan terlarang. Love, Peace, and Freedom (Cinta, Perdamaian, dan Kebebasan) adalah semboyan hippies yang terkenal. Grup band pop Inggris The Beatles dan gitaris rock kesohor Amerika Jimi Hendrix adalah musisi yang mendukung dan berpenampilan ala hippies. Jimmi Hendrix bahkan meninggal akibat overdosis obat penenang jenis barbiturat pada 1970. Budaya hippies lalu mengular ke sejumlah negara, termasuk Indonesia. Anak-anak muda, yang mengalami depolitisasi sejak awal Orde Baru, menyerap mentah-mentah budaya hippies kendati hanya kulitnya. Penetrasi kultur pop ini terutama menyasar kaum muda di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung. Menurut Ekspres , 7 Juni 1971, mulanya anak-anak muda di negeri ini meniru hanya sebatas mode. Lama-lama mereka menyaplok habis budaya dan kehidupan hippies, seperti rambut gondrong, dandanan eksentrik, suka pesta, dansa telanjang, dan seks bebas. Yang paling membuat keadaan menggawat adalah penggunaan narkotika, ganja, dan morfin. Kepala kepolisian RI, Jenderal Hoegeng Iman Santoso turut prihatin menyaksikan anak-anak muda yang terjerumus dalam penyalahgunaan narkotika. Hoegeng mengakui invasi narkotika di Indonesia bersumber dari situasi global yang menyerang kalangan muda. Selain itu, menurut Hoegeng ancaman narkotika tidak luput dari persoalan domestik. “Banyak anak-anak orang kaya yang mengalami broken home mencoba melarikan diri dari kepahitan hidup dengan jalan menjadi pecandu ganja, heroin, dan narkotika,” ujar Hoegeng kepada Abrar Yusra dalam otobiografi Hoegeng, Polisi: Idaman dan Kenyataan yang disusun Ramadhan K.H. Lahirnya Undang-Undang Narkotika Menurut Hoegeng kekhawatiran terhadap ancaman narkotika cukup beralasan. Apalagi letak geografis Indonesia tidak jauh dari kawasan penghasil narkotika alami jenis ganja. Kawasan yang dimaksud Hoegeng adalah Indocina yang disebut-sebut sebagai segitiga emas daerah ganja. Lagi pula, Asia Tenggara merupakan daerah tropis dimana narkotika alami seperti ganja bisa tumbuh subur. Selain itu, pemasokan narkotika dilakukan lewat cara penyelundupan. “Mobilitas transportasi yang kian berkembang, memudahkan narkotika masuk ke Indonesia,” kata Tama, “bisa dilihat dari kasus-kasus tahun 70-an yang melibatkan pemalsuan paspor.” Peredaran narkotika ditengah masyarakat generasi muda meluas dengan cepat. Tempat-tempat hiburan seperti klub malam jadi tempat rujukan transaksi narkotika meskipun ada juga pedagang rokok jalanan menyambi jualan ganja kecil-kecilan. Dari kota besar ke kota kecil. Dari kalangan menegah ke atas, lantas golongan ekonomi lemah pun jadi ikut-ikutan mencicip barang terlarang itu. Semuanya bermula dari rasa penasaran, coba-coba, lalu terjerumus pergaulan. Menurut berita Kompas , 10 Juli 1975, pecandu narkotika di Indonesia mencapai 5000 orang. Para pecandu itu menghabiskan uang sebesar 10,8 milyar rupiah untuk memuaskan candu mereka terhadap berbagai jenis narkotika. Karena kelangkaannya narkotika menjadi barang yang mahal. Pada masa itu 1 kilogram morfin, narkotika semisintesis yang lebih dikenal dengan nama putaw dihargai sebesar 15 juta rupiah. Nilai yang cukup fantastis untuk menebus candu. Sebagai bandingan, harga sekilogram beras pada tahun 1975 senilai 45 rupiah. Memasuki 1976, kepolisian menggelar operasi besar-besaran untuk memberantas penyalahgunaan narkotika. Langkah awal dilakukan lewat “Operasi Gurita” pada 21 April–3 Juni. Namun, upaya itu masih belum cukup menekan laju peredaran narkotika. Hingga pertengahan 1976, jumlah korban narkotika di Jakarta saja mencapai 10.000 orang. Sayangnya, belum ada pisau hukum yang cukup tajam untuk menguliti kasus-kasus penyalahgunaan narkotika. Hal inilah yang kemudian mendorong pemerintah meregulasi narkotika ke dalam undang-undang. Maka pada 26 Juli 1976, pemerintah menetapkan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1976 tentang Narkotika. Dengan adanya undang-undang itu, pemerintah memberikan wewenang pengolahan narkotika hanya kepada otoritas kesehatan dan medis. Menteri kesehatan, misalnya dapat memberikan izin khusus kepada apotek, dokter, rumahsakit, maupun lembaga ilmu pengetahun dan pendidikan yang memerlukan bahan narkotika untuk kepentingan pengobatan. Sementara itu bagi mereka yang tidak berwenang, si penyalahguna narkotika dapat dipidana bahkan dengan ancaman hukuman mati. “Penegakan hukum (kasus penyalagunaan narkotika) bisa dilakukan jika ada dasarnya. Dengan adanya Undang-Undang Narkotika itu, aparat hukum leluasa melakukan penindakan,” pungkas Tama.
- Inggris Menjarah Keraton Yogyakarta
Keturunan Sultan Hamengkubuwono II menuntut pemerintah Inggris mengembalikan harta Keraton Yogyakarta yang dijarah saat penyerangan Inggris pada 1812 yang disebut Geger Sepoy atau Geger Sepehi. Menurut mereka, totalnya mencapai 57.000 ton emas. Tuntutan itu disampaikan Sekretaris Pengusul Pahlawan Nasional Sultan Hamengkubuwono II, Fajar Bagoes Poetranto. "Kami meminta agar emas tersebut dikembalikan kepada pihak keraton atau para keturunan dari Sinuwun Sri Sultan Hamengkubuwono II," katanya dalam keterangan tertulis, Sabtu (25/7), dikutip Kumparan.com . Jumlah 57.000 ton emas dipertanyakan oleh Poltak Hotradero, kepala divisi riset di Bursa Efek Indonesia. Poltak mencuit lewat akun twitter -nya: “Emas yang pernah ditambang sepanjang sejarah manusia cuma 190 ribu ton. Gimana bisa seperempatnya ada di Jawa?” Sejarawan Inggris, Peter Carey mengungkapkan, Inggris mengerahkan ribuan pasukan menyerang Keraton Yogyakarta pada 20 Juni 1812. Kedatangan mereka ke keraton tidak terdeteksi karena fajar belum datang. Serangan hanya berlangsung tiga jam, dari pukul 05:00 sampai 08:00. Keraton Yogyakarta ditaklukkan dan Sultan Hamengkubuwono II ditangkap lalu diasingkan ke Pulau Pinang (Penang, Malaysia, red .). Inggris hanya kehilangan 23 orang dan 78 orang terluka. Sedangkan di pihak Keraton Yogyakarta jatuh ribuan korban jiwa. Menurut Peter Carey, tentara Inggris-Sepoy menjarah keraton besar-besaran. Peti berisi harta benda dari keraton hilir mudik diangkut dengan gerobak melalui alun-alun sampai empat hari lamanya. Barang jarahan diangkut ke kepatihan. Lalu semua yang berharga seperti manuskrip dibawa ke Rustenburg (keresidenan). Hasil jarahan dibagikan di antara para perwira. Total nilai jarahan itu sekarang lebih dari 120 juta dolar AS. Peter Carey pun menyebut Inggris sebagai pencuri aset Indonesia nomor wahid. Bahkan, penjarahan dilakukan pada korban yang dihabisi secara brutal sebagaimana terungkap dalam babad Bedhah ing Ngayogyakarta (1816) karya Pangeran Panular, putra Sultan Hamengkubuwono I dari istri selir. Dalam babad itu disebutkan bahwa Pangeran Sumodiningrat, keturunan sultan pertama dan panglima pasukan Yogyakarta, dibunuh pasukan yang dipimpin oleh John Deans, sekretaris Keresidenan Yogyakarta. Pakaian Sumodiningrat dilucuti dan badannya dimutilasi. "Lehernya ditebas. Anak buah John Deans lalu mempreteli semua pakaian dan perhiasan yang dipakai Sumodiningrat," kata Peter Carey. Barang jarahan lainnya di antaranya dua set gamelan yang dibeli oleh Letnan Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles. Harga seperangkat gamelan kala itu berkisar 1.000–1.600 dolar Spanyol. Di samping itu, Raffles pernah menghadiahkan Prasasti Sangguran (982) kepada Gubernur Jenderal di India, Lord Minto, karenanya disebut Minto Stone. Raffles menerimanya dari Kolonel Colin Mackenzie. Lebih dari 200 tahun prasasti itu berada di halaman belakang rumah keluarga Lord Minto di Skotlandia dalam keadaan tertutup lumut dan lapuk. Satu lagi, Prasasti Pucangan (1041) atau Calcutta Stone disimpan tak terawat di Museum India. Kemungkinan Mackenzie menemukan prasasti itu di wilayah Mojokerto pada Maret 1812 lalu membawanya ke Surabaya melalui Kali Mas. Prasasti itu termasuk barang-barang yang dibawa Mackenzie ke India pada Juli 1813. Pemerintah Indonesia telah berusaha membawa pulang prasasti itu sejak tahun 2004 , tapi belum berhasil. Inggris juga membawa naskah-naskah kuno milik Keraton Yogyakarta. Manuskrip itu kemudian didigitalisasi oleh British Library. Pada 5 Maret 2019, pemerintah Inggris mengembalikan 75 manuskrip kepada Keraton Yogyakarta, tapi versi digitalnya. "Jadi 75 naskah Jawa kuno sudah dipulangkan secara digital ke Indonesia. Secara fisik mungkin sulit karena dalam koleksi British Library," kata Moazzam Malik, Duta Besar Inggris untuk Indonesia, dikutip Kumparan.com . Sementara itu, pada November 2019, Belanda mengembalikan 1.499 benda bersejarah koleksi Museum Nusantara, Delft, kepada Indonesia. Yang menarik perhatian adalah pengembalian keris milik Pangeran Diponegoro yang secara simbolis diserahkan langsung oleh raja dan ratu Belanda kepada Presiden Joko Widodo. Pengembalian barang bersejarah hasil jarahan, pemberian, dan pembelian itu yang terbesar sepanjang sejarah. Pengembalian barang-barang bersejarah itu dipicu oleh dekolonisasi yang dicetuskan oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron dalam pidatonya di Universitas Ougadougou, Burkina Faso, 28 November 2017. Macron mencetuskan gagasan dekolonisasi itu dalam rangka membuka lembaran baru dalam hubungan internasional di kawasan Afrika. Salah satu poinnya bahwa benda-benda bersejarah Afrika sudah semestinya dikembalikan para mantan kolonialis. Macron menjanjikan Prancis akan mengembalikannya dalam jangka waktu lima tahun. Belanda merespons gagasan dekolonisasi itu. "Wacana repatriasi kali ini datang dari Belanda karena di Eropa muncul banyak desakan mengenai repatriasi benda-benda budaya milik negara-negara koloni, baik itu Prancis, Inggris, maupun Belanda," kata Sri Margana, sejarawan Universitas Gadjah Mada, kepada Historia.id . Dalam rangka dekolonisasi, akankah pemerintah Inggris menanggapi tuntutan dari keturunan Sultan Hamengkubuwono II agar mengembalikan harta jarahan yang katanya sebanyak 57.000 ton emas?
- Hagia Sophia dan Keteladanan Sahabat Rasulullah
SERUAN adzan berkumandang dari menara Hagia Sophia di Istanbul, Turki, untuk pertamakali dalam 86 tahun pada Jumat siang, 24 Juli 2020. Bangunan megah dan bersejarah berusia 1483 tahun di tepi Selat Bosphorus itu resmi kembali jadi masjid usai ditetapkan Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan 14 hari sebelumnya. Hagia Sophia dibangun tahun 537 sebagai katedral umat Kristen Ortodoks Yunani kala Istanbul masih bernama Konstantinopel, ibukota Kekaisaran Byzantium (Romawi Timur). Pada 1204, ia beralih fungsi menjadi katedral Katolik Romawi di rezim Kaisar Baldwin I. Seiring jatuhnya Konstantinopel ke tangan Kesultanan Utsmaniyah (Ottoman) pada 29 Mei 1453 dan adanya kebutuhan Sultan Mehmed II untuk melaksanakan shalat Jumat di hari itu, katedral itu diubah fungsinya menjadi masjid. Hampir semua simbol Nasrani berupa relic , atribut, dan ornamen ditanggalkan dan diganti simbol-simbol keislaman, kecuali mozaik di langit-langit kubah yang dijadikan mihrab oleh Mehmed II. “Kebanyakan mural-mural dan mozaik-mozaik di gereja-gereja ditutupi lapisan cat putih. Akan tetapi untuk alasan tertentu, Sultan memberi perintah bahwa mozaik Bunda Maria di langit-langit kubah diberi pengecualian. Sampai ratusan tahun kemudian mozaik itu sekadar ditutupi tirai,” tulis Franz Babinger dalam Mehmed the Conqueror and His Time , sebagaimana saat ini ketika Hagia Sophia kembali dijadikan masjid, mozaik-mozaik itu kembali ditutupi tirai, khususnya di waktu-waktu shalat. Baca juga: Teror di Masjid Al-Noor Shalat Jumat untuk kali pertama didirikan di Hagia Sophia setelah 86 tahun (Foto: istanbul.gov.tr ) Menurut Babinger , mozaik bergambar Bunda Maria tengah memangku Yesus Kristus dari abad kesembilan itu dibiarkan seperti sediakala oleh Mehmed sebagai salah satu “nilai tawar” agar Gennadius Scholarius yang sempat ditahan, berkenan menjadi patriark dan pemimpin umat minoritas Ortodoks Yunani. Keputusan politis itu diambil lantaran Mehmet II menganggap dari sekian pemuka Ortodoks yang ada di Konstantinopel, Gennadius dikenal sebagai salah satu penentang Nasrani dari Barat. Dengan menjadikan Gennadius sebagai patriark, Mehmet II bisa sedikit lebih tenang dan mencegah munculnya pergerakan bawah tanah orang-orang Nasrani yang bersatu antara Ortodoks dan Katolik Roma. Baca juga: Mula Kristen di Sri Lanka Begitu Kesultanan Utsmaniyah runtuh pada 1935, masjid itu ditutup kemudian dijadikan museum oleh Presiden pertama Turki Mustafa Kemal Atatürk. Pengalihfungsian bangunan itu menjadi masjid kembali disayangkan sejumlah pihak. Beberapa bahkan mengecam penetapan Erdoğan itu yang isunya sudah berdengung sejak Juni. “Apa yang bisa saya katakan sebagai agamawan dan Patriark (Ortodoks) Yunani di Istanbul? Alih-alih menyatukan, sebuah warisan dunia berusia 1.500 tahun itu justru memecah-belah kita. Saya terguncang dan bersedih,” ucap Uskup Agung Ortodoks Yunani Bartholomew I, dikutip The Washington Post , 24 Juni 2020. Mozaik Bunda Maria dan Yesus Kristus di langit-langit kubah Hagia Sophia (Foto: hagiasophiaturkey.com ) Senada, dalam peringatan Hari Laut Internasional, Paus Fransiskus juga kecewa atas keputusan para pengambil kebijakan Turki terkait Hagia Sophia. “Lautan membawa pikiran saya lebih jauh, ke Istanbul. Saya memikirkan Santa (Hagia) Sofia…saya sangat terluka,” cetus Paus, dilansir Crux Now , 12 Juli 2020. Keputusan Erdoğan menetapkan Hagia Sophia menjadi masjid sangat politis. Ia mengesampingkan keteladanan salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW, Umar bin al-Khattab, yang menjadi khalifah kedua pasca-wafatnya nabi. Khalifah Umar Menolak Salat di Gereja Jurnalis dan pemerhati politik Islam Mustafa Akyol dalam kolomnya di The New York Times , 20 Juli 2020 bertajuk “Would the Prophet Muhammad Convert Hagia Sophia?”, menguraikan, keputusan Erdoğan bisa membuka bab baru dari cerita lama Islam versus Nasrani. Padahal di masa lalu, orang-orang pemeluk monoteisme seperti Nasrani dan Yahudi selalu dianggap sekutu dan sahabat oleh nabi. “Jadi ketika Nabi Muhammad dan para pengikutnya yang masih sekelompok kecil dipersekusi di Makkah oleh para penyembah berhala, beberapa dari mereka mendapat suaka di kerajaan Nasrani di Ethiopia. Ketika Rasulullah memerintah di Madinah, Beliau menyambut para pemeluk Nasrani dari Kota Najran untuk beribadah di masjidnya,” ungkap Akyol. “Beliau juga membuat perjanjian dengan mereka yang isinya: ‘Tidak boleh ada pelarangan terkait peribadahan mereka. Tidak akan ada uskup yang dicabut dari keuskupannya, tidak ada biarawan yang diusir dari biaranya, maupun pendeta dari parokinya’,” lanjutnya. Baca juga: Özil dan Perkara Peranakan Muslim Turki Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan di Hagia Sophia sebelum penetapan status dari museum menjadi masjid (Foto: Twitter @RTErdogan) Teladan Rasulullah menghargai agama lain kembali dicontohkan Umar bin Khattab. Khalifah kedua setelah Abu Bakar “Al-Siddiq” itu memerintah dalam kurun 10 tahun (634-644 M). Menurut Profesor Daniel J. Sahas, peneliti sejarah Islam dari Universitas Waterloo, Ontario, dalam “The Face to Face Encounter between Patriarch Sophronius of Jerusalem and the Caliph Umar Ibn al-Khattab: Friends or Foes?” yang dimuat dalam The Encounter of Eastern Christianity with Early Islam , Khalifah Umar datang ke Yerusalem seorang diri atas permintaan Patriark Sophronius. Itu terjadi setelah ia menolak menyetujui kapitulasi yang ditawarkan Abu Ubaidah bin Jarrah, panglima pasukan Muslim yang sebelumnya mengepung Yerusalem. Baca juga: Prahara Yerusalem Diusik Amerika Sang patriark memberi syarat bahwa ia bersedia menyerahkan Yerusalem jika Khalifah Umar sendiri yang datang dan menerima penyerahan tanpa syarat itu. Permintaan Sophronius, disebutkan Sahas, bukan tanpa alasan. Permintaan itu sebagai simbol ketidaksenangannya terhadap Abu Ubaidah yang sempat mengancam akan menghancurkan setiap rumah ibadah jika Yerusalem harus direbut secara paksa. “Alasan lainnya adalah Sophronius ingin melihat sendiri kualitas seorang Umar yang berjuluk AmirulMukminin . Lainnya adalah Sophronius ingin penyerahan Yerusalem dilakukan dengan proses seremonial resmi, mengingat pentingnya kesucian Yerusalem. Umar yang menerima kabar permintaan itu ketika berada di Suriah, menyanggupi dan datang dengan menunggang unta,” tulis Sahas. Ilustrasi Khalifah Umar (kanan memegang tongkat) saat masuk ke gerbang kota Yerusalem di salah satu episode seri TV "Omar" (Foto: Youtube Qatar Television) Khalifah Umar kemudian berkemah di Bukit Zaitun (3,5 km timur dari kota tua Yerusalem) dan di situlah kapitulasi Yerusalem ditandatangani pada Februari 638. Menurut catatan Patriark Euthychius yang dituliskan pada tahun 876 dan dikutip Sahas, Patriark Sophronius turut mengantar Umar ke gerbang Yerusalem dan mengiringi sang Amirul Mukminin kala berkeliling ke sejumlah tempat suci di kota tua Yerusalem. “Setelah melewati gerbang, Umar mendatangi dan duduk di serambi Gereja Makam Kudus. Kala menjelang waktu s h alat (Dzuhur), Umar berkata: ‘Aku ingin shalat.’ Dan dia (Sophronius) menjawab: ‘Ya Amirul Mukminin , shalatlah di sini!’ Dan Umar berkata: ‘Aku tidak ingin s h alat di sini.’ Patriark lalu mengantarnya ke dalam gereja itu dan menggelar tikar di lantai gereja. Tetapi Umar berkata: ‘Aku juga tak ingin shalat di sini’,” kutip Sahas. “Lalu Beliau (Umar) keluar menuju gerbang timur gereja dan Beliau mendirikan shalat sendirian di atas rerumputan. Selepasnya, ia duduk bersama Patriark Sophronius. ‘Patriark, apa engkau tahu kenapa aku tak shalat di dalam gereja?’ Dia menjawab: ‘Aku tidak tahu, wahai Amirul Mukminin. ’ Umar berkata: ‘Apabila aku shalat di dalam gereja, Engkau akan kehilangan gereja itu karena setelah kematianku, kaum Muslimin akan merebutnya dengan mengatakan: ‘Umar pernah shalat di sini.’ Tetapi berikanlah aku selembar perkamen untuk menuliskan sebuah dokumen!’” Baca juga: Teror di Masjid Al-Noor Dokumen yang dituliskan Khalifah Umar intinya berisi bahwa kaum Muslimin dilarang mengumandangkan adzan dan mendirikan shalat di tempat umat Nasrani beribadah. Kemudian, disebutkan F. E. Peters dalam Jerusalem: The Holy City in the Eyes of Chroniclers , Khalifah Umar meminta tempat untuk didirikan masjid di kompleks suci itu. “Sophronius berkata: ‘Aku akan memberikan AmirulMukminin sebuah tempat untuk mendirikan tempat ibadah, di mana para raja Romawi tak sanggup membangunnya. Tempat di mana terdapat sebuah batu yang dahulu (Nabi) Yakub berbicara pada Tuhan dan tempat di mana Yakub menyebutnya gerbang surga dan Bani Israil menyebutnya tempat paling suci (jejak-jejak Menorah). Tempatnya berada di tengah-tengah dunia’,” ungkap Peters. Ilustrasi Khalifah Umar (tengah) dalam seri "Omar" yang memilih tempat shalat di luar lingkungan gereja, tepatnya di timur Gereja Makam Kudus (Foto: Youtube Qatar Television) Sophronius kemudian menjelaskan bahwa tempat itu sudah terbengkalai dan kini tertutup pasir dan tanah oleh orang Romawi. Ia tak dijadikan gereja karena Yesus Kristus berkata bahwa Dia takkan meletakkan batu di atas batu yang takkan bisa dihancurkan. Oleh karenanya, umat Nasrani meninggalkannya sebagai reruntuhan. Umar lalu mengambil tanah itu, membersihkannya menggunakan jubahnya sebelum melemparkannya ke Lembah Gehenna, dan diikuti kaum Muslimin sampai tempat itu bersih dan batunya tampak. Setelah batu itu dipindahkan, tempat itupun dibangun masjid yang hingga kini dikenal sebagai Masjid Umar. Letaknya tak jauh dari gerbang timur Gereja Makam Kudus. Tetapi sejak 1193, masjidnya dipindah ke selatan gereja seiring berubahnya gerbang gereja ke arah yang sama sebagai imbas perbaikan usai beberapa kali hancur oleh konflik di abad ke-11. Salahuddin Menjaga Gereja Masjid Umar dibangun kembali pada 1193 oleh Emir Damaskus Al-Afdal bin Salahuddin, putra Sultan Salahuddin “Sang penakluk Yerusalem” dalam Perang Salib III (1187). Sebagaimana Khalifah Umar, Salahuddin al-Ayyub tak menistakan satupun gereja ketika Yerusalem sudah berada di bawah kekuasaannya. Salahuddin merebut Yerusalem dan masuk ke gerbang kota suci itu pada 2 Oktober 1187 atau 27 Rajab 583 Hijriah, bertepatan dengan peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Mengutip Sir Walter Besant dan Edward Henry Palmer dalam Jerusalem, the City of Herod and Saladin, sang sultan sempat menutup semua gereja, termasuk Gereja Makam Kudus, untuk menggelar diskusi dengan para pengikutnya guna menentukan apa yang akan dilakukan terhadap situs-situs Nasrani. Sementara, sejumlah situs suci Islam ia perbaiki dan kembalikan fungsinya sebagai rumah ibadah. Salah satunya, Qubbat al-Sakhrah (Dome of the Rock), masjid yang dibangun pada 691 di masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan. Salib emas yang dipasang para Ksatria Templar di masjid itu dicopot. Pun begitu dengan yang berada di Masjid al-Aqsa dan Masjid Umar. Baca juga: Gereja Belanda Kutuk Tentara Belanda Ilustrasi Sultan Salahuddin dalam film "Kingdom of Heaven" yang memilih tak menghancurkan gereja-gereja di Yerusalem setelah direbutnya pada 1187 (Foto: Youtube Yubi) Sementara itu, umat Katolik bersama sisa-sisa pasukan Salib pergi setelah dijamin Salahuddin dengan bisa keluar hidup-hidup pasca-kapitulasi sehingga yang tersisa hanyalah budak-budak yang terbebas dan umat Kristen Ortodoks. Gereja-gereja yang mereka tinggalkan juga mendapat perhatian. “Gereja Makam Kudus jadi perhatian khusus. Banyak para pengikut Salahuddin menyarankannya untuk dihancurkan. Akan tetapi berkat pertimbangan matang sultan dan kisah keteladanan (Khalifah) Umar yang ia kemukakan, nasihat-nasihat pengikutnya (untuk menghancurkan gereja) tak ia jalankan,” tulis Sir Walter dan Palmer. Setelah tiga hari itu, Gereja Makam Kudus kembali dibuka dan Salahuddin mengizinkan umat Nasrani manapun untuk menziarahinya. Para penganut Kristen Ortodoks dan Koptik pun diperkenankan untuk tetap menjalani ritual-ritual di situs-situs suci mereka yang sebelumnya sebagian situs Ortodoks dikuasai umat Katolik Roma seiring berdirnya Kerajaan Yerusalem (1099-1187). “Kaisar Byzantium Isaac II mengirim surat untuk memberi ucapan selamat kepada Salahuddin dan memintanya mengembalikan semua gereja di kota (Yerusalem) kepada para agamawan Ortodoks dan semua kebaktian mereka bisa dilaksanakan dalam tata peribadatan Ortodoks Yunani. Permintaan itu dikabulkan Salahuddin, di mana semua urusan gereja diserahkan ke Patriark Konstantinopel,” singkap Maher Abu-Munshar dalam Islamic Jerusalem and its Christianity: A History of Tolerance and Tensions. Baca juga: Pandangan Westerling terhadap Islam
- Jurus Diplomasi Artati Memimpin Sidang Chernobyl
BEGITU mendengar kabar adanya kecelakaan nuklir di Chernobyl, Uni Soviet pada 26 April 1986, Artati langsung mengirim kabar kepada para koleganya untuk mengadakan pertemuan membahas kecelakaan tersebut. Kala itu, Artati duduk sebagai ketua Dewan Gubernur Badan Tenaga Atom Internasional (International Atomic Energy Agency, IAEA), yang dijabatnya sejak 1 Oktober 1985. Sejak IAEA didirikan pada pada 22 Juli 1957, Indonesia langsung bergabung di tahun yang sama dan beberapa kali menduduki posisi penting di lembaga nuklir dunia ini. Sebelum Artati, ada Sudjarwo Tjondronegoro yang menjabat sebagai President of the General Conference pada 1958. Artati Marzuki kala mengepalai sidang khusus Chernobyl 1986. (dok. Ceniza Marzuki). Menurut Artati dalam memoarnya di Bunga Rampai Kenangan dalam Dinas Luar Negeri terbitan Kementerian Luar Negeri, ketua dewan yang dipilih selalu berasal dari negara yang tidak memiliki senjata nuklir. Ketua dewan juga harus menjaga keseimbangan kepentingan antara negara-negara adikuasa yang memanfaatkan nuklir. Dalam dewan gubernur terdapat 35 anggota. Artati merupakan perempuan kedua yang berhasil menduduki posisi pimpinan IAEA. Perempuan pertama yang menjabat sebagai ketua Dewan adalah Duta Besar Margaret Meagher dari Kanada (1962). “Terpilihnya seorang perempuan sebagai Ketua Dewan merupakan peristiwa kedua kalinya terjadi dalam sejarah IAEA dan kejadian itu lebih menonjol karena Ibu berasal dari negara berkembang,” kata Ceniza Marzuki, anak pertama Artati, pada Historia. Artati di masa senja bersama anaknya Ceniza Marzuki, dan dua cucunya Achmad dan Artati Sirman. (dok. Ceniza Marzuki). Sidang Komite Administrasi dan Anggaran IAEA (6-9 Mei 1986) yang diketuai Artati situasinya mencekam. Para perwakilan negara yang hadir khawatir awan radio aktif dari sisa ledakan akan jatuh di negara-negara sekitar Uni Soviet. Sementara, keterangan faktual tentang kronologi kejadian dan situasi terkini amat sedikit karena minimnya informasi dari Uni Soviet. Untuk mendapatkan informasi lebih lengkap, Direktur Jenderal IAEA Dr. Hans Blix, mantan menteri Luar Negeri Swedia, dan timnya berangkat ke Uni Soviet. Pada musim semi 12 Mei 1986 di Wina, diadakan pertemuan di mana Dr. Hans Blix menceritakan kondisi yang mereka temui sebagai dampak kecelakaan nuklir tersebut. “Wakil Tetap Jerman Barat Karl Paschke meminta bicara dengan saya. Saya teringat akan gejolak politik yang sedang menimpa negaranya sebagai akibat musibah Chernobyl,” kata Artati. Dalam pertemuan dengan Dr. Hans Blix, Artati mendapati hal tak biasa di mana roman muka koleganya itu tampak murung. Paschke menceritakan, negaranya sedang menghadapi pemilihan umum dan salah satu partai politik sudah cenderung menghentikan pembangunan dan pengoperasian PLTN. Pemerintah Jerman merasa perlu mengadakan pembahasan keselamatan instalasi nuklir di forum internasional. Sebelum Perdana Menteri Helmut Kohl mengajukan permintaan resmi untuk mengadakan sidang khusus mengenai kecelakaan nuklir di Chernobyl, Duta Besar Paschke sudah memberitahu Artati lebih dulu. Perasaan khawatir akan dampak nuklir juga menyebabkan beberapa negara Eropa Barat, seperti Italia, mengeluarkan peraturan ketat mengenai penjualan bahan makanan karena banyk bahan makanan yang ditemukan mengandung radio-aktivitas tinggi. Beberapa bahkan disalurkan ke negara-negara berkembang. Keprihatinan para pemimpin dunia juga bertolak dari fakta kecelakaan Chernobyl telah menimbulkan singgungan antarnegara. Negara-negara yang karena alasan politis tidak mengoperasikan PLTN kemudian merasa terancam karena adanya dampak nuklir yang melintasi batas nasional. Mereka menyatakan pembangunan instalasi nuklir di suatu negara harus dirundingkan terlebih dahulu dengan negara tetangga. Sikap ini menimbulkan ketegangan antara beberapa negara, seperti Austria dan Jerman Barat. “Pada waktu itu dalam forum IAEA masih sering ditemukan perbedaan paham antara Kelompok Eropa Barat dan Eropa Timur. Sehingga tantangannya adalah bagaimana mengusahakan masalah kebocoran nuklir Chernobyl, tidak menjadi permainan politik,” kata Ceniza mengenang ibunya. Artati bersama koleganya para duta besar di Wina 1986. (dok. Ceniza Marzuki). Dalam proses persiapan Sidang Khusus Chernobyl, delegasi Uni Soviet jelas-jelas menyatakan akan menentang tiap usaha untuk mengeluarkan suatu resolusi yang akan memojokkan Uni Soviet. Sedangkan negara-negara Amerika Utara, yang tidak langsung terkena dampak radioaktif tersebut, lebih memikirkan masa depan industri nuklirnya. Artati berusaha menghindari perdebatan politik yang emosional dan lebih fokus pada penanganan dan analisis pasca-musibah, seperti pemberian bantuan, pengukuran tingkat radiasi, dan penanganan jangka panjang agar PLTN dapat dioperasikan secara aman. Maka sebelum Sidang Khusus BOG, 21 Mei 1986, ia mengadakan lobi-lobi dan mengumpulkan pendapat dari para perwakilan negara. “Ibu mengumpulkan pendapat-pendapat mereka dan itu yang terkenal dengan The Summing-up of the Chairman of the Board of Governors,” kata Ceniza. Setelah melalui lobi-lobi sebelum sidang, mayoritas anggota ternyata tidak menghendaki resolusi. Mereka menyadari yang perlu diutamakan adalah meringankan kesengsaraan para korban kecelakaan radiasi dan memikirkan berbagai tindakan keselamatan jangka pendek dan panjang. Sidang sepakat bahwa tidak ada jalan lain selain mengambil tindakan konkret secara multilateral untuk meningkatkan keselamatan nuklir juga penanggunalangan musibahnya. Jerman Barat dan sebagain negara Barat beranggapan bahwa sasaran utama baik yang bersifat politis maupun teknis telah tercapai. Sementara, Uni Soviet tidak merasa terpojokkan karena tidak ada resolusi yang menyalahkan pihaknya sehingga masalah Chernobyl terhindar dari pembahasan politis. “Jadi chairman -nya tidak mengambil putusan, hanya mengumpulkan pendapat-pendapat yang kemudian menyusun teks singkat sebagai dasar untuk meningkatkan kerjasama internasional di bidang keselamatan instalasi nuklir,” kata Ceniza mengenang kisah ibunya.
- Gandum Belum Umum
KIRAB gunungan mengawali Festival Panen Gandum yang digelar di Kebun Percobaan Salaran, Semarang, pada 8 September 2016. Acara ini memeriahkan panen gandum varietas dewata, berasal dari galur DWR-162 asal India, yang ditanam Pusat Studi Gandum Fakultas Pertanian dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga bekerja sama dengan PT. Bogasari.
- Artati Sang Srikandi Diplomasi
Dengan radio amatir milik ayahnya, Artati Sudirdjo berusaha terhubung dengan dunia luar. Berbekal pelajaran morse di kepanduan, ia tak kesulitan berkomunikasi menggunakan radio amatir untuk mencari sahabat pena. “Sejak remaja Ibu menjalin hubungan dengan dunia luar melalui sahabat pena,” kata Ceniza Marzuki, putri pertama Artati Sudirdjo, pada Historia. Artati lahir di Salatiga pada 15 Juni 1921 dan tumbuh di Bandung. Ia anak sulung dari 10 bersaudara pasangan R. Sudirdjo Djojodihardjo dengan R.A. Sumiati Reksohaminoto. Artati kecil bercita-cita menjadi pekerja di Dinas Luar Negeri meski ia menganggapnya hanya khayalan, sebab Indonesia belum merdeka. Namun Artati dan adik-adiknya, baik perempuan maupun lelaki, semua mendapat kesempatan sama menempuh pendidikan hingga ke jenjang tinggi dari orang tuanya. Artati bersekolah di Hogere Burgerschool (HBS V) Bandung. Ia lulus pada 1939 kemudian meneruskan ke Rechts Hoge School di Batavia. Namun pendidikannya di sekolah hukum tak bisa dilanjutkan karena Perang Dunia II. Selain diberi kesempatan mengenyam pendidikan formal, semua anak Sudirdjo-Sumiati juga dididik untuk bisa merawat diri sendiri. Sejak kecil Artati dan saudara-saudaranya diajari membersihkan rumah, menjahit, dan memasak. “Saya sangat berterima kasih kepada kedua orang tua saya untuk pendidikan yang menyeluruh dan berimbang ini,” kata Artati seperti dimuat dalam buletin Dharma Wanita Departemen Luar Negeri Nomor 40 tahun XI-1990. Artati juga gemar membaca tentang kehidupan masyarakat negara lain dan belajar bahasa asing. “Malahan saya pernah belajar bahasa Esperanto yang dicita-citakan dapat menjadi bahasa dunia,” kata Artati. Artati Sudirdjo kala berbicara di forum PBB. (Dok. Ceniza Marzuki). Sudirdjo amat mendukung hobi anaknya dengan menyediakan fasilitas untuk menunjang hobi tersebut. Sebagai kepala Tekniksi Stasiun Radio di Malabar, Bandung, Sudirdjo juga jadi tempat Artati belajar komunikasi radio. Artati amat dekat dengan ayahnya. Kala Perang Kemerdekaan, Artati mengikuti Sudirdjo membantu Palang Merah Indonesia. Pada peristiwa Bandung Lautan Api, radio tempat Sudirdjo bekerja pindah ke Dayeuhkolot dan dikuasai para pejuang. Artati bergabung menjadi staf Penerangan Luar Negeri (Voice of Free Indonesia) dan menjadi penyiar yang mengumumkan kemerdekaan Indonesia dalam bahasa Inggris melalui radio tersebut. Pasca-proklamasi, Artati mengawali karier di Kementerian Luar Negeri di bidang politik/konsulet. Ia menjabat sebagai Sekretariat Jenderal Kementerian Luar Negeri ketika ibukota pindah ke Yogyakarta. “Ibu adalah diplomat wanita pertama termuda (29 tahun) yang dikirim ke Perwakilan Tetap Republik Indonesia di New York dan menyaksikan pengibaran bendera Merah-Putih saat Indonesia diterima sebagai anggota PBB ke-60 pada 28 September 1950,” kata Ceniza. Semangat belajar Artati tak pernah hilang. Begitu situasi aman pasca-penyerahan kedaulatan, Artati melanjutkan pendidikannya dengan Kursus Diplomatik dan Konsuler selama setahun di Kementerian Luar Negeri, Jakarta. Ia kemudian melanjutkan kuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia namun harus terhenti pada 1950 karna mewakili Indonesia di PBB. Sekjen Deplu Artati Sudirdjo duduk bersama Menlu Adam Malik dan pegawai Deplu. (Dok. Ceniza Marzuki). Sebagai mahasiswa, Artati aktif sebagai awak redaksi majalah yang dikeluarkan oleh Unitas Studiosorum Indonesiensis dan Indonesische Vrouwelijke Studenten Vereniging. Ia juga menjadi pengurus redaksi Majalah Karya yang ditujukan untuk perempuan pekerja. Dari 1958 hingga 1961, Artati bertugas di Kedutaan Besar RI di Roma. Setelah itu dia dipercaya menjadi kepala Direktorat Organisasi Internasional Departemen Luar Negeri hingga diangkat menjadi menteri Pendidikan Dasar dan Kebudayaan RI (1964-1966). Karier Artati mayoritas dihabiskan di bidang diplomatik. Usai menjadi menteri, ia kembali ke Departemen Luar Negeri sebagai Sekretaris Jenderal (1966-1971) dan Inspektur Jenderal (1971-1973). Pada 1973 hingga lima tahun kemudian, Artati menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung RI. Dari 1978–1982, ia bertugas sebagai Panitia Tetap Hukum Humaniter di Departemen Kehakiman. Pada 1980-an, Artati kembali ke dunia diplomatik dengan menjadi duta besar RI untuk Swiss, Austria, merangkap wakil tetap RI di PBB dan organisasi-organisasi Internasional di Wina. Di antara posisi penting yang dipegang Artati ialah ketua Dewan Gubernur di Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) dan ketua Sidang Khusus tentang Kecelakaan Nuklir di Chernobyl, yang membahas solusi untuk para korban. Artati Sudirjo di masa senja bersama anak pertamanya, Ceniza Marzuki. (Dok. pribadi Ceniza Marzuki). Meneladani Kedisiplinan Artati Dalam ingatan Ceniza, Artati adalah sosok ibu yang disiplin dan perhatian. “Kedisiplinannya kemudian menjadi pedoman Ibu Artati dalam kesehariannya,” kata Ceniza. Sikap disiplin Artati diajarkan oleh ayahnya yang amat disiplin dan terorganisasi. Itu bisa dilihat dari pembagian tugas di rumah kala Artati masih kecil. Kedisiplinan dan sikap terencana Sudirdjo pula yang membuatnya berhasil menyelamatkan alat-alat stasiun radio dalam pengungsian dari Malabar ke Dayeuhkolot saat peristiwa Bandung Lautan Api. Disiplin dan teratur adalah ciri khas karakter Artati. Ia selalu tepat waktu dan suka menata berkas-berkasnya dengan sangat rapi, kronologis, dan terawat. Ceniza mencontohkan, surat dari 30 tahun lalu pun masih disimpan oleh Artati. Hal itulah yang diajarkan dan diturunkan pada Ceniza untuk menjaga dan merawat segala berkas tua. “Hubungan kami unik karena membahas dan mempersiapkan untuk wafatnya, hal mana saat itu dianggap ‘tabu’, membahas persiapan kematian,” kata Ceniza. Ceniza ingat, ibunya selalu berusaha mempersiapkan segala sesuatu untuk dirinya sendiri, anak, ataupun cucunya. Pesan Artati yang masih diingat Ceniza, perempuan dan lelaki memiliki hak dan kewajiban serta kesempatan sama, yang terpenting adalah pembagian tanggung jawab yang seimbang, selaras, dan serasi. “Ayah dan ibu sangat maju pemikirannya. Dalam lingkungan keluarga saya untuk pertama kali melihat penerapan prinsip non-diskriminasi terhadap perempuan. Ketika itu saya tidak menyadari, akan tetapi contoh orang tua saya itu akan sangat berpengaruh dalam kehidupan dan pekerjaan saya kemudian,” kata Artati.
- Bencana Gunung Api Menghantui Majapahit
Endapan lahar Gunung Kelud dari ratusan tahun lalu menjangkau 40 km lebih wilayah di sekitarnya. Tanah yang subur menjadi tandus. Candi, sarana kota, permukiman, semua porak poranda, terkubur material muntahan Sang Giri. Inilah yang terjadi pada pusat Kerajaan Majapahit di timur laut Kelud. "Ini yang mengubur peradaban, yang sekarang ditemukan di beberapa tempat, di antaranya Situs Kedaton di Jombang, Sumberbeji di Jombang, dan Kumitir di Trowulan," kata Amien Widodo, peneliti Departemen Teknik Geofisika ITS, dalam webinar "Bencana Alam dan Jejak Peradaban Abad 12-14 M" yang diadakan Teknik Geofisika ITS. Serat Pararaton mencatat bencana terjadi berkali-kali. Naskah yang ditulis pada masa akhir Majapahit itu menyebut gunung meletus pada 1233 Saka (1311), 1317 Saka (1395 M), 1343 Saka (1421 M), 1373 Saka (1451 M), 1384 Saka (1462 M), dan 1403 Saka (1481 M). Diikuti bencana lainnya, seperti gemuruh lahar dingin ( guntur banyu pindah ) pada 1256 Saka (1334 M) dan muncul Gunung Anyar (Baru) pada 1307 Saka (1385 M). Letusan gunung pada 1343 Saka (1421 M) disusul kekurangan pangan pada 1348 Saka (1426 M). Gempa bumi ( palindu ) terjadi pada 1372 Saka (1450 M) sebelum gunung meletus pada 1373 Saka (1451 M). "Banjir dan perpindahan meander (kelokan sungai di sepanjang alirannya, red .) Kali Brantas menjadi salah satu penyebab terkuburnya peradaban," kata Amien. Menyeret Mundur Majapahit Sejarah aktivitas Gunung Kelud sangat panjang. Gunung ini aktif sejak abad ke-10 hingga masa Majapahit, bahkan sampai sekarang. Dalam Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi (2013), peneliti Badan Geologi Bandung, Akhmad Zaennudin, Sofyan Primulyana, dan Darwin Siregar, mengungkap bahwa letusan Gunung Kelud selama kurun waktu 1380–1420 menghasilkan endapan batuan vulkanik berupa endapan aliran piroklastik, jatuhan piroklastik, dan lahar yang menutupi wilayah di sekitar gunung api itu hingga lebih dari 40 km. Mereka memilih empat lokasi endapan piroklastika yang terjadi masa Majapahit, yakni Gunung Pedot, Bambingan, Sepawon, dan Candi Tondowongso. Lokasinyaberada pada sisi barat dan barat laut dari Gunung Kelud. "Bukaan kawah sejak abad ke-10 sampai sekarang belum mengalami perubahan yaitu ke arah barat, sehingga wilayah barat daya, barat, dan barat laut merupakan daerah yang sangat parah terkena dampak letusan khususnya endapan," tulis laporan itu . Penelitian itu mengungkapkanbahwa lahar dari letusan dahsyat Gunung Kelud merusak dan mengubur peradaban Majapahit. Para petani tak bisa lagi menggunakan lahannya karena kekeringan. Bencana itu diduga turut menyeret Majapahit ke kemunduran. "Semua fasilitas hancur tertimbun oleh endapan jatuhan piroklastika dan lahar, sehingga dapat melumpuhkan semua sendi-sendi kehidupan masyarakat dan pemerintahan kerajaan," tulis laporan itu. Situs Terkubur Endapan Lahar Wicaksono Dwi Nugroho, arkeolog BPCB Jawa Timur, menerangkan selama dua tahun terakhir situs-situs yang digali menunjukkan adanya aktivitas vulkanik pada abad ke-12–14. Tampak dari irisan lapisan tanah yang menimbun situs-situs itu. Misalnya, di Situs Petirtaan Sumberbeji di Ngoro, Jombang, ditemukan pecahan porselen dari Dinasti Song. Namun, fragmen porselen dan uang kepeng dari Dinasti Yuan lebih dominan. Jadi,situs ini dari abad ke-13–14. Pada irisan stratigrafi tanahnya terdapat lapisan pasir cukup padat dengan isian krikil dan krakal. "Ini muncul hanya di dinding galian bagian selatan. Lapisan ini sampai ke lantai. Ketika menggali, kami seperti mengupas cor-coran lantai," ujar Wicaksono. Wicak sono mengajukan hipotesis bahwa Situs Sumberbeji bagian dari Situs Kedaton di Sugihwaras. Ia menduga , situs ini merupakan kawasan yang hampir mirip dengan kawasan Trowulan, ibu kota Majapahit. "Dalam catatan sejarah pernah terjadi perpindahan keraton. Hanya pada masa kapan, kenapa, dan bagaimana , butuh waktu untuk menjawab," kata Wicak sono . Di Situs Kedaton dan Bulurejo, Jombang, juga ditemukan lapisan pasir dan isian krakal. "Malah bongkah. Ini karena proses sungai, larutan banjir dari Kelud yang terbawa aliran sungai," kata Wicaksono. Di Situs Kedaton ditemukan pecahan porselen dari Dinasti Yuan dan Ming, fragmen tembikar kasar dan halus bergaya Majapahit, dan fragmen genteng dan ukel (hiasan pinggir atap rumah). Maka,Situs Kedaton dan Bulurejo diperkirakan kompleks situs permukiman atau kedaton Majapahit dari abad ke-13–14. Endapan lapisan tanah serupa juga terindikasi di wilayah selatan dari Trowulan, yakni Situs Kumitir, Tikus, dan Grogol. Situs Kumitir di Jatirejo, Mojokerto, belum lama ditemukan. Saat ditemukan, situs ini tampak tidak signifikan.Situs ini awalnya hanya 10 meter, setelah penggalian dilanjutkan menjadi sepanjang 21 meter. Peneliti mengaitkan temuan talud ( tembok panjang ) di Situs Kumitir dengan temuan yang sudah di data sejak 2017 hingga 2018. Mereka melakukan penggalian di situs ini pada akhir Oktober hingga awal November 2018 . Ada sepanjang 187 m eter struktur lurus yang tampak. Situs Kumitir dihubungkan dengan naskah Nagarakrtagama, Pararaton , dan kitab Wargasari. " Raja Majapahit melewati Kumitir sebagai sisi timur dari Kotaraja Majapahit. Kami simpulkan ada candi pendharmaan di Kumitir milik Mahisa Campaka masa Singhasari, kemudian pada masa Majapahit di Trowulan ini dikembangkan menjadi sisi timur Majapahit," kata Wicaksono. Situs Petirtaan Sumberbeji, Kedaton,dan Bulurejo,terpendam karena banjir lahar Kelud melalui sungai-sungai di sekitarnya, termasuk Sungai Konto. Sementara itu, Situs Kumitir terpendam oleh banjir lahar Arjuno yang diduga mengalir melalui Sungai Pikatan. "Karena sungai ini cukup dekat dengan Kumitir atau mungkin karena erupsi Gunung Welirang, karena gunung ini juga pernah erupsi besar sampai membelah," ujar Wicaksono. Yang terbaru adalah Situs Petirtaan Geneng di Brumbung, Kediri. Endapan vulkanik di situs itu jelas berasal dari letusan Gunung Kelud. Letaknya di Kepung, kecamatan terakhir yang paling dekat dengan aktivitas vulkanik dari Gunung Kelud. "Erupsi Gunung Kelud cukup hebat beberapa kali terjadi, salah satunya beberapa kali pada 1500-an. Mungkin bisa terjadi di tahun-tahun itu untuk Situs Geneng," kata Wicak sono . Amien Widodo menjelaskan keberadaan aliran Kali Brantas di sekitar permukiman membuat dampak kerusakan letusan Gunung Kelud semakin parah. "Lihat Kali Brantas, sungai besar dan panjang, alirannya deras. Jika ditambahi material gunung berapi ini bisa sangat merusak," ujar Amien. Untuk mengantisipasinya, pemukim membuat dawuhan , yakni tanggul disekitar Kali Brantas. Jika tidak, mereka akan hancur karena banjir. "Kerajaan yang ada di sepanjang sungai mestinya sudah melakukan upaya pengolahan sungai agar tidak merusak," ujar Amien. Letusan Gunung Kelud sebelum tahun 1920 dikenal dengan letusan lumpur atau banjir bandang. Sebelum tahun 1920 Gunung Kelud merupakan danau kawah. Pemerintah Hindia Belanda sampai membuat terowongan yang selesai pada 1924. Dengan terowongan itu, ketinggian air dapat dikurangi. "Sebelum itu kalau meletus dikenal dengan letusan lumpur atau banjir bandang," ujar Amien. "Sebelum meletus didahului banjir bandang. Peradaban masa lalu mereka berhadapan dengan hal-hal ini."
- Heydrich, Jagal Nazi Berhati Besi
DI mobil Mercedes 320 convertible hijau yang menggelinding dari rumahnya menuju markasnya di Kastil Praha, 27 Mei 1942 pukul 10.32, SS-Gruppenführer (setara jenderal) Reinhard Heydrich mengobrol santai dengan sopir cum pengawalnya, Oberscharführer (sersan mayor) Hans Klein. Namun tak lama usai melewati tikungan di Distrik Libeň, sang Reichsprotektor Bohemia dan Moravia (kini Rep. Ceko) itu terkejut. Seorang pemuda membidikkan senapan mesin ringan Sten ke arahnya. Seketika Heydrich panik. Untung dia bisa mengendalikan diri untuk kemudian mengambil pistol Luger dari pinggangnya. Lebih beruntung lagi, si pemuda itu gagal melepaskan tembakan lantaran Sten-nya macet. Tetapi hanya sampai di situ keberuntungan Heydrich. Saat ia tengah gencar membalas tembakan dan memerintahkan Klein mengejarnya, seorang pemuda lain melemparkan granat dari arah belakang dan meledak mengenai ban belakang mobil berplat SS 3 itu. Paru-paru, limpa, dan tulang rusuk Heydrich terluka oleh pecahan granat itu. Heydrich yang mengerang kesakitan tertatih-tatih mencoba keluar dari mobilnya untuk mengejar sang pelempar granat. Tapi tak sampai 10 langkah, Heydrich ambruk. Heydrich segera dilarikan ke Rumahsakit Bulovka oleh seorang wanita dan polisi di dekatnya. Mobil Mercedes convertible Heydrich yang hancur akibat percobaan pembunuhan (Foto: Bundesarchiv) Baca juga: Heinrich Himmler, Arsitek Genosida Nazi Mendengar kabar pahit itu, atasannya, Panglima Schutzstaffel (SS) Reichsführer Heinrich Himmler, sampai mengirimkan dokter pribadinya, Karl Gebhardt ke Praha. “Himmler juga sampai datang menjenguknya pada 2 Juni. Tetapi Heydrich jatuh koma pada 3 Juni dan tak pernah siuman lagi. Ia dinyatakan meninggal pada 4 Juni, di mana otopsi menyimpulkan ia meninggal karena infeksi,” ungkap Steven Lehrer dalam Wannsee House and the Holocaust. Kematian Heydrich “si arsitek Holocaust ” kemudian memicu kebrutalan pasukan Jerman-Nazi terhadap ribuan orang tak berdosa atas nama pembalasan. Antisemit Sejak Dini Reinhard Tristan Eugen Heydrich merupakan anak sulung dari tiga bersaudara pasangan Richard Bruno Heydrich dan Elisabeth Anna Maria Amalia Krantz, yang lahirkan pada 7 Maret 1904 di Kota Halle, Jerman. Ia berasal dari keluarga kaya Katolik-Protestan lantaran Bruno Heydrich merupakan salah satu komposter ternama di Jerman. Disingkap Fred Ramen dalam Reinhard Heydrich: Hangman of the Third Reich , mulanya Heydrich seorang bocah pemalu yang menyalurkan energinya lewat musik dan olahraga. Heydrich kecil menutupi rasa mindernya lantaran sering di- bully karena suaranya yang ‘cempreng’ dengan menekuni instrumen biola dan olahraga renang serta anggar. Baca juga: Anggar untuk Hitler Situasi Jerman pasca-Perang Dunia I menyeret Bruno untuk aktif politik di kubu nasionalis antisemit. Kedengkiannya pada Yahudi terpupuk gegara Bruno bertubi-tubi dihantam rumor bahwa dia keturunan Yahudi. “Ibunya menikah lagi setelah ayahnya (Karl Julius Reinhold Heydrich) meninggal dan ibunya memakai nama suami barunya, Suess, di mana di Jerman saat itu nama tersebut berbau Yahudi. Suami barunya itu bukan Yahudi, namun rumor itu membuatnya jauh dari kalangan kelas atas di Halle. Sungguh ironis bahwa orang-orang yang membenci Yahudi mempersekusi seseorang yang juga sangat membenci Yahudi,” tulis Ramen. Politik baru benar-benar merasuk ke diri Heydrich ketika Jerman diguncang Revolusi Jerman pada Februari 1919. Heydrich yang berusia 15 tahun merasa harus terlibat dengan menggabungkan diri ke laskar sukarela Freiwilliges Landesjägerkorps pimpinan Generalmajor Ludwig Maercker. Selepas masa konflik, Heydrich meninggalkan dunia musik untuk menseriusi politik di organisasi pemuda antisemit Deutschvölkischer Schutz- und Trutzbund pimpinan Albert Roth. Kolase foto masa kecil Heydrich (kiri) & saat jadi kadet Reichsmarine (AL Jerman) (Foto: Wikipedia) Namun belum lama berkecimpung di politik, Heydrich terpaksa harus menanggung nafkah keluarganya akibat sekolah musik yang didirikan ayahnya pailit pada 1921 menyusul depresi ekonomi. Demi gaji dan iming-iming tunjangan pensiun menggiurkan, Heydrich memutuskan masuk akademi Reichsmarine (Angkatan Laut Jerman) pada 1922. Cerdas dan disiplin sejak kecil, dalam kurun enam tahun ia mampu mencapai pangkat Oberleutnant zur See (letnan laut). Dengan memadukan paras tampannya, pangkat itu dipergunakan Heydrich untuk menjerat banyak wanita. Salah satu yang terjerat adalah Lina Mathilde von Osten, gadis dari keluarga aristokrat yang ia temui dalam sebuah pesta medio 1930. Baca juga: Perempuan-Perempuan dalam Pelukan Hitler Namun meski sudah punya Lina, Heydrich masih jelalatan dengan wanita lain. Ulah “playboy”-nya itu akhirnya membuatnya dipecat dari Reichsmarine pada April 1931 dengan pesangon 200 Reichsmarks (RM) per bulan selama dua tahun. “Banyaknya petualangan cinta membuatnya mendapat masalah dari atasannya ketika seorang ayah dari salah satu teman wanitanya, seorang direktur I.G. Farben dan teman Laksamana Erich Raeder (Panglima AL), komplain; tidak hanya si gadis hamil, namun saat disidang Heydrich juga berusaha melimpahkan kesalahan pada si gadis,” tulis Richard J. Evans dalam The Third Reich in Power. Penjagal di Bawah Ketiak Himmler Pemecatan tak mengurungkan niat Heydrich bertunangan dengan Lina. Gadis yang merupakan kader Partai Nazi sejak 1929 itu punya tempat tersendiri dalam hati Heydrich. Lina menularkan virus Naziisme dan membuat Heydrich menaruh minat terhadap Partai Nazi hingga masuk partainya Adolf Hitler itu pada 1 Juni 1931. Berbekal pengalaman militer di Reichsmarine sebagai perwira bagian sinyal, Heydrich bergabung ke Schutzstaffel (SS), sayap militer Nazi, enam pekan berselang sebagai perwira bagian informasi. Mengutip George C. Browder dalam Foundations of the Nazi Police State: The Formation of Sipo and SD, Heydrich melihat kesempatan untuk naik jabatan dengan sekejap kala mendengar desas-desus bahwa komandan SS, Himmler, akan membentuk sebuah badan intelijen baru di luar Reichswehr (angkatan bersenjata Jerman). “Jalan pintas” itu ia bangun memanfaatkan kenalan dekat tunangannya yang seorang petinggi Sturmabteilung (SA), Oberführer Baron Karl von Eberstein, ketika akan rapat dengan Himmler soal konsolidasi unit intel baru, Ic-Dienst. Baca juga: Joseph Goebbels, Setia Nazi Sampai Mati Heydrich (kiri/berdiri) & Himmler (duduk, kedua dari kanan) "duet maut" penguasa internal pemerintahan Jerman-Nazi (Foto: Bildagentur für Kunst, Kultur und Geschichte) Dengan kereta malam dari Hamburg, berangkatlah Eberstein membawa serta Heydrich menuju Munich untuk bertemu Himmler di markas Partai Nazi. Tanpa persiapan apapun, Heydrich bakal menjalani interview yang akan mengubah catatan sejarah hidupnya. “Himmler disebutkan bertanya tentang pengalamannya dalam kontra-intelijen dan Heydrich sebenarnya mengarang cerita tentang ini-itu. Himmler lalu memberinya waktu 20 menit untuk membuat kerangka organisasinya. Dengan mudah, Heydrich merancang semuanya mulai dari perlengkapan militernya, hingga jargonnya. Himmler terkesan dan merekrutnya saat itu juga,” tulis Browder. Kandidat-kandidat lain dari perwira kepolisian pun seketika itu disingkirkan Himmler. Heydrich mulai bekerja pada 10 Agustus 1931 di Munich dengan pangkat sturmbannführer (setara mayor). Seksi intel SS saat itu masih bernama Ic-Dienst dan anggotanya baru Heydrich seorang. Ia bertanggungjawab langsung pada Himmler. Baca juga: Selusin Jenderal yang Disingkirkan Hitler (Bagian I) Dalam kurun dua tahun, Heydrich banting-tulang untuk membuat Himmler terkesan. Dengan rapi dan cermat, ia rutin memberi laporan-laporan intelijen dan kontra-intelijen terkait manuver-manuver politik Partai Nazi. Tidak hanya jadi mata-mata di lingkaran luar, namun juga di internal partai. “Heydrich mengembangkan sebuah visi tentang Ic-Dienst sebagai sebuah instrumen pemantauan terhadap segenap kehidupan nasional Jerman, menjamin dominasi total partai, dan dia meyakinkan Himmler tentang visinya ini. Sebagai balasannya, pekerjaan Heydrich sangat diapresiasi Himmler yang menerima laporan-laporan tentang orang-orang yang berpotensi menjadi musuh di luar maupun di dalam partai,” tulis Adrian Weale dalam The SS: A New History. Pembantaian Yahudi dan tahanan politik di Polandia lewat instruksi Heydrich dan Himmler (Foto: nac.gov.pl/Repro "Believe & Destroy: Intellectuals in the SS War Machine" Heydrich pun jadi perwira intel kepercayaan Himmler untuk menjabat kepala unit-unit kepolisian yang diambilalih Himmler. Selain Kepolisian Munich, ada Gestapo (Polisi Rahasia) yang didirikan Hermann Goering. Himmler mempercayakan jabatan deputi kepala Gestapo kepada Heydrich pada 1934. Jadilah Himmler dan Heydrich sebagai duet paling berkuasa dalam internal pemerintahan. Ic-Dienst yang sejak 1932 bertransformasi menjadi Sicherheitdienst (SD), agensi intel saingan Abwehr (Intel Angkatan Bersenjata Jerman), juga jadi dinas yang dipegang Heydrich sebagai direkturnya dengan pangkat brigadeführer (mayor jenderal). Dalam operasi Malam Belati Panjang (30 Juni-2 Juli 1934), operasi pembersihan SA yang dilancarkan Hitler setahun setelah jadi kanselir, Heydrich berperan menyuplai informasi pada Hitler terkait siapa saja yang akan dilenyapkan agar kelanggengan jabatannya sebagai kanselir tak digembosi dari dalam. Baca juga: Selusin Jenderal yang Disingkirkan Hitler (Bagian II–Habis) Dua tahun pasca-aneksasi Jerman terhadap Austria, 12 Maret 1938, Heydrich mengambilalih kepemimpinan Komisi Kepolisian Kriminal Internasional –pendahulu Interpol– (ICPO) sehingga jabatannya merangkap deputi Himmler, kepala Kepolisian Jerman, dan direktur SD. Semakin berkuasanya Heydrich, semakin menyebar pula teror terhadap ras-ras inferior lewat berbagai institusi yang didirikannya. Tak hanya di Jerman dan Austria, namun juga di negeri-negeri yang lantas diduduki Jerman-Nazi. Di Polandia, Heydrich mendirikan cabang Gestapo, Zentralstelle IIP Polen, dan gugus tugas SS, Einsatzgruppen . Unit paramiliter Nazi itu kondang menggelar pengusiran, deportasi, hingga pembantaian massal lewat Operasi Tannenberg dan Intelligenzaktion (1939-1940). Sekira 100 ribu nyawa melayang atas perintah Heydrich lewat dua operasi itu. “Sejak 1941, sangat jelas bahwa Heydrich jadi salah satu motor utama penggerak kebijakan anti-Yahudi. Dia tak hanya mengontrol organisasi polisi, namun organisasi-organisasi lain yang dipercayakan oleh Himmler sebagai perantara antara dia dan Hitler untuk mencari dan mengimplementasikan ‘solusi akhir’,” tutur sejarawan Robert Gerwarth dalam Hitler’s Hangman: The Life of Heydrich . Lewat surat instruksi Reichsmarschall Hermann Goering, Heydrich menggelar Konferensi Wannsee untuk menentukan "Final Solution" (Foto: ihffilm.com/ghwk.de ) Di tahun itu dan tahun berikutnya, Heydrich dipercaya memegang jabatan direktur Reichssicherheitshauptamt (RSHA) atau Badan Keamanan Negara dan Reichsprotektor Bohemia dan Moravia. Pangkatnya dinaikkan menjadi gruppenführer (jenderal). Ia dianggap paling cocok untuk meredam sentimen anti-Jerman yang mulai tumbuh di Praha dan sekitarnya. “Ia dikenal dingin ketika menjalankan tugasnya sebagai motivator (pasukan SS), perencana dan organisator. Pernah satu ketika Hitler memujinya dengan sebutan ‘sosok berhati besi’,” ungkap Mario R. Dederichs dalam Heydrich: The Face of Evil. Baca juga: Hermann Goering, Sang Tiran Angkasa Nazi Jerman Namun, lama-kelamaan para prajuritnya merasa jengah membantai korban dengan penembakan massal. Mereka juga menganggap peluru lebih bernilai untuk kebutuhan perang dibanding untuk genosida. Tak mungkin mereka menghabisi ratusan ribu Yahudi yang tengah ditahan di kamp-kamp konsentrasi dengan metode itu lagi. Maka dibutuhkan solusi final untuk “pertanyaan (tentang) Yahudi” ini. Diungkapkan Christopher R. Browning dalam The Origins of the Final Solution: The Evolution of Nazi Jewish Policy, September 1939-March 1942 , perkara ini ditetapkan Reichsmarschall Hermann Goering dalam suratnya kepada Heydrich pada akhir Juli 1941. Intinya Goering memberi otoritas pada Heydrich untuk merancang solusi apapun guna mengatasi masalah Yahudi. “Rencana tentang solusi itu diresmikan di Konferensi Wannsee, 20 Januari 1942. Konferensi dipimpin langsung Heydrich dan dihadiri 15 pejabat yang mewakili segenap pemerintahan Jerman-Nazi. Dalam rencana itu, sekitar 11 juta Yahudi Eropa akan masuk ke dalam solusi final itu,” tulis Browning. Upacara pemakaman Heydrich (atas) & pembantaian serta penghancuran desa Lidice sebagai pembalasan atas kematian Heydrich (bawah) (Foto: Library of Congress/Bundesarchiv) Hasil dari Konferensi Wannsee itu diimplementasikan dengan pendirian kamar-kamar gas untuk melenyapkan Yahudi yang ada di ghetto-ghetto dan kamp-kamp konsentrasi. Sekira tiga juta Yahudi tewas oleh metode itu sampai perang usai. Heydrich tak pernah mengetahui hasil akhir kebijakan itu maupun Perang Dunia II karena keburu tewas ketika perang masih berkecamuk. Ia tutup usia beberapa hari setelah percobaan pembunuhan oleh dua patriot Ceko yang dilatih intelijen Inggris, Jan Kubiš dan Jozef Gabčík. Kematian Heydrich karena percobaan pembunuhan tak membuat Hitler heran mengingat Heydrich selalu nekat berperjalanan dengan mobil terbuka yang tak dilapisi baja dan tanpa pengawalan. “Tidak hanya pembunuh, pencuri pun punya kesempatan melihat gestur heroik dengan mobil terbuka, tanpa lapisan baja atau berjalan-jalan tanpa pengawalan dan itu tindakan bodoh. Mestinya orang yang tak tergantikan seperti Heydrich tak mengekspos dirinya dari bahaya semacam itu. Saya hanya bisa menyatakan hal ini sebagai kebodohan dan pikiran yang idiot,” kata Hitler ketus menanggapi kematian Heydrich, dikutip Callum MacDonald dalam The Killing of Reinhard Heydrich: The SS ‘Butcher of Prague’ . Kendati begitu, Hitler memerintahkan Himmler melancarkan aksi pembalasan atas kematian Heydrich. Sehari setelah Heydrich dimakamkan di Berlin pada 10 Juni 1942, pasukan SS dan Gestapo mengepung Desa Lidice dan Ležáky, 22 mil barat laut dari Kota Praha. Dua desa itu dicurigai Gestapo sebagai tempat persembunyian para pelaku. Total 1.300 laki-laki warga dua desa itu langsung dieksekusi, sementara 200 warga perempuan dikirim ke kamp konsentrasi. Dua desa itu pun hangus dibakar. Baca juga: Adik Goering Anti-Nazi dan Penyelamat Yahudi






















